Efektivitas Pendampingan dalam Produksi Herbisida Organik

Efektivitas Pendampingan dalam Produksi Herbisida Organik

Effectiveness of Assistance in the Production of Organic Herbicide

 

Moch. Agus Krisno Budiyanto1), Muizzuddin2)

1),2) Program Studi Pendidikan Biologi, FKIP-Universitas Muhammadiyah Malang

Jl. Tlogomas No. 246 Malang, aguskrisno.umm@gmail.com

Juli,2017

 

ABSTRAK

Potensi nabati di Indonesia sangat besar dalam produksi herbisida organik. Di banyak daerah masih diperlukan pendampingan pada kelompok tani untuk memproduksi herbisida organik. Penelitian ini mempunyai tujuan untuk mengetahui efektivitas pendampingan dalam produksi herbisida organik di Kelompok Tani Sumber Urip Malang. Desain penelitian yang digunakan Cross Sectional.  Pendampingan dilakukan sebanyak 10 kali dalam bidang produksi herbisida organik dengan melibatkan 10 petani dari Kelompok Tani Sumber Urip I dan 10 petani dari Kelompok Tani Sumber Urip II. Sebelum pendampingan dilakukan pretest dan setelah pendampingan dilakukan posttest tentang pengetahun dan keterampilan dalam produksi herbisida organik. Metode Pengumpulan data yang digunakan adalah angket, observasi,  dan wawancara, sedangkan metode analisis data yang digunakan adalah uji t 1 sampel terikat.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa; 1) ada perbedaan yang sangat signifikan pengetahuan produksi herbisida organik sebelum dan  sesudah pendampingan (t-hit > t-tab0,01, 8,156 > 2,861), dan 2) ada perbedaan yang sangat signifikan keterampilan produksi herbisida organik sebelum dan  sesudah pendampingan (t-hit > t-tab0,01, 9,067 > 2,861). Dari hasil penelitan tersebut dapat disimpulkan hasil penelitian yaitu pendampingan efektif meningkatkan pengetahuan dan keterampilan produksi herbisida organik.

Kata kunci: pendampingan, herbisida, organik, produksi, keterampilan

 

ABSTRACTPotential plant in Indonesia is very large in the production of organic herbicides. In many areas still needed assistance to farmer groups to produce organic herbicide. The objective of this study was to examine the effectiveness of assistance in the production of organic herbicides in Sumber Urip Farmers Group off Malang. The design study is cross sectional. Assistance performed 10 times in the production of organic herbicides involving 10 farmers from Sumber Urip-I  Farmers Group  and 10 farmers from Sumber Urip-II Farmers Group. Before the assistance  is done after the pretest and posttest counseling is done on the knowledge and skills in the production of organic herbicides. Data collection method used was a questionnaire, observation and interview, while data analysis method used is the one sample t test bound. The results showed that; 1) there is a very significant difference of knowledge production of organic herbicides before and after assistance (t-hit> t-tab0,01, 8.156> 2.861), and 2) there are significant differences of organic herbicide production skills before and after assistance (t- hit> t-tab0,01, 9.067> 2.861). From the results of such research can be summed up the results of research that effective assistance skills and knowledge production of organic herbicides.Keywords: assistance, herbicides, organic, production, skill

 PENDAHULUAN

Hasil penelitian sebelumnya telah diperoleh bahwa 1) persepsi masyarakat tentang pertanian hortikultura organik identik dengan pertanian sayuran dan buah yang tidak menggunakan pupuk buatan  dan pestisida buatan (Budiyanto, 2007). Hasil penelitian Budiyanto (2012) tentang Tipologi Preferensi Konsumen terhadap  Produk Pangan Organik di Kota Malang dapat dinyatakan bahwa: 1) Tipe pengambilan keputusan konsumen dalam memilih produk pertanian organik di Kota Malang adalah economic type (4%), psychological type (13%), consumer behaviour type (25%), dan others type (58%). Tipe lain-lain sebagian besar karena alasan kesehatan, dan 2) Faktor-faktor   yang mempengaruhi konsumen dalam memilih produk pangan organik di Kota Malang adalah   faktor sosial (10%),  faktor personal (14%),  faktor psikologi (19%),  faktor kultural (5%), dan faktor lain-lain (52%).  Faktor lain-lain sebagian besar karena faktor agama. Dua penelitian ini mengindikasikan bahwa komsumsi produk pangan organik didasari alasan kesehatan.

Pada abad 21 ini, trend pola gaya hidup sehat telah berhasil mendorong berkembangnya pertanian organik secara luas (Prihandarini, 2009). Pertanian organik merupakan salah satu alternatif menuju pembangunan pertanian yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Tujuan utama dari sistem pertanian organik adalah untuk menghasilkan produk bahan pangan yang aman bagi kesehatan produsen maupun konsumen dan tidak merusak lingkungan. Pengertian organik menurut FAO adalah ” a holistic production management system which promotes and enhances agroecosistern healyh, including biodiversity, biological cycles, and soil biological activity” (suatu system managemen yang holistik yang mempromosikan dan meningkatkan pendekatan sistem pertanian berwawasan kesehatan lingkungan, termasuk biodiversitas, siklus biologi dan aktivitas biologi tanah. Pertanian organik merupakan suatu sistem pertanian berkelanjutan yang diakui oleh Komisi Eropa (European Commission) dan Agricultural Council pada Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tahun 1992 (Jolly, 2000).

Disis lain, selama ini, masalah gulma merupakan masalah pada tanaman perkebunan besar, sedangkan pada tanaman pangan dan hortikultura tidak menjadi masalah, karena dapat diatasi secara manual. Pengendalian gulma dengan menggunakan bahan kimia banyak menimbulkan masalah. Tindakan pengendalian gulma yang sering dilakukan adalah dengan menggunakan bahan kimia sintetis, yang disebut herbisida. Herbisida adalah suatu senyawa kimia yang digunakan untuk mengendalikan gulma tanpa menggangu tanaman pokok (Sukman dan Yakub, 1997). Terjadinya pencemaran dan polusi merupakan dampak negatif dari penggunaan herbisida sintesis. Untuk mengurangi dampak negatif dari penggunaan herbisida tersebut, petani menggunakan metoda pengendalian gulma dengan menggunakan bahan non-kimia atau herbisida organik. Herbisida organik terbuat dari bahan alami yang relaitf aman dan ramah lingkungan.

Indonesia mempunyai potensi nabati yang sangat besar dalam produksi herbisida organik. Di banyak daerah masih diperlukan pendampingan pada kelompok tani untuk memproduksi dan menggunakan herbisida organik. Mitra PKM adalah 2 (dua) Kelompok Petani Organik yang berada di Desa Wonorejo Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang Propinsi Jawa Timur, suatu desa yang berada di timur laut dari Kota Malang dan berbatasan dengan Kabupaten Probolinggo (Lereng Hutan Lindung Tengger Gunung Bromo) dengan produksi pertanian organik yang cukup  tinggi. Pada tahun 2014 Desa Wonorejo mempunyai jumlah penduduk 4.271 dengan jumlah laki-laki 1.928 orang dan perempuan 2.343 orang, sebagain besar bekerja sebagai petani dan peternak. Budidaya pertanian organik telah berjalan dengan baik dan produktif di Desa Wonorejo. Produk organik yang paling banyak dihasilkan adalah padi, kol, gubis, tomat, kacang panjang, bayam, sawi, kacang panjang, cabai, dan bawang merah. Petani organik telah menggunakan pupuk organik padat maupun cair dari kotoran sapi dan kompos, tetapi petani masih menghadapi masalah penggunaan herbisida organik karena terbatasnya persediaan.

Menurut Batori (2013) beberapa tumbuhan yang dapat digunakan sebagai bahan herbisida organik adalah bawang putih, air kelapa, kulit jengkol, umbi gadung, akar tuba (akar jenu), daun papaya, daun sengon, umbi temu ireng, daun mindri (daun mindi), dan lain sebagainya.

Permasalahan yang dihadapi oleh Kelompok Tani Sumber Urip I dan Kelompok Tani Sumber Urip II yang berada di Desa Wonorejo Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang berangkat dari kendala penggunaan herbisida organik yaitu suplai herbisida organiknya kadang-kadang tidak lancar dan sehingga harganya kadang-kadang relatif mahal. Padahal di Desa Wonorejo terdapat potensi hayati yang dapat digunakan bahan pembuatan herbisida organik, misalnya bawang putih, air kelapa, kulit jengkol, umbi gadung, akar tuba (akar jenu), daun papaya, daun sengon, umbi temu ireng, daun mindri (daun mindi), dan lain sebagainya.

Secara spesifik setelah dilakukan diskusi / musyawarah dengan mitra pendampingan, maka permasalahan mitra secara konkret dan menjadi prioritas yang harus ditangani adalah mitra tidak menguasai metode pembuatan herbisida organik ,

Penelitian ini mempunyai tujuan untuk mengetahui efektivitas pendampingan dalam produksi herbisida organik di Kelompok Tani Sumber Urip I dan Kelompok Tani Sumber Urip II Desa Wonorejo Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang.

METODE

Desain penelitian yang digunakan Cross Sectional.  Pendampingan dilakukan sebanyak 10 kali dan selama 2 bulan dalam bidang produksi dan pengunaan herbisida organik dengan melibatkan 10 petani dari Kelompok Tani Sumber Urip I dan 10 petani dari Kelompok Tani Sumber Urip II. Sebelum pendampingan dilakukan pre-test dan setelah pendampingan dilakukan post-test tentang pengetahun dan keterampilan dalam produksi dan penggunaan herbisida organik.

Metode Pengumpulan data yang digunakan adalah angket, observasi,  dan wawancara. Angket diberikan kepada 20 anggota Kelompok Tani Sumber Urip I dan Kelompok Tani Sumber Urip II Desa Wonorejo Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang untuk mengetahui skore pengetahuan produksi dan penggunaan herbisida organik, sedangkan wawancara juga dilakukan anggota Kelompok Tani Sumber Urip I dan Kelompok Tani Sumber Urip untuk mengetahui kendala dan permasalahan pada saat produksi dan penggunaan herbisida organik. Observasi digunakan untuk mengetahui skore keterampilan produksi dan penggunaan herbisida organik. Metode analisis data yang digunakan adalah uji t 1 sampel terikat.

 

No Perihal Sasaran
1 Peserta 20 orang utusan Mitra (10 orang dari Kelompok Petani   Sumber Urip I dan   10 orang Kelompok Petani  Sumber Urip II Desa Wonorejo Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang)
2 Fasilitator DR.H.Moch. Agus Krisno Budiyanto,M.Kes.

Drs. Muizuddin,M.Kes.

3 Co-Fasilitator 11  Mahasiswa FKIP-Biologi UMM.
4 Tempat Rumah Pupuk Kelompok Petani Organik Sumber Urip I
5 Waktu 1 bulan
6 Materi Cara Memproduksi Herbisida Organik
7 Metode Fasilitator menjelaskan dan mempraktekan  cara membuat herbisida organik.

Fasilitator mendampingi produksi herbisida organik.

8 Indikator Keberhasilan 20 orang Mitra memahami dan dapat melakukan produksi  herbisida organik.
9 Evaluasi Pre-test dan Post-test pengetahuan dan keterampilan produksi.

 

Tabel 1 Pendampingan Pembuatan Herbisida Organik

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil penelitian menunjukkan bahwa; 1) ada perbedaan yang sangat signifikan pengetahuan produksi herbisida organik sebelum dan  sesudah pendampingan (t-hit > t-tab0,01, 8,156 > 2,861), dan 2) ada perbedaan yang sangat signifikan keterampilan produksi herbisida organik sebelum dan  sesudah pendampingan (t-hit > t-tab0,01, 9,067 > 2,861).

Gambar 1.  Diagram Batang Skore Pengetahuan Produksi Herbisida Organik Sebelum dan Sesudah Pendampingan

Gambar 2.  Diagram Batang Skore Keterampilan Produksi Herbisida Organik Sebelum dan Sesudah Pendampingan

Berdasarkan Gambar 1 dan Gambar 2, serta hasil uji t 1 sampel terikat didapatkan hasil bahwa ada perbedaan pengetahuan dan keterampilan produksi herbisida organik sebelum dan sesudah pendampingan, dimana rata-rata skore sesudah pendampingan lebih besar jika dibandingkan dengan rata-rata skore sebelum pendampingan. Hal ini menunjukkan bahwa pendampingan efektif meningkatkan pengetahuan dan keterampilan produksi dan penggunaan herbisida organik.

Pendampingan yang menggunakan model pelibatan langsung mitra dan disertai dengan pendampingan interaktif yang menggunakan media leaflet terbukti telah meningkatkan pengetahuan dan keterampilan produksi dan penggunaan herbisida organik. Pelibatan mitra dalam penyediaan alat, bahan, lokasi, lahan tempat pendampingan juga menjadi faktor dominan dalam pendampingan.

 

Tabel 2 Partisipasi Mitra dalam Pelaksanaan Kegiatan Pendampingan Produksi Pengunaan Herbisida Organik

 

No Kegiatan Pendampingan Partisipasi Mitra

dalam Kegiatan

1 Pelatihan dan pendampingan pembuatan herbisida organik Berperan aktif dalam penyiapan alat/bahan

Berperan aktif sebagai peserta pelatihan

2 Pelatihan dan pendampingan penggunaan herbisida organik Berperan aktif dalam penyiapan alat/bahan/lahan

Berperan aktif sebagai peserta pelatihan dan pendampingan

Sebagai daerah tropis, Indonesia memiliki flora yang sangat beragam, mengandung cukup banyak jenis tumbuh-tumbuhan yang merupakan sumber bahan herbisida yang dapat dimanfaatkan untuk pengendalian hama.

Indonesia kaya akan bahan nabati bahan baku herbisida organik, diantaranya adalah: tanaman lenguas, umbi bawang merah, umbi bawang putih, buah belimbing wuluh, daun lidah buaya, daun sirsak, daun srikaya, daun kaliandra, buah pinang, daun/bunga jukut lokot mala, tanaman bandotan, daun cengkeh, daun mangga, daun mahoni, daun jagung, dan daun akasia. Pada prinsipnya semua tumbuhan yang mengandung terpenoid, flavonoid dan fenol adalah alelokimia yang mampu membunuh gulma (Budiyanto, 2017).

Menurut Budiyanto (2017), alat dan bahan untuk membuat herbisida organik adalah: 1) Alat  yang dibutuhkan: penumbuk, jerigen ukuran 10 liter, glass ukur, dan corong, 2) Bahan : air sumur 10 liter, bawang putih 0,5 kg, ragi 40 butir, dan Moebillin (EM 4+) 20 ml. Cara Pembuatan:menyiapkan 10 liter sumur, menghaluskan bawang putih sebanyak 0,5 kg, menghaluskan ragi sebanyak 20 butir, memasukkan hasil penghalusan bawang putih dan ragi  kedalam jerigen yang didalamnya telah berisi 10 liter air sumur, melarutkan bawang putih dan ragi yang telah dihaluskan dengan air sumur sampai homogeny, menambahkan 20 ml moebillin, memfermentasikan selama 2 minggu, pada jerigen dalam keadaan tertutup, fermentasi disimpan dalam keadaan kedap udara tanpa terkena sinar matahari, setiap 2 hari tutup jerigen dibuka untuk mengeluarkan gas ysng terbentuk, dan herbisida organik bio allium siap digunakan. Cara pemakaian: penggunaan cairan herbisida organik menggunakan semprot spriyer “solo” dengan dosis 200 ml untuk ukuran per tangki spriyer/kompresor (16 liter) dan tambahkan air sungai/sumur sampai penuh. Usahakan dalam menyemprot lahan yang bergulma, harus basah kena semprot agar cepat herbisida membasmi gulma. Jangan menyemprot diwaktu gerimis atau hujan, ini tidak akan berfungsi seperti yang diharapakan. Usahakan tidak mengenai tanaman budidayanya karena bisa jadi tanaman budidaya tersebut bukan termasuk galur yang resisten herbisida. Jika luas lahan 1 Ha, maka dibutuhkan 10 tangki kompresor (160 liter) yang berarti membutuhkan 200 ml (2 liter) herbisida organik.

Disisi lain Menurut Budiyanto (2017), alat dan bahan untuk membuat herbisida organik adalah: 1) Alat  yang dibutuhkan: penumbuk, jerigen ukuran 10 liter, glass ukur, dan corong, 2) Bahan: Air kelapa 5 Lt, Ragi 20 butir, Bawang Putih atau Bawang Merah 250 gr (sudah diiris). Cara Pembuatan: menyiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan, mengupas bahan berupa bawang putih atau bawang merah, menumbuk bahan hingga halus, menghaluskan ragi, mencampurkan semua bahan kedalam ember, mengaduk hingga bahan homogen, memasukkan bahan yang sudah homogen kedalam jerigen, dan mendiamkan selama 15 hari. setiap 2 hari tutup jerigen dibuka untuk mengeluarkan gas. Cara pemakaian: penggunaan cairan herbisida organik menggunakan semprot spriyer “solo” dengan dosis 200 ml untuk ukuran per tangki spriyer/kompresor (16 liter) dan tambahkan air sungai/sumur sampai penuh. Usahakan dalam menyemprot lahan yang bergulma, harus basah kena semprot agar cepat herbisida membasmi gulma. Jangan menyemprot diwaktu gerimis atau hujan, ini tidak akan berfungsi seperti yang diharapakan. Usahakan tidak mengenai tanaman budidayanya karena bisa jadi tanaman budidaya tersebut bukan termasuk galur yang resisten herbisida. Jika luas lahan 1 Ha, maka dibutuhkan 10 tangki kompresor (160 liter) yang berarti membutuhkan 200 ml (2 liter) herbisida organik.

Menurut Zheni (2013) alat dan bahan untuk membuat herbisida organik adalah: 1) Alat : Jerigen ukuran 10 Lt, ember,  dan Pisau, 2) Bahan : Air kelapa 5 Lt, Ragi 20 – 30 butir, Bawang putih 300 gr (diiris), Round Up/ Gramoxon 1 Lt. Cara Pembuatan: bahan dicampur dan dimasukan kedalam jerigen. Simpan selama 15 hari. Setiap 2 hari tutup jerigen dibuka untuk mengeluarkan gas. Herbisida organik juga dapat dibuat dengan bahan 1 liter herbisida merk atau Round Up/Gramaxon, 2 liter air kelapa, 60 gram derterjen merk apa saja, butir ragi tape, 1/2 kg pupuk ZA. Cara membuatnya adalah: 1) Ambil ember atau apa saja untuk wadah mencampur, 2)  Masukan air kelapa dalam ember, 3) Masukan ragi dan pupuk ZA terus aduk sampai tercampur rata, 4) Masukan juga detergen sambil terus diaduk, 5) Terakhir masukan herbisida sambil terus di aduk, dan 6) Bila sudah tercampur simpan selama 30 hari. Setiap 2 hari tutup jerigen dibuka untuk mengeluarkan gas.

Menurut Budiyanto (2017) Salah satu mekanisme herbisida organik adalah alelopati yang pertama kali dikemukakan oleh Hans Molisch. Alelopati berasal dari kata allelon (saling) dan pathos (menderita). Menurut Molisch, alelopati meliputi interaksi biokimiawi secara timbal balik, yaitu yang bersifat penghambatan maupun perangsangan antara semua jenis tumbuhan termasuk mikroorganisme. Tahun 1974, Rice memberikan batasan alelopati sebagai keadaan merugikan yang dialami tumbuhan akibat tumbuhan lain, termasuk mikroorganisme, melalui produksi senyawa kimia yang dilepaskan ke lingkungannya. Batasan ini kemudian terus diverifikasi dengan berbagai penelitian. Tahun 1984, Rice melaporkan bahwa senyawa organik yang bersifat menghambat pada suatu tingkat konsentrasi, ternyata dapat memberikan pengaruh rangsangan pada tingkat konsentrasi yang lain. Sejak tahun tersebut, Rice dan sebagian besar ilmuwan yang menekuni alelopati merujuk terhadap batasan yang dikemukakan oleh Molisch. Alelopati kemudian didefinisikan sebagai pengaruh langsung ataupun tidak langsung dari suatu tumbuhan terhadap yang lainnya,termasuk mikroorganisme, baik yang bersifat positif/ perangsangan, maupun negatif/penghambatan terhadap pertumbuhan, melalui pelepasan senyawa kimia ke lingkungannya (Rice 1995; Inderjit & Keating 1999; Singh et al. 2003).

Saat ini kajian mengenai alelopati sangat berkembang dan menjadi bagian minat keilmuan tersendiri. Para ilmuwan peminat kajian alelopati tahun 1994 telah membentuk suatu asosiasi berskala internasional yang bernama International Allelopathy Society (IAS), yang berperan memfasilitasi komunikasi, publikasi, dan kerjasama di antara para ilmuwan memaparkan perkembangan terkini kajian alelopati yang dihimpun dari berbagai sumber publikasi. Tulisan ini diawali dengan informasi mengenai sumber alelopati dalam agroekosistem, dilanjutkan dengan keragaman potensi alelopati, lingkup bidang kajian alelopati, serta penerapan alelopati dalam isu pertanian berkelanjutan (Budiyanto, 2017).

Menurut Budi dan Hadjoeningtyas (2013), beberapa spesies tumbuhan dilaporkan mengeluarkan senyawa kimia (allelokimia) yang dapat menghambat tumbuhan disekitarnya. Apabila senyawa ini dapat mengahambat gulma tetapi tidak berpengaruh negatif atau berpengaruh positif terhadap tanaman pokok, maka tanaman tersebut sangat berpotensi untuk dikembangkan sebagai herbisida organik. Alang-alang  dilaporkan menghasilkan senyawa kimia polifenol yang dapat menghambat perkecambahan beberapa jenis biji gulma didalam tanah.

Ageratum (tumbuhan bandotan) seringkali populasinya lebih dominan dibandingkan tanaman liar lainnya. Ageratum diduga kuat mempunyai allelopathy di mana Ageratum mengeluarkan eksudat kimia yang dapat menekan pertumbuhan tanaman liar lainnya. Hasil penelitian Xuan et al., yang dilakukan di Fakultas Pertanian, Universitas Miyazaki, Jepang. Penggunaan daun Ageratum dengan dosis 2 ton/ha dapat menekan sampai 75% gulma pada tanaman padi seperti Aeschynomene indica, Monochoria vaginalis dan Echinochloa crusgalli var. Formosensis Ohwi. Kemampuan Ageratum sebagai allelopathy diidentifikasi karena adanya 3 phenolic acid yaitu gallic acid, coumalic acid dan protocatechuic acid, yang dapat menghambat pertumbuhan beberapa gulma pada tanaman padi. Selain itu penggunaan daun Ageratum dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil panen padi sampai 22% lebih baik dibandingkan kontrol, dan 14% dibanding dengan penggunaan herbisida. Hal tersebut diduga karena penambahan daun Ageratum meningkatkan kandungan nitrogen dalam tanah yang sangat diperlukan bagi pertumbuhan padi. Melimpahnya tanaman ini yang seringkali hanya dianggap sebagai gulma barangkali dapat menjadi sumber pupuk kompos yang baik bagi tanaman, apalagi semakin mahalnya harga pupuk bagi petani (Hogantara, 2017).

Ekstrak daun A. conyzoides L. berpengaruh nyata menurunkan perkecambahan dan pertumbuhan serta meningkatkan persentase kerusakan pada anakan gulma P. conjugatum. Konsentrasi ekstrak daun 20% merupakan konsentrasi optimum yang dapat menghambat perkecambahan, pertumbuhan serta meningkatkan persentase kerusakan anakan gulma P. conjugatum berturut-turut sebesar 80,5 %, 63,15 % dan 17,72 %. Berdasarkan hasil pengamatan yang didapat maka disarankan melakukan uji alelopat dari ekstrak daun gulma A. conyzoides L. terhadap jenis gulma lain untuk mengetahui potensi alelopat dari ekstrak daun gulma A. conyzoides L. tersebut (Isda, 2013).

Menurut  Talahatu (2015) terdapat efektifitas herbisida alami ekstrak daun cengkeh pada konsentrasi 50% yang dapat gunakan sebagai salah satu alternatif untuk menghambat pertumbuhan tinggi gulma rumput teki. Semakin tinggi ekstrak daun cengkeh yang diberikan terhadap gulma rumput teki maka akan semakin berpotensi menghambat gulma rumput teki yang diukur dari tinggi tanaman, fitotoksisitas, berat basah dan berat kering gulma rumput teki.  Cengkeh merupakan tanaman rempah asli Kepulauan Maluku, dan telah di perdagangkan serta dibudidayakan secara turun-temurun dalam bentuk perkebunan rakyat. Pemisahan kandungan kimia dari daun cengkeh menunjukkan bahwa daun cengkeh mengandung saponin, alkaloid, glikosida flavonoid dan tannin. Flavonoid adalah salah satu jenis senyawa yang bersifat racun/ alelopati, merupakan persenyawaan dari gula yang terikat dengan flavon. Flavonoid mempunyai sifat khas yaitu bau yang sangat tajam, rasanya pahit, dapat larut dalam air dan pelarut organik, serta mudah terurai pada temperatur tinggi.

Senyawa alelopati yang terdapat di dalam ekstrak serasah daun mangga dan daun mahoni sebanyak 55% ekstrak mempengaruhi perkecambah dan pertumbuhan rumput grinting. Ekstraksi soxhlet serbuk kulit batang daun mahoni (S. mahagoni Jacq.) diperoleh ekstrak pekat metanol sebanyak 873,841 g dari 8 kg serbuk mahoni. Ektrak pekat metanol dalam uji fitokimia metabolit sekunder menunjukkan adanya kandungan alkaloid, tanin, saponin, fenolik hidrokuinon, dan flavonoid. Senyawa terpenoid, flavonoid dan fenol adalah alelokimia yang bersifat menghambat pembelahan sel  (Yulifrianti 2015).

Tanaman alang-alang, akasia, pinus, dan jagung mengandung senyawa alelopati yang potensial dapat dikembangkan sebagai bahan baku herbisida nabati. Penggunaan herbisida nabati dilatar belakangi oleh meningkatnya kesadaran masyarakat untuk hidup sehat melalui proses kehidupan kembali ke alam (back to nature), menyebabkan permintaan produk pertanian organik termasuk lada organik yang lebih sehat, aman, enak dan ramah lingkungan meningkat. Salah satu kendala pengembangan lada organik di Kab. Belitung Timur (Beltim) adalah dalam pengendalian gulma. Terbatasnya dan mahalnya tenaga buruh tani, belum dikembangkannya teknik pemanfaatan cover crops serta belum adanya herbisida nabati komersial, menyebabkan mahalnya biaya pengendalian gulma pada budidaya lada organik di daerah tersebut (Djajuli, 2017).

PENUTUP

Berdasarkan hasil  penelitian dapat disimpulkan bahwa hasil penelitian yaitu pendampingan efektif meningkatkan pengetahuan dan keterampilan produksi herbisida organik.

UCAPAN TERIMAKSIH

Ucapan terimakasih secara khusus disampaikan kepada Direktur DRPM Kemenristekdikti atas pemberian dana hibah Program Kemitraan Masyarakat (PKM) yang telah diberikanya .

DAFTAR RUJUKAN

Adnan, dkk. 2012. Aplikasi Beberapa Dosis Herbisida Glifosat Dan Paraquat Pada Sistem Tanpa Olah Tanah (Tot) Serta Pengaruhnya Terhadap Sifat Kimia Tanah, Karakteristik Gulmadan Hasil Kedelai. Jurnal Agrista. 16 (3) : 135-145

Anonymous, 2014. Mengupas Tuntas Seputar Design Packaging Kemasan. http://en.wikipedia.org, diakses tanggal 03 April 2014.

Baidhawi. 2013. Degradasi Herbisida Pendimethalin Pada Tanah Yang Berbeda Kandungan Bahan Organik. Jurnal Agribisnis dan Pengembangan Wilayah 4(2) : 21-30

Batori, Imam. 2013. Bahan Nabati Herbisida Organik. Publisia. Jakarta.

Bayan, Adi. 2003. Pelabelan dalam Produk Industri. Cendekia. Surabaya.

Budi, Gayuh P dan Hajoeningtijas, Oetami D. (2013). Penerapan Herbisida Organik Ekstrak Alang – Alang Untuk Mengendalikan Gulma Pada Mentimun. Agritech. 15 (1) : 33-34.

Budiyanto MAK, 2007. Persepsi Masyarakat tentang Pertanian Hortikultura Organik di Kabupaten Malang. Laporan Penelitian, Malang: Universitas Muhammadiyah Malang.

Budiyanto MAK, 2013. Model Pengembangan Produksi Pangan Organik. Laporan Penelitian, Malang: Universitas Muhammadiyah Malang.

Budiyanto MAK, 2017. Herbisida Organik. Malang: UMM Press.

Darmadi. 2012 Jurnal Online : Peranan Bawang Putih (Allium Sativum) Terhadap Hipertensi

Djajuli M, 2017. Potensi Senyawa Alelopati sebagai Herbisida Nabati Alternatif pada Budidaya Lada Organik. http://balittro.litbang. pertanian.go.id/?p=642 (Diakses 13 Januari 2017).

Faqihhudin, M.D., dkk. 2014. Penggunaan Herbisida IPA-Glifosat terhadap Pertumbuhan, Hasil  dan Residu pada Jagung. Ilmu Pertanian 17 (1) : 1-12

Hogantara FR, 2016. Ageratum sebagai Herbisida Alami dan Sumber Bahan Organik. https://fajarrizkyashtercytin. wordpress.com/2013/04/25/744/ (Diakses 13 Januari 2017).

Isda MN, Fatonah S, dan Fitri R, 2013. Potensi Ekstrak Daun Gulma Babadotan (Ageratum conyzoides L.) terhadap Perkecambahan dan Pertumbuhan Paspalum conjugatum Berg. Jurnal Biologi Volume 6 Nomor 2, Oktober 2013. Hlm. 120-125.

Jolly, D. 2000. From Cottage Industry to Conglomerates: The Transformation of the US Organis Food Industry. New York: Original Press.

Kotler, Philip. 2001. Manajemen Pemasaran di Indonesia: Analisis, Perencanaan, Implementasi dan Pengendalian. Salemba Empat. Jakarta.

Nasahi, C. 2010. Peran Mikroba Dalam Pertanian Organik. Bandung: Universitas Padjajaran.

Ngawit. K. 2012. Jurnal Online : Degradasi Herbisida Turunan 2,4-D Amine Oleh Bakteri Pelarut Fosfat Dan Efek Residunya Terhadap Bawang Merah Yang Diberi Pupuk Kandang. NTB: Universitas Mataram

Permadi, 2013. Kajian Pupuk Majemuk Npk  (30-6-8) Dan Pupuk Organik Kujang pada Padi Sawah Varietas Inpari 13 Di Daerah Pengairan Setengah Teknis Di Purwakarta. Agrin 17 (1) : 14-21

Prihandarini R, 2009. Potensi  Pengembangan Pertanian Organik. Jakarta: Departemen Pertanian, Sekjen Maporina.

Riadi,  2011. Herbisida dan Aplikasinya. Makassar: Universitas Hasanuddin

Rizal. 2006. Pengaruh Berbagai Bahan Organik Dan Aplikasi  Herbisida Metolachlor Terhadap Pertumbuhan Dan  Hasil Tanaman Kedelai. J.Agroland 13(3): 228-233

Sukman, Y dan Yakup. (1997). Gulma dan Teknik Pengendaliannya. Palembang : CV Rajawali

Sriyani, N dan Salam, A.K. 2008. Penggunaan Metode Bioassay untuk Mendeteksi Pergerakan Herbisida Pasca tumbuh Paraquat dan 2,4-D dalam Tanah. J. Tanah Trop., Vol. 13, No.3, 2008:199-208

Sukmana, W. 2012. Studi Daya Adsorpdi Organoclay Tapanuli Terhadap Senyawa Herbisida 2,4 D- Dimetil Amina. Jakarta: Universitas Indonesia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Talahatu DR dan Papilaya PM, 2015.  Pemanfaatan Ekstrak Daun Cengkeh (Syzygium aromaticum

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: