Archive for the ‘Publikasi Hasil Pengabdian Kepada Masyarakat’ Category

Pendampingan Pembuatan Insektisida Organik di Kelompok Tani Sumber Urip Desa Wonosari Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang

Pendampingan Pembuatan Insektisida Organik di Kelompok Tani Sumber Urip Desa Wonosari Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang

Mentoring Making Organic Insecticides in Sumber Urip   Farmers Group of Wonosari Village Poncokusumo Malang

 

Moch. Agus Krisno Budiyanto, Muizuddin, Samsun Hadi

Program Studi Pendidikan Biologi

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang

Jl. Tlogomas 246 Malang Telp. 464318

 

Abstract

Partners in this assistance is Sumber Urip   Farmers Group is located in the Village District of Poncokusumo Wonorejo Malang East Java Province. Problems faced by Partner departing from the constraints of organic Insecticide use, namely the supply of organic Insecticides are sometimes not smooth and it is expensive whereas a lot of potential partners in the area of biodiversity that can be used as an organic Insecticide. Specifically after discussion / consultation with partners, the problems of partners in a concrete and a priority that must be addressed are: 1) Options are not master the method of manufacturing the Insecticide organically based on local potential and 2) Partner not mastered the method of Insecticide use organic accordance local raw materials used on specific crops. Solutions that will do is 1) conduct training and mentoring the manufacture of Insecticides organic material garlic and coconut milk fermented with yeast and 2) training and mentoring Insecticide use organic local ingredients (a mixture of garlic and coconut milk) with a pattern ToT ( training of Trainer) followed by three farmers from representative Sumber Urip   Farmers Group. Results of further training and assistance in deseminjasikan to members of other farmers. Through a series of training programs, and mentoring the manufacture and use of Insecticide organic Sumber Urip   Farmers Group of Wonosari Subdistrict Poncokusumo Malang, the partner PPMI has mastered: 1) a method of making the Insecticide organic from local materials and 2) Method of Insecticide use organic materials local. Organic Insecticide product by brand “Mbok Sikeh” and “Bio Albillin”.Keywords: Insecticides, organic, groups, farmers, local

  1. PENDAHULUAN

Mitra dalam pendampingan ini adalah Kelompok Tani Sumber Urip    berada di Desa Wonorejo Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang Propinsi Jawa Timur, suatu desa yang berada di timur laut dari Kota Malang dan berbatasan dengan Kabupaten Proboliggo (Lereng Tengger Gunung Bromo) yang menjadi salah satu sentra produksi pangan  organik di Kabupaten Malang.

Pada tahun 2015 Desa Wonorejo mempunyai jumlah penduduk 4.271 dengan jumlah laki-laki 1928 orang dan perempuan 2343 orang, sebagain besar bekerja sebagai petani dan peternak.

Dari 1.925 orang petani di Desa Wonorejo sebagian besar (1254 orang, 65,14%) menjadi petani atau terlibat dalam produksi pangan organik. Pangan organik yang diproduksi yang paling banyak adalah padi dan sayur. Para petani tersebut diorganisasikan dalam Kelompok Tani Sumber Urip. Kelompok Tani Sumber Urip di Desa Wonorejo ini mempunyai eksistensi untuk berkembang di masa-masa mendatang.  Hal ini dikarenakan kultur pertanian organik sudah lama dilakukan.

Budidaya pertanian organik telah berjalan dengan baik dan produktif di Desa Wonorejo. Produk organik yang paling banyak dihasilkan adalah padi, kol, gubis, tomat, kacang panjang, bayam, sawi, kacang panjang, cabai, dan bawang merah. Petani organik telah menggunakan pupuk organik padat maupun cair dari kotoran sapi dan kompos, tetapi petani masih menghadapi masalah penggunaan Insektisida organik.

Kelompok Tani Sumber Urip (KPPO) yang berada di Desa Wonorejo Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang mempunyai tujuan memproduksi pangan organic secara berkelanjutan melalui implemetasi pertanian organik.

Pada abad 21 ini, trend pola gaya hidup sehat telah berhasil mendorong berkembangnya pertanian organik secara luas (Prihandarini, 2009). Pertanian organik merupakan salah satu alternatif menuju pembangunan pertanian yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Tujuan utama dari sistem pertanian organik adalah untuk menghasilkan produk bahan pangan yang aman bagi kesehatan produsen maupun konsumen dan tidak merusak lingkungan. Pengertian organik menurut FAO adalah ” a holistic production management system which promotes and enhances agroecosistern healyh, including biodiversity, biological cycles, and soil biological activity” (suatu system managemen yang holistik yang mempromosikan dan meningkatkan pendekatan sistem pertanian berwawasan kesehatan lingkungan, termasuk biodiversitas, siklus biologi dan aktivitas biologi tanah. Pertanian organik merupakan suatu sistem pertanian berkelanjutan yang diakui oleh Komisi Eropa (European Commission) dan Agricultural Council pada Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tahun 1992 (Jolly, 2000).

Hasil penelitian sebelumnya telah diperoleh bahwa 1) persepsi masyarakat tentang pertanian hortikultura organik identik dengan pertanian sayuran dan buah yang tidak menggunakan pupuk buatan  dan pestisida buatan (Budiyanto, 2007). Hasil penelitian Budiyanto (2012) tentang Tipologi Preferensi Konsumen terhadap  Produk Pangan Organik di Kota Malang dapat dinyatakan bahwa: 1) Tipe pengambilan keputusan konsumen dalam memilih produk pertanian organik di Kota Malang adalah economic type (4%), psychological type (13%), consumer behaviour type (25%), dan others type (58%). Tipe lain-lain sebagian besar karena alasan kesehatan, dan 2) Faktor-faktor   yang mempengaruhi konsumen dalam memilih produk pangan organik di Kota Malang adalah   faktor sosial (10%),  faktor personal (14%),  faktor psikologi (19%),  faktor kultural (5%), dan faktor lain-lain (52%).  Faktor lain-lain sebagian besar karena faktor agama. Dua penelitian ini mengindikasikan bahwa komsumsi produk pangan organik didasari alasan kesehatan.

Permasalahan yang dihadapi oleh Kelompok Tani Sumber Urip  yang berada di Desa Wonorejo Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang berangkat dari kendala penggunaan Insektisida organik yaitu suplai Insektisida organik kadang-kadang tidak lancar dan harganya mahal. Padahal di Desa Wonorejo terdapat potensi hayati yang dapat digunakan bahan pembuatan Insektisida organik, misalnya daun sirih, jahe, bawang putih, kunir, kencur, daun cengkeh, bunga kertas, bunga bougenville, dan lain sebagainya.

Secara spesifik setelah dilakukan diskusi/musya1.warah dengan mitra, maka permasalahan mitra secara konkret dan menjadi prioritas yang harus ditangani adalah sebagai berikut.

  1. Mitra tidak menguasai metode pembuatan Insektisida organik berbasis pada potensi lokal.
  2. Mitra tidak menguasai metode penggunaan Insektisida organik sesuai bahan baku lokal..

 

  1. METODE

 

  1. a. Solusi terhadap permasalahan mitra tidak menguasai metode pembuatan Insektisida organik

 

Menurut Batori (2013) beberapa tumbuhan yang dapat digunakan sebagai bahan insektisida organik adalah daun sirsak, daun papaya, daun kecubung, umbi gadung, akar tuba, kulit jeruk, daun tembakau,  bawang putih, cabe rawit, daun pandan, daun kemangi, tembakau, kunyit, daun kenikir, lengkuas, biji mimba, dan lain sebagainya.

Menurut Zheni (2013) bahan untuk membuat insektisida organik alami untuk mengusir dan membunuh hama, kutu dan ulat perusak tanaman pertaniana atau perkebunan adalah: 1) bawang putih, cabe rawit, pandan, kemangi, tembakau, kunyit, kenikir : masing-masing 100 gram, 2) Gula pasir : 2 sendok makan, 3) Air suling destilasi / aqua destilata : 1 liter, 4) Dekomposer BSA (mikro organisme pengurai) : 2 ml, 5) Botol kaca steril besar : 2 buah. Sedangkan tahap-tahap pembuatan adalah: 1) cabe rawit, bawang putih, pandan, kemangi, tembakau, kunyit, kenikir dan air destilasi diblender hingga bercampur rata, 2) masukkan ke dalam botol yang telah disteril bebas kuman, 3) masukkan gula dan decomposer BSA, tutup lalu biarkan satu minggu untuk proses fermentasi, dan 4) Buka dan saring dari ampas-ampas yang ada dan simpan di tempat yang tertutup.

Berdasarkan hal tersebut di atas, maka solusi terhadap permasalahan mitra tidak menguasai metode pembuatan Insektisida organik berbasis pada potensi lokal adalah dengan melakukan pelatihan pembuatan Insektisida organik dari baha sirih, cengkeh, dan empon-empon.

 

  1. Solusi terhadap permasalahan mitra yang tidak menguasai metode penggunaan Insektisida organik

Menurut Zheni (2013) Cara penggunaan cairan insektisida organik dari bahan alam campuran bawang putih, cabe rawit, pandan, kemangi, tembakau, kunyit, dan kenikir  adalah: 1) campur 60 ml cairan insektisida organik yang telah dibuat dengan 1 liter air biasa, 2) semprot pada batang dan daun tanaman yang terserang hama dan ulat satu minggu sekali, 3) gunakan insektisida yang telah disimpan paling lama 6 bulan. Penggunaan insektisida organik ini dapat digunakan di tanaman pangan (misalnya padi, jagung, kedelai) dan juga tanaman sayur (misalnya kol, gubis, tomat, kacang panjang, bayam, sawi, kacang panjang, cabai, dan bawang merah).

Berdasarkan hal tersebut di atas, maka solusi terhadap permasalahan mitra yang tidak menguasai metode penggunaan Insektisida organik sesuai bahan baku lokal yang digunakan pada tanaman spesifik  adalah dengan melakukan pelatihan dan pendampingan penggunaan Insektisida organik dari bahan lokal (campuran bahan bahan jahe dan gula merah)  pada tanaman tanaman bayam dan gulmanya.

Setelah dilakukan diskusi/ musyawarah dengan mitra, maka solusi permasalah mitra secara konkret dan menjadi prioritas yang harus ditangani adalah sebagai berikut.

 

No Permasalahan Kegiatan Solusi Permasalahan Partisipasi Mitra

dalam Kegiatan

1 Mitra tidak menguasai metode pembuatan Insektisida organik Pelatihan pembuatan Insektisida organik dari bahan lokal ( )

 

Berperan aktif dalam penyiapan alat/bahan

Berperan aktif sebagai peserta pelatihan

2 Mitra tidak menguasai metode penggunaan Insektisida organik Pelatihan dan pendampingan penggunaan Insektisida organik  ) Berperan aktif dalam penyiapan alat/bahan

Berperan aktif sebagai peserta pelatihan dan pendampingan

Catatan: Tiap-tiap jenis pelatihan menggunakan pola ToT (Training of Trainer) yang diikuti oleh 5 orang petani dari perwakilan Kelompok Tani Sumber Urip-1 dan Kelompok Tani Sumber Urip-2

 

Tim pelaksana kegiatan pendampingan kelompok Tani Sumber Urip yang menghadapi masalah penyediaan Insektisida organik ini terdiri dari Dosen yang memiliki keahlian yang memadai dan telah berpengalaman dalam bidang pangan organik dari aspek hulu sampai dengan hilir. Ketua Tim merupakan dosen di Pendidikan Biologi FKIP UMM yang mengajar dan menekuni bidang  pangan dan gizi. S3 yang bersangkutan juga mengambil konsentrasi Ilmu Gizi di Program Pascasarjana Universitas Airlangga Surabaya. Ketua Tim juga telah banyak melakukan kegiatan pendampingan Tani Sumber Urip di wilayah Kabupaten Malang. Beberapa karya tulis pengabdian juga relevan dengan program pendampingan ini, diantaranya adalah:  1) Tipologi Penggunaan Pupuk Organik pada Budidaya Hortikultura di Kota Batu (2009), 2) Pola Pemanfaatan Kotoran Sapi di Kabupaten Malang (2008), dan 3) Persepsi Masyarakat tentang Pertanian Hortikultura Organik di Kabupaten Malang (2007), 4)  Tipologi Preferensi Konsumen terhadap  Produk Pangan Organik di Kota Malang (2012), IbM Kelompok Tani Sumber Urip yang Menghadapi Masalah Pupuk Organik (2013), dan IbM Kelompok Peternak yang Menghadapi Masalah Kotoran Sapi (2014). Di sisi lain anggota tim merupakan dosen yang menekuni dan mengembangkan Ilmu Kimia dan Lingkungan dengan konsentrasi lingkungan organik yang akan sangat mendukung dalam pelaksanaan pendampingan ini. Bersama-sama dengan Ketua Pelaksana, anggota tim ini juga telah melakukan kegiatan pendampingan Tani Sumber Urip di wilayah Kabupaten Malang.

Dalam upaya meningkatkan kinerja kegiatan pendampingan pembuatan dan penggunaan Insektisida organik ini, maka telah disepakati dan dibangun sinergisme tim dalam bentuk pembagian kerja, pola kooperasi, pola kolaborasi, morning meeting pada hari jum’at setiap minggunya. Ketua tim bertugas menyusun job deskripsi kerja anggota tim dan mahasiswa yang selanjutnya dikaji dan disempurnakan dalam rapat koordinasi. Dalam tingkatan teknis disepakati Ketua Tim bertugas untuk menyiapkan bahan-bahan akademik, pengurusan ijin dan lobi program,  serta mengkoordinasikan semua kegiatan.

Anggota Tim bertugas mengkoordinasikan penyiapan alat, bahan, sarana pendukung, serta membangun partisipasi masyarakat/kelompok, terlibat aktif dalam setiap kegiatan, melakukan monitoring dan evaluasi kegiatan. Dalam pelaksanaan kegiatan juga dibantu oleh 6 (Enam) mahasiswa yang sebelumnya terlebih dahulu diberi pembekalan. Di sisi lain secara bersama-sama (Ketua Tim, Anggota Tim, Mahasiswa, Ketua Kelompok Tani, dan Anggota Kelompok Tani) melakukan monitoring dan evaluasi sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan. Hasil monitoring dan evaluasi tersebut selanjutnya digunakan landasan dalam upaya meningkatkan kinerja program yang kemudian diikuti dengan redesain program dan redistribusi tugas antara Ketua Tim, Anggota Tim, dan Mahasiswa.

 

  1. HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil yang dicapai dalam kegiatan Pendampingan Pembuatan Insektisida Organik di Kelompok Tani Sumber Urip Desa Wonosari Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang adalah sebagai berikut.

  1. Pelatihan Pembuatan Insektisida Organik dari Bahan Lokal
Peserta  : 6 orang utusan Mitra IbM (3 orang dari Kelompok Petani OrganikSumber Urip I dan  3 orang Kelompok Petani Organik Sumber Urip II Desa Wonorejo Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang).
Fasilitator  : DR.H.Moch. Agus Krisno B,M.Kes.

Drs. Muizuddin,M.Kes.

Drs. Samsun Hadi, MS.

Co-Fasilitator : 11 Mahasiswa FKIP-Biologi UMM.
Tempat : Rumah Ketua Kelompok Tani Sumber Urip
Waktu : Mulai 30 Maret 2016
Materi : Cara Membuat Insektisida Organik  (materi lengkap di lampiran).
Metode : Fasilitator menjelaskan dan mempraktekan  cara membuat Insektisida organik.

Fasilitator mendampingi produksi Insektisida organik.

Partisipasi Mitra : Berperan aktif dalam penyiapan alat, bahan, dan tempat

Berperan aktif dalam pembuatan Insektisida organik

Keberhasil-an : 6 orang Mitra IbM memahami dan dapat melakukan produksi  Insektisida organik.

 

 

  1. b. Pelatihan dan Pendampingan Penggunaan Insektisida Organik dari Bahan Lokal
Peserta  : 6 orang utusan Mitra IbM (3 orang dari Kelompok Petani OrganikSumber Urip I dan  3 orang Kelompok Petani Organik Sumber Urip II Desa Wonorejo Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang).
Fasilitator  : DR.H.Moch. Agus Krisno B,M.Kes.

Drs. Muizuddin,M.Kes.

Drs. Samsun Hadi, MS.

Co-Fasilitator : 11 Mahasiswa FKIP-Biologi UMM.
Tempat : Lahan  Kelompok Tani Sumber Urip I
Waktu : Senin9 Nopember 2015 s/d Sabtu, 28 Nopember 2015 (3 Minggu)
Materi : Cara Menggunakan Insektisida Organik (materi lengkap di lampiran).
Metode : Fasilitator menjelaskan dan mempraktekan  cara menggunakan Insektisida.

Fasilitator mendampingi penggunaan Insektisida organik.

Partisipasi Mitra : Berperan aktif dalam penyiapan alat, bahan, dan lahan

Berperan aktif dalam penggunaan Insektisida organik

Keberhasilan : 6 orang Mitra IbM  memahami dan dapat  menggunakan Insektisida organik.

 

  1. Deseminasi Best Practice / Goods Practice Pembuatan dan Penggunaan Insektisida Organik dari Bahan Lokal
Peserta  : 20 orang anggota Kelompok Tani Sumber Urip Desa Wonorejo Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang
Fasilitator  : DR.H.Moch. Agus Krisno B,M.Kes.

Drs. Muizuddin,M.Kes.

Drs. Samsun Hadi, MS.

Co-Fasilitator : 6 Mahasiswa FKIP-Biologi UMM.
Tempat : Rumah Ketua Kelompok Tani Sumber Urip I
Waktu : 28 Mei 2016
Materi : Good Practice Pelatihan dan Pendampingan Pembuatan, Penggunaan, Packaging, Labeling Insektisida Organik.
Metode : Fasilitator menjelaskan good practice pelatihan dan pendampingan pembuatan, penggunaan, packaging, labeling, dan marketing Insektisida Organik.
Partisipasi Mitra : Berperan aktif dalam penyiapan tempat, fasilitas pendukung

Berperan aktif sebagai peserta deseminasi

Keberhasilan : 20 orang   Mitra PPMI  memahami dan tertarik mengimplementasikan good practice pelatihan dan pendampingan pembuatan, penggunaan, packaging, labeling, dan marketing Insektisida Organik.

Pada pertanian sebelum revolusi hijau, peran mikroba teramat penting dalam pasokan nutrisi tanaman, dan keduanya amat terkait, sampai peran mikroba digantikan oleh Insektisida anorganik yang serba instan (Nasahi, 2010). Padahal peran mikroba tidak sekedar sebagai penyuplai nutrisi bagi tanaman namun masih banyak peran lain yang dimainkannya dalam lingkungan ekosistem. Untuk mengembalikan suatu produktivitas pertanian, dilakukan upaya untuk mengembalikan kondisi tanah. Upaya tersebut diantaranya adalah dengan adanya pasokan mikroba menguntungkan ke dalam lahan dan pasokan bahan organik yang memadai. Pasokan mikroba tanpa disertai pasokan bahan organik hanya akan memberikan kemajuan sementara saja, karena mikroba sangat butuh bahan organik yang cukup. Dengan adanya peningkatan kuantitas mikroba di dalam tanah diharapkan kondisi tanah akan pulih dan akan mendukung produktivitas pertanian (Faqihhudin, 2014).

Menurut Sigid (2016), Insektisida merupakan senyawa kimia yang mempunyai peranan dalam mengendalikan penyakit tanaman yang disebabkan oleh cendawan (serangga).  Insektisida mempunyai 2 cara kerja, yaitu kontak dan  sistemik. Insektisida Kontak bersifat langsung (kontak) mengendalikan penyebaran cendawan yang sudah menyerang tanaman dengan menampakkan gejala seperti bercak daun, karat daun, antraknosa, dan lain sebagainya. Insektisida sistemik bersifat mencegah serangan cendawan dengan cara membuat semua bagian tanaman menjadi beracun, sehingga menghambat atau mencegah cendawan melakukan penetrasi ke semua bagian tanaman.

Hama dan penyakit yang kerap menyerang tanaman pun sangat bermacam-macam. Hama sendiri ada yang berupa hewan pengerat, serangga hingga cendawan. Belum lagi penyakit yang menyerang bagian-bagian tanaman mulai dari akar, batang, hingga daun. Masalah ini menjadi hal yang perlu mendapatkan perhatian lebih karena berdampak langsung dengan hasil pertanian.
Banyak solusi yang dijadikan sebagai senjata untuk menghadapi masalah hama dan penyakit ini. Mulai dari tindakan pencegahan hingga tindakan mengobati. Tindakan pencegahan bisa dimulai sejak tanaman mulai ditanam. Sedangkan tindakan pengobatan dapat dilakukan setelah hama dan penyakit telah teridentifikasi. Salah satu hama yang kerap menyerang tanaman adalah cendawan atau biasa dikenal dengan serangga. Cendawan atau serangga adalah sejenis tumbuhan yang tidak mempunyai klorofil sehingga bersifat heterotrof. Sifat heterotrof sendiri berarti serangga tersebut tidak bisa hidup sendiri dan harus menumpang dengan tumbuhan lain untuk bisa hidup. Cendawan atau serangga memang menjadi masalah tersendiri bagi para petani. Jika sudah menyerang tanaman, hama yang satu ini dapat merugikan para petani. Maka dari itu, cendawan atau serangga ini harus mendapat perhatian lebih. Tindakan-tindakan pencegahan harus bisa dilakukan agar tidak merugi nantinya. Jika sudah terserang, maka hal yang harus dilakukan adalah dengan mengobatinya. Salah satu cara untuk mengatasi penyebaran hama cendawan atau serangga pada tanaman adalah dengan pestisida. Pestisida yang digunakan pun harus khusus untuk membasmi para serangga. Pestisida untuk membasmi serangga ini biasa dikenal dengan sebutan Insektisida. Insektisida merupakan pestisida yang secara spesifik membasmi dan menghambat pertumbuhan cendawan atau serangga pada tanaman. Bentuk dari Insektisida sendiri bisa cair, gas, serbuk maupun butiran-butiran kecil. Kebanyakan Insektisida memang berasal dari bahan-bahan kimia. Namun ada pula Insektisida alami atau biasa disebut dengan Insektisida organik. Insektisida organik bisa menjadi alternatif pilihan untuk membasmi serangga pada tanaman. Secara sederhana, Insektisida organik adalah Insektisida yang terbuat dari bahan-bahan alami seperti tumbuhan dan organisme. Pilihan Insektisida organik ini biasa digunakan untuk tanaman-tanaman organik yang memang tidak boleh menggunakan bahan-bahan kimia dalam pertumbuhannya. Bahan-bahan yang bisa dipakai sebagai Insektisida organik adalah rempah-rempah seperti kunir, jahe dan laos. (Sigid, 2016).

Selain bermanfaat untuk memberantas hama, ternyata Insektisida sintetis juga menimbulkan dampak negatif bagi manusia ataupun lingkungan. Insektisida biasanya digunakan dalam bidang pertanian sehingga yang terkena dampak langsung dari penggunaan Insektisida adalah para petani. Biarpun sedikit, tetapi para petani pasti akan terkena racun Insektisida apalagi jika mereka tidak menggunakannya sesuai dengan petunjuk pemakaiannya. Dampak lain dari penggunaan Insektisida adalah sebagai berikut: 1) Tanaman yang diberi Insektisida kemungkinan besar menyerap Insektisida tersebut melalui akar, lalu ke batang, daun, dan buah. Lalu Insektisida tersebut akan terakumulasi dalam tubuh hewan pemakan tanaman. Dapat dibayangkan melalui proses rantai makanan racun Insektisida akan terkumpul dalam tubuh manusia (bioakumulasi). 2) Insektisida yang tidak terurai dalam air akan terbawa ke dalam biota air. Insektisida dalam air akan menghambat proses fotosintesis pada plankton yang menjadi makanan makhluk air. Plankton dan ikan-ikan pemakan plankton akan terkena racun Insektisida. 3) Penggunaan Insektisida jangka panjang akan menyebabkan munculnya spesies hama tanaman yang tahan terhadap takaran Insektisida yang diterapkan. Hama ini baru musnah setelah takaran Insektisida diperbesar. Akibatnya, hal ini akan memperbesar tingkat pencemaran Insektisida pada makhluk hidup. Upaya yang bisa dilakukan untuk mengurangi dampak negatif dari penggunaan Insektisida, yaitu dengan menggunakan Insektisida alami yang berasal dari tumbuhan (bioInsektisida) yang mudah terurai (biogenerable), sehingga penggunaannya relatif aman. Akan tetapi, apabila tidak ada cara lain untuk memberantas hama selain dengan menggunakan Insektisida, berbagai pihak khususnya lembaga terkait (PPL: Penyuluh Pertanian Lapangan) harus bisa memilih Insektisida yang paling kecil resiko pencemarannya terhadap makhluk hidup (Anonymous, 2016). Penggunaan Insektisida khususnya yang bersifat sintetis berkembang luas karena dianggap paling cepat dan ampuh mengatasi gangguan insekta. Namun penggunaanya ternyata menimbulkan kerugian seperti resistensi, reserjunsi, terbunuhnya mutan alami dan masalah pencemaran lingkungan dan sangat berbahaya berbagi bagi manusia (Kristanto, 2013).

Salah satu alternatif pengendalian yang dapat dikembangkan adalah penggunaan bioInsektisida atau Insektisida organik. Selain dapat menghambat perkembangan penyakit, Insektisida ini juga aman bagi masyarakat dan lingkungan sekitar karena mudah terurai dan tidak meninggalkan residu pada produk pertanian. Tumbuhan yang dapat digunakan sebagai Insektisida organik yaitu : kunyit, temu hitam, Jahe, serai, lengkuas, kencur, bawang merah, bawang putih, serai, ranting cengkeh, dan daun sirih. Tumbuhan kunyit dapat berguna sebagai insektisida dan Insektisida, temu hitam berguna sebagai insektisida dan Insektisida, jahe berguna sebagai insektisida dan penolak, lengkuas berguna sebagai Insektisida, kencur berguna sebagai insektisida dan Insektisida dan mengandung Zat Pengatur Tumbuh (ZPT), bawang merah berguna sebagai Insektisida, bawang putih berguna sebagai Insektisida, nematisida, Insektisida, dan antibiotik, serai senyawa kimia seperti minyak atsirih dan berguna sebagai antibakteri dan antiinsekta, Daun sirih berguna sebagai Insektisida, batang cengkeh berguna sebagai menghambat aktivitas makan (antifedant), mengakibatkan kemandulan tanaman dan Insektisida (Kristanto, 2013).

“Bio Annona” dan “Bio Albillin”  merupakan salah satu jenis Insektisida yang selain menggunakan bahan organik juga terdapat penerapan dari teknologi mikroba moebillin. Insektisida “Bio Annona” dan “Bio Albillin”  dapat digunakan untuk menekan pertumbuhan serangga yang menyerang  tanaman. Bio Annona dan Bio Albillin merupakan produk Insektisida organik dengan ber-macam aneka bahan yang mudah didapatkan. Bio Annona ini merupakan kolaborasi antara komponen daun sirsat dan bioaktivator moebillin. Sedangkan Bio Albillin juga merupakan salah satu produk Insektisida organik yang juga berkolaborasi berbagai golongan empon – empon. Hal ini cukup efektif terlebih bahan mudah untuk didapatkan dan harganya yang relatif murah. Sehingga Insektisida organik ini mampu menjadi alternatif bagi petani untuk membasmi kelompok serangga (insekta). Insektisida organik mengandung bahan aktif yang dapat menghambat dan merusak sel mikroorganisme. Bahan aktif tersebut seperti minyak atsiri  yang terdapat pada serai dan senyawa aromatic yang terdapat pada daun sirih. Ekstrak serai juga mengandung senyawa sitronelal yang merupakan senyawa monoterpen dengan sifat antiinsekta yang tinggi (Nakahara, 2003). Menurut Koul (2008) Ekstrak daun sirih mengandung senyawa aromatic seperti hidoksikavikol, kavikol, dan betlepenol. Senyawa-senyawa aktif tersebut mampu menekan pertumbuhan serangga pathogen dengan cara mengganggu dinding sel atau menghambat permeabilitas dinding sel sehinggga komponen penting seperti protein keluar dari sel dan sel berangsur-angsur mati.

Menurut Sarjan, M.  (2010) dalam penelitian yang berjudul ”Potensi Pemanfaatan Insektisida Nabati Dalam Pengendalian Hama Pada Budidaya Sayuran Organik” menyatakan bahwa rata-rata populasi dan intensitas serangan hama  hama penting pada tanaman tersebut relatif sama  pada tanaman yang dibudidayakan secara organik dan konvensional. Demikian juga dengan perkembangan populasi dan intensitas serangannya selama pengamatan menunjukkan pola yang sama, dimana hama ini akan mencapai puncaknya pada saat fase tanaman menghasilkan tunas-tunas muda  dan menurun pada saat bagian tanaman sudah mulai menua serta sangat tergantung pada waktu penggunaan insektisida (baik kimiawi sintetis maupun non sintetis) yang cenderung menekan populasi hama. Walaupun demikian terlihat bahwa hasil cabe merah maupun tomat yang dibudidayakan secara organik lebih tinggi dari pada konvensional. Oleh karena itu budidaya cabae merah  ,tomat dan kubis  secara organik mempunyai prospek untuk dikembangkan baik untuk tujuan perlindungan tanaman dari hama maupun untuk tujuan peningkatan produksi.

Menurut Yaman, R. (2010) dalam penelitian yang berjudul ”Kajian Insektisida Organik (Urin Sapi & Serbuk Biji Mimba) terhadap Mortalitas Larva (Spodoptera Litura)” menyatakan bahwa podoptera litura dengan pencelupan daun kedelai yang direndam pada urin sapi dan serbuk biji mimba jumlah mortalitas larva Spodoptera litura hampir sama pada hari ke 6 (enam), sedangkan pada perlakuan  campuran urin sapi dan serbuk biji mimba jumlah mortalitas larva spodoptera litura paling tinggi yakni pada hari ke 4 (empat), kejadian ini disebabkan oleh bertambah kuatnya toksitas akibat adanya percampuran senyawa serbuk biji mimba dan urin sapi.

Menurut Sonyaratri , D. (2006). dalam penelitian yang berjudul ”Kajian Daya Insektisida Ekstrak Daun Mimba (Azadirachta indica  A. Juss) dan Ekstrak Daun Mindi (Melia azedarach L.) terhadap Perkembangan Serangga Hama Gudang  Sitophilus zeamais Motsch. Skripsi. Bogor: Institut Pertanian Bogor” menyatakan bahwa penggunaan insektisida alami nabati merupakan salah satu alternatif yang dapat digunakan sebagai pengganti insektisida sintetis dalam mengendalikan hama. Insektisida alami nabati relatif tidak meracuni manusia, hewan dan tanaman lainnya karena sifatnya yang mudah terurai sehingga tidak menimbulkan residu. Daya insektisida yang dimiliki oleh bahan nabati umumnya berupa daya repellent yang dapat menghambat peletakkan telur oleh induk betina dan daya antifeedant yang menyebabkan serangga tidak mau makan media yang tersedia. Daun mimba dan daun mindi diduga mengandung komponen aktif yang menimbulkan bau dan aroma yang tidak disukai oleh Sitophilus zeamais sehingga bahan tersebut memiliki potensi sebagai insektisida. Dari hasil penelitian diperoleh hasil bahwa ekstrak daun mimba berpengaruh nyata terhadap jumlah total populasi turunan pertama dari Sitophilus zeamais. Penambahan ekstrak daun mimba 1.5% mampu menghambat secara total perkembangan Sitophilus zeamais yang dibuktikan dengan tidak adanya serangga turunan pertama. Pada konsentrasi 1.0% ekstrak daun mimba secara nyata mampu menurunkan jumlah populasi serangga, memperpanjang periode perkembangan dan memperkecil nilai dari indeks perkembangan, laju perkembangan intrinsik serta kapasitas mulitiplikasi mingguan. Dari hasil penelitian diperoleh ha

sil bahwa penambahan ekstrak daun mindi ada konsentrasi 1.0% secara nyata mampu menurunkan jumlah populasi serangga, memperkecil nilai dari indeks perkembangan, laju perkembangan intrinsik serta kapasitas mulitiplikasi mingguan.  Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ekstrak daun mimba

lebih efektif daripada daun mindi. Hal ini disebabkan karena pada konsentrasi yang lebih kecil yaitu 1.5%, ekstrak daun mimba mampu menghambat secara total jumlah populasi serangga turunan pertama. Pada daun mindi untuk menghambat secara total jumlah populasi serangga diperlukan konsentrasi 6.0%. Hal ini diperkuat dengan perhitungan secara teoritis menggunakan parameter kapasitas multiplikasi mingguan. Bila dibandingkan antara keduanya, dengan penambahan ekstrak masing-masing sebesar konsentrasi 1.0%, jumlah populasi serangga pada penambahan ekstrak daun mimba lebih

sedikit (127 ekor) bila dibandingkan jumlah populasi pada penambahan ekstrak daun mindi (581 ekor). Diduga pada mimba kandungan bahan aktif lebih tinggi daripada mindi sehingga mimba lebih efektif sebagai insektisida.

Dalam  proses memproduksi Insektisida Organik “Bio Annona” dan “Bio Albillin”  tidak mengeluarkan modal yang banyak. Bahan yang digunakan berbasis kearifan lokal Desa Wonorejo Kecamatan Poncokusumo kabupaten Malang.  Insektisida organik “Bio Annona” dan “Bio Albillin”  sangatlah ekonomis bagi masyarakat sehingga dapat memotong potensi tingginya pengeluaran.  Insektisida organik “Bio Annona” dan “Bio Albillin”  ini menggunakan bahan-bahan alami yang cukup banyak dijumpai di daerah sekitar dan sangat mudah untuk dijangkau. Di sisi lain respon dari kelompok tani terhadap pelatihan dan pendampingan produksi dan penggunaan  Insektisida organik “Bio Annona” dan “Bio Albillin”  ini sangat baik dan begitu antusias.

KESIMPULAN

  1. Melalui serangkaian kegiatan pelatihan, dan pendampingan pembuatan dan penggunaan Insektisida organik di Kelompok Tani Sumber Urip Desa Wonosari Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang, maka mitra PPMI telah menguasai:
  2. Metode pembuatan Insektisida organik.
  3. Metode penggunaan Insektisida organik.
  4. Produk Insektisida organik diberi merk “Bio Annona” dan “Bio Albillin” .

Berdasarakan hasil kegiatan pelatihan, dan pendampingan pembuatan dan penggunaan Insektisida organik di Kelompok Tani Sumber Urip Desa Wonosari Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang, maka dalam upaya lebih mengoptimalkan kemanfaatan program untuk mitra dapat disarankan untuk segera melakukan:

  1. Pendampingan pemasaran Insektisida organik dari bahan lokal  melalui jejaring sosial (FB dan Twitter), pedagang tanaman hias dan kelompok tani organik.
  2. Perancangan  dan pendampingan analisis ekonomi produksi Insektisida organik

UCAPAN TERIMAKSIH

Tim Pelaksana menghaturkan ucapan terimakasih kepada Yth: Direktur Direktorat Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRPM), Direktorat Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi yang telah memberikan dana hibah IbM (Ipteks bagi Masyarakat) Tahun Anggaran 2016, Pimpinan Universitas Muhammadiyah Malang, Pimpinan Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Muhammadiyah Malang (DPPM UMM), dan sebelas Mahasiswa UMM yang terlibat dalam kegiatan ini.

REFERENSI

Anonymous, (2014). Mengupas Tuntas Seputar Design Packaging Kemasan. http://en.wikipedia.org, diakses tanggal 03 April 2014.

Anonymous, (2016). Pestisida.. http://www.bukupedia.net/2015/12/pengertian-dan-macam-macam-jenis-pestisida-serta-dampak-pestisida-terhadap-lingkungan.html, diakses 3 Agustus 2016.

Batori, Imam. (2013). Bahan Nabati Insektisida Organik. Publisia. Jakarta.

Bayan, Adi. 2003. Pelabelan dalam Produk Industri. Cendekia. Surabaya.

Budiyanto MAK, (2013). Model Pengembangan Produksi Pangan Organik. Laporan Penelitian, Malang: Universitas Muhammadiyah Malang.

Budiyanto MAK, 2008. Pola Pemanfaatan Kotoran Sapi di Kabupaten Malang. Laporan Penelitian, Malang: Universitas Muhammadiyah Malang.

Budiyanto MAK, 2009. Tipologi Penggunaan Pupuk Organik pada Budidaya Hortikultura di Kabupaten Malang. Laporan Penelitian, Malang: Universitas Muhammadiyah Malang.

Budiyanto MAK, (2007). Persepsi Masyarakat tentang Pertanian Hortikultura Organik di Kabupaten Malang. Laporan Penelitian, Malang: Universitas Muhammadiyah Malang.

Dicky, (2011). Uji Efektivitas Beberapa Jenis Insektisida Nabati Dengan Dosis Yang Berbeda untuk Mengendalikan Penyakit Bercak Daun (Cercospora nicotianae ell. et .ev) Pada Tanaman Tembakau (Nicotianae tabaccum l.) di Lapangan. Skripsi, Medan: Universitas Sumatera Utara.

Faqihhudin, M.D., dkk. (2014). Penggunaan Insektisida terhadap Pertumbuhan, Hasil  dan Residu pada Jagung. Ilmu Pertanian 17 (1) : 1-12.

Jolly, D. (2000). From Cottage Industry to Conglomerates: The Transformation of the US Organis Food Industry. New York: Original Press.

Kotler, Philip. (2001). Manajemen Pemasaran di Indonesia : Analisis, Perencanaan, Implementasi dan Pengendalian. Salemba Empat. Jakarta.

Koul. (2008). Esential Oil As Green Pesticides Potential and Constrains. India; Current Science.

Kristanto, (2013). Pengendalian Hama Pada Tanaman Kubis Dengan Sistem Tanam Tumpang Sari. Jurnal berkalah ilmiah pertanian. Vol 1(1): 7-9

Nakahara, (2003).Chemical composition and antifungal activity of essential oil from cymbopogon Nardus. New York: Prencill.

Prihandarini R, (2009). Potensi  Pengembangan Pertanian Organik. Jakarta: Departemen Pertanian, Sekjen Maporina.

Sarjan, M.  (2010). Potensi Pemanfaatan Insektisida Nabati Dalam Pengendalian Hama Pada Budidaya Sayuran Organik. Skripsi, Mataram: Universitas Mataram.

Setaiadi Y, (2014). Cara Membuat Insektisida Organik. Yudistira, Jakarta.

Sigid (2016). Cara Membuat Insektisida Organik. http://www.kebunpedia. com/threads/cara-membuat-Insektisida-organik.5454/, Diakses 3 Agustus 2016.
Sonyaratri , D. (2006). Kajian Daya Insektisida Ekstrak Daun Mimba (Azadirachta indica  A. Juss) dan Ekstrak Daun Mindi (Melia azedarach L.) terhadap Perkembangan Serangga Hama Gudang  Sitophilus zeamais Motsch. Skripsi. Bogor: Institut Pertanian Bogor.

Stanton, William J. (2001). Prinsip Pemasaran. Erlangga. Jakarta.

Swastha, Basu dan Irawan.(2003). Manajemen Pemasaran Modern, Liberty, Yogyakarta.

Yaman, R. (2010). Kajian Insektisida Organik (Urin Sapi & Serbuk Biji Mimba) terhadap Mortalitas Larva (Spodoptera Litura). Skripsi. Surabaya: Universitas Pembangunan Nasional “Veteran’ Jawa Timur.

Zheni, Rudi, (2013). Cara Penggunaan Cairan Insektisida Organik. Jakarta: Erlangga.
 

 

Efektivitas Pendampingan dalam Produksi Herbisida Organik

Efektivitas Pendampingan dalam Produksi Herbisida Organik

Effectiveness of Assistance in the Production of Organic Herbicide

 

Moch. Agus Krisno Budiyanto1), Muizzuddin2)

1),2) Program Studi Pendidikan Biologi, FKIP-Universitas Muhammadiyah Malang

Jl. Tlogomas No. 246 Malang, aguskrisno.umm@gmail.com

Juli,2017

 

ABSTRAK

Potensi nabati di Indonesia sangat besar dalam produksi herbisida organik. Di banyak daerah masih diperlukan pendampingan pada kelompok tani untuk memproduksi herbisida organik. Penelitian ini mempunyai tujuan untuk mengetahui efektivitas pendampingan dalam produksi herbisida organik di Kelompok Tani Sumber Urip Malang. Desain penelitian yang digunakan Cross Sectional.  Pendampingan dilakukan sebanyak 10 kali dalam bidang produksi herbisida organik dengan melibatkan 10 petani dari Kelompok Tani Sumber Urip I dan 10 petani dari Kelompok Tani Sumber Urip II. Sebelum pendampingan dilakukan pretest dan setelah pendampingan dilakukan posttest tentang pengetahun dan keterampilan dalam produksi herbisida organik. Metode Pengumpulan data yang digunakan adalah angket, observasi,  dan wawancara, sedangkan metode analisis data yang digunakan adalah uji t 1 sampel terikat.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa; 1) ada perbedaan yang sangat signifikan pengetahuan produksi herbisida organik sebelum dan  sesudah pendampingan (t-hit > t-tab0,01, 8,156 > 2,861), dan 2) ada perbedaan yang sangat signifikan keterampilan produksi herbisida organik sebelum dan  sesudah pendampingan (t-hit > t-tab0,01, 9,067 > 2,861). Dari hasil penelitan tersebut dapat disimpulkan hasil penelitian yaitu pendampingan efektif meningkatkan pengetahuan dan keterampilan produksi herbisida organik.

Kata kunci: pendampingan, herbisida, organik, produksi, keterampilan

 

ABSTRACTPotential plant in Indonesia is very large in the production of organic herbicides. In many areas still needed assistance to farmer groups to produce organic herbicide. The objective of this study was to examine the effectiveness of assistance in the production of organic herbicides in Sumber Urip Farmers Group off Malang. The design study is cross sectional. Assistance performed 10 times in the production of organic herbicides involving 10 farmers from Sumber Urip-I  Farmers Group  and 10 farmers from Sumber Urip-II Farmers Group. Before the assistance  is done after the pretest and posttest counseling is done on the knowledge and skills in the production of organic herbicides. Data collection method used was a questionnaire, observation and interview, while data analysis method used is the one sample t test bound. The results showed that; 1) there is a very significant difference of knowledge production of organic herbicides before and after assistance (t-hit> t-tab0,01, 8.156> 2.861), and 2) there are significant differences of organic herbicide production skills before and after assistance (t- hit> t-tab0,01, 9.067> 2.861). From the results of such research can be summed up the results of research that effective assistance skills and knowledge production of organic herbicides.Keywords: assistance, herbicides, organic, production, skill

 PENDAHULUAN

Hasil penelitian sebelumnya telah diperoleh bahwa 1) persepsi masyarakat tentang pertanian hortikultura organik identik dengan pertanian sayuran dan buah yang tidak menggunakan pupuk buatan  dan pestisida buatan (Budiyanto, 2007). Hasil penelitian Budiyanto (2012) tentang Tipologi Preferensi Konsumen terhadap  Produk Pangan Organik di Kota Malang dapat dinyatakan bahwa: 1) Tipe pengambilan keputusan konsumen dalam memilih produk pertanian organik di Kota Malang adalah economic type (4%), psychological type (13%), consumer behaviour type (25%), dan others type (58%). Tipe lain-lain sebagian besar karena alasan kesehatan, dan 2) Faktor-faktor   yang mempengaruhi konsumen dalam memilih produk pangan organik di Kota Malang adalah   faktor sosial (10%),  faktor personal (14%),  faktor psikologi (19%),  faktor kultural (5%), dan faktor lain-lain (52%).  Faktor lain-lain sebagian besar karena faktor agama. Dua penelitian ini mengindikasikan bahwa komsumsi produk pangan organik didasari alasan kesehatan.

Pada abad 21 ini, trend pola gaya hidup sehat telah berhasil mendorong berkembangnya pertanian organik secara luas (Prihandarini, 2009). Pertanian organik merupakan salah satu alternatif menuju pembangunan pertanian yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Tujuan utama dari sistem pertanian organik adalah untuk menghasilkan produk bahan pangan yang aman bagi kesehatan produsen maupun konsumen dan tidak merusak lingkungan. Pengertian organik menurut FAO adalah ” a holistic production management system which promotes and enhances agroecosistern healyh, including biodiversity, biological cycles, and soil biological activity” (suatu system managemen yang holistik yang mempromosikan dan meningkatkan pendekatan sistem pertanian berwawasan kesehatan lingkungan, termasuk biodiversitas, siklus biologi dan aktivitas biologi tanah. Pertanian organik merupakan suatu sistem pertanian berkelanjutan yang diakui oleh Komisi Eropa (European Commission) dan Agricultural Council pada Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tahun 1992 (Jolly, 2000).

Disis lain, selama ini, masalah gulma merupakan masalah pada tanaman perkebunan besar, sedangkan pada tanaman pangan dan hortikultura tidak menjadi masalah, karena dapat diatasi secara manual. Pengendalian gulma dengan menggunakan bahan kimia banyak menimbulkan masalah. Tindakan pengendalian gulma yang sering dilakukan adalah dengan menggunakan bahan kimia sintetis, yang disebut herbisida. Herbisida adalah suatu senyawa kimia yang digunakan untuk mengendalikan gulma tanpa menggangu tanaman pokok (Sukman dan Yakub, 1997). Terjadinya pencemaran dan polusi merupakan dampak negatif dari penggunaan herbisida sintesis. Untuk mengurangi dampak negatif dari penggunaan herbisida tersebut, petani menggunakan metoda pengendalian gulma dengan menggunakan bahan non-kimia atau herbisida organik. Herbisida organik terbuat dari bahan alami yang relaitf aman dan ramah lingkungan.

Indonesia mempunyai potensi nabati yang sangat besar dalam produksi herbisida organik. Di banyak daerah masih diperlukan pendampingan pada kelompok tani untuk memproduksi dan menggunakan herbisida organik. Mitra PKM adalah 2 (dua) Kelompok Petani Organik yang berada di Desa Wonorejo Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang Propinsi Jawa Timur, suatu desa yang berada di timur laut dari Kota Malang dan berbatasan dengan Kabupaten Probolinggo (Lereng Hutan Lindung Tengger Gunung Bromo) dengan produksi pertanian organik yang cukup  tinggi. Pada tahun 2014 Desa Wonorejo mempunyai jumlah penduduk 4.271 dengan jumlah laki-laki 1.928 orang dan perempuan 2.343 orang, sebagain besar bekerja sebagai petani dan peternak. Budidaya pertanian organik telah berjalan dengan baik dan produktif di Desa Wonorejo. Produk organik yang paling banyak dihasilkan adalah padi, kol, gubis, tomat, kacang panjang, bayam, sawi, kacang panjang, cabai, dan bawang merah. Petani organik telah menggunakan pupuk organik padat maupun cair dari kotoran sapi dan kompos, tetapi petani masih menghadapi masalah penggunaan herbisida organik karena terbatasnya persediaan.

Menurut Batori (2013) beberapa tumbuhan yang dapat digunakan sebagai bahan herbisida organik adalah bawang putih, air kelapa, kulit jengkol, umbi gadung, akar tuba (akar jenu), daun papaya, daun sengon, umbi temu ireng, daun mindri (daun mindi), dan lain sebagainya.

Permasalahan yang dihadapi oleh Kelompok Tani Sumber Urip I dan Kelompok Tani Sumber Urip II yang berada di Desa Wonorejo Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang berangkat dari kendala penggunaan herbisida organik yaitu suplai herbisida organiknya kadang-kadang tidak lancar dan sehingga harganya kadang-kadang relatif mahal. Padahal di Desa Wonorejo terdapat potensi hayati yang dapat digunakan bahan pembuatan herbisida organik, misalnya bawang putih, air kelapa, kulit jengkol, umbi gadung, akar tuba (akar jenu), daun papaya, daun sengon, umbi temu ireng, daun mindri (daun mindi), dan lain sebagainya.

Secara spesifik setelah dilakukan diskusi / musyawarah dengan mitra pendampingan, maka permasalahan mitra secara konkret dan menjadi prioritas yang harus ditangani adalah mitra tidak menguasai metode pembuatan herbisida organik ,

Penelitian ini mempunyai tujuan untuk mengetahui efektivitas pendampingan dalam produksi herbisida organik di Kelompok Tani Sumber Urip I dan Kelompok Tani Sumber Urip II Desa Wonorejo Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang.

METODE

Desain penelitian yang digunakan Cross Sectional.  Pendampingan dilakukan sebanyak 10 kali dan selama 2 bulan dalam bidang produksi dan pengunaan herbisida organik dengan melibatkan 10 petani dari Kelompok Tani Sumber Urip I dan 10 petani dari Kelompok Tani Sumber Urip II. Sebelum pendampingan dilakukan pre-test dan setelah pendampingan dilakukan post-test tentang pengetahun dan keterampilan dalam produksi dan penggunaan herbisida organik.

Metode Pengumpulan data yang digunakan adalah angket, observasi,  dan wawancara. Angket diberikan kepada 20 anggota Kelompok Tani Sumber Urip I dan Kelompok Tani Sumber Urip II Desa Wonorejo Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang untuk mengetahui skore pengetahuan produksi dan penggunaan herbisida organik, sedangkan wawancara juga dilakukan anggota Kelompok Tani Sumber Urip I dan Kelompok Tani Sumber Urip untuk mengetahui kendala dan permasalahan pada saat produksi dan penggunaan herbisida organik. Observasi digunakan untuk mengetahui skore keterampilan produksi dan penggunaan herbisida organik. Metode analisis data yang digunakan adalah uji t 1 sampel terikat.

 

No Perihal Sasaran
1 Peserta 20 orang utusan Mitra (10 orang dari Kelompok Petani   Sumber Urip I dan   10 orang Kelompok Petani  Sumber Urip II Desa Wonorejo Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang)
2 Fasilitator DR.H.Moch. Agus Krisno Budiyanto,M.Kes.

Drs. Muizuddin,M.Kes.

3 Co-Fasilitator 11  Mahasiswa FKIP-Biologi UMM.
4 Tempat Rumah Pupuk Kelompok Petani Organik Sumber Urip I
5 Waktu 1 bulan
6 Materi Cara Memproduksi Herbisida Organik
7 Metode Fasilitator menjelaskan dan mempraktekan  cara membuat herbisida organik.

Fasilitator mendampingi produksi herbisida organik.

8 Indikator Keberhasilan 20 orang Mitra memahami dan dapat melakukan produksi  herbisida organik.
9 Evaluasi Pre-test dan Post-test pengetahuan dan keterampilan produksi.

 

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil penelitian menunjukkan bahwa; 1) ada perbedaan yang sangat signifikan pengetahuan produksi herbisida organik sebelum dan  sesudah pendampingan (t-hit > t-tab0,01, 8,156 > 2,861), dan 2) ada perbedaan yang sangat signifikan keterampilan produksi herbisida organik sebelum dan  sesudah pendampingan (t-hit > t-tab0,01, 9,067 > 2,861).

 

Berdasarkan Gambar 1 dan Gambar 2, serta hasil uji t 1 sampel terikat didapatkan hasil bahwa ada perbedaan pengetahuan dan keterampilan produksi herbisida organik sebelum dan sesudah pendampingan, dimana rata-rata skore sesudah pendampingan lebih besar jika dibandingkan dengan rata-rata skore sebelum pendampingan. Hal ini menunjukkan bahwa pendampingan efektif meningkatkan pengetahuan dan keterampilan produksi dan penggunaan herbisida organik.

Pendampingan yang menggunakan model pelibatan langsung mitra dan disertai dengan pendampingan interaktif yang menggunakan media leaflet terbukti telah meningkatkan pengetahuan dan keterampilan produksi dan penggunaan herbisida organik. Pelibatan mitra dalam penyediaan alat, bahan, lokasi, lahan tempat pendampingan juga menjadi faktor dominan dalam pendampingan.

 

Tabel 1 Partisipasi Mitra dalam Pelaksanaan Kegiatan Pendampingan Produksi Pengunaan Herbisida Organik

 

No Kegiatan Pendampingan Partisipasi Mitra

dalam Kegiatan

1 Pelatihan dan pendampingan pembuatan herbisida organik Berperan aktif dalam penyiapan alat/bahan

Berperan aktif sebagai peserta pelatihan

2 Pelatihan dan pendampingan penggunaan herbisida organik Berperan aktif dalam penyiapan alat/bahan/lahan

Berperan aktif sebagai peserta pelatihan dan pendampingan

Sebagai daerah tropis, Indonesia memiliki flora yang sangat beragam, mengandung cukup banyak jenis tumbuh-tumbuhan yang merupakan sumber bahan herbisida yang dapat dimanfaatkan untuk pengendalian hama.

Indonesia kaya akan bahan nabati bahan baku herbisida organik, diantaranya adalah: tanaman lenguas, umbi bawang merah, umbi bawang putih, buah belimbing wuluh, daun lidah buaya, daun sirsak, daun srikaya, daun kaliandra, buah pinang, daun/bunga jukut lokot mala, tanaman bandotan, daun cengkeh, daun mangga, daun mahoni, daun jagung, dan daun akasia. Pada prinsipnya semua tumbuhan yang mengandung terpenoid, flavonoid dan fenol adalah alelokimia yang mampu membunuh gulma (Budiyanto, 2017).

Menurut Budiyanto (2017), alat dan bahan untuk membuat herbisida organik adalah: 1) Alat  yang dibutuhkan: penumbuk, jerigen ukuran 10 liter, glass ukur, dan corong, 2) Bahan : air sumur 10 liter, bawang putih 0,5 kg, ragi 40 butir, dan Moebillin (EM 4+) 20 ml. Cara Pembuatan:menyiapkan 10 liter sumur, menghaluskan bawang putih sebanyak 0,5 kg, menghaluskan ragi sebanyak 20 butir, memasukkan hasil penghalusan bawang putih dan ragi  kedalam jerigen yang didalamnya telah berisi 10 liter air sumur, melarutkan bawang putih dan ragi yang telah dihaluskan dengan air sumur sampai homogeny, menambahkan 20 ml moebillin, memfermentasikan selama 2 minggu, pada jerigen dalam keadaan tertutup, fermentasi disimpan dalam keadaan kedap udara tanpa terkena sinar matahari, setiap 2 hari tutup jerigen dibuka untuk mengeluarkan gas ysng terbentuk, dan herbisida organik bio allium siap digunakan. Cara pemakaian: penggunaan cairan herbisida organik menggunakan semprot spriyer “solo” dengan dosis 200 ml untuk ukuran per tangki spriyer/kompresor (16 liter) dan tambahkan air sungai/sumur sampai penuh. Usahakan dalam menyemprot lahan yang bergulma, harus basah kena semprot agar cepat herbisida membasmi gulma. Jangan menyemprot diwaktu gerimis atau hujan, ini tidak akan berfungsi seperti yang diharapakan. Usahakan tidak mengenai tanaman budidayanya karena bisa jadi tanaman budidaya tersebut bukan termasuk galur yang resisten herbisida. Jika luas lahan 1 Ha, maka dibutuhkan 10 tangki kompresor (160 liter) yang berarti membutuhkan 200 ml (2 liter) herbisida organik.

Disisi lain Menurut Budiyanto (2017), alat dan bahan untuk membuat herbisida organik adalah: 1) Alat  yang dibutuhkan: penumbuk, jerigen ukuran 10 liter, glass ukur, dan corong, 2) Bahan: Air kelapa 5 Lt, Ragi 20 butir, Bawang Putih atau Bawang Merah 250 gr (sudah diiris). Cara Pembuatan: menyiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan, mengupas bahan berupa bawang putih atau bawang merah, menumbuk bahan hingga halus, menghaluskan ragi, mencampurkan semua bahan kedalam ember, mengaduk hingga bahan homogen, memasukkan bahan yang sudah homogen kedalam jerigen, dan mendiamkan selama 15 hari. setiap 2 hari tutup jerigen dibuka untuk mengeluarkan gas. Cara pemakaian: penggunaan cairan herbisida organik menggunakan semprot spriyer “solo” dengan dosis 200 ml untuk ukuran per tangki spriyer/kompresor (16 liter) dan tambahkan air sungai/sumur sampai penuh. Usahakan dalam menyemprot lahan yang bergulma, harus basah kena semprot agar cepat herbisida membasmi gulma. Jangan menyemprot diwaktu gerimis atau hujan, ini tidak akan berfungsi seperti yang diharapakan. Usahakan tidak mengenai tanaman budidayanya karena bisa jadi tanaman budidaya tersebut bukan termasuk galur yang resisten herbisida. Jika luas lahan 1 Ha, maka dibutuhkan 10 tangki kompresor (160 liter) yang berarti membutuhkan 200 ml (2 liter) herbisida organik.

Menurut Zheni (2013) alat dan bahan untuk membuat herbisida organik adalah: 1) Alat : Jerigen ukuran 10 Lt, ember,  dan Pisau, 2) Bahan : Air kelapa 5 Lt, Ragi 20 – 30 butir, Bawang putih 300 gr (diiris), Round Up/ Gramoxon 1 Lt. Cara Pembuatan: bahan dicampur dan dimasukan kedalam jerigen. Simpan selama 15 hari. Setiap 2 hari tutup jerigen dibuka untuk mengeluarkan gas. Herbisida organik juga dapat dibuat dengan bahan 1 liter herbisida merk atau Round Up/Gramaxon, 2 liter air kelapa, 60 gram derterjen merk apa saja, butir ragi tape, 1/2 kg pupuk ZA. Cara membuatnya adalah: 1) Ambil ember atau apa saja untuk wadah mencampur, 2)  Masukan air kelapa dalam ember, 3) Masukan ragi dan pupuk ZA terus aduk sampai tercampur rata, 4) Masukan juga detergen sambil terus diaduk, 5) Terakhir masukan herbisida sambil terus di aduk, dan 6) Bila sudah tercampur simpan selama 30 hari. Setiap 2 hari tutup jerigen dibuka untuk mengeluarkan gas.

Menurut Budiyanto (2017) Salah satu mekanisme herbisida organik adalah alelopati yang pertama kali dikemukakan oleh Hans Molisch. Alelopati berasal dari kata allelon (saling) dan pathos (menderita). Menurut Molisch, alelopati meliputi interaksi biokimiawi secara timbal balik, yaitu yang bersifat penghambatan maupun perangsangan antara semua jenis tumbuhan termasuk mikroorganisme. Tahun 1974, Rice memberikan batasan alelopati sebagai keadaan merugikan yang dialami tumbuhan akibat tumbuhan lain, termasuk mikroorganisme, melalui produksi senyawa kimia yang dilepaskan ke lingkungannya. Batasan ini kemudian terus diverifikasi dengan berbagai penelitian. Tahun 1984, Rice melaporkan bahwa senyawa organik yang bersifat menghambat pada suatu tingkat konsentrasi, ternyata dapat memberikan pengaruh rangsangan pada tingkat konsentrasi yang lain. Sejak tahun tersebut, Rice dan sebagian besar ilmuwan yang menekuni alelopati merujuk terhadap batasan yang dikemukakan oleh Molisch. Alelopati kemudian didefinisikan sebagai pengaruh langsung ataupun tidak langsung dari suatu tumbuhan terhadap yang lainnya,termasuk mikroorganisme, baik yang bersifat positif/ perangsangan, maupun negatif/penghambatan terhadap pertumbuhan, melalui pelepasan senyawa kimia ke lingkungannya (Rice 1995; Inderjit & Keating 1999; Singh et al. 2003).

Saat ini kajian mengenai alelopati sangat berkembang dan menjadi bagian minat keilmuan tersendiri. Para ilmuwan peminat kajian alelopati tahun 1994 telah membentuk suatu asosiasi berskala internasional yang bernama International Allelopathy Society (IAS), yang berperan memfasilitasi komunikasi, publikasi, dan kerjasama di antara para ilmuwan memaparkan perkembangan terkini kajian alelopati yang dihimpun dari berbagai sumber publikasi. Tulisan ini diawali dengan informasi mengenai sumber alelopati dalam agroekosistem, dilanjutkan dengan keragaman potensi alelopati, lingkup bidang kajian alelopati, serta penerapan alelopati dalam isu pertanian berkelanjutan (Budiyanto, 2017).

Menurut Budi dan Hadjoeningtyas (2013), beberapa spesies tumbuhan dilaporkan mengeluarkan senyawa kimia (allelokimia) yang dapat menghambat tumbuhan disekitarnya. Apabila senyawa ini dapat mengahambat gulma tetapi tidak berpengaruh negatif atau berpengaruh positif terhadap tanaman pokok, maka tanaman tersebut sangat berpotensi untuk dikembangkan sebagai herbisida organik. Alang-alang  dilaporkan menghasilkan senyawa kimia polifenol yang dapat menghambat perkecambahan beberapa jenis biji gulma didalam tanah.

Ageratum (tumbuhan bandotan) seringkali populasinya lebih dominan dibandingkan tanaman liar lainnya. Ageratum diduga kuat mempunyai allelopathy di mana Ageratum mengeluarkan eksudat kimia yang dapat menekan pertumbuhan tanaman liar lainnya. Hasil penelitian Xuan et al., yang dilakukan di Fakultas Pertanian, Universitas Miyazaki, Jepang. Penggunaan daun Ageratum dengan dosis 2 ton/ha dapat menekan sampai 75% gulma pada tanaman padi seperti Aeschynomene indica, Monochoria vaginalis dan Echinochloa crusgalli var. Formosensis Ohwi. Kemampuan Ageratum sebagai allelopathy diidentifikasi karena adanya 3 phenolic acid yaitu gallic acid, coumalic acid dan protocatechuic acid, yang dapat menghambat pertumbuhan beberapa gulma pada tanaman padi. Selain itu penggunaan daun Ageratum dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil panen padi sampai 22% lebih baik dibandingkan kontrol, dan 14% dibanding dengan penggunaan herbisida. Hal tersebut diduga karena penambahan daun Ageratum meningkatkan kandungan nitrogen dalam tanah yang sangat diperlukan bagi pertumbuhan padi. Melimpahnya tanaman ini yang seringkali hanya dianggap sebagai gulma barangkali dapat menjadi sumber pupuk kompos yang baik bagi tanaman, apalagi semakin mahalnya harga pupuk bagi petani (Hogantara, 2017).

Ekstrak daun A. conyzoides L. berpengaruh nyata menurunkan perkecambahan dan pertumbuhan serta meningkatkan persentase kerusakan pada anakan gulma P. conjugatum. Konsentrasi ekstrak daun 20% merupakan konsentrasi optimum yang dapat menghambat perkecambahan, pertumbuhan serta meningkatkan persentase kerusakan anakan gulma P. conjugatum berturut-turut sebesar 80,5 %, 63,15 % dan 17,72 %. Berdasarkan hasil pengamatan yang didapat maka disarankan melakukan uji alelopat dari ekstrak daun gulma A. conyzoides L. terhadap jenis gulma lain untuk mengetahui potensi alelopat dari ekstrak daun gulma A. conyzoides L. tersebut (Isda, 2013).

Menurut  Talahatu (2015) terdapat efektifitas herbisida alami ekstrak daun cengkeh pada konsentrasi 50% yang dapat gunakan sebagai salah satu alternatif untuk menghambat pertumbuhan tinggi gulma rumput teki. Semakin tinggi ekstrak daun cengkeh yang diberikan terhadap gulma rumput teki maka akan semakin berpotensi menghambat gulma rumput teki yang diukur dari tinggi tanaman, fitotoksisitas, berat basah dan berat kering gulma rumput teki.  Cengkeh merupakan tanaman rempah asli Kepulauan Maluku, dan telah di perdagangkan serta dibudidayakan secara turun-temurun dalam bentuk perkebunan rakyat. Pemisahan kandungan kimia dari daun cengkeh menunjukkan bahwa daun cengkeh mengandung saponin, alkaloid, glikosida flavonoid dan tannin. Flavonoid adalah salah satu jenis senyawa yang bersifat racun/ alelopati, merupakan persenyawaan dari gula yang terikat dengan flavon. Flavonoid mempunyai sifat khas yaitu bau yang sangat tajam, rasanya pahit, dapat larut dalam air dan pelarut organik, serta mudah terurai pada temperatur tinggi.

Senyawa alelopati yang terdapat di dalam ekstrak serasah daun mangga dan daun mahoni sebanyak 55% ekstrak mempengaruhi perkecambah dan pertumbuhan rumput grinting. Ekstraksi soxhlet serbuk kulit batang daun mahoni (S. mahagoni Jacq.) diperoleh ekstrak pekat metanol sebanyak 873,841 g dari 8 kg serbuk mahoni. Ektrak pekat metanol dalam uji fitokimia metabolit sekunder menunjukkan adanya kandungan alkaloid, tanin, saponin, fenolik hidrokuinon, dan flavonoid. Senyawa terpenoid, flavonoid dan fenol adalah alelokimia yang bersifat menghambat pembelahan sel  (Yulifrianti 2015).

Tanaman alang-alang, akasia, pinus, dan jagung mengandung senyawa alelopati yang potensial dapat dikembangkan sebagai bahan baku herbisida nabati. Penggunaan herbisida nabati dilatar belakangi oleh meningkatnya kesadaran masyarakat untuk hidup sehat melalui proses kehidupan kembali ke alam (back to nature), menyebabkan permintaan produk pertanian organik termasuk lada organik yang lebih sehat, aman, enak dan ramah lingkungan meningkat. Salah satu kendala pengembangan lada organik di Kab. Belitung Timur (Beltim) adalah dalam pengendalian gulma. Terbatasnya dan mahalnya tenaga buruh tani, belum dikembangkannya teknik pemanfaatan cover crops serta belum adanya herbisida nabati komersial, menyebabkan mahalnya biaya pengendalian gulma pada budidaya lada organik di daerah tersebut (Djajuli, 2017).

PENUTUP

Berdasarkan hasil  penelitian dapat disimpulkan bahwa hasil penelitian yaitu pendampingan efektif meningkatkan pengetahuan dan keterampilan produksi herbisida organik.

UCAPAN TERIMAKSIH

Tim Pelaksana menghaturkan ucapan terimakasih kepada Yth: Direktur Direktorat Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRPM), Direktorat Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi yang telah memberikan dana hibah PKM (Program Kemitraan Masyarakat) Tahun Anggaran 2017, Pimpinan Universitas Muhammadiyah Malang, Pimpinan Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Muhammadiyah Malang (DPPM UMM), dan sembilan Mahasiswa UMM yang terlibat dalam kegiatan ini.

DAFTAR RUJUKAN

Adnan, dkk. 2012. Aplikasi Beberapa Dosis Herbisida Glifosat Dan Paraquat Pada Sistem Tanpa Olah Tanah (Tot) Serta Pengaruhnya Terhadap Sifat Kimia Tanah, Karakteristik Gulmadan Hasil Kedelai. Jurnal Agrista. 16 (3) : 135-145

Anonymous, 2014. Mengupas Tuntas Seputar Design Packaging Kemasan. http://en.wikipedia.org, diakses tanggal 03 April 2014.

Baidhawi. 2013. Degradasi Herbisida Pendimethalin Pada Tanah Yang Berbeda Kandungan Bahan Organik. Jurnal Agribisnis dan Pengembangan Wilayah 4(2) : 21-30

Batori, Imam. 2013. Bahan Nabati Herbisida Organik. Publisia. Jakarta.

Bayan, Adi. 2003. Pelabelan dalam Produk Industri. Cendekia. Surabaya.

Budi, Gayuh P dan Hajoeningtijas, Oetami D. (2013). Penerapan Herbisida Organik Ekstrak Alang – Alang Untuk Mengendalikan Gulma Pada Mentimun. Agritech. 15 (1) : 33-34.

Budiyanto MAK, 2007. Persepsi Masyarakat tentang Pertanian Hortikultura Organik di Kabupaten Malang. Laporan Penelitian, Malang: Universitas Muhammadiyah Malang.

Budiyanto MAK, 2013. Model Pengembangan Produksi Pangan Organik. Laporan Penelitian, Malang: Universitas Muhammadiyah Malang.

Budiyanto MAK, 2017. Herbisida Organik. Malang: UMM Press.

Darmadi. 2012 Jurnal Online : Peranan Bawang Putih (Allium Sativum) Terhadap Hipertensi

Djajuli M, 2017. Potensi Senyawa Alelopati sebagai Herbisida Nabati Alternatif pada Budidaya Lada Organik. http://balittro.litbang. pertanian.go.id/?p=642 (Diakses 13 Januari 2017).

Faqihhudin, M.D., dkk. 2014. Penggunaan Herbisida IPA-Glifosat terhadap Pertumbuhan, Hasil  dan Residu pada Jagung. Ilmu Pertanian 17 (1) : 1-12

Hogantara FR, 2016. Ageratum sebagai Herbisida Alami dan Sumber Bahan Organik. https://fajarrizkyashtercytin. wordpress.com/2013/04/25/744/ (Diakses 13 Januari 2017).

Isda MN, Fatonah S, dan Fitri R, 2013. Potensi Ekstrak Daun Gulma Babadotan (Ageratum conyzoides L.) terhadap Perkecambahan dan Pertumbuhan Paspalum conjugatum Berg. Jurnal Biologi Volume 6 Nomor 2, Oktober 2013. Hlm. 120-125.

Jolly, D. 2000. From Cottage Industry to Conglomerates: The Transformation of the US Organis Food Industry. New York: Original Press.

Kotler, Philip. 2001. Manajemen Pemasaran di Indonesia: Analisis, Perencanaan, Implementasi dan Pengendalian. Salemba Empat. Jakarta.

Nasahi, C. 2010. Peran Mikroba Dalam Pertanian Organik. Bandung: Universitas Padjajaran.

Ngawit. K. 2012. Jurnal Online : Degradasi Herbisida Turunan 2,4-D Amine Oleh Bakteri Pelarut Fosfat Dan Efek Residunya Terhadap Bawang Merah Yang Diberi Pupuk Kandang. NTB: Universitas Mataram

Permadi, 2013. Kajian Pupuk Majemuk Npk  (30-6-8) Dan Pupuk Organik Kujang pada Padi Sawah Varietas Inpari 13 Di Daerah Pengairan Setengah Teknis Di Purwakarta. Agrin 17 (1) : 14-21

Prihandarini R, 2009. Potensi  Pengembangan Pertanian Organik. Jakarta: Departemen Pertanian, Sekjen Maporina.

Riadi,  2011. Herbisida dan Aplikasinya. Makassar: Universitas Hasanuddin

Rizal. 2006. Pengaruh Berbagai Bahan Organik Dan Aplikasi  Herbisida Metolachlor Terhadap Pertumbuhan Dan  Hasil Tanaman Kedelai. J.Agroland 13(3): 228-233

Sukman, Y dan Yakup. (1997). Gulma dan Teknik Pengendaliannya. Palembang : CV Rajawali

Sriyani, N dan Salam, A.K. 2008. Penggunaan Metode Bioassay untuk Mendeteksi Pergerakan Herbisida Pasca tumbuh Paraquat dan 2,4-D dalam Tanah. J. Tanah Trop., Vol. 13, No.3, 2008:199-208

Sukmana, W. 2012. Studi Daya Adsorpdi Organoclay Tapanuli Terhadap Senyawa Herbisida 2,4 D- Dimetil Amina. Jakarta: Universitas Indonesia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Talahatu DR dan Papilaya PM, 2015.  Pemanfaatan Ekstrak Daun Cengkeh (Syzygium aromaticum