Pendampingan Pembuatan Insektisida Organik di Kelompok Tani Sumber Urip Desa Wonosari Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang

Pendampingan Pembuatan Insektisida Organik di Kelompok Tani Sumber Urip Desa Wonosari Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang

Mentoring Making Organic Insecticides in Sumber Urip   Farmers Group of Wonosari Village Poncokusumo Malang

 

Moch. Agus Krisno Budiyanto, Muizuddin, Samsun Hadi

Program Studi Pendidikan Biologi

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang

Jl. Tlogomas 246 Malang Telp. 464318

 

Abstract

Partners in this assistance is Sumber Urip   Farmers Group is located in the Village District of Poncokusumo Wonorejo Malang East Java Province. Problems faced by Partner departing from the constraints of organic Insecticide use, namely the supply of organic Insecticides are sometimes not smooth and it is expensive whereas a lot of potential partners in the area of biodiversity that can be used as an organic Insecticide. Specifically after discussion / consultation with partners, the problems of partners in a concrete and a priority that must be addressed are: 1) Options are not master the method of manufacturing the Insecticide organically based on local potential and 2) Partner not mastered the method of Insecticide use organic accordance local raw materials used on specific crops. Solutions that will do is 1) conduct training and mentoring the manufacture of Insecticides organic material garlic and coconut milk fermented with yeast and 2) training and mentoring Insecticide use organic local ingredients (a mixture of garlic and coconut milk) with a pattern ToT ( training of Trainer) followed by three farmers from representative Sumber Urip   Farmers Group. Results of further training and assistance in deseminjasikan to members of other farmers. Through a series of training programs, and mentoring the manufacture and use of Insecticide organic Sumber Urip   Farmers Group of Wonosari Subdistrict Poncokusumo Malang, the partner PPMI has mastered: 1) a method of making the Insecticide organic from local materials and 2) Method of Insecticide use organic materials local. Organic Insecticide product by brand “Mbok Sikeh” and “Bio Albillin”.Keywords: Insecticides, organic, groups, farmers, local

  1. PENDAHULUAN

Mitra dalam pendampingan ini adalah Kelompok Tani Sumber Urip    berada di Desa Wonorejo Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang Propinsi Jawa Timur, suatu desa yang berada di timur laut dari Kota Malang dan berbatasan dengan Kabupaten Proboliggo (Lereng Tengger Gunung Bromo) yang menjadi salah satu sentra produksi pangan  organik di Kabupaten Malang.

Pada tahun 2015 Desa Wonorejo mempunyai jumlah penduduk 4.271 dengan jumlah laki-laki 1928 orang dan perempuan 2343 orang, sebagain besar bekerja sebagai petani dan peternak.

Dari 1.925 orang petani di Desa Wonorejo sebagian besar (1254 orang, 65,14%) menjadi petani atau terlibat dalam produksi pangan organik. Pangan organik yang diproduksi yang paling banyak adalah padi dan sayur. Para petani tersebut diorganisasikan dalam Kelompok Tani Sumber Urip. Kelompok Tani Sumber Urip di Desa Wonorejo ini mempunyai eksistensi untuk berkembang di masa-masa mendatang.  Hal ini dikarenakan kultur pertanian organik sudah lama dilakukan.

Budidaya pertanian organik telah berjalan dengan baik dan produktif di Desa Wonorejo. Produk organik yang paling banyak dihasilkan adalah padi, kol, gubis, tomat, kacang panjang, bayam, sawi, kacang panjang, cabai, dan bawang merah. Petani organik telah menggunakan pupuk organik padat maupun cair dari kotoran sapi dan kompos, tetapi petani masih menghadapi masalah penggunaan Insektisida organik.

Kelompok Tani Sumber Urip (KPPO) yang berada di Desa Wonorejo Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang mempunyai tujuan memproduksi pangan organic secara berkelanjutan melalui implemetasi pertanian organik.

Pada abad 21 ini, trend pola gaya hidup sehat telah berhasil mendorong berkembangnya pertanian organik secara luas (Prihandarini, 2009). Pertanian organik merupakan salah satu alternatif menuju pembangunan pertanian yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Tujuan utama dari sistem pertanian organik adalah untuk menghasilkan produk bahan pangan yang aman bagi kesehatan produsen maupun konsumen dan tidak merusak lingkungan. Pengertian organik menurut FAO adalah ” a holistic production management system which promotes and enhances agroecosistern healyh, including biodiversity, biological cycles, and soil biological activity” (suatu system managemen yang holistik yang mempromosikan dan meningkatkan pendekatan sistem pertanian berwawasan kesehatan lingkungan, termasuk biodiversitas, siklus biologi dan aktivitas biologi tanah. Pertanian organik merupakan suatu sistem pertanian berkelanjutan yang diakui oleh Komisi Eropa (European Commission) dan Agricultural Council pada Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tahun 1992 (Jolly, 2000).

Hasil penelitian sebelumnya telah diperoleh bahwa 1) persepsi masyarakat tentang pertanian hortikultura organik identik dengan pertanian sayuran dan buah yang tidak menggunakan pupuk buatan  dan pestisida buatan (Budiyanto, 2007). Hasil penelitian Budiyanto (2012) tentang Tipologi Preferensi Konsumen terhadap  Produk Pangan Organik di Kota Malang dapat dinyatakan bahwa: 1) Tipe pengambilan keputusan konsumen dalam memilih produk pertanian organik di Kota Malang adalah economic type (4%), psychological type (13%), consumer behaviour type (25%), dan others type (58%). Tipe lain-lain sebagian besar karena alasan kesehatan, dan 2) Faktor-faktor   yang mempengaruhi konsumen dalam memilih produk pangan organik di Kota Malang adalah   faktor sosial (10%),  faktor personal (14%),  faktor psikologi (19%),  faktor kultural (5%), dan faktor lain-lain (52%).  Faktor lain-lain sebagian besar karena faktor agama. Dua penelitian ini mengindikasikan bahwa komsumsi produk pangan organik didasari alasan kesehatan.

Permasalahan yang dihadapi oleh Kelompok Tani Sumber Urip  yang berada di Desa Wonorejo Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang berangkat dari kendala penggunaan Insektisida organik yaitu suplai Insektisida organik kadang-kadang tidak lancar dan harganya mahal. Padahal di Desa Wonorejo terdapat potensi hayati yang dapat digunakan bahan pembuatan Insektisida organik, misalnya daun sirih, jahe, bawang putih, kunir, kencur, daun cengkeh, bunga kertas, bunga bougenville, dan lain sebagainya.

Secara spesifik setelah dilakukan diskusi/musya1.warah dengan mitra, maka permasalahan mitra secara konkret dan menjadi prioritas yang harus ditangani adalah sebagai berikut.

  1. Mitra tidak menguasai metode pembuatan Insektisida organik berbasis pada potensi lokal.
  2. Mitra tidak menguasai metode penggunaan Insektisida organik sesuai bahan baku lokal..

 

  1. METODE

 

  1. a. Solusi terhadap permasalahan mitra tidak menguasai metode pembuatan Insektisida organik

 

Menurut Batori (2013) beberapa tumbuhan yang dapat digunakan sebagai bahan insektisida organik adalah daun sirsak, daun papaya, daun kecubung, umbi gadung, akar tuba, kulit jeruk, daun tembakau,  bawang putih, cabe rawit, daun pandan, daun kemangi, tembakau, kunyit, daun kenikir, lengkuas, biji mimba, dan lain sebagainya.

Menurut Zheni (2013) bahan untuk membuat insektisida organik alami untuk mengusir dan membunuh hama, kutu dan ulat perusak tanaman pertaniana atau perkebunan adalah: 1) bawang putih, cabe rawit, pandan, kemangi, tembakau, kunyit, kenikir : masing-masing 100 gram, 2) Gula pasir : 2 sendok makan, 3) Air suling destilasi / aqua destilata : 1 liter, 4) Dekomposer BSA (mikro organisme pengurai) : 2 ml, 5) Botol kaca steril besar : 2 buah. Sedangkan tahap-tahap pembuatan adalah: 1) cabe rawit, bawang putih, pandan, kemangi, tembakau, kunyit, kenikir dan air destilasi diblender hingga bercampur rata, 2) masukkan ke dalam botol yang telah disteril bebas kuman, 3) masukkan gula dan decomposer BSA, tutup lalu biarkan satu minggu untuk proses fermentasi, dan 4) Buka dan saring dari ampas-ampas yang ada dan simpan di tempat yang tertutup.

Berdasarkan hal tersebut di atas, maka solusi terhadap permasalahan mitra tidak menguasai metode pembuatan Insektisida organik berbasis pada potensi lokal adalah dengan melakukan pelatihan pembuatan Insektisida organik dari baha sirih, cengkeh, dan empon-empon.

 

  1. Solusi terhadap permasalahan mitra yang tidak menguasai metode penggunaan Insektisida organik

Menurut Zheni (2013) Cara penggunaan cairan insektisida organik dari bahan alam campuran bawang putih, cabe rawit, pandan, kemangi, tembakau, kunyit, dan kenikir  adalah: 1) campur 60 ml cairan insektisida organik yang telah dibuat dengan 1 liter air biasa, 2) semprot pada batang dan daun tanaman yang terserang hama dan ulat satu minggu sekali, 3) gunakan insektisida yang telah disimpan paling lama 6 bulan. Penggunaan insektisida organik ini dapat digunakan di tanaman pangan (misalnya padi, jagung, kedelai) dan juga tanaman sayur (misalnya kol, gubis, tomat, kacang panjang, bayam, sawi, kacang panjang, cabai, dan bawang merah).

Berdasarkan hal tersebut di atas, maka solusi terhadap permasalahan mitra yang tidak menguasai metode penggunaan Insektisida organik sesuai bahan baku lokal yang digunakan pada tanaman spesifik  adalah dengan melakukan pelatihan dan pendampingan penggunaan Insektisida organik dari bahan lokal (campuran bahan bahan jahe dan gula merah)  pada tanaman tanaman bayam dan gulmanya.

Setelah dilakukan diskusi/ musyawarah dengan mitra, maka solusi permasalah mitra secara konkret dan menjadi prioritas yang harus ditangani adalah sebagai berikut.

 

No Permasalahan Kegiatan Solusi Permasalahan Partisipasi Mitra

dalam Kegiatan

1 Mitra tidak menguasai metode pembuatan Insektisida organik Pelatihan pembuatan Insektisida organik dari bahan lokal ( )

 

Berperan aktif dalam penyiapan alat/bahan

Berperan aktif sebagai peserta pelatihan

2 Mitra tidak menguasai metode penggunaan Insektisida organik Pelatihan dan pendampingan penggunaan Insektisida organik  ) Berperan aktif dalam penyiapan alat/bahan

Berperan aktif sebagai peserta pelatihan dan pendampingan

Catatan: Tiap-tiap jenis pelatihan menggunakan pola ToT (Training of Trainer) yang diikuti oleh 5 orang petani dari perwakilan Kelompok Tani Sumber Urip-1 dan Kelompok Tani Sumber Urip-2

 

Tim pelaksana kegiatan pendampingan kelompok Tani Sumber Urip yang menghadapi masalah penyediaan Insektisida organik ini terdiri dari Dosen yang memiliki keahlian yang memadai dan telah berpengalaman dalam bidang pangan organik dari aspek hulu sampai dengan hilir. Ketua Tim merupakan dosen di Pendidikan Biologi FKIP UMM yang mengajar dan menekuni bidang  pangan dan gizi. S3 yang bersangkutan juga mengambil konsentrasi Ilmu Gizi di Program Pascasarjana Universitas Airlangga Surabaya. Ketua Tim juga telah banyak melakukan kegiatan pendampingan Tani Sumber Urip di wilayah Kabupaten Malang. Beberapa karya tulis pengabdian juga relevan dengan program pendampingan ini, diantaranya adalah:  1) Tipologi Penggunaan Pupuk Organik pada Budidaya Hortikultura di Kota Batu (2009), 2) Pola Pemanfaatan Kotoran Sapi di Kabupaten Malang (2008), dan 3) Persepsi Masyarakat tentang Pertanian Hortikultura Organik di Kabupaten Malang (2007), 4)  Tipologi Preferensi Konsumen terhadap  Produk Pangan Organik di Kota Malang (2012), IbM Kelompok Tani Sumber Urip yang Menghadapi Masalah Pupuk Organik (2013), dan IbM Kelompok Peternak yang Menghadapi Masalah Kotoran Sapi (2014). Di sisi lain anggota tim merupakan dosen yang menekuni dan mengembangkan Ilmu Kimia dan Lingkungan dengan konsentrasi lingkungan organik yang akan sangat mendukung dalam pelaksanaan pendampingan ini. Bersama-sama dengan Ketua Pelaksana, anggota tim ini juga telah melakukan kegiatan pendampingan Tani Sumber Urip di wilayah Kabupaten Malang.

Dalam upaya meningkatkan kinerja kegiatan pendampingan pembuatan dan penggunaan Insektisida organik ini, maka telah disepakati dan dibangun sinergisme tim dalam bentuk pembagian kerja, pola kooperasi, pola kolaborasi, morning meeting pada hari jum’at setiap minggunya. Ketua tim bertugas menyusun job deskripsi kerja anggota tim dan mahasiswa yang selanjutnya dikaji dan disempurnakan dalam rapat koordinasi. Dalam tingkatan teknis disepakati Ketua Tim bertugas untuk menyiapkan bahan-bahan akademik, pengurusan ijin dan lobi program,  serta mengkoordinasikan semua kegiatan.

Anggota Tim bertugas mengkoordinasikan penyiapan alat, bahan, sarana pendukung, serta membangun partisipasi masyarakat/kelompok, terlibat aktif dalam setiap kegiatan, melakukan monitoring dan evaluasi kegiatan. Dalam pelaksanaan kegiatan juga dibantu oleh 6 (Enam) mahasiswa yang sebelumnya terlebih dahulu diberi pembekalan. Di sisi lain secara bersama-sama (Ketua Tim, Anggota Tim, Mahasiswa, Ketua Kelompok Tani, dan Anggota Kelompok Tani) melakukan monitoring dan evaluasi sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan. Hasil monitoring dan evaluasi tersebut selanjutnya digunakan landasan dalam upaya meningkatkan kinerja program yang kemudian diikuti dengan redesain program dan redistribusi tugas antara Ketua Tim, Anggota Tim, dan Mahasiswa.

 

  1. HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil yang dicapai dalam kegiatan Pendampingan Pembuatan Insektisida Organik di Kelompok Tani Sumber Urip Desa Wonosari Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang adalah sebagai berikut.

  1. Pelatihan Pembuatan Insektisida Organik dari Bahan Lokal
Peserta  : 6 orang utusan Mitra IbM (3 orang dari Kelompok Petani OrganikSumber Urip I dan  3 orang Kelompok Petani Organik Sumber Urip II Desa Wonorejo Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang).
Fasilitator  : DR.H.Moch. Agus Krisno B,M.Kes.

Drs. Muizuddin,M.Kes.

Drs. Samsun Hadi, MS.

Co-Fasilitator : 11 Mahasiswa FKIP-Biologi UMM.
Tempat : Rumah Ketua Kelompok Tani Sumber Urip
Waktu : Mulai 30 Maret 2016
Materi : Cara Membuat Insektisida Organik  (materi lengkap di lampiran).
Metode : Fasilitator menjelaskan dan mempraktekan  cara membuat Insektisida organik.

Fasilitator mendampingi produksi Insektisida organik.

Partisipasi Mitra : Berperan aktif dalam penyiapan alat, bahan, dan tempat

Berperan aktif dalam pembuatan Insektisida organik

Keberhasil-an : 6 orang Mitra IbM memahami dan dapat melakukan produksi  Insektisida organik.

 

 

  1. b. Pelatihan dan Pendampingan Penggunaan Insektisida Organik dari Bahan Lokal
Peserta  : 6 orang utusan Mitra IbM (3 orang dari Kelompok Petani OrganikSumber Urip I dan  3 orang Kelompok Petani Organik Sumber Urip II Desa Wonorejo Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang).
Fasilitator  : DR.H.Moch. Agus Krisno B,M.Kes.

Drs. Muizuddin,M.Kes.

Drs. Samsun Hadi, MS.

Co-Fasilitator : 11 Mahasiswa FKIP-Biologi UMM.
Tempat : Lahan  Kelompok Tani Sumber Urip I
Waktu : Senin9 Nopember 2015 s/d Sabtu, 28 Nopember 2015 (3 Minggu)
Materi : Cara Menggunakan Insektisida Organik (materi lengkap di lampiran).
Metode : Fasilitator menjelaskan dan mempraktekan  cara menggunakan Insektisida.

Fasilitator mendampingi penggunaan Insektisida organik.

Partisipasi Mitra : Berperan aktif dalam penyiapan alat, bahan, dan lahan

Berperan aktif dalam penggunaan Insektisida organik

Keberhasilan : 6 orang Mitra IbM  memahami dan dapat  menggunakan Insektisida organik.

 

  1. Deseminasi Best Practice / Goods Practice Pembuatan dan Penggunaan Insektisida Organik dari Bahan Lokal
Peserta  : 20 orang anggota Kelompok Tani Sumber Urip Desa Wonorejo Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang
Fasilitator  : DR.H.Moch. Agus Krisno B,M.Kes.

Drs. Muizuddin,M.Kes.

Drs. Samsun Hadi, MS.

Co-Fasilitator : 6 Mahasiswa FKIP-Biologi UMM.
Tempat : Rumah Ketua Kelompok Tani Sumber Urip I
Waktu : 28 Mei 2016
Materi : Good Practice Pelatihan dan Pendampingan Pembuatan, Penggunaan, Packaging, Labeling Insektisida Organik.
Metode : Fasilitator menjelaskan good practice pelatihan dan pendampingan pembuatan, penggunaan, packaging, labeling, dan marketing Insektisida Organik.
Partisipasi Mitra : Berperan aktif dalam penyiapan tempat, fasilitas pendukung

Berperan aktif sebagai peserta deseminasi

Keberhasilan : 20 orang   Mitra PPMI  memahami dan tertarik mengimplementasikan good practice pelatihan dan pendampingan pembuatan, penggunaan, packaging, labeling, dan marketing Insektisida Organik.

Pada pertanian sebelum revolusi hijau, peran mikroba teramat penting dalam pasokan nutrisi tanaman, dan keduanya amat terkait, sampai peran mikroba digantikan oleh Insektisida anorganik yang serba instan (Nasahi, 2010). Padahal peran mikroba tidak sekedar sebagai penyuplai nutrisi bagi tanaman namun masih banyak peran lain yang dimainkannya dalam lingkungan ekosistem. Untuk mengembalikan suatu produktivitas pertanian, dilakukan upaya untuk mengembalikan kondisi tanah. Upaya tersebut diantaranya adalah dengan adanya pasokan mikroba menguntungkan ke dalam lahan dan pasokan bahan organik yang memadai. Pasokan mikroba tanpa disertai pasokan bahan organik hanya akan memberikan kemajuan sementara saja, karena mikroba sangat butuh bahan organik yang cukup. Dengan adanya peningkatan kuantitas mikroba di dalam tanah diharapkan kondisi tanah akan pulih dan akan mendukung produktivitas pertanian (Faqihhudin, 2014).

Menurut Sigid (2016), Insektisida merupakan senyawa kimia yang mempunyai peranan dalam mengendalikan penyakit tanaman yang disebabkan oleh cendawan (serangga).  Insektisida mempunyai 2 cara kerja, yaitu kontak dan  sistemik. Insektisida Kontak bersifat langsung (kontak) mengendalikan penyebaran cendawan yang sudah menyerang tanaman dengan menampakkan gejala seperti bercak daun, karat daun, antraknosa, dan lain sebagainya. Insektisida sistemik bersifat mencegah serangan cendawan dengan cara membuat semua bagian tanaman menjadi beracun, sehingga menghambat atau mencegah cendawan melakukan penetrasi ke semua bagian tanaman.

Hama dan penyakit yang kerap menyerang tanaman pun sangat bermacam-macam. Hama sendiri ada yang berupa hewan pengerat, serangga hingga cendawan. Belum lagi penyakit yang menyerang bagian-bagian tanaman mulai dari akar, batang, hingga daun. Masalah ini menjadi hal yang perlu mendapatkan perhatian lebih karena berdampak langsung dengan hasil pertanian.
Banyak solusi yang dijadikan sebagai senjata untuk menghadapi masalah hama dan penyakit ini. Mulai dari tindakan pencegahan hingga tindakan mengobati. Tindakan pencegahan bisa dimulai sejak tanaman mulai ditanam. Sedangkan tindakan pengobatan dapat dilakukan setelah hama dan penyakit telah teridentifikasi. Salah satu hama yang kerap menyerang tanaman adalah cendawan atau biasa dikenal dengan serangga. Cendawan atau serangga adalah sejenis tumbuhan yang tidak mempunyai klorofil sehingga bersifat heterotrof. Sifat heterotrof sendiri berarti serangga tersebut tidak bisa hidup sendiri dan harus menumpang dengan tumbuhan lain untuk bisa hidup. Cendawan atau serangga memang menjadi masalah tersendiri bagi para petani. Jika sudah menyerang tanaman, hama yang satu ini dapat merugikan para petani. Maka dari itu, cendawan atau serangga ini harus mendapat perhatian lebih. Tindakan-tindakan pencegahan harus bisa dilakukan agar tidak merugi nantinya. Jika sudah terserang, maka hal yang harus dilakukan adalah dengan mengobatinya. Salah satu cara untuk mengatasi penyebaran hama cendawan atau serangga pada tanaman adalah dengan pestisida. Pestisida yang digunakan pun harus khusus untuk membasmi para serangga. Pestisida untuk membasmi serangga ini biasa dikenal dengan sebutan Insektisida. Insektisida merupakan pestisida yang secara spesifik membasmi dan menghambat pertumbuhan cendawan atau serangga pada tanaman. Bentuk dari Insektisida sendiri bisa cair, gas, serbuk maupun butiran-butiran kecil. Kebanyakan Insektisida memang berasal dari bahan-bahan kimia. Namun ada pula Insektisida alami atau biasa disebut dengan Insektisida organik. Insektisida organik bisa menjadi alternatif pilihan untuk membasmi serangga pada tanaman. Secara sederhana, Insektisida organik adalah Insektisida yang terbuat dari bahan-bahan alami seperti tumbuhan dan organisme. Pilihan Insektisida organik ini biasa digunakan untuk tanaman-tanaman organik yang memang tidak boleh menggunakan bahan-bahan kimia dalam pertumbuhannya. Bahan-bahan yang bisa dipakai sebagai Insektisida organik adalah rempah-rempah seperti kunir, jahe dan laos. (Sigid, 2016).

Selain bermanfaat untuk memberantas hama, ternyata Insektisida sintetis juga menimbulkan dampak negatif bagi manusia ataupun lingkungan. Insektisida biasanya digunakan dalam bidang pertanian sehingga yang terkena dampak langsung dari penggunaan Insektisida adalah para petani. Biarpun sedikit, tetapi para petani pasti akan terkena racun Insektisida apalagi jika mereka tidak menggunakannya sesuai dengan petunjuk pemakaiannya. Dampak lain dari penggunaan Insektisida adalah sebagai berikut: 1) Tanaman yang diberi Insektisida kemungkinan besar menyerap Insektisida tersebut melalui akar, lalu ke batang, daun, dan buah. Lalu Insektisida tersebut akan terakumulasi dalam tubuh hewan pemakan tanaman. Dapat dibayangkan melalui proses rantai makanan racun Insektisida akan terkumpul dalam tubuh manusia (bioakumulasi). 2) Insektisida yang tidak terurai dalam air akan terbawa ke dalam biota air. Insektisida dalam air akan menghambat proses fotosintesis pada plankton yang menjadi makanan makhluk air. Plankton dan ikan-ikan pemakan plankton akan terkena racun Insektisida. 3) Penggunaan Insektisida jangka panjang akan menyebabkan munculnya spesies hama tanaman yang tahan terhadap takaran Insektisida yang diterapkan. Hama ini baru musnah setelah takaran Insektisida diperbesar. Akibatnya, hal ini akan memperbesar tingkat pencemaran Insektisida pada makhluk hidup. Upaya yang bisa dilakukan untuk mengurangi dampak negatif dari penggunaan Insektisida, yaitu dengan menggunakan Insektisida alami yang berasal dari tumbuhan (bioInsektisida) yang mudah terurai (biogenerable), sehingga penggunaannya relatif aman. Akan tetapi, apabila tidak ada cara lain untuk memberantas hama selain dengan menggunakan Insektisida, berbagai pihak khususnya lembaga terkait (PPL: Penyuluh Pertanian Lapangan) harus bisa memilih Insektisida yang paling kecil resiko pencemarannya terhadap makhluk hidup (Anonymous, 2016). Penggunaan Insektisida khususnya yang bersifat sintetis berkembang luas karena dianggap paling cepat dan ampuh mengatasi gangguan insekta. Namun penggunaanya ternyata menimbulkan kerugian seperti resistensi, reserjunsi, terbunuhnya mutan alami dan masalah pencemaran lingkungan dan sangat berbahaya berbagi bagi manusia (Kristanto, 2013).

Salah satu alternatif pengendalian yang dapat dikembangkan adalah penggunaan bioInsektisida atau Insektisida organik. Selain dapat menghambat perkembangan penyakit, Insektisida ini juga aman bagi masyarakat dan lingkungan sekitar karena mudah terurai dan tidak meninggalkan residu pada produk pertanian. Tumbuhan yang dapat digunakan sebagai Insektisida organik yaitu : kunyit, temu hitam, Jahe, serai, lengkuas, kencur, bawang merah, bawang putih, serai, ranting cengkeh, dan daun sirih. Tumbuhan kunyit dapat berguna sebagai insektisida dan Insektisida, temu hitam berguna sebagai insektisida dan Insektisida, jahe berguna sebagai insektisida dan penolak, lengkuas berguna sebagai Insektisida, kencur berguna sebagai insektisida dan Insektisida dan mengandung Zat Pengatur Tumbuh (ZPT), bawang merah berguna sebagai Insektisida, bawang putih berguna sebagai Insektisida, nematisida, Insektisida, dan antibiotik, serai senyawa kimia seperti minyak atsirih dan berguna sebagai antibakteri dan antiinsekta, Daun sirih berguna sebagai Insektisida, batang cengkeh berguna sebagai menghambat aktivitas makan (antifedant), mengakibatkan kemandulan tanaman dan Insektisida (Kristanto, 2013).

“Bio Annona” dan “Bio Albillin”  merupakan salah satu jenis Insektisida yang selain menggunakan bahan organik juga terdapat penerapan dari teknologi mikroba moebillin. Insektisida “Bio Annona” dan “Bio Albillin”  dapat digunakan untuk menekan pertumbuhan serangga yang menyerang  tanaman. Bio Annona dan Bio Albillin merupakan produk Insektisida organik dengan ber-macam aneka bahan yang mudah didapatkan. Bio Annona ini merupakan kolaborasi antara komponen daun sirsat dan bioaktivator moebillin. Sedangkan Bio Albillin juga merupakan salah satu produk Insektisida organik yang juga berkolaborasi berbagai golongan empon – empon. Hal ini cukup efektif terlebih bahan mudah untuk didapatkan dan harganya yang relatif murah. Sehingga Insektisida organik ini mampu menjadi alternatif bagi petani untuk membasmi kelompok serangga (insekta). Insektisida organik mengandung bahan aktif yang dapat menghambat dan merusak sel mikroorganisme. Bahan aktif tersebut seperti minyak atsiri  yang terdapat pada serai dan senyawa aromatic yang terdapat pada daun sirih. Ekstrak serai juga mengandung senyawa sitronelal yang merupakan senyawa monoterpen dengan sifat antiinsekta yang tinggi (Nakahara, 2003). Menurut Koul (2008) Ekstrak daun sirih mengandung senyawa aromatic seperti hidoksikavikol, kavikol, dan betlepenol. Senyawa-senyawa aktif tersebut mampu menekan pertumbuhan serangga pathogen dengan cara mengganggu dinding sel atau menghambat permeabilitas dinding sel sehinggga komponen penting seperti protein keluar dari sel dan sel berangsur-angsur mati.

Menurut Sarjan, M.  (2010) dalam penelitian yang berjudul ”Potensi Pemanfaatan Insektisida Nabati Dalam Pengendalian Hama Pada Budidaya Sayuran Organik” menyatakan bahwa rata-rata populasi dan intensitas serangan hama  hama penting pada tanaman tersebut relatif sama  pada tanaman yang dibudidayakan secara organik dan konvensional. Demikian juga dengan perkembangan populasi dan intensitas serangannya selama pengamatan menunjukkan pola yang sama, dimana hama ini akan mencapai puncaknya pada saat fase tanaman menghasilkan tunas-tunas muda  dan menurun pada saat bagian tanaman sudah mulai menua serta sangat tergantung pada waktu penggunaan insektisida (baik kimiawi sintetis maupun non sintetis) yang cenderung menekan populasi hama. Walaupun demikian terlihat bahwa hasil cabe merah maupun tomat yang dibudidayakan secara organik lebih tinggi dari pada konvensional. Oleh karena itu budidaya cabae merah  ,tomat dan kubis  secara organik mempunyai prospek untuk dikembangkan baik untuk tujuan perlindungan tanaman dari hama maupun untuk tujuan peningkatan produksi.

Menurut Yaman, R. (2010) dalam penelitian yang berjudul ”Kajian Insektisida Organik (Urin Sapi & Serbuk Biji Mimba) terhadap Mortalitas Larva (Spodoptera Litura)” menyatakan bahwa podoptera litura dengan pencelupan daun kedelai yang direndam pada urin sapi dan serbuk biji mimba jumlah mortalitas larva Spodoptera litura hampir sama pada hari ke 6 (enam), sedangkan pada perlakuan  campuran urin sapi dan serbuk biji mimba jumlah mortalitas larva spodoptera litura paling tinggi yakni pada hari ke 4 (empat), kejadian ini disebabkan oleh bertambah kuatnya toksitas akibat adanya percampuran senyawa serbuk biji mimba dan urin sapi.

Menurut Sonyaratri , D. (2006). dalam penelitian yang berjudul ”Kajian Daya Insektisida Ekstrak Daun Mimba (Azadirachta indica  A. Juss) dan Ekstrak Daun Mindi (Melia azedarach L.) terhadap Perkembangan Serangga Hama Gudang  Sitophilus zeamais Motsch. Skripsi. Bogor: Institut Pertanian Bogor” menyatakan bahwa penggunaan insektisida alami nabati merupakan salah satu alternatif yang dapat digunakan sebagai pengganti insektisida sintetis dalam mengendalikan hama. Insektisida alami nabati relatif tidak meracuni manusia, hewan dan tanaman lainnya karena sifatnya yang mudah terurai sehingga tidak menimbulkan residu. Daya insektisida yang dimiliki oleh bahan nabati umumnya berupa daya repellent yang dapat menghambat peletakkan telur oleh induk betina dan daya antifeedant yang menyebabkan serangga tidak mau makan media yang tersedia. Daun mimba dan daun mindi diduga mengandung komponen aktif yang menimbulkan bau dan aroma yang tidak disukai oleh Sitophilus zeamais sehingga bahan tersebut memiliki potensi sebagai insektisida. Dari hasil penelitian diperoleh hasil bahwa ekstrak daun mimba berpengaruh nyata terhadap jumlah total populasi turunan pertama dari Sitophilus zeamais. Penambahan ekstrak daun mimba 1.5% mampu menghambat secara total perkembangan Sitophilus zeamais yang dibuktikan dengan tidak adanya serangga turunan pertama. Pada konsentrasi 1.0% ekstrak daun mimba secara nyata mampu menurunkan jumlah populasi serangga, memperpanjang periode perkembangan dan memperkecil nilai dari indeks perkembangan, laju perkembangan intrinsik serta kapasitas mulitiplikasi mingguan. Dari hasil penelitian diperoleh ha

sil bahwa penambahan ekstrak daun mindi ada konsentrasi 1.0% secara nyata mampu menurunkan jumlah populasi serangga, memperkecil nilai dari indeks perkembangan, laju perkembangan intrinsik serta kapasitas mulitiplikasi mingguan.  Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ekstrak daun mimba

lebih efektif daripada daun mindi. Hal ini disebabkan karena pada konsentrasi yang lebih kecil yaitu 1.5%, ekstrak daun mimba mampu menghambat secara total jumlah populasi serangga turunan pertama. Pada daun mindi untuk menghambat secara total jumlah populasi serangga diperlukan konsentrasi 6.0%. Hal ini diperkuat dengan perhitungan secara teoritis menggunakan parameter kapasitas multiplikasi mingguan. Bila dibandingkan antara keduanya, dengan penambahan ekstrak masing-masing sebesar konsentrasi 1.0%, jumlah populasi serangga pada penambahan ekstrak daun mimba lebih

sedikit (127 ekor) bila dibandingkan jumlah populasi pada penambahan ekstrak daun mindi (581 ekor). Diduga pada mimba kandungan bahan aktif lebih tinggi daripada mindi sehingga mimba lebih efektif sebagai insektisida.

Dalam  proses memproduksi Insektisida Organik “Bio Annona” dan “Bio Albillin”  tidak mengeluarkan modal yang banyak. Bahan yang digunakan berbasis kearifan lokal Desa Wonorejo Kecamatan Poncokusumo kabupaten Malang.  Insektisida organik “Bio Annona” dan “Bio Albillin”  sangatlah ekonomis bagi masyarakat sehingga dapat memotong potensi tingginya pengeluaran.  Insektisida organik “Bio Annona” dan “Bio Albillin”  ini menggunakan bahan-bahan alami yang cukup banyak dijumpai di daerah sekitar dan sangat mudah untuk dijangkau. Di sisi lain respon dari kelompok tani terhadap pelatihan dan pendampingan produksi dan penggunaan  Insektisida organik “Bio Annona” dan “Bio Albillin”  ini sangat baik dan begitu antusias.

KESIMPULAN

  1. Melalui serangkaian kegiatan pelatihan, dan pendampingan pembuatan dan penggunaan Insektisida organik di Kelompok Tani Sumber Urip Desa Wonosari Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang, maka mitra PPMI telah menguasai:
  2. Metode pembuatan Insektisida organik.
  3. Metode penggunaan Insektisida organik.
  4. Produk Insektisida organik diberi merk “Bio Annona” dan “Bio Albillin” .

Berdasarakan hasil kegiatan pelatihan, dan pendampingan pembuatan dan penggunaan Insektisida organik di Kelompok Tani Sumber Urip Desa Wonosari Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang, maka dalam upaya lebih mengoptimalkan kemanfaatan program untuk mitra dapat disarankan untuk segera melakukan:

  1. Pendampingan pemasaran Insektisida organik dari bahan lokal  melalui jejaring sosial (FB dan Twitter), pedagang tanaman hias dan kelompok tani organik.
  2. Perancangan  dan pendampingan analisis ekonomi produksi Insektisida organik

UCAPAN TERIMAKSIH

Tim Pelaksana menghaturkan ucapan terimakasih kepada Yth: Direktur Direktorat Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRPM), Direktorat Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi yang telah memberikan dana hibah IbM (Ipteks bagi Masyarakat) Tahun Anggaran 2016, Pimpinan Universitas Muhammadiyah Malang, Pimpinan Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Muhammadiyah Malang (DPPM UMM), dan sebelas Mahasiswa UMM yang terlibat dalam kegiatan ini.

REFERENSI

Anonymous, (2014). Mengupas Tuntas Seputar Design Packaging Kemasan. http://en.wikipedia.org, diakses tanggal 03 April 2014.

Anonymous, (2016). Pestisida.. http://www.bukupedia.net/2015/12/pengertian-dan-macam-macam-jenis-pestisida-serta-dampak-pestisida-terhadap-lingkungan.html, diakses 3 Agustus 2016.

Batori, Imam. (2013). Bahan Nabati Insektisida Organik. Publisia. Jakarta.

Bayan, Adi. 2003. Pelabelan dalam Produk Industri. Cendekia. Surabaya.

Budiyanto MAK, (2013). Model Pengembangan Produksi Pangan Organik. Laporan Penelitian, Malang: Universitas Muhammadiyah Malang.

Budiyanto MAK, 2008. Pola Pemanfaatan Kotoran Sapi di Kabupaten Malang. Laporan Penelitian, Malang: Universitas Muhammadiyah Malang.

Budiyanto MAK, 2009. Tipologi Penggunaan Pupuk Organik pada Budidaya Hortikultura di Kabupaten Malang. Laporan Penelitian, Malang: Universitas Muhammadiyah Malang.

Budiyanto MAK, (2007). Persepsi Masyarakat tentang Pertanian Hortikultura Organik di Kabupaten Malang. Laporan Penelitian, Malang: Universitas Muhammadiyah Malang.

Dicky, (2011). Uji Efektivitas Beberapa Jenis Insektisida Nabati Dengan Dosis Yang Berbeda untuk Mengendalikan Penyakit Bercak Daun (Cercospora nicotianae ell. et .ev) Pada Tanaman Tembakau (Nicotianae tabaccum l.) di Lapangan. Skripsi, Medan: Universitas Sumatera Utara.

Faqihhudin, M.D., dkk. (2014). Penggunaan Insektisida terhadap Pertumbuhan, Hasil  dan Residu pada Jagung. Ilmu Pertanian 17 (1) : 1-12.

Jolly, D. (2000). From Cottage Industry to Conglomerates: The Transformation of the US Organis Food Industry. New York: Original Press.

Kotler, Philip. (2001). Manajemen Pemasaran di Indonesia : Analisis, Perencanaan, Implementasi dan Pengendalian. Salemba Empat. Jakarta.

Koul. (2008). Esential Oil As Green Pesticides Potential and Constrains. India; Current Science.

Kristanto, (2013). Pengendalian Hama Pada Tanaman Kubis Dengan Sistem Tanam Tumpang Sari. Jurnal berkalah ilmiah pertanian. Vol 1(1): 7-9

Nakahara, (2003).Chemical composition and antifungal activity of essential oil from cymbopogon Nardus. New York: Prencill.

Prihandarini R, (2009). Potensi  Pengembangan Pertanian Organik. Jakarta: Departemen Pertanian, Sekjen Maporina.

Sarjan, M.  (2010). Potensi Pemanfaatan Insektisida Nabati Dalam Pengendalian Hama Pada Budidaya Sayuran Organik. Skripsi, Mataram: Universitas Mataram.

Setaiadi Y, (2014). Cara Membuat Insektisida Organik. Yudistira, Jakarta.

Sigid (2016). Cara Membuat Insektisida Organik. http://www.kebunpedia. com/threads/cara-membuat-Insektisida-organik.5454/, Diakses 3 Agustus 2016.
Sonyaratri , D. (2006). Kajian Daya Insektisida Ekstrak Daun Mimba (Azadirachta indica  A. Juss) dan Ekstrak Daun Mindi (Melia azedarach L.) terhadap Perkembangan Serangga Hama Gudang  Sitophilus zeamais Motsch. Skripsi. Bogor: Institut Pertanian Bogor.

Stanton, William J. (2001). Prinsip Pemasaran. Erlangga. Jakarta.

Swastha, Basu dan Irawan.(2003). Manajemen Pemasaran Modern, Liberty, Yogyakarta.

Yaman, R. (2010). Kajian Insektisida Organik (Urin Sapi & Serbuk Biji Mimba) terhadap Mortalitas Larva (Spodoptera Litura). Skripsi. Surabaya: Universitas Pembangunan Nasional “Veteran’ Jawa Timur.

Zheni, Rudi, (2013). Cara Penggunaan Cairan Insektisida Organik. Jakarta: Erlangga.
 

 

CV DR.H.Moch. Agus Krisno Budiyanto, M.Kes. (per Juni 2017)

A. Identitas Diri

  1. Nama : DR. H. Moch.Agus Krisno Budiyanto, M.Kes.
  2. Jenis Kelamin : L
  3. Jabatan Fungsional : Lektor
  4. NIP-UMM : 104.8909.0118
  5. NIDN : 0723076401
  6. Tempat/Tanggal Lahir : Malang, 23 Juli 1964
  7. Alamat Email : aguskrisno.gbf@com
  8. Alamat Rumah : de Cluster Pisang Kipas No. 2 Malang, No. Telp/HP : 0341-471052 / 085234620855
  9. Alamat Kantor : Program Studi Pendidikan Biologi, Fakultas Keguruan  dan Ilmu   Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang, Jl. Raya   Tlogomas No. 246 Malang 65144,  No. Telp/Fak : (0341) 464318 psw 120 / (0341) 460782.
  10. Lulusan yang telah dihasilkan: S1: 465 orang, S2: 37 orang, S3: –
  11. Mata Kuliah yang Dibina : Ilmu Gizi (3 sks), Mikrobiologi (3 sks)

 B. Riwayat Pendidikan

  S1 S2 S3
Nama Perguruan Tinggi Universitas Muhmamadiyah Malang Universitas Airlangga Surabaya Universitas Airlangga Surabaya
Bidang Ilmu Pendidikan Biologi Mikrobiologi Ilmu Gizi
Tahun Masuk-

Tahun Lulus

1983-1987 1993-1995 1996-1999
Judul Skripsi/Tesis /Disertasi Studi tentang Pelaksanaan dan Sarana Praktikum Menurut Kurikulum 1984 di SMA Muhammadiyah se Kodya dan Kabupaten Malang Uji Kepekaan Kuman Staphylococcus aureus yang Diisolasi dari Penderita Pioderma  terhadap Aloe dari Ekstrak Follium Aloe Vera Secara Invitro Efek Hipolipidemik dan Hipoglikemik Nata de Coco Sglu pada Tikus (Rattus norvegicus) Strain Wistar
Nama Pembimbing/ Promotor Drs. Yusuf Kastawi dr. Neneng K Djinawi, MSc.

DR. Muhammad Zainuddin, Apt

Prof. dr. Purnomo Suryohudoyo

Prof.DR.dr.H.Askandar Tjokroprawiro, SpPD.

Prof.DR.dr.Arsiniati MB Arba’i, DAN

C. Pengalaman  Penelitian dalam 5 Tahun Terakhir

No Tahun Judul Penelitian Sumber Dana
Sumber Jml (Juta Rp)
1 2011 Implementasi Kebijakan Pendidikan Gizi

di SD Islam Terpadu Insan Permata Kota Malang

DPP UMM 8
2 2012 Tipologi Preferensi Konsumen terhadap Produk Pangan Organik di Kota zxMalang DPP UMM 8
3 2012 Analisis Peran Komite Sekolah dalam Pendidikan Gizi di SDN 2 Kauman Malang DPP UMM 4
4 2013 Kearifan Lokal Pemenuhan Gizi Protein

Di Malang

DPP UMM 8
5 2013 Formulasi Roti Terfortifikasi Iodium dalam Upaya Penanggulangan Angka GAKI (Penelitian Hibah Bersaing  Tahun Ke-1) Dikti 55
6 2013 Model Pengembangan Produksi pangan Organk (Penelitian Strategis Nsional Tahun Ke-1) Dikti 80
7 2014 Studi Faktor Pencemar Potensial  Pada Makanan Jajanan di Pasar Besar Malang DPP UMM 8
8 2014 Model Pengembangan Produksi Pangan Organik (Penelitian Strategis Nsional Tahun Ke-2) Dikti 37,5
9 2014 Formulasi Roti Terfortifikasi Iodium

dalam Upaya Menurunkan Angka GAKI (Penelitian Hibah Bersaing  Tahun Ke-2)

Dikti 25
10 2015 Strategi Edukasi Publik Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Kota Malang

(Penelitian Pengembangan Karya Ilmiah Doktor, PKID)

DPP UMM 25
11 2015 Tipologi Gerakan Mencuci Tangan  dengan Sabun dalam Upaya Mencegah Penyakit Infeksi di Kota Malang

(Penelitian Dasar Keilmuan, PDK)

DPP UMM 10,8
12 2016 Konsep Tipologi Penggunaan Fungisida di Malang Raya

(PDK FKIP UMM)

DPP UMM 13
13 2016 Strategi Edukasi Publik Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Kota Malang

(Penelitian Pengembangan Karya Ilmiah Doktor, PKID)-Tahun Kedua

DPP UMM 25
14 2016 Produksi Buku Sintaks Metode Student Centered Learning Dirjen PRP Kemeristek-Dikti 50
15 2017 Studi Tipologi Penyediaan Lahan Pertanian Organik DPP UMM 13

 

D. Pengalaman Pengabdian Kepada Masyarakat

 

No Tahun Judul Pengabdian Kepada Masyarakat Pendanaan
Sumber Jml (Juta Rp)
1 2012 Program Keaksaran Dasar di Kecamatan Sumbermanjing Kabupaten  Malang Dirjen PAUDNI 108
2 2012 Pengelolaan Lingkungan Sekolah Sehat  di Perguruan  Muhammadiyah  Dau Malang DPP

UMM

9
3 2013 IbM Kelompok Produksi Pangan Organik Yang Menghadapi Masalah Pupuk Dikti 45
4 2013 Program Keaksaran Dasar di Kecamatan Dampit Kabupaten Malang dan Kecamatan Senduro Kabupaten Lumajang Dirjen PAUDNI 450
5 2013 Pengelolaan Penelitian Tindakan Kelas di Perguruan Muhammadiyah Dau Malang DPP

UMM

9
6 2013 Pengembangan Sekolah Muhammadiyah Melalui Peningkatan Mutu Pembelajaran, PTK dan Karya Ilmiah di SMK Muhammadiyah 5 Kepanjen dan SMA Muhammadiyah 1 Kepanjen FKIP

UMM

20,5
7 2014 IbM Kelompok Peternak Sapi yang

Menghadapi Masalah Pengelolaan

Kotoran Sapi

Dikti 38,5
8 2014 Pendampingan Pembuatan Insektisida Organik di Kelompok Produksi Pangan Organik  Desa Sumbersari Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang DPP

UMM

9
9 2014 Program Keaksaran Dasar di Kecamatan Sumbermanjing Kabupaten  Malang Dirjen PAUDNI 108
10 2015 Program Keaksaran Dasar di Kecamatan Jabung Kabupaten  Malang Dirjen PAUDNI 80
11 2015 Pendampingan Pembuatan Herbisida Organik di Kelompok Tani Sumber Urip-1 Desa Wonosari Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang DPPU UMM
12 2016 Program Keaksaran Usaha Mandiri di Kecamatan Pagak Kabupaten Malang Dirjen PAUDNI 150
13 2016 Pendampingan Pembuatan Fungisida Organik di Kelompok Tani Sumber Urip-1 Desa Wonosari Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang DPP

UMM

13
14 2016 Program Keaksaran Usaha Mandiri di Kecamatan Jabung Kabupaten Malang Dirjen PAUDNI 60
15 2016 IbM Kelompok Petani Organik yang Menghadapi Masalah Insektisida

 

DRPM-Dirjen PRP Kemeristek-Dikti 44
16 2017 Pendampingan Pembuatan Auksin dan Giberelin Organik di Kelompok Tani Sumber Urip-1 Desa Wonosari Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang DPP

UMM

13
17 2017 PKM Kelompok Petani Organik

yang Menghadapi Masalah Herbisida

DRPM-Dirjen PRP Kemeristek-Dikti 44,5

 

 

 

 

 

  1. Pengalaman Penulisan Artikel Ilmiah Dalam Jurnal

 

No Tahun Judul Artikel Ilmiah Nama Jurnal Volume/ Nomor/Tahun
1 2010 Pengembangan Ketahanan Pangan Berbasis Pisang Melalui Revitalisasi Nilai Kearifan Lokal dan Penguatan Kelembagaan Kelompok Tani   Jurnal “TEKNIK INDUSTRI”, Terakreditasi No. 83/DIKTI/Kep/2009

Tgl. 06 Juli 2009

Volume 11, No. 2, Agustus 2010, ISSN : 1978-1431

pada Halaman 170-177, (Penulis Mandiri)

2 2011 Pengembangan Kelembagaan Pangan Organik di Jawa Timur Jurnal “TEKNIK INDUSTRI”, Terakreditasi No. 83/DIKTI/Kep/2009

Tgl. 06 Juli 2009

Volume 12, No. 2, Agustus 2011, ISSN : 1978-1431

pada Halaman 176-184, (Penulis Mandiri)

3 2011 Efek Ekstrak Lidah Buaya (Aloe vera) terhadap Diameter Penyembuhan LukaDecubitus pada Tikus Putih Jurnal Farmasains Volume 1, Nomor 2, Maret 2011, ISSN: 2086-3373, pada halaman 187-197. (Penulis Mandiri)
4 2011 Pendampingan Pengelolaan Lingkungan Hidup Berbasis pada Mata Pelajaran Muatan Lokal di SDN Dinoyo 2 Kota Malang Jurnal Dedikasi Volume 8, Mei 2011,ISSN: 1693-3214,  hal. 1-8
5 2012 Tipologi Preferensi Konsumen terhadap Produk Pangan Organik Jurnal Humanity Volume 7, Nomor 2, Maret 2012, ISSN: 0216-8995, Hal. 63-73.

 

  1. Pengalaman Penyampaian Makalah Secara Oral Pada Pertemuan / Seminar Ilmiah

 

No Nama Pertemuan Ilmiah / Seminar Judul Artikel Ilmiah Waktu dan Tempat
1 Seminar Nasional Menuju Masyarakat Madani dan Lestari Model Peningkatan Kualitas Hidup Islami melalui Pengembagan Produk Pangan Organik 18 Desember 2013, UII
2 Seminar Nasional Menuju Masyarakat Madani dan Lestari Jenis Tepung dan Iodium Terbaik dalam Pembuatan Roti Terfortifikasi Iodium sebagai Problem Solving GAKI 18 Desember 2013, UII
3 Seminar Nasional Pendidikan Bilogi Studi Faktor Pencemar Potensial  Pada Makanan Jajanan di Pasar Besar Malang 21 Maret 2015

UMM

4 Seminar Nasional Biologi Profil Pelaksanaan PHBS di Kota Malang 21 Nopember 2015, Unej
5 Seminar Nasional Biologi Tipologi Gerakan Mencuci Tangan  Pakai Sabun di Sekolah Kota Malang 20 Pebrauri 2016

Unesa

6 Seminar Nasional Biologi Kearifan Lokal Pemenuhan Gizi Protein Di Malang 26 Maret 2016

UMM

7 Seminar Nasional Biologi Efektivitas Pemanfaatan Media Leaflet dalam Meningkatkan Pengetahuan dan Keterampilan Mencuci Tangan dengan Sabun 26 Maret 2016

UMM

8 Seminar Nasional Biologi Implementasi Pendekatan Saintifik dalam Pembelajaran

di Pendidikan Dasar di Malang

6 Agustus 2016

UNS

9 Seminar Nasional Biologi Efektivitas Pendampingan dalam Produksi dan Pengunaan Insektisida Organik di Kelompok Tani Sumber Urip Malang 6 Agustus 2016

UNS

10
4th International Conference on Community Development in ASEAN

Phnom Penh Cambodia

The Policy Implementation of Nutrition Education in Elementary School Permata Insan Malang Indonesia 22 March 2017

Royal Academy of Cambodia

11 Seminar Nasional Biologi Studi Tipologi Penyediaan Lahan Pertanian Organik 29 April 2017

UMM

12 Seminar Nasional Biologi Efektivitas Pendampingan dalam Produksi Herbisida Organik 29 April 2017

UMM

 

  1. Pengalaman Penulisan Buku

 

No Judul Buku Tahun Jumlah Halaman Penerbit
1 Peningkatan Produk Pangan Organik 2014 73 Pend. Biologi UMM
2 Meretas GAKI dengan Roti Terfortifikasi Iodium 2014 77 Pend. Biologi UMM
3 Instalasi Biogas Kotoran Sapi 2014 100 Pend. Biologi UMM
4 Sintaks 45 Metode Pembelajaran Dalam Student Centered Learning (SCL) 2016 174 UMM Press
5 Cara Membuat

Insektisida Organik

2016 128 UMM Press

 

 

  1. Pengalaman Perolehan HKI

 

No Judul/Tema HKI Tahun Jenis Nomor P/ID
1 Hak Cipta Buku Ber-ISBN ” Sintaks 45 Metode Pembelajaran Dalam Student Centered Learning (SCL)” 2106 Hak Cipta EC00201601615, 17 Oktober 2016
2 Hak Cipta Buku Ber-ISBN ” Cara Membuat Insektisida Organik” 2106 Hak Cipta EC00201601614, 17 Oktober 2016

 

 

 

  1. Pengalaman Merumuskan Kebijakan Publik/Rekayasa Sosial Lainnya

 

No Judul/Tema/Jenis Rekayasa Sosial Lainnya yang Telah Diterapkan Tahun Tempat Penerapan Respons Masyarakat
1 TTG Pembuatan Pupuk Organik Pelet 2013 Desa Sumbersari Kec. Poncokusumo Kab. Malang Sangat Baik
1 TTG Instalasi Biogas dari Kotoran Sapi 2014 Desa Wonorejo Kec. Poncokusumo Kab. Malang Sangat Baik
2 TTG Cara Merawat Instalasi Biogas 2014 Desa Wonorejo Kec. Poncokusumo Kab. Malang Sangat Baik
3 TTG Cara Menghitung Nilai Ekonomis Produksi Biogas 2014 Desa Wonorejo Kec. Poncokusumo Kab. Malang Sangat Baik
4 TTG Pembuatan Insektisida Organik 2016 Desa Wonorejo Kec. Poncokusumo Kab. Malang Sangat Baik
5 TTG Penggunaan Insektisida Organik 2016 Desa Wonorejo Kec. Poncokusumo Kab. Malang Sangat Baik

 

  1. J. Penghargaan

 

No Jenis Penghargaan Institusi Pemberi Penghargaan Tahun
1 Presentasi Poster Terbaik Penelitian Nasional Dirjendikti, Kemendikbud 2010
2 Presentasi Poster Terbaik Pengabdian Nasional Dirjendikti, Kemendikbud 2015
3 Pengabdian 25 Tahun UMM 2016

 

 

 

 

  1. K. Pengalaman Pelatihan

 

No Tahun Judul Pelatihan Waktu Pelatihan Tempat Pelatihan
1 2014 Pelatihan Applied Approach (AA), 100 Jam 7 Pebruari 2014 s/d 19 April 2014 UMM
2 2015 Pelatihan Applied Approach (AA), 100 Jam 8 Sepember 2915 s/d 19 Oktober 2015 UMM

 

Efektivitas Pendampingan dalam Produksi Herbisida Organik

Efektivitas Pendampingan dalam Produksi Herbisida Organik

Effectiveness of Assistance in the Production of Organic Herbicide

 

Moch. Agus Krisno Budiyanto1), Muizzuddin2)

1),2) Program Studi Pendidikan Biologi, FKIP-Universitas Muhammadiyah Malang

Jl. Tlogomas No. 246 Malang, aguskrisno.umm@gmail.com

Juli,2017

 

ABSTRAK

Potensi nabati di Indonesia sangat besar dalam produksi herbisida organik. Di banyak daerah masih diperlukan pendampingan pada kelompok tani untuk memproduksi herbisida organik. Penelitian ini mempunyai tujuan untuk mengetahui efektivitas pendampingan dalam produksi herbisida organik di Kelompok Tani Sumber Urip Malang. Desain penelitian yang digunakan Cross Sectional.  Pendampingan dilakukan sebanyak 10 kali dalam bidang produksi herbisida organik dengan melibatkan 10 petani dari Kelompok Tani Sumber Urip I dan 10 petani dari Kelompok Tani Sumber Urip II. Sebelum pendampingan dilakukan pretest dan setelah pendampingan dilakukan posttest tentang pengetahun dan keterampilan dalam produksi herbisida organik. Metode Pengumpulan data yang digunakan adalah angket, observasi,  dan wawancara, sedangkan metode analisis data yang digunakan adalah uji t 1 sampel terikat.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa; 1) ada perbedaan yang sangat signifikan pengetahuan produksi herbisida organik sebelum dan  sesudah pendampingan (t-hit > t-tab0,01, 8,156 > 2,861), dan 2) ada perbedaan yang sangat signifikan keterampilan produksi herbisida organik sebelum dan  sesudah pendampingan (t-hit > t-tab0,01, 9,067 > 2,861). Dari hasil penelitan tersebut dapat disimpulkan hasil penelitian yaitu pendampingan efektif meningkatkan pengetahuan dan keterampilan produksi herbisida organik.

Kata kunci: pendampingan, herbisida, organik, produksi, keterampilan

 

ABSTRACTPotential plant in Indonesia is very large in the production of organic herbicides. In many areas still needed assistance to farmer groups to produce organic herbicide. The objective of this study was to examine the effectiveness of assistance in the production of organic herbicides in Sumber Urip Farmers Group off Malang. The design study is cross sectional. Assistance performed 10 times in the production of organic herbicides involving 10 farmers from Sumber Urip-I  Farmers Group  and 10 farmers from Sumber Urip-II Farmers Group. Before the assistance  is done after the pretest and posttest counseling is done on the knowledge and skills in the production of organic herbicides. Data collection method used was a questionnaire, observation and interview, while data analysis method used is the one sample t test bound. The results showed that; 1) there is a very significant difference of knowledge production of organic herbicides before and after assistance (t-hit> t-tab0,01, 8.156> 2.861), and 2) there are significant differences of organic herbicide production skills before and after assistance (t- hit> t-tab0,01, 9.067> 2.861). From the results of such research can be summed up the results of research that effective assistance skills and knowledge production of organic herbicides.Keywords: assistance, herbicides, organic, production, skill

 PENDAHULUAN

Hasil penelitian sebelumnya telah diperoleh bahwa 1) persepsi masyarakat tentang pertanian hortikultura organik identik dengan pertanian sayuran dan buah yang tidak menggunakan pupuk buatan  dan pestisida buatan (Budiyanto, 2007). Hasil penelitian Budiyanto (2012) tentang Tipologi Preferensi Konsumen terhadap  Produk Pangan Organik di Kota Malang dapat dinyatakan bahwa: 1) Tipe pengambilan keputusan konsumen dalam memilih produk pertanian organik di Kota Malang adalah economic type (4%), psychological type (13%), consumer behaviour type (25%), dan others type (58%). Tipe lain-lain sebagian besar karena alasan kesehatan, dan 2) Faktor-faktor   yang mempengaruhi konsumen dalam memilih produk pangan organik di Kota Malang adalah   faktor sosial (10%),  faktor personal (14%),  faktor psikologi (19%),  faktor kultural (5%), dan faktor lain-lain (52%).  Faktor lain-lain sebagian besar karena faktor agama. Dua penelitian ini mengindikasikan bahwa komsumsi produk pangan organik didasari alasan kesehatan.

Pada abad 21 ini, trend pola gaya hidup sehat telah berhasil mendorong berkembangnya pertanian organik secara luas (Prihandarini, 2009). Pertanian organik merupakan salah satu alternatif menuju pembangunan pertanian yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Tujuan utama dari sistem pertanian organik adalah untuk menghasilkan produk bahan pangan yang aman bagi kesehatan produsen maupun konsumen dan tidak merusak lingkungan. Pengertian organik menurut FAO adalah ” a holistic production management system which promotes and enhances agroecosistern healyh, including biodiversity, biological cycles, and soil biological activity” (suatu system managemen yang holistik yang mempromosikan dan meningkatkan pendekatan sistem pertanian berwawasan kesehatan lingkungan, termasuk biodiversitas, siklus biologi dan aktivitas biologi tanah. Pertanian organik merupakan suatu sistem pertanian berkelanjutan yang diakui oleh Komisi Eropa (European Commission) dan Agricultural Council pada Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tahun 1992 (Jolly, 2000).

Disis lain, selama ini, masalah gulma merupakan masalah pada tanaman perkebunan besar, sedangkan pada tanaman pangan dan hortikultura tidak menjadi masalah, karena dapat diatasi secara manual. Pengendalian gulma dengan menggunakan bahan kimia banyak menimbulkan masalah. Tindakan pengendalian gulma yang sering dilakukan adalah dengan menggunakan bahan kimia sintetis, yang disebut herbisida. Herbisida adalah suatu senyawa kimia yang digunakan untuk mengendalikan gulma tanpa menggangu tanaman pokok (Sukman dan Yakub, 1997). Terjadinya pencemaran dan polusi merupakan dampak negatif dari penggunaan herbisida sintesis. Untuk mengurangi dampak negatif dari penggunaan herbisida tersebut, petani menggunakan metoda pengendalian gulma dengan menggunakan bahan non-kimia atau herbisida organik. Herbisida organik terbuat dari bahan alami yang relaitf aman dan ramah lingkungan.

Indonesia mempunyai potensi nabati yang sangat besar dalam produksi herbisida organik. Di banyak daerah masih diperlukan pendampingan pada kelompok tani untuk memproduksi dan menggunakan herbisida organik. Mitra PKM adalah 2 (dua) Kelompok Petani Organik yang berada di Desa Wonorejo Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang Propinsi Jawa Timur, suatu desa yang berada di timur laut dari Kota Malang dan berbatasan dengan Kabupaten Probolinggo (Lereng Hutan Lindung Tengger Gunung Bromo) dengan produksi pertanian organik yang cukup  tinggi. Pada tahun 2014 Desa Wonorejo mempunyai jumlah penduduk 4.271 dengan jumlah laki-laki 1.928 orang dan perempuan 2.343 orang, sebagain besar bekerja sebagai petani dan peternak. Budidaya pertanian organik telah berjalan dengan baik dan produktif di Desa Wonorejo. Produk organik yang paling banyak dihasilkan adalah padi, kol, gubis, tomat, kacang panjang, bayam, sawi, kacang panjang, cabai, dan bawang merah. Petani organik telah menggunakan pupuk organik padat maupun cair dari kotoran sapi dan kompos, tetapi petani masih menghadapi masalah penggunaan herbisida organik karena terbatasnya persediaan.

Menurut Batori (2013) beberapa tumbuhan yang dapat digunakan sebagai bahan herbisida organik adalah bawang putih, air kelapa, kulit jengkol, umbi gadung, akar tuba (akar jenu), daun papaya, daun sengon, umbi temu ireng, daun mindri (daun mindi), dan lain sebagainya.

Permasalahan yang dihadapi oleh Kelompok Tani Sumber Urip I dan Kelompok Tani Sumber Urip II yang berada di Desa Wonorejo Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang berangkat dari kendala penggunaan herbisida organik yaitu suplai herbisida organiknya kadang-kadang tidak lancar dan sehingga harganya kadang-kadang relatif mahal. Padahal di Desa Wonorejo terdapat potensi hayati yang dapat digunakan bahan pembuatan herbisida organik, misalnya bawang putih, air kelapa, kulit jengkol, umbi gadung, akar tuba (akar jenu), daun papaya, daun sengon, umbi temu ireng, daun mindri (daun mindi), dan lain sebagainya.

Secara spesifik setelah dilakukan diskusi / musyawarah dengan mitra pendampingan, maka permasalahan mitra secara konkret dan menjadi prioritas yang harus ditangani adalah mitra tidak menguasai metode pembuatan herbisida organik ,

Penelitian ini mempunyai tujuan untuk mengetahui efektivitas pendampingan dalam produksi herbisida organik di Kelompok Tani Sumber Urip I dan Kelompok Tani Sumber Urip II Desa Wonorejo Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang.

METODE

Desain penelitian yang digunakan Cross Sectional.  Pendampingan dilakukan sebanyak 10 kali dan selama 2 bulan dalam bidang produksi dan pengunaan herbisida organik dengan melibatkan 10 petani dari Kelompok Tani Sumber Urip I dan 10 petani dari Kelompok Tani Sumber Urip II. Sebelum pendampingan dilakukan pre-test dan setelah pendampingan dilakukan post-test tentang pengetahun dan keterampilan dalam produksi dan penggunaan herbisida organik.

Metode Pengumpulan data yang digunakan adalah angket, observasi,  dan wawancara. Angket diberikan kepada 20 anggota Kelompok Tani Sumber Urip I dan Kelompok Tani Sumber Urip II Desa Wonorejo Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang untuk mengetahui skore pengetahuan produksi dan penggunaan herbisida organik, sedangkan wawancara juga dilakukan anggota Kelompok Tani Sumber Urip I dan Kelompok Tani Sumber Urip untuk mengetahui kendala dan permasalahan pada saat produksi dan penggunaan herbisida organik. Observasi digunakan untuk mengetahui skore keterampilan produksi dan penggunaan herbisida organik. Metode analisis data yang digunakan adalah uji t 1 sampel terikat.

 

No Perihal Sasaran
1 Peserta 20 orang utusan Mitra (10 orang dari Kelompok Petani   Sumber Urip I dan   10 orang Kelompok Petani  Sumber Urip II Desa Wonorejo Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang)
2 Fasilitator DR.H.Moch. Agus Krisno Budiyanto,M.Kes.

Drs. Muizuddin,M.Kes.

3 Co-Fasilitator 11  Mahasiswa FKIP-Biologi UMM.
4 Tempat Rumah Pupuk Kelompok Petani Organik Sumber Urip I
5 Waktu 1 bulan
6 Materi Cara Memproduksi Herbisida Organik
7 Metode Fasilitator menjelaskan dan mempraktekan  cara membuat herbisida organik.

Fasilitator mendampingi produksi herbisida organik.

8 Indikator Keberhasilan 20 orang Mitra memahami dan dapat melakukan produksi  herbisida organik.
9 Evaluasi Pre-test dan Post-test pengetahuan dan keterampilan produksi.

 

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil penelitian menunjukkan bahwa; 1) ada perbedaan yang sangat signifikan pengetahuan produksi herbisida organik sebelum dan  sesudah pendampingan (t-hit > t-tab0,01, 8,156 > 2,861), dan 2) ada perbedaan yang sangat signifikan keterampilan produksi herbisida organik sebelum dan  sesudah pendampingan (t-hit > t-tab0,01, 9,067 > 2,861).

 

Berdasarkan Gambar 1 dan Gambar 2, serta hasil uji t 1 sampel terikat didapatkan hasil bahwa ada perbedaan pengetahuan dan keterampilan produksi herbisida organik sebelum dan sesudah pendampingan, dimana rata-rata skore sesudah pendampingan lebih besar jika dibandingkan dengan rata-rata skore sebelum pendampingan. Hal ini menunjukkan bahwa pendampingan efektif meningkatkan pengetahuan dan keterampilan produksi dan penggunaan herbisida organik.

Pendampingan yang menggunakan model pelibatan langsung mitra dan disertai dengan pendampingan interaktif yang menggunakan media leaflet terbukti telah meningkatkan pengetahuan dan keterampilan produksi dan penggunaan herbisida organik. Pelibatan mitra dalam penyediaan alat, bahan, lokasi, lahan tempat pendampingan juga menjadi faktor dominan dalam pendampingan.

 

Tabel 1 Partisipasi Mitra dalam Pelaksanaan Kegiatan Pendampingan Produksi Pengunaan Herbisida Organik

 

No Kegiatan Pendampingan Partisipasi Mitra

dalam Kegiatan

1 Pelatihan dan pendampingan pembuatan herbisida organik Berperan aktif dalam penyiapan alat/bahan

Berperan aktif sebagai peserta pelatihan

2 Pelatihan dan pendampingan penggunaan herbisida organik Berperan aktif dalam penyiapan alat/bahan/lahan

Berperan aktif sebagai peserta pelatihan dan pendampingan

Sebagai daerah tropis, Indonesia memiliki flora yang sangat beragam, mengandung cukup banyak jenis tumbuh-tumbuhan yang merupakan sumber bahan herbisida yang dapat dimanfaatkan untuk pengendalian hama.

Indonesia kaya akan bahan nabati bahan baku herbisida organik, diantaranya adalah: tanaman lenguas, umbi bawang merah, umbi bawang putih, buah belimbing wuluh, daun lidah buaya, daun sirsak, daun srikaya, daun kaliandra, buah pinang, daun/bunga jukut lokot mala, tanaman bandotan, daun cengkeh, daun mangga, daun mahoni, daun jagung, dan daun akasia. Pada prinsipnya semua tumbuhan yang mengandung terpenoid, flavonoid dan fenol adalah alelokimia yang mampu membunuh gulma (Budiyanto, 2017).

Menurut Budiyanto (2017), alat dan bahan untuk membuat herbisida organik adalah: 1) Alat  yang dibutuhkan: penumbuk, jerigen ukuran 10 liter, glass ukur, dan corong, 2) Bahan : air sumur 10 liter, bawang putih 0,5 kg, ragi 40 butir, dan Moebillin (EM 4+) 20 ml. Cara Pembuatan:menyiapkan 10 liter sumur, menghaluskan bawang putih sebanyak 0,5 kg, menghaluskan ragi sebanyak 20 butir, memasukkan hasil penghalusan bawang putih dan ragi  kedalam jerigen yang didalamnya telah berisi 10 liter air sumur, melarutkan bawang putih dan ragi yang telah dihaluskan dengan air sumur sampai homogeny, menambahkan 20 ml moebillin, memfermentasikan selama 2 minggu, pada jerigen dalam keadaan tertutup, fermentasi disimpan dalam keadaan kedap udara tanpa terkena sinar matahari, setiap 2 hari tutup jerigen dibuka untuk mengeluarkan gas ysng terbentuk, dan herbisida organik bio allium siap digunakan. Cara pemakaian: penggunaan cairan herbisida organik menggunakan semprot spriyer “solo” dengan dosis 200 ml untuk ukuran per tangki spriyer/kompresor (16 liter) dan tambahkan air sungai/sumur sampai penuh. Usahakan dalam menyemprot lahan yang bergulma, harus basah kena semprot agar cepat herbisida membasmi gulma. Jangan menyemprot diwaktu gerimis atau hujan, ini tidak akan berfungsi seperti yang diharapakan. Usahakan tidak mengenai tanaman budidayanya karena bisa jadi tanaman budidaya tersebut bukan termasuk galur yang resisten herbisida. Jika luas lahan 1 Ha, maka dibutuhkan 10 tangki kompresor (160 liter) yang berarti membutuhkan 200 ml (2 liter) herbisida organik.

Disisi lain Menurut Budiyanto (2017), alat dan bahan untuk membuat herbisida organik adalah: 1) Alat  yang dibutuhkan: penumbuk, jerigen ukuran 10 liter, glass ukur, dan corong, 2) Bahan: Air kelapa 5 Lt, Ragi 20 butir, Bawang Putih atau Bawang Merah 250 gr (sudah diiris). Cara Pembuatan: menyiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan, mengupas bahan berupa bawang putih atau bawang merah, menumbuk bahan hingga halus, menghaluskan ragi, mencampurkan semua bahan kedalam ember, mengaduk hingga bahan homogen, memasukkan bahan yang sudah homogen kedalam jerigen, dan mendiamkan selama 15 hari. setiap 2 hari tutup jerigen dibuka untuk mengeluarkan gas. Cara pemakaian: penggunaan cairan herbisida organik menggunakan semprot spriyer “solo” dengan dosis 200 ml untuk ukuran per tangki spriyer/kompresor (16 liter) dan tambahkan air sungai/sumur sampai penuh. Usahakan dalam menyemprot lahan yang bergulma, harus basah kena semprot agar cepat herbisida membasmi gulma. Jangan menyemprot diwaktu gerimis atau hujan, ini tidak akan berfungsi seperti yang diharapakan. Usahakan tidak mengenai tanaman budidayanya karena bisa jadi tanaman budidaya tersebut bukan termasuk galur yang resisten herbisida. Jika luas lahan 1 Ha, maka dibutuhkan 10 tangki kompresor (160 liter) yang berarti membutuhkan 200 ml (2 liter) herbisida organik.

Menurut Zheni (2013) alat dan bahan untuk membuat herbisida organik adalah: 1) Alat : Jerigen ukuran 10 Lt, ember,  dan Pisau, 2) Bahan : Air kelapa 5 Lt, Ragi 20 – 30 butir, Bawang putih 300 gr (diiris), Round Up/ Gramoxon 1 Lt. Cara Pembuatan: bahan dicampur dan dimasukan kedalam jerigen. Simpan selama 15 hari. Setiap 2 hari tutup jerigen dibuka untuk mengeluarkan gas. Herbisida organik juga dapat dibuat dengan bahan 1 liter herbisida merk atau Round Up/Gramaxon, 2 liter air kelapa, 60 gram derterjen merk apa saja, butir ragi tape, 1/2 kg pupuk ZA. Cara membuatnya adalah: 1) Ambil ember atau apa saja untuk wadah mencampur, 2)  Masukan air kelapa dalam ember, 3) Masukan ragi dan pupuk ZA terus aduk sampai tercampur rata, 4) Masukan juga detergen sambil terus diaduk, 5) Terakhir masukan herbisida sambil terus di aduk, dan 6) Bila sudah tercampur simpan selama 30 hari. Setiap 2 hari tutup jerigen dibuka untuk mengeluarkan gas.

Menurut Budiyanto (2017) Salah satu mekanisme herbisida organik adalah alelopati yang pertama kali dikemukakan oleh Hans Molisch. Alelopati berasal dari kata allelon (saling) dan pathos (menderita). Menurut Molisch, alelopati meliputi interaksi biokimiawi secara timbal balik, yaitu yang bersifat penghambatan maupun perangsangan antara semua jenis tumbuhan termasuk mikroorganisme. Tahun 1974, Rice memberikan batasan alelopati sebagai keadaan merugikan yang dialami tumbuhan akibat tumbuhan lain, termasuk mikroorganisme, melalui produksi senyawa kimia yang dilepaskan ke lingkungannya. Batasan ini kemudian terus diverifikasi dengan berbagai penelitian. Tahun 1984, Rice melaporkan bahwa senyawa organik yang bersifat menghambat pada suatu tingkat konsentrasi, ternyata dapat memberikan pengaruh rangsangan pada tingkat konsentrasi yang lain. Sejak tahun tersebut, Rice dan sebagian besar ilmuwan yang menekuni alelopati merujuk terhadap batasan yang dikemukakan oleh Molisch. Alelopati kemudian didefinisikan sebagai pengaruh langsung ataupun tidak langsung dari suatu tumbuhan terhadap yang lainnya,termasuk mikroorganisme, baik yang bersifat positif/ perangsangan, maupun negatif/penghambatan terhadap pertumbuhan, melalui pelepasan senyawa kimia ke lingkungannya (Rice 1995; Inderjit & Keating 1999; Singh et al. 2003).

Saat ini kajian mengenai alelopati sangat berkembang dan menjadi bagian minat keilmuan tersendiri. Para ilmuwan peminat kajian alelopati tahun 1994 telah membentuk suatu asosiasi berskala internasional yang bernama International Allelopathy Society (IAS), yang berperan memfasilitasi komunikasi, publikasi, dan kerjasama di antara para ilmuwan memaparkan perkembangan terkini kajian alelopati yang dihimpun dari berbagai sumber publikasi. Tulisan ini diawali dengan informasi mengenai sumber alelopati dalam agroekosistem, dilanjutkan dengan keragaman potensi alelopati, lingkup bidang kajian alelopati, serta penerapan alelopati dalam isu pertanian berkelanjutan (Budiyanto, 2017).

Menurut Budi dan Hadjoeningtyas (2013), beberapa spesies tumbuhan dilaporkan mengeluarkan senyawa kimia (allelokimia) yang dapat menghambat tumbuhan disekitarnya. Apabila senyawa ini dapat mengahambat gulma tetapi tidak berpengaruh negatif atau berpengaruh positif terhadap tanaman pokok, maka tanaman tersebut sangat berpotensi untuk dikembangkan sebagai herbisida organik. Alang-alang  dilaporkan menghasilkan senyawa kimia polifenol yang dapat menghambat perkecambahan beberapa jenis biji gulma didalam tanah.

Ageratum (tumbuhan bandotan) seringkali populasinya lebih dominan dibandingkan tanaman liar lainnya. Ageratum diduga kuat mempunyai allelopathy di mana Ageratum mengeluarkan eksudat kimia yang dapat menekan pertumbuhan tanaman liar lainnya. Hasil penelitian Xuan et al., yang dilakukan di Fakultas Pertanian, Universitas Miyazaki, Jepang. Penggunaan daun Ageratum dengan dosis 2 ton/ha dapat menekan sampai 75% gulma pada tanaman padi seperti Aeschynomene indica, Monochoria vaginalis dan Echinochloa crusgalli var. Formosensis Ohwi. Kemampuan Ageratum sebagai allelopathy diidentifikasi karena adanya 3 phenolic acid yaitu gallic acid, coumalic acid dan protocatechuic acid, yang dapat menghambat pertumbuhan beberapa gulma pada tanaman padi. Selain itu penggunaan daun Ageratum dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil panen padi sampai 22% lebih baik dibandingkan kontrol, dan 14% dibanding dengan penggunaan herbisida. Hal tersebut diduga karena penambahan daun Ageratum meningkatkan kandungan nitrogen dalam tanah yang sangat diperlukan bagi pertumbuhan padi. Melimpahnya tanaman ini yang seringkali hanya dianggap sebagai gulma barangkali dapat menjadi sumber pupuk kompos yang baik bagi tanaman, apalagi semakin mahalnya harga pupuk bagi petani (Hogantara, 2017).

Ekstrak daun A. conyzoides L. berpengaruh nyata menurunkan perkecambahan dan pertumbuhan serta meningkatkan persentase kerusakan pada anakan gulma P. conjugatum. Konsentrasi ekstrak daun 20% merupakan konsentrasi optimum yang dapat menghambat perkecambahan, pertumbuhan serta meningkatkan persentase kerusakan anakan gulma P. conjugatum berturut-turut sebesar 80,5 %, 63,15 % dan 17,72 %. Berdasarkan hasil pengamatan yang didapat maka disarankan melakukan uji alelopat dari ekstrak daun gulma A. conyzoides L. terhadap jenis gulma lain untuk mengetahui potensi alelopat dari ekstrak daun gulma A. conyzoides L. tersebut (Isda, 2013).

Menurut  Talahatu (2015) terdapat efektifitas herbisida alami ekstrak daun cengkeh pada konsentrasi 50% yang dapat gunakan sebagai salah satu alternatif untuk menghambat pertumbuhan tinggi gulma rumput teki. Semakin tinggi ekstrak daun cengkeh yang diberikan terhadap gulma rumput teki maka akan semakin berpotensi menghambat gulma rumput teki yang diukur dari tinggi tanaman, fitotoksisitas, berat basah dan berat kering gulma rumput teki.  Cengkeh merupakan tanaman rempah asli Kepulauan Maluku, dan telah di perdagangkan serta dibudidayakan secara turun-temurun dalam bentuk perkebunan rakyat. Pemisahan kandungan kimia dari daun cengkeh menunjukkan bahwa daun cengkeh mengandung saponin, alkaloid, glikosida flavonoid dan tannin. Flavonoid adalah salah satu jenis senyawa yang bersifat racun/ alelopati, merupakan persenyawaan dari gula yang terikat dengan flavon. Flavonoid mempunyai sifat khas yaitu bau yang sangat tajam, rasanya pahit, dapat larut dalam air dan pelarut organik, serta mudah terurai pada temperatur tinggi.

Senyawa alelopati yang terdapat di dalam ekstrak serasah daun mangga dan daun mahoni sebanyak 55% ekstrak mempengaruhi perkecambah dan pertumbuhan rumput grinting. Ekstraksi soxhlet serbuk kulit batang daun mahoni (S. mahagoni Jacq.) diperoleh ekstrak pekat metanol sebanyak 873,841 g dari 8 kg serbuk mahoni. Ektrak pekat metanol dalam uji fitokimia metabolit sekunder menunjukkan adanya kandungan alkaloid, tanin, saponin, fenolik hidrokuinon, dan flavonoid. Senyawa terpenoid, flavonoid dan fenol adalah alelokimia yang bersifat menghambat pembelahan sel  (Yulifrianti 2015).

Tanaman alang-alang, akasia, pinus, dan jagung mengandung senyawa alelopati yang potensial dapat dikembangkan sebagai bahan baku herbisida nabati. Penggunaan herbisida nabati dilatar belakangi oleh meningkatnya kesadaran masyarakat untuk hidup sehat melalui proses kehidupan kembali ke alam (back to nature), menyebabkan permintaan produk pertanian organik termasuk lada organik yang lebih sehat, aman, enak dan ramah lingkungan meningkat. Salah satu kendala pengembangan lada organik di Kab. Belitung Timur (Beltim) adalah dalam pengendalian gulma. Terbatasnya dan mahalnya tenaga buruh tani, belum dikembangkannya teknik pemanfaatan cover crops serta belum adanya herbisida nabati komersial, menyebabkan mahalnya biaya pengendalian gulma pada budidaya lada organik di daerah tersebut (Djajuli, 2017).

PENUTUP

Berdasarkan hasil  penelitian dapat disimpulkan bahwa hasil penelitian yaitu pendampingan efektif meningkatkan pengetahuan dan keterampilan produksi herbisida organik.

UCAPAN TERIMAKSIH

Tim Pelaksana menghaturkan ucapan terimakasih kepada Yth: Direktur Direktorat Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRPM), Direktorat Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi yang telah memberikan dana hibah PKM (Program Kemitraan Masyarakat) Tahun Anggaran 2017, Pimpinan Universitas Muhammadiyah Malang, Pimpinan Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Muhammadiyah Malang (DPPM UMM), dan sembilan Mahasiswa UMM yang terlibat dalam kegiatan ini.

DAFTAR RUJUKAN

Adnan, dkk. 2012. Aplikasi Beberapa Dosis Herbisida Glifosat Dan Paraquat Pada Sistem Tanpa Olah Tanah (Tot) Serta Pengaruhnya Terhadap Sifat Kimia Tanah, Karakteristik Gulmadan Hasil Kedelai. Jurnal Agrista. 16 (3) : 135-145

Anonymous, 2014. Mengupas Tuntas Seputar Design Packaging Kemasan. http://en.wikipedia.org, diakses tanggal 03 April 2014.

Baidhawi. 2013. Degradasi Herbisida Pendimethalin Pada Tanah Yang Berbeda Kandungan Bahan Organik. Jurnal Agribisnis dan Pengembangan Wilayah 4(2) : 21-30

Batori, Imam. 2013. Bahan Nabati Herbisida Organik. Publisia. Jakarta.

Bayan, Adi. 2003. Pelabelan dalam Produk Industri. Cendekia. Surabaya.

Budi, Gayuh P dan Hajoeningtijas, Oetami D. (2013). Penerapan Herbisida Organik Ekstrak Alang – Alang Untuk Mengendalikan Gulma Pada Mentimun. Agritech. 15 (1) : 33-34.

Budiyanto MAK, 2007. Persepsi Masyarakat tentang Pertanian Hortikultura Organik di Kabupaten Malang. Laporan Penelitian, Malang: Universitas Muhammadiyah Malang.

Budiyanto MAK, 2013. Model Pengembangan Produksi Pangan Organik. Laporan Penelitian, Malang: Universitas Muhammadiyah Malang.

Budiyanto MAK, 2017. Herbisida Organik. Malang: UMM Press.

Darmadi. 2012 Jurnal Online : Peranan Bawang Putih (Allium Sativum) Terhadap Hipertensi

Djajuli M, 2017. Potensi Senyawa Alelopati sebagai Herbisida Nabati Alternatif pada Budidaya Lada Organik. http://balittro.litbang. pertanian.go.id/?p=642 (Diakses 13 Januari 2017).

Faqihhudin, M.D., dkk. 2014. Penggunaan Herbisida IPA-Glifosat terhadap Pertumbuhan, Hasil  dan Residu pada Jagung. Ilmu Pertanian 17 (1) : 1-12

Hogantara FR, 2016. Ageratum sebagai Herbisida Alami dan Sumber Bahan Organik. https://fajarrizkyashtercytin. wordpress.com/2013/04/25/744/ (Diakses 13 Januari 2017).

Isda MN, Fatonah S, dan Fitri R, 2013. Potensi Ekstrak Daun Gulma Babadotan (Ageratum conyzoides L.) terhadap Perkecambahan dan Pertumbuhan Paspalum conjugatum Berg. Jurnal Biologi Volume 6 Nomor 2, Oktober 2013. Hlm. 120-125.

Jolly, D. 2000. From Cottage Industry to Conglomerates: The Transformation of the US Organis Food Industry. New York: Original Press.

Kotler, Philip. 2001. Manajemen Pemasaran di Indonesia: Analisis, Perencanaan, Implementasi dan Pengendalian. Salemba Empat. Jakarta.

Nasahi, C. 2010. Peran Mikroba Dalam Pertanian Organik. Bandung: Universitas Padjajaran.

Ngawit. K. 2012. Jurnal Online : Degradasi Herbisida Turunan 2,4-D Amine Oleh Bakteri Pelarut Fosfat Dan Efek Residunya Terhadap Bawang Merah Yang Diberi Pupuk Kandang. NTB: Universitas Mataram

Permadi, 2013. Kajian Pupuk Majemuk Npk  (30-6-8) Dan Pupuk Organik Kujang pada Padi Sawah Varietas Inpari 13 Di Daerah Pengairan Setengah Teknis Di Purwakarta. Agrin 17 (1) : 14-21

Prihandarini R, 2009. Potensi  Pengembangan Pertanian Organik. Jakarta: Departemen Pertanian, Sekjen Maporina.

Riadi,  2011. Herbisida dan Aplikasinya. Makassar: Universitas Hasanuddin

Rizal. 2006. Pengaruh Berbagai Bahan Organik Dan Aplikasi  Herbisida Metolachlor Terhadap Pertumbuhan Dan  Hasil Tanaman Kedelai. J.Agroland 13(3): 228-233

Sukman, Y dan Yakup. (1997). Gulma dan Teknik Pengendaliannya. Palembang : CV Rajawali

Sriyani, N dan Salam, A.K. 2008. Penggunaan Metode Bioassay untuk Mendeteksi Pergerakan Herbisida Pasca tumbuh Paraquat dan 2,4-D dalam Tanah. J. Tanah Trop., Vol. 13, No.3, 2008:199-208

Sukmana, W. 2012. Studi Daya Adsorpdi Organoclay Tapanuli Terhadap Senyawa Herbisida 2,4 D- Dimetil Amina. Jakarta: Universitas Indonesia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Talahatu DR dan Papilaya PM, 2015.  Pemanfaatan Ekstrak Daun Cengkeh (Syzygium aromaticum

Konsep Tipologi Penggunaan Fungisida di Malang Raya

Konsep Tipologi Penggunaan Fungisida

di Malang Raya

Moch. Agus Krisno Budiyanto, Abdulkadir Rahardjanto,

Samsun Hadi, Diani Fatmawati

Program Studi Pendidikan Biologi

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang

Jl. Tlogomas 246 Malang Telp. 464318, HP: 085234620855, Email: aguskrisno.gbf@gmail.com

 

 

ABSTRAK

Penelitian ini memiliki tujuan untuk menganalisis tipologi penggunaan fungisida di Malang Raya.Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatiif  yaitu suatu penelitian yang ingin mendiskripsikan fakta dengan menggunakan teori tertentu. Informan penelitian adalah 15 petani di  Malang Raya. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling. Analisis data yang digunakan  dalam penelitian ini adalah analisis kualitatif dengan cara analisis isi.

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan: 1) Tipologi penggunaan fungisida di Kota Batu, Kota Malang, dan Kabupaten Malang termasuk dalam tipologi Alterative Movement (gerakan alternatif), 2) Berbagai media edukasi publik yang digunakan (penyuluhan oleh pengurus kelompok tani/sales produk/ pemerintah daerah, pertemuan rutin bulanan, poster, dan leaflet) baru bisa menyebabkan perubahan pada sebagian anggota kelompok tani saja dalam hal penggunaan fungisida.  3) Penggunaan fungisida organik kurang efektif dan kurang massif di Kota Malang dan Kota Batu tetapi cukup efektif di Kabupaten Malang.

Kata Kunci: Tipologi, Fungisida, Oganik, Sintesis, Malang

 

PENDAHULUAN

Fungisida adalah pestisida yang secara spesifik membunuh atau menghambat cendawan penyebab penyakit.  Fungisida dapat berbentuk cair (paling banyak digunakan), gas, butiran, dan serbuk.  Perusahaan penghasil benih biasanya menggunakan fungisida pada benih, umbi, transplan akar, dan organ propagatif lainnya, untuk membunuh cendawan pada bahan yang akan ditanam dan melindungi tanaman muda dari cendawan patogen.  Selain itu, penggunaan fungisida dapat digunakan melalui injeksi pada batang, semprotan cair secara langsung, dan dalam bentuk fumigan (berbentuk gas yang disemprotkan). Fungisida dapat diklasifikasikan menjadi dua golongan, yaitu fungisida selektif (fungisida sulfur, tembaga, quinon, heterosiklik) dan non selektif (fungisida hidrokarbon aromatik, anti-oomycota, oxathiin, organofosfat, fungisida yang menghambat sintesis sterol, serta fungisida sistemik lainnya).  Fungisida selektif membunuh jamur tertentu namun tidak menyakiti jamur lainnya.Fungisida juga dapat dikategorikan sebagai fungisida kontak, translaminar, dan sistemik. Fungisida kontak hanya bekerja di bagian yang tersemprot. Fungisida translaminar mengalir dari bagian yang disemprot (daun dan bagian atas tanaman) ke bagian yang tidak disemprot (ke bawah). Fungisida sistemik diserap oleh tumbuhan dan didistribusikan melalui sistem pembuluh tanaman (Adnyana, 2011, Apriani   2014).

Menurut Herminarto (2006) dan Adawiah (2014) tingkat residu fungisida methyl thiophanate pada tanah tanaman kentang di Batu dan Tumpang dapat menekan populasi jamur tanah.  Residu tertinggi diperoleh dari waktu pengukuran 1 minggu sebelum panen kentang  (37,0782 ppm) meskipun tidak berbeda nyata dengan waktu pengkuran 6 minggu sebelum panen (36,0236 ppm). Tingkat populasi jamur terendah diperoleh pada waktu pengambilan sampel 1 minggu sebelum panen kentang (12.900 jamur/gram tanah) meskipun tidak berbeda nyata dengan waktu pengambilan sampel tanah 6 minggu sebelum panen (14.000 jamur/gram tanah).  Pengujian fungisida methyl thiophanate secara in-vitro dengan metode umpan beracun dan kertas saring menunjukkan konsentrasi 0 ppm, 25 ppm, 50 ppm dan 75 ppm belum dapat menghambat pertumbuhan jenis jamur tanah, namun pada konsentrasi 100 ppm dapat menghambat pertumbuhan jenis jamur tanah.  Konsentrasi 25 ppm dengan metode umpan beracun dapat menghambat jamur Fusarium solani , Rhizoctonia solani, Aspergillus niger, Rhyncosporium secalis, sedangkan dengan metode kertas saring  konsentrasi 25 ppm dapat menghambat pertumbuhan jamur Fusarium solani dan Aspergillus niger. Tingginya residu fungisida methyl thiophanate disebabkan penggunaan fungisida yang terlalu sering dengan konsentrasi yang berlebih.

Penelitian dirancang untuk mencapai tujuan penelitian sebagai berikut.

  1. Menganalisis tipologi penggunaan fungisida sintesis di Malang Raya.
  2. Menganalisis tipologi penggunaan fungisida organik di Malang Raya.

 

 

 

 

TINJAUAN PUSTAKA

Fungisida

Menurut  Djodjosumarto (2000)  fungisida adalah senyawa kimia beracun untuk memberantas dan mencegah perkembangan fungi atau jamur. Penggunaan fungisida adalah termasuk dalam pengendalian secara kimia. Adapun keuntungan yang diperoleh dari penggunaan fungisida adalah: 1) 1.  mudah diaplikasikan, 2) memerlukan sedikit tenaga kerja, 3) penggunaanya praktis, 4)  jenis dan ragamnya bervariasi, dan 5) hasil pengendalian tuntas.

Fungisida dapat berbentuk cair (paling banyak digunakan), gas, butiran, dan serbuk. Perusahaan penghasil benih biasanya menggunakan fungisida pada benih, umbi, transplan akar, dan organ propagatif lainnya, untuk membunuh cendawan pada bahan yang akan ditanam dan melindungi tanaman muda dari cendawan patogen. Selain itu, penggunaan fungisida dapat digunakan melalui injeksi pada batang, semprotan cair secara langsung, dan dalam bentuk fumigan (berbentuk gas yang disemprotkan). Fungisida dapat diklasifikasikan menjadi dua golongan, yaitu fungisida selektif (fungisida sulfur, tembaga, quinon, heterosiklik) dan non selektif (fungisida hidrokarbon aromatik, anti-oomycota, oxathiin, organofosfat, fungisida yang menghambat sintesis sterol, serta fungisida sistemik lainnya) (Mc Ewen, 2009 ).

Menurut  Adawiah  (2014) fungisida umumnya dibagi menurut cara kerjanya di dalam tubuh tanaman sasaran yang diaplikasi, yakni fungisida nonsistemik, sistemik, dan sistemik local. Pada fungisida, terutama fungisida sistemik dan non sistemik, pembagian ini erat hubungannya dengan sifat dan aktifitas fungisida terhadap jasad sasarannya.

  1. Fungisida Nonsistemik

Fungisida nonsistemik tidak dapat diserap dan ditranslokasikan didalam jaringan
Tanaman. Fungisida nonsistemik hanya membentuk lapisan penghalang di permukaan tanaman (umumnya daun) tempat fungisida disemprotkan. Fungisida ini hanya berfungsi mencegah infeksi cendawan dengan cara menghambat perkecambahan spora atau miselia jamur yang menempel di permukaan tanaman. Karena itu, fungisida kontak berfungsi sebagai protektan dan hanya efektif bila digunakan sebelum tanaman terinfeksi oleh penyakit. Akibatnya, fungisida nonsistemik harus sering diaplikasikan agar tanaman secara terus-menerus terlindungi dari infeksi baru.

  1. Fungisida Sistemik

Fungisida sistemik diabsorbsi oleh organ-organ tanaman dan ditranslokasikan ke bagian tanaman lainnya melalui pembuluh angkut maupun melalui jalur simplas (melalui dalam sel). Pada umumnya fungisida sistemik ditranslokasikan ke bagian atas (akropetal), yakni dari organ akar ke daun. Beberapa fungisida sistemik juga dapat bergerak ke bawah, yakni dari daun ke akar (basipetal).

Kelebihan fungisida sistemik antara lain :

(a)  Bahan aktif langsung menuju ke pusat infeksi didalam jaringan tanaman, sehingga mampu menghambat infeksi cendawan yang sudah menyerang di dalam jaringan tanaman.

(b)  Fungisida ini dengan cepat diserap oleh jaringan tanaman kemudian didistribusikan ke seluruh bagian tanaman sehingga bahan aktif dan residunya tidak terlalu tergantung pada coverage semprotan, selain itu bahan aktif juga tidak tercuci oleh hujan. Oleh karena itu, aplikasinya tidak perlu terlalu sering.

  1. Fungisida Sistemik Lokal

Fungisida sistemik lokal diabsorbsi oleh jaringan tanaman, tetapi tidak ditranslokasikan ke bagian tanaman lainnya. Bahan aktif hanya akan terserap ke sel-sel jaringan yang tidak terlalu dalam dan tidak sampai masuk hingga pembuluh angkut.

Menurut Adawiah (2014 Menurut mekanisme kerjanya, fungisida dibagi menjadi dua kelompok, yaitu:

  1. Multisite Inhibitor

Multisite inhibitor adalah fungisida yang bekerja menghambat beberapa proses metabolisme cendawan. Sifatnya yang multisite inhibitor ini membuat fungisida tersebut tidak mudah menimbulkan resistensi cendawan. Fungisida yang bersifat multisite inhibitor (merusak di banyak proses metabolisme) ini umumnya berspektrum luas. Contoh bahan aktifnya adalah maneb, mankozeb, zineb, probineb, ziram, thiram.

  1. Monosite Inhibitor

Monosite inhibitor disebut juga sebagai site specific, yaitu fungisida yang bekerja dengan menghambat salah satu proses metabolisme cendawan, misalnya hanya menghambat sintesis protein atau hanya menghambat respirasi. Sifatnya yang hanya bekerja di satu tempat ini (spectrum sempit) menyebabkan mudah timbulnya resistensi candawan. Contoh bahan aktifnya adalah metalaksil, oksadisil, dan benalaksil.

Pengelompokan fungisida dapat di lakukan berdasarkan pada berbagai cara dan kepentingan yang berbeda sehingga pada umumnya bersifat tidak tetap.
Beberapa fungisida bersifat bersifat sebagai protektan dapat di gunakan pada benih atau tumbuhan yang belum  terserang penyakit,dengan tujuan melindungi benih dan menghindarkannya dari cendawan. Hal ini di sebabkan oleh spora pada permukaan atau di bagian dalamnya terdapat misellium yag berada pada keadaan dorman.

Menurut Pimentel (2002), Smith (2008-a), dan Smith (2008-b) Pestisida sebelum digunakan harus diformulasi terlebih dahulu. Pestisida dalam bentuk murni biasanya diproduksi oleh pabrik bahan dasar, kemudian dapat diformulasi sendiri atau dikirim ke formulator lain. Oleh formulator baru diberi nama.  Berikut ini beberapa formulasi pestisida yang sering dijumpai:

  1. Cairan emulsi (emulsifiable concentrates/emulsible concentrates)

Pestisida yang berformulasi cairan emulsi meliputi pestisida yang di belakang nama dagang diikuti oleb singkatan ES (emulsifiable solution), WSC (water soluble concentrate). B (emulsifiable) dan S (solution). Biasanya di muka singkatan tersebut tercantum angka yang menunjukkan besarnya persentase bahan aktif. Bila angka tersebut lebih dari 90 persen berarti pestisida tersebut tergolong murni. Komposisi pestisida cair biasanya terdiri dari tiga komponen, yaitu bahan aktif, pelarut serta bahan perata. Pestisida golongan ini disebut bentuk cairan emulsi karena berupa cairan pekat yang dapat dicampur dengan air dan akan membentuk emulsi.

 

  1. Butiran (granulars)

Formulasi butiran biasanya hanya digunakan pada bidang pertanian sebagai insektisida sistemik. Dapat digunakan bersamaan waktu tanam untuk melindungi tanaman pada umur awal. Komposisi pestisida butiran biasanya terdiri atas bahan aktif, bahan pembawa yang terdiri atas talek dan kuarsa serta bahan perekat. Komposisi bahan aktif biasanya berkisar 2-25 persen, dengan ukuran butiran 20-80 mesh. Aplikasi pestisida butiran lebih mudah bila dibanding dengan formulasi lain. Pestisida formulasi butiran di belakang nama dagang biasanya tercantum singkatan G atau WDG (water dispersible granule).

  1. Debu (dust)

Komposisi pestisida formulasi debu ini biasanya terdiri atas bahan aktif dan zat pembawa seperti talek. Dalam bidang pertanian pestisida formulasi debu ini kurang banyak digunakan, karena kurang efisien. Hanya berkisar 10-40 persen saja apabila pestisida formulasi debu ini diaplikasikan dapat mengenai sasaran (tanaman).

  1. Tepung (powder)

Komposisi pestisida formulasi tepung pada umumnya terdiri atas bahan aktif dan bahan pembawa seperti tanah hat atau talek (biasanya 50-75 persen). Untuk mengenal pestisida formulasi tepung, biasanya di belakang nama dagang tercantum singkatan WP (wettable powder) atau WSP (water soluble powder).

  1. Oli (oil)

Pestisida formulasi oli biasanya dapat dikenal dengan singkatan SCO (solluble concentrate in oil). Biasanya dicampur dengan larutan minyak seperti xilen, karosen atau aminoester. Dapat digunakan seperti penyemprotan ULV (ultra low volume) dengan menggunakan atomizer. Formulasi ini sering digunakan pada tanaman kapas.

 

Dampak Penggunaan Fungisida

Menurut Hidayat (1981) DAN Hriday (2006) tingkat residu fungisida methyl thiophanate pada tanah tanaman kentang di Batu dan Tumpang dapat menekan populasi jamur tanah.  Residu tertinggi diperoleh dari waktu pengukuran 1 minggu sebelum panen kentang  (37,0782 ppm) meskipun tidak berbeda nyata dengan waktu pengkuran 6 minggu sebelum panen (36,0236 ppm). Tingkat populasi jamur terendah diperoleh pada waktu pengambilan sampel 1 minggu sebelum panen kentang (12900 jamur/gram tanah) meskipun tidak berbeda nyata dengan waktu pengambilan sampel tanah 6 minggu sebelum panen (14.000 jamur/gram tanah).  Pengujian fungisida methyl thiophanate secara in-vitro dengan metode umpan beracun dan kertas saring menunjukkan konsentrasi 0 ppm, 25 ppm, 50 ppm dan 75 ppm belum dapat menghambat pertumbuhan jenis jamur tanah, namun pada konsentrasi 100 ppm dapat menghambat pertumbuhan jenis jamur tanah.  Konsentrasi 25 ppm dengan metode umpan beracun dapat menghambat jamur Fusarium solani , Rhizoctonia solani, Aspergillus niger, Rhyncosporium secalis, sedangkan dengan metode kertas saring  konsentrasi 25 ppm dapat menghambat pertumbuhan jamur Fusarium solani dan Aspergillus niger. Tingginya residu fungisida methyl thiophanate disebabkan penggunaan fungisida yang terlalu sering dengan konsentarsi yang berlebih.

Fungisida dapat menimbulkan ketahanan pada patogen tanaman yang menyebabkan bahan kimia tidak mempan digunakan, terbunuhnya mikroba bukan sasaran dan munculnya patogen sekunder yang lebih berbahaya, menambah biaya produksi karena semakin mahalnya harga bahan kimia, menyebabkan polusi lingkungan terutama air tanah dan tanah, memengaruhi kesehatan petani dan keluarganya terutama bila yang berhadapan langsung di lapangan adalah ibu yang sedang hamil atau menyusui, dan memengaruhi kesehatan konsumen yang mengonsumsi produk pertanian tercemar bahan kimia tersebut. Oleh karena itu, untuk mencegah atau menghindari dampak negatif tersebut, perlu diupayakan pengembangan dan pemanfaatan pestisida yang ramah lingkungan yaitu pestisida organik, yang merupakan salah satu cakupan ”revolusi hijau lestari”, untuk menunjang tercapainya ketahanan pangan yang kokoh kuat (Ghose, 2004 dalam Adnyana, 2011, Mulyani, 2002, Nuraini, 2014).

Menurut Girsang (2009), Sekarsari (2013), dan Untung (2007)  pemakaian pestisida, khususnya pestisida sintetis ibarat pisau bermata dua. Dibalik manfaatnya yang besar bagi peningkatan produksi pertanian, terselubung bahaya yang mengerikan. Tak bisa dipungkiri, bahaya  pestisida semakin nyata dirasakan masyarakat, terlebih akibat penggunaan pestisida yang tidak bijaksana. Kerugian berupa timbulnya dampak buruk penggunaan pestisida, dapat dikelompokkan atas 3 bagian : (1). Pestisida berpengaruh negatip terhadap kesehatan manusia, (2). Pestisida berpengaruh buruk terhadap kualitas lingkungan, dan (3). Pestisida meningkatkan perkembangan populasi jasad penganggu tanaman.

 

Tipologi Gerakan Sosial

Menurut Aberle dalam Kornblum (2009)  tipologi adalah upaya mengelompokan sesuatu berdasarkan karaterisktik tertetntu. Terdapat  empat tipe gerakan sosial dalam bidang pertanian adalah sebagai berikut:

  1. 1. Alterative Movement

Gerakan ini merupakan gerakan yang bertujuan untuk merubah sebagian perilaku perorangan. Dalam kategori ini dapat kita masukan berbagai penyuluhan, pertemuan, promosi, penyebaran leaflet/brosur yang kadangkala dilakukan untuk merubah perilaku perani ke arah yang dinginkan kelompok tani.

  1. 2. Rodemptive Movement

Gerakan ini lebih luas dibandingkan dengan alterative movement, karena yang hendak dicapai ialah perubahan menyeluruh pada perilaku kelompok. Gerakan ini dicapai dengan penyuluhan, pertemuan, promosi, penyebaran leaflet/brosur secara berkala dan berkelanjutan untuk merubah perilaku semua petani ke arah yang dinginkan kelompok tani

  1. 3. Reformative Movement

Dalam gerakan ini yang hendak diubah bukan perorangan atau kelompok petani melainkan masyarakat di sekitar kelompok petani namun lingkup yang hendak diubah hanya segi-segi tertentu masyarakat, misalnya gerakan penggunaan bahan-bahan hayati dalam budidaya pertanian.

  1. 4. Transformative Movement

Gerakan ini merupakan gerakan untuk mengubah masyarakat secara menyeluruh, misalnya gerakan yang mempelopori pertanian organik secara total dan utuh.

 

 

METODE PENELITIAN

Kegiatan penelitian dalam upaya menyusun konsep tentang “Tipologi Penggunaan Fungisida di Malang Raya” digambarkan dalam bagan alir penelitian sebagai berikut.

  IN  PUT                                         PROSES                                    OUT PUT

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 4.1  Bagan Alir Penelitian Penyusunan Konsep Tipologi Penggunaan Fungisida di Malang Raya

 

Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan desain penelitian deskriptif kualitatiif  yaitu suatu penelitian yang ingin mendiskripsikan fakta dengan menggunakan teori tertentu. Dalam penelitian ini, temuan magna atau konsep tentang penggunaan fungisida di Malang Raya akan dianalisis berdasarkan teori Tipologi Gerakan Sosial (Aberle dalam Kornblum, 2009).

Informan penelitian adalah petani di  Malang Raya. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling. Jumlah subyek penelitian  sebanyak 15 (lima belas) petani.  Fokus yang diteliti dalam penelitian ini adalah  1) tipologi penggunaan fungisida sintesis di Malang Raya, dan 2) tipologi penggunaan fungisida organik di Malang Raya yang meliputi: identifukasi jenis penyakit jamur, jenis fungisida yang digunakan, dosis penggunaan, frekuensi penggunaan, dan gerakan sosial penggunaan fungisida.

Metode pengumpulan data yang digunakan adalah  wawancara mendalam dan observasi partisipatori. Wawancara mendalam (Indepth Interview) dilakukan kepada petani di  Malang Raya. Sedangkan observasi partisipatori digunakan untuk mengamati perilaku petani dalam menggunakan fungisida. Untuk menjamin kepercayaan data yang diperoleh, maka kriteria yang digunakan untuk pengecekan keabsahan data dalam penelitian ini meliputi: 1) keteralihan (transferabiliy) dengan menyediakan data deskriptif secukupnya untuk membuat keputusan tentang pengalihan, 2) kriteria keberbantungan (dependability), yang dilakukan dengan  meninjau dan memperhitungkan semua hal yang bersangkutan dengan data penelitian. Hal ini dilakukan dengan  menjaga kehati-hatian, sehingga terhindar dari kemungkinan terjadinya kesalahan dalam pengumpulan dan penginterpretasian data, dan 3) kepastian (Confirmability), yang dilakukan dengan mengadakan kesepakatan atau pengecekan berulang dengan sumber data agar data yang diperoleh bersifat obyektif.

Analisis data yang digunakan  dalam penelitian ini adalah analisis kualitatif dengan cara analisis isi (content analysis). Analisis isi adalah suatu teknik yang sistematik untuk menganalisis makna pesan dan cara mengungkapkan pesan. Langkah yang dilakukan pada analisis isi dalam penelitian ini menggunakan Interactive Model dari Miles dan Huberman (Miles & Huberman, 1994). Model ini mengandung 4 komponen yang saling berkaitan, yaitu (1) pengumpulan data, (2) penyederhanaan atau reduksi data, (3) penyajian data, (4) penarikan dan pengujian atau verifikasi simpulan.

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 4. 2 Analisis Isi Model Interaktif

(Sumber: Miles & Huberman, dengan modifikasi, 1994)

 

Magna atau konsep tentang tentang penggunaan fungisida di Malang Raya akan dianalisis berdasarkan teori Tipologi Gerakan Sosial (Aberle dalam Kornblum, 2009).

 

 

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Tipologi Penggunaan Fungisida di Kota Batu

Tanaman yang dibudidayakan oleh Kelompok Tani Mulya Desa Tawang Argo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu adalah tanaman cabai, terung, tomat dan jagung. Dalam pembudidayaan ditemukan berbagai kendala yang disebabkan adanya mikroba patogen baik bakteri maupun jamur. Penyakit yang disebabkan oleh jamur patogen dapat menyebabkan terganggunya pertumbuhan tanaman. Pengendalian penyakit yang disebabkan oleh jamur ditanggulangi dengan pemakaian fungisida baik sintetis maupun alami (Apriani, 2014, Susilo, 2005, Yuinafsi, 2002).

Fungisida yang digunakan oleh Kelompok Tani Mulya Kota Batu adalah jenis fungisida sintetik karena pengaruhnya dalam menghambat pertumbuhan jamur patogen dapat dilihat secara cepat. Kelompok tani mulya saat ini tidak menggunakan fungisida alami karena dirasa bahwa fungisida alami berpengaruh lambat dalam menghentikan pertumbuhan jamur patogen pada tanaman.  Kelompok Tani Mulya Kota Batu menggunakan fungisida sintetis sejak tahun 90-an pada saat era petani awam. (Narasumber: Abd. Mujib, 2015).

Penggunaan fungisida sintetis disarankan oleh perusahaan dan kelompok tani mengikuti saran perusahaan tersebut karena hasil yang diberikan oleh fungisida sintetis dapat dilihat secara cepat. Dalam kelompok tani tersebut, ada anggota aktif dan anggota pasif. Anggota yang menggunakan saran dari perusahaan sebagian besar adalah anggota aktif” begitu tutur Abdul Mujib Sekretaris Kelompok Tani Mulya Kota Batu.

 

Dengan demikian Tipologi Penggunaan Fungisida di Kota Batu termasuk dalam tipologi Alterative Movement (gerakan alternatif). Menurut Aberle dalam Kornblum (2009)  tipologi adalah upaya mengelompokan sesuatu berdasarkan karaterisktik tertetntu. Sedangkan yang dimaksud dengan Alterative Movement merupakan gerakan yang bertujuan atau berdampak untuk merubah sebagian perilaku perorangan. Dalam kategori ini dapat kita masukan berbagai penyuluhan, pertemuan, promosi, penyebaran leaflet/brosur yang kadangkala dilakukan untuk merubah perilaku perani ke arah yang dinginkan kelompok tani.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 5.1 Wawancara dengan Bapak Abdul Mujib Sekretaris Kelompok Tani Mulya Kota Batu

 

Fungisida sintetik yang digunakan oleh Kelompok Tani Mulya Kota Batu adalah Antracol dan Octanil. Antracol adalah fungisida yang mengandung bahan aktif ++ Zine yang termasu jenis fungisida kontak yang bersifat protektif, cara kerjanya dengan menyemprotkan fungisida langsung ke tanaman yang terkena jamur. Dosis yang disarankan adalah 1-2 g/l (500-1000 L air/ha) atau 2-4 g/l (500-1000 L air/ha) sesuai dengan jenis dan kerusakan tanaman, fungisida ini dapat menyebabkan keracunan. Jika terjadi keracunan pertolongan pertama yang dilakukan adalah dengan memindahkan penderita ke area yang berudara segar, mencuci tangan dan segera menghubungi dokter. Octanil adalah fungisida dengan bahan aktif klorotaronil 75%, termasuk jenis fungisida kontak, cara kerjanya dengan menyemprotkan fungisida langsung ke tanaman yang terkena jamur. Dosis yang disarankan adalah 0,75-1,5 g/l atau sesuai dengan jenis dan kerusakan tanaman, fungisida ini dapat menyebabkan keracunan. Jika terjadi keracunan pertolongan pertama yang dilakukan adalah tanggalkan pakaian yang terkena fungisida, mencuci tangan dan segera menghubungi dokter (Narasumber: Abd. Mujib, 2015).

Penggunaan fungisida sintetis secara terus-menerus dapat menyebabkan resistensi patogen, keracunan pada manusia dan mencemari lingkungan (Apriani, 2014, Pimentel, 2001, Kenmore, 2007). Fungisida merupakan suatu zat yang digunakan untuk menghambat bahkan membunuh/membasmi jamur. Fungisida dibedakan menjadi dua yaitu fungisida alami dan fungisida organic. Fungisida alami adalah jenis fungisida yang terbuat dari bahan-bahan alami yang tersedia di alam, Contoh : kulit randu, minyak rosemary, minyak cengkeh, minyak pohon teh, dan lain sebagainya. Sedangkan fungisida sintetis adalah fungisida yang dibuat dari bahan-bahan kimia, Contoh : Fenarimol, Fenamidon (Susilo  2005). Penggunaan fungisida dalam pengendalian jamur pada tanaman sudah sering dilakukan oleh masyarakat pertanian. Pemakaian fungisida hendaknya dilakukan secara hati-hati khususnya fungisida jenis sistemik (Djunaedi, 2008). Penggunaan fungisida sangat rentan terhadap pencemaran lingkungan. Oleh karena itu, perlunya penggunaan fungisida yang tepat dosis dan tepat sasaran (Susilo, 2005). Berbagai penyakit yang disebabkan oleh jamur yang bersifat parasit pada tanaman diantaranya adalah penyakit bulai pada jagung yang disebabkan oleh Peronosclerospora maydi (Oka, 2005). Penyakit layu daun pada tanaman tomat disebabkan oleh serangan Fusarium sp (Apriani, 2014). Pada tanaman cabai penyakit yang disebabkan oleh jamur Colletotrichum capsici adalah antraknosa. Penyakit ini adalah menyakit yang menjadi kendala utama dalam pembudidayaan tanaman cabai karena jamur ini dapat menyerang setiap bagian tanaman (Efri, 2010).

 

Tipologi Penggunaan Fungisida  di Kota Malang

Tanaman yang paling banyak dibudidayakan oleh Kelompok Tani Jaya Desa Tunggulwulung Kecamatan Lowokwaru Kota Malang adalah tanaman padi. Semua anggota kelompok tani menggunakan fungisida sintesis jika tanaman padinya terserang oleh jamur. Dulu pernah dilakukan penyuluhan oleh Pemerintah Daerah tentang penggunaan fungisida organik, tetapi ketika dipraktekan, hasilnya kurang bagus dan efeknya lama sekali, sehingga sebagian besar anggota Kelompok Tani Jaya tetap menggunakan fungisida sintetis sampai sekarang.

Kulo ndamel obat jamur pabrik, pun dangu kulo mboten ndamel obat jamur damelan piyambak, rumiyen dhamel tapi kurang manjur hasilipun” begitu tutur Bapak Sardani Anggota  Kelompok Tani Jaya Desa Tanggulwulung Kecamatan Lowokwaru Kota Malang

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 5.2 Wawancara dengan Bapak Sardani dan Bapak Martono Anggota  Kelompok Tani Jaya Desa Tanggulwulung Kecamatan Lowokwaru Kota Malang

 

Arahan penggunaan fungisida sintesis dilakukan oleh sales produk fungisida sintesis dan tidak semua anggota Kelompok Tani Jaya mengikuti petunjuk sales tersebut. Begitu pula dengan arahan penggunaan fungisida organik juga beberapa kali dilakukan tetapi juga hanya sebagian kecil anggota Kelompok Tani Jaya yang mengikuti saranya tersebut. Alasan sedikitnya anggota Kelompok Tani Jaya yang mengikuti saran penggunaan fungisida organik  dikarenakan bahan baku yang sudah relatif sulit ditemukan diwilayah Kota Malang dan juga terkait dengan efektivitas fungisida yang perlu waktu lama.

Dengan demikian tipologi penggunaan fungisida di Kabupaten Malang termasuk dalam tipologi Alterative Movement (gerakan alternatif). Hal ini dikarenakan gerakan penyadaran anggota kelompok tani melalui berbagai media penyuluhan sales produk dan pemerintah daerah baru menyebabkan perubahan pada sebagian anggota kelompok tani saja.

 

 

 

Tipologi Penggunaan Fungisida di Kabupaten Malang

Tanaman yang di budidayakan oleh Kelompok Tani Sumber Urip I dan Kelompok Tani Sumber Urip II Desa Wonorejo Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang sebagian besar adalah padi, kol, gubis, tomat, kacang panjang, bayam, sawi, kacang panjang, cabai, dan bawang merah. Kertika menghadapi serangan jamur, Kelompok Tani Sumber Urip lebih mengutamakan penggunaan fungisida organik jika dibandingkan dengan penggunaan fungisida sintetis. Hal ini disebabkan beberapa hal, yaitu sebagai berikut.

  1. Desa Wonorejo terdapat potensi hayati yang dapat digunakan bahan pembuatan fumgisida organik, misalnya daun sirih, jahe, bawang putih, kunir, kencur, daun cengkeh, bunga kertas, bunga bougenville, dan lain sebagainya.
  2. Metode pembuatan fungisida organik mudah dengan memfermentasi bahan fungisida organik dengan moebillin (inokulum fermentasi).
  3. Harga fungisida organik jauh lebih murah jika dibandngkan dengan harga fungisida sintesis.
  4. Penggunaan fungisida organik fungisida organik memiliki dampak pada kesehatan dan lingkungan yang sangat sedikit.

Sebagai kelompok tani organik Kelompok Tani Sumber Urip terus melakukan  upaya penggunaan sumber daya organik baik pupuk, insektisida, herbisida, maupun fungisida. Dengan berkerjasama dengan Universitas Muhammadiyah Malang, Kelompok Tani Sumber Urip terus melakukan penyadaran kepada semua anggota kelompok tani melalui penyuluhan, rapat rutin bulanan, poster, dan leaflet. Hasilnya memang cukup mengembirakan, hampir semua anggota kelompok tani menggunakan sumber daya organik baik pupuk, insektisida, herbisida, maupun fungisida. Hanya saja beberapa petani memang masih juga menggunakan fungisida sintesis manakala penggunaan fungisida organik kurang efektif dan efisien, terutama pada serangan jamur yang kronik (menahun) dan massif (luas).

Meh sedanten anggota kulo teng mriki niki ndamel fungisida organik, nanging menawi jamure rewel konco-konco nggeh kepekso dhamel fungisida sintesis (bhs.jawa)” begitu tutur Abdul Fatah Ketua Kelompok Tani Sumber Urip I Desa Wonorejo Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 5.3 Suasana yang Akrab Ketika Small Group Dicussion Dilakasanan dalam Upaya Mendapatkan Konsep Tipologi Penggunaan Fungisida di Kabupaten Malang

 

Dengan demikian tipologi penggunaan fungisida di Kabupaten Malang termasuk dalam tipologi Alterative Movement (gerakan alternatif). Hal ini dikarenakan gerakan penyadaran anggota kelompok tani melalui berbagai media (penyuluhan, rapat rutin bulanan, poster, dan leaflet) baru menyebabkan perubahan pada sebagian anggota kelompok tani saja.

 

KESIMPULAN DAN SARAN

            Berdasarkan hasil penelitian tersebut di atas, maka dapat disimpulkan beberapa hal yaitu sebagai berikut.

  1. Tipologi penggunaan fungisida di Kota Batu termasuk dalam tipologi Alterative Movement (gerakan alternatif) yang merupakan gerakan yang bertujuan atau berdampak untuk merubah sebagian perilaku kelompok tani dalam hal penggunaan fungisida.
  2. Tipologi penggunaan fungisida di Kabupaten Malang termasuk dalam tipologi Alterative Movement (gerakan alternatif). Hal ini dikarenakan gerakan penyadaran anggota kelompok tani melalui berbagai media penyuluhan sales produk dan pemerintah daerah baru menyebabkan perubahan pada sebagian anggota kelompok tani saja.
  3. Tipologi penggunaan fungisida di Kabupaten Malang termasuk dalam tipologi Alterative Movement (gerakan alternatif). Hal ini dikarenakan gerakan penyadaran anggota kelompok tani melalui berbagai media (penyuluhan, rapat rutin bulanan, poster, dan leaflet) baru menyebabkan perubahan pada sebagian anggota kelompok tani saja.

Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan tersebut di atas, maka dapat disarankan beberapa hal yaitu sebagai berikut.

  1. Perlu dilakukan penyadaran penggunaan fungisida organik ke kelompok tani dengan memanfaatkan berbagai bentuk media penyuluhan diantaranya adalah: penyuluhan, pertemuan rutin bulanan, poster, leaflet, video, iklan media cetak/elektronik, dan temu kreasi kelompok tani.
  2. Perlu dilakukan penelitian efektivitas penggunaan berbagai bentuk media penyuluhan diantaranya adalah: penyuluhan, pertemuan rutin bulanan, poster, leaflet, video, iklan media cetak/elektronik, dan temu kreasi kelompok tani dalam upaya edukasi public.
  3. Perlu dilakukan penelitian kajian pemetaan faktor sosiokultur, ekomoni, dan demografi penggunaan fungisida organic.

 

DAFTAR PUSTAKA

Adawiah, 2014. Fungisida. Makalah, Universitas Lampung, Lampung.

Adnyana, 2011. Dampak Penggunaan Fungisida. Makalah, Universitas Brawijaya, Malang

Apriani Lastri, Suprapta Dewa Ngurah dan Temaja I Gede Rai Maya. 2014. Uji Efektivitas Fungisida Alami Dan Sintetis Dalam Mengendalikan Penyakit Layu Fusarium Pada Tanaman Tomat Yang Disebabkan Oleh Fusarium Oxysporum F.Sp. Lycopersici. Jurnal Agroekoteknologi Tropik. Denpasar: Universitas Udaya. Vol. 3 No 3. Juli 2014. Halaman 137-147.

Djojosumarto, Panut.  2000.  Teknik Aplikasi Pestisida Pertanian.  Kanisius. Yogyakarta.

 

 

Djunaedy Achmad. 2008. Aplikasi Fungisida Sistemik dan Pemanfaatan Mikoriza dalam Rangka Pegendalian Patogen Tular Tanah Pada Tanaman Kedelai (Glycine max L.). Jurnal Embrio. Madura: Universitas Trunojoyo. Vol. 5 No. 2. Desember 2008. Halaman 149-157.

Efri. 2010. Pengaruh Beberapa Fungisida Nabati Terhadap Keterjadian Penyakit Bulai Pada Jagung Manis (Zea Mays Saccharata). Jurnal HPT Tropika. Lampung: Universitas Lampung. Vol. 10 No 1. Maret 2010. Halaman 052-058.

Girsang, W, 2009. Dampak Negatif Penggunaan Fungisida. Fakultas Pertanian, Universitas Simalungun.

Herminarto, Sofyan. 2006. Implementasi pembelajaran Berbasis Proyek Pada Bidang Kejuruan. Cakrawala Pendidikan. Yogyakarta: LPM UNY.

Hidayat Natawigena dan G. Satari. 1981. Kecenderungan Penggunaan Pupuk dan Pestisida dalam Intensifikasi Pertanian dan Dampak Potensialnya Terhadap Lingkungan. Seminar terbatas  19 Maret 1981 Lembaga Ekologi Unpad Bandung.

Hriday Chaube, V.S. Pundhir, 2006.  Crop Diseases and Their Management. Prentice-Hall of India Pvt.Ltd.  ISBN 978-81-203-2674-3.  Page.292-3

Kenmore, P.E. 2007. IPM Means the Best Mix. Rice IPM Newsletter. VII (7). IRRI. Manila. Philippines.

Kornblum. William, 2009. Sosiology in a Changing World,  New York: MC Graw Hill

Mc Ewen, F.L. and G.R.Stephenson. 2009. The Use and Significance of Pestiside in The Environment. A Wiley Intercience Publication. John Wiley & Sons, New York.

Mulyani, S. dan M. Sumatera. 2002. Masalah Residu Pestisida pada Produk Hortikultura. Simposium Entomologi, Bandung 25 – 27 September 1982.

Nuraini, S.  2014.  Fungisidahttp://syienaainie.blogspot.com/.  Diakses pada tanggal 12 Agustus 2015.

Oka, Ida Nyoman. 2005. Pengendalian Hama Terpadu dan Implementasinya di Indonesia. Gajah Mada University Press. Yogyakarta.

Pimentel, D. 2001. Ecological Effects of Pesticides on Nontarget Species. Office of Science and Technology. Washington D.C. Stack Number 4106-0029.

Pimentel, D. 2002. Environmental Aspects of Pest Management. Chemistry and World Food Suplies. Chemrawn II. Pergamon Press.

Sekarsari Rara Ayu, Prasetyo Joko Dan Tri Maryono. 2013. Pengaruh Beberapa Fungisida Nabati Terhadap Keterjadian Penyakit Bulai Pada Jagung Manis (Zea Mays Saccharata). Jurnal Agrotek Tropika.    Lampung: Universitas Lampung. Vol. 1 No 1. Januari 2013. Halaman 098-101.

Smith, R.F and J.L. Apple. 2008. Principles of Integrated Pest Control. IRRI Mimeograph.

Smith, R.F.2008. Distory and Complexity of Integrated Pest Management. In: Pest Control Strategis. S.H. Smith and D. Pimentel (Ed.). Acad. Press. New York.

Susilo, Pambudi, dkk. 2005. Pengaruh Penggunaan Fungisida Sintetis Dan Trichoderma sp. Secara Tunggal atau Gabungan Terhadap Penyakit Hawar Pelepah Daun Padi Effect Of Synthetic Fungicidal Application Alone Or Mixed With Trichoderma sp. On Sheat Blight Of Rice. Jurnal Pembangunan Pedesaan Vol. 5 No. 1. April 2005. Halaman 34-41

Untung, K. 2007. Pengantar Analisis Ekonomi Pengendalian Hama Terpadu. Andi Offset. Yogyakarta.

Yunafsi. 2002. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Penyakit Dan Penyakit Yang Disebabkan Oleh Jamur. Jurnal digitized. Sumatra Utara: Universitas Sumatra Utara. Halaman 1-15.

Entomologi Kedokteran

Entomologi Kedokteran-Diktat Medical Entomology.DR.H.Moch.Agus Krisno B,M.Kes. Univ. Muhammadiyah Malang

Insektisida-Medical Entomology

Insektisida-Medical Entomology.DR.H.Moch. Agus Krisno B,M.Kes. Univ. Muhamnmadiyah Malang

Klasifikasi Arthropoda-Medical Entomology

Klasifikasi Arthropoda-Medical Entomology. DR.H.Moch.Agus Krisno B,M.Kes. Univ. Muhammadiyah Malang