APLIKASI TEKNOL…

APLIKASI TEKNOLOGI PRODUKSI BUAH PARTENOKARPI

 

Ali Sasole, Moch, Agus Krisno B, M. Kes

Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Muhammadiyah Malang

Jl. Tlogomas 246 Malang Telp 464318

 

 

 

ABSTRACT

 

 

Parthenocarpy is fruit of seedlessness which have been in engineering its(the gene. Parthenocarpy can happened naturally ( genetic) at some crop types only ( limited), for example at banana ( triploid), tomato, and mangosteen. Distinguishable parthenocarpy become two types, that is obligator and optional. Parthenocarpy called as obligator in the event of naturally ( genetic) without existence of influence from outside. This thing can happened because the crop genetically has gene cause of parthenocarpy, for example at banana crop that is most triploid. This triploid crop has mechanism of development resistance of seed or embryo since beginning, so that fruit formed by seedlessness. While optional parthenocarpy if the happening of because there are faktor/pengaruh from outside, for example at tomato crop can happened parthenocarpy fruit-set at cool temperature or temperature temperature.

 

making of fruit of parthenocarpy through genetic engineering, that is laying in usage of part of regulator ( regulator region) in construction of chimerae gene. Part of regulator is a real important genetic information in controlling interest gene expression either in temporal or spatial.

 

Parthenocarpy fruit-set through RECOMBINANT DNA technique can be gone through through two approachs, that is ( 1) pursues development of embrio/biji without influencing growth of fruit and ( 2) phytohormone expression at part of ovary/ ovule to race fruit development of parthenocarpy. earns also is induceed genetically, that is through manipulation number of ploidi ( chromosome) at crop. This thing can be gone through with ordinary cross, for example between dicot watermelon crops ( as mains jantan/ pollinating agent) with tetraploid crop ( as female mains) yields hybrid ( F1) triploid which actually can yield fruit of seedlessness parthenocarpy ( seedless).

 

Said Kuci : parthenocarpy, genetic engineering, induction in genetica

 

 

 

 

 

Partenokarpi adalah buah tanpa biji yang sudah di rekayasa gennya. Partenokarpi dapat terjadi secaraalami (genetik) pada beberapajenis tanaman saja (terbatas), misalnyapada pisang (triploid),tomat, dan manggis. Partenokarpidapat dibedakan menjadi dua tipe,yaitu obligator dan fakultatif.Partenokarpi disebut obligatorapabila terjadi secara alami(genetik) tanpa adanya pengaruhdari luar. Hal ini dapat terjadikarena tanaman tersebut secaragenetik memiliki gen penyebabpartenokarpi, misalnya pada tanaman pisang yang kebanyakan triploid. Tanaman triploid ini memiliki mekanisme penghambatan perkembangan biji atau embrio sejak awal, sehingga buah yang terbentuk tanpa biji. Sedangkan partenokarpi fakultatif apabila terjadinya karena ada faktor/pengaruh dari luar, misalnya pada tanaman tomat dapat terjadi pembentukan buah partenokarpi pada suhu dingin atau suhu panas.

pembuatan buah partenokarpi melalui rekayasa genetika, yaitu terletak pada penggunaan bagian regulator (regulator region) dalam konstruksi gen kimera. Bagian regulator merupakan informasi genetik yang sangat penting dalam mengontrol ekspresi gen interest baik secara temporal atau spatial.

Pembentukan buah partenokarpi melalui teknik DNA rekombinan dapat ditempuh melalui dua pendekatan, yaitu (1) menghambat perkembangan embrio/biji tanpa mempengaruhi pertumbuhan buah dan (2) ekspresi fitohormon pada bagian ovary/ ovule untuk memacu perkembangan buah partenokarpi.

dapat pula diinduksi secara genetik, yaitu melalui manipulasi jumlah ploidi (kromosom) pada tanaman. Hal ini dapat ditempuh dengan persilangan biasa, misalnya antara tanaman semangka dikotil (sebagai induk jantan/ penyerbuk) dengan tanaman tetraploid (sebagai induk betina) menghasilkan hibrid (F1) triploid yang ternyata dapat menghasilkan buah partenokarpi tanpa biji (seedless).

 

Kata Kuci : partenokarpi, rekayasa genetika, induksi secara genetika

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PENDAHULUAN

Pada buah normal, pembentukan buah dimulai dengan adanya proses persarian (polinasi) kepala putik oleh serbuk sari secara sendiri atau oleh bantuan angin, serangga penyerbuk, dan manusia. Selanjutnya polen berkecambah dan membentuk tabung polen untuk mencapai bakal biji. Peristiwa bertemunya polen (sel jantan) dengan bakal biji (sel telur) di dalam bakal buah  disebut pembuahan (fertilisasi). Kemudian bakal buah akan membesar dan berkembang menjadi buah bersamaan dengan pembentukan biji. Akhirnya akan dihasilkan buah yang fertil (berbiji). Beberapa jenis tanaman mempunyai kemampuan untuk membentuk buah tanpa melalui proses polinasi dan fertilisasi. Buah yang terbentuk tanpa melalui polinasi dan fertilisasi ini disebut buah partenokarpi. Dan biasanya buah partenokarpi ini tanpa biji karena tanpa melalui fertilisasi. Partenokarpi ini kurang menguntungkan bagi program produksi benih/biji, tetapi lebih bermanfaat bagi peningkatan kualitas dan produktivitas buah, khususnya pada jenis tanaman komersial (hortikultura). Sebagai contoh, pada terung partenokarpi dapat meningkatkan kualitas buah, sedangkan pada Actinidia dapat meningkatkan produktivitas buah dan tidak membutuhkan bantuan serangga penyerbuk. Partenokarpi dapat terjadi secara alami (genetik) ataupun buatan (induksi). Partenokarpi alami ada dua tipe, yaitu obligator apabila terjadinya tanpa faktor/pengaruh luar dan fakultatif apabila terjadinya karena ada faktor/pengaruh dari luar/ lingkungan yang tidak sesuai untuk polinasi dan fertilisasi, misalnya suhu terlalu tinggi atau rendah. Sedangkan partenokarpi buatan dapat diinduksi melalui aplikasi zat pengatur tumbuh (fitohormon) pada kuncup bunga atau melalui polinasi dengan polen inkompatibel atau dapat diserbuki dengan polen yang telah diradiasi sinar X. Bahkan, kini dengan adanya kemajuan teknologi dibidang biologi molekuler partenokarpi dapat diinduksi secara endogen melalui teknik rekayasa genetika, yaitu dengan cara menyisipkan gen partenokarpi (pengkode IAA/giberelin) ke dalam genom tanaman target melalui proses transformasi genetik. Tanaman transgenik yang telah mengandung gen partenokarpi akan mengekspresikan senyawa auksin pada plasenta dan ovule atau giberelin pada polen sebelum polinasi.

 

 

 

 

 

PARTENOKARPI ALAMI

Partenokarpi dapat terjadi secara alami (genetik) pada beberapa jenis tanaman saja (terbatas), misalnyapada pisang (triploid), tomat, dan manggis.Partenokarpi dapat dibedakan menjadi dua tipe,yaitu obligator dan fakultatif.Partenokar-pi disebut obligator apabila terjadi secara alami (genetik) tanpa ada-nya pengaruhdari luar. Hal ini da-pat terjadi karena tanaman tersebut secara genetik memiliki gen penye-bab partenokarpi, misalnya pada tanaman pisang yang kebanyakan triploid. Tanaman triploid ini memiliki mekanisme penghambatan perkembangan biji atau embrio sejak awal, sehingga buah yang

terbentuk tanpa biji. Sedangkan partenokarpi fakultatif apabila terjadinya karena ada faktor/pengaruh dari luar, mi-salnya pada tanaman tomat dapat terjadi pembentukan buah parteno-karpi pada suhu dingin atau suhu panas.

 

PARTENOKARPI BUATAN

Aplikasi Zat Pengatur Tumbuh

 

Pada awal abad ke-19 telah diketahui bahwa polinasi tanpa fertili-sasi dapat merangsang pembentuk-an buah (Fitting, 1909). Kemudian, ekstrak polen diketahui pula dapat menginduksi pembentukan dan perkembangan buah (Yasuda, 1934). Berikutnya diketahui lagi bahwa auksin dapat menggantikan polinasi dan fertilisasi pada proses pembentukan dan perkembangan

buah pada beberapa spesies tanaman (Gustafson, 1942). Percobaan pada tanaman strawbery, di mana bakal biji yang telah dibuahi (achenes) dapat dihilangkan tanpa merusak bagian reseptakel ternyata buah tetap tumbuh dan berkembang setelah achenes tersebut diganti dengan olesan senyawa lanolin yang berisi auksin (Nitsch, 1950). Lebih lanjut, Nitsch membuktikan bahwa kandungan dan sintesis auksin pada bakal biji (achenes) berlangsung hingga 17 hari setelah pembuahan. Hal ini membuktikan bahwa auksin dibutuhkan selama perkembangan buah. Zat pengatur tumbuh (ZPT) lain, seperti giberelin dan sitokinin juga terbukti dapat menggantikan

peran biji dalam perkembangan buah.

Namun, untuk efisiensi partenokarpi perlu kombinasi atau pengulangan aplikasi ZPT tersebut. Zat pengatur tumbuh berpengaruh langsung maupun tidak langsung terhadap kandungan auksin (IAA) endogen dalam bakal buah (ovary), baik setelah polinasi dan

fertilisasi ataupun setelah aplikasi

ZPT dari luar. Kadar auksin selama perkembangan bakal buah berbedabeda untuk setiap tanaman, tetapi umumnya meningkat pada saat 20 hari setelah pembungaan (anthesis) baik pada bunga yang diserbuki atau yang disemprot auksin (Lee et al., 1997). Peningkatan kadar IAA pada bakal buah akan merangsang pertumbuhan dan perkembangan buah pada fase awal pembungaan Mekanisme inilah yang mengilhami para ahli bioteknologi pertanian dalam pembentukan buah partenokarpi melalui rekayasa genetika.

 

Manipulasi Ploidi (Alteration in

Chromosomes Number)

 

Partenokarpi dapat pula diinduksi secara genetik, yaitu melalui manipulasi jumlah ploidi (kromosom) pada tanaman. Hal ini dapat ditempuh dengan persilangan biasa, misalnya antara tanaman semangka dikotil (sebagai induk jantan/ penyerbuk) dengan tanaman tetraploid (sebagai induk betina)

menghasilkan hibrid (F1) triploid

yang ternyata dapat menghasilkan buah partenokarpi tanpa biji (seedless). Pada tanaman triploid ini bakal biji (ovule) terhambat sejak awal perkembangannya, sehingga embrio tidak berkembang. Akibatnya tanaman hanya menghasilkan buah tanpa biji dengan integument yang rudimenter (tidak berkembang) (Kihara, 1951).

Manipulasi Kromosom

Partenokarpi dapat pula diinduksi secara genetik, yaitu melalui manipulasi jumlah ploidi (kromosom) pada tanaman. Hal ini dapat ditempuh dengan persilangan biasa, misalnya antara tanaman semangka dikotil (sebagai induk jantan/penyerbuk) dengan tanaman tetraploid (sebagai induk betina) menghasilkan hibrid (F1) triploid yang ternyata dapat menghasilkan buah partenokarpi tanpa biji. Pada tanaman triploid ini bakal biji (ovule) terhambat sejak awal perkembangannya, sehingga embrio tidak berkembang. Akibatnya tanaman hanya menghasilkan buah tanpa biji dengan integumen yang rudimenter (tidak berkem    bang).

Pembentukan buah partenokarpi melalui teknik DNA rekombinan dapat ditempuh melalui dua pendekatan, yaitu menghambat perkembangan embrio/biji tanpa mempengaruhi pertumbuhan buah dan  ekspresi fitohormon pada bagian ovary/ovule untuk memacu perkembangan buah partenokarpi. Cara pendekatan pertama ditempuh melalui penggunaan gen yang bersifat merusak sel (cytotoxic). Gen ini akan menghasilkan senyawa toksik terhadap sel-sel embrio/biji, sehingga akan menghambat bahkan merusak perkembangan embrio/biji. Pertumbuhan buah tetap berlangsung, tetapi tidak menghasilkan biji. Sebagai contoh, penggunaan gen barnase yang diisolasi dari bakteri Bacillusamyloliquefaciens atau kombinasi gen sitotoksik, misalnya gen iaaM dan iaaH dari bakteri yang mengekspresikan senyawa toksik kadar tinggi terhadap sel-sel embrio/biji. Kombinasi ekspresi dua gen ini akan merubah triptofan menjadi IAA melalui senyawa indoleacetamide. Kadar IAA tinggi ini akan bersifat toksik terhadap sel-sel biji atau embrio tanaman. Grossniklaus dan  menggunakan gen regulator yang dapat mengekspresikan senyawa toksik yang mempengaruhi perkembangan embrio atau endosperm. Gen barnase akan menghasilkan enzim ribonuklease pada bagian biji di bawah kontrol promoter spesifik bagian kulit biji. Partenokarpi melalui pengekspresian senyawa fitohormon IAA atau analognya pada bagian bakal buah (ovary) terlihat lebih efektif. Aplikasi fitohormon sejenis auksin / giberelin dapat menggantikan peran biji dalam merangsang pembentukan dan perkembangan buah. Tomes et al telah berhasil menginduksi buah partenokarpi melalui penggunaan gen pengkode giberelin, yaitu giberellin 20-oxidase yang diekspresikan pada bagian polen (serbuk sari) sebelum polinasi (dibawah kontrol promoter spesifik bagian polen). Buah partenokarpi dapat terbentuk sebelum fertilisasi (anthesis). Gen pengkode auksin, giberelin atau sitokinin (iaaM, iaaH atau ipt) dari Agrobacterium tumefaciens di bawah kontrol sequen regulator spesifik bagian ovary. Gen iaaM mengkode senyawa triptofan 2-monooxigenase yang akan merubah triptofan menjadi indoleaceta-mide (IAM), lalu menjadi indole acetic acid (IAA) dan amonia menggunakan promoter GH3 dari kedelai atau AGL5 (Agamous-like 5) dari Arabidopsis  atau PLE36 dari tembakau. GH3 merupakan promo-ter inducible auksin di bagian ovary, AGL5 spesifik pada perkembangan karpela  dan PLE 36 spesifik untuk ovary. Rotino et al. telah berhasil menggunakan promoter bagian regulator defh9 (deficiens homologue9) dari Antirrhinum majus untuk mengekspresikan gen iaaM (pengkode IAA) dari Pseudomonassyringae pv savastanoi  pada bagian plasenta dan bakal biji. Gen kimerik defh9-iaaM ini telah berhasil menginduksi buah partenokarpi pada beberapa tanaman dari famili Solanaceae seperti terung, tembakau, dan tomat. Tanaman hibrid (F1) terung yang mengandung gen defh9-iaaM menunjukkan peningkatan produksi pada musim dingin. Demikian juga terjadi pada tomat transgenik yang ditanam pa-da kondisi atau cuaca yang kurang menguntungkan bagi perkembangan polen.  Bahkan saat ini, di Italia sedang dilakukan pengujian lapang untuk tanaman transgenik melon, strawbery, dan anggur. Sehingga gen partenokarpi defh9-iaaM  telah berhasil dicoba pada empat famili, yaitu Solanaceae, Cucurbitaceae,Rosaceae, dan Cruciferae. Dari semua tanaman transgenik partenokarpi tersebut ditemukan kadar ekspresi auksin yang sangat rendah pada mRNA yang diekstrak dari kuncup bunga.

Faktor penting di dalam pembuatan buah partenokarpi melalui rekayasa genetika, yaitu terletak pada penggunaan bagian regulator (regulator region) dalam konstruksi gen kimera. Bagian regulator merupakan informasi genetik yang sangat penting dalam mengontrol ekspresi gen interest baik secara temporal atau spatial. Dua parameter ini sangat penting dalam memperoleh partenokarpi dan meyakinkan ekspresi yang optimal dari gen partenokarpi tanpa menghambat pertumbuhan vegetatif (buah) pada tanaman transgeniknya. Dengan demikian, semua gen regulator yang digunakan diarahkan ekspresi-nya ke bagian ovary dan bagianbagiannya. Sebagai contoh gen kimera defh9-iaaM,  bagian regulator defh9 (promoter) dapat mengontrol ekspresi gen iaaM (pengkode IAA) hanya pada bagian plasenta, ovule, dan bagian ovule. Ekspresi IAA pada bagian ovule di-tujukan untuk menggantikan peran biji dalam memacu pertumbuhan buah, sedangkan ekspresi IAA pada bagian plasenta untuk meyakinkan bahwa partenokarpi terjadi sebelum polinasi (anthesis). Hal ini dimaksudkan untuk membandingkan dengan buah hasil penyerbukan biasa atau aplikasi ZPT. Buah partenokarpi tanpa biji dapat terbentuk pada bunga tomat dan terung yang dimaskulasi atau dikastrasi (dihilangkan bagian benang sarinya) terlebih dahulu. Sedangkan ekspresi IAA pada bagian jaringan ovule dimaksudkan untuk menjaga kelangsungan pertumbuhan dan perkembangan buah hingga dewasa. Ekspresi IAA yang sangat rendah diperlukan untuk memperoleh perkembangan buah partenokarpi secara normal, karena apabila ekspresi terlalu tinggi dapat menyebabkan pertumbuhan yang abnormal (malformation), terutama pada jenis tanaman yang sensitif terhadap auksin.

Manipulasi jumlah ploidi ( kromosom )  telah dimanfaatkan dalam pemuliaan tanaman seperti gandum (hexaploid 2n=6x), kentang (tetraploid 2n=4x), pisang (triploid 2n=3x; tetraploid 2n=4x), jambu biji seedless (triploid 2n=3x), mangga (tetraploid 2n=4x), dan semangka seedless (2n=3x). Tanaman poliploid, terutama triploid pada umumnya mempunyai ukuran vegetatif maupun generatif yang lebih besar, misalnya bunga Petunia axillaris, buah apel, pir, jeruk, dan anggur, hasil kayu Populus tremuloides (Johri et al. 1980), umbi kentang dan lobak, buah dan daun pisang. Tanaman garut diploid (2n=48) kemungkinan besar dapat ditingkatkan ukuran umbi maupun kandungan tepungnya dengan meningkatkan ploidi kromosomnya menjadi triploid (2n=72), tetraploid (2n=96) atau hexaploid (2n=144), seperti pada umbi tanaman yacon yang octoploid (2n=58) menjadi hexadecaploid (2n=116) dengan menggunakan Oryzalin hingga kandungan sakarida meningkat sekitar 2 x lebih tinggi. Manipulasi ploidi kromosom dapat dilakukan dengan menggunakan senyawa kimia Oryzalin (3,5-dinitro-N4, N4-dipropylsulfanilamide) suatu herbisida selektif pre emergence untuk mengendalikan gulma rumput dan berdaun lebar, yang menghalangi pembentukan benang spindle pada waktu mitosis hingga sel-sel baru yang terbentuk jumlah kromosomnya berlipat ganda. Oryzalin lebih efektif sebagai agen untuk menggandakan kromosom dibanding amiprophos- methyl (APM) atau colchicine. Perlakuan Oryzalin telah dipakai untuk mendapatkan tanaman tetraploid pada kentang, pisang, Rhododendron, Miscanthus sinensis, Alocasia, mawar, bawang merah, Spathiphyllum wallisii, japanese quince, Ranunculus, yacon, jeruk.

 

Metode DNA Rekombinan

(Rekayasa Genetika)

Pada beberapa tahun terakhir, beberapa metode telah dicoba dan dikembangkan untuk menghasilkan partenokarpi melalui rekayasa ge-netika tanaman. Pembentukan buah partenokarpi melalui teknik DNA rekombinan dapat ditempuh melalui dua pendekatan, yaitu (1)

menghambat perkembangan embrio/biji tanpa mempengaruhi pertumbuhan buah dan (2) ekspresi fitohormon pada bagian ovary/ ovule untuk memacu perkembangan buah partenokarpi. Cara pendekatan pertama ditempuh melalui penggunaan gen yang bersifat merusak sel (cytotoxic). Gen ini akan menghasilkan senyawa toksik terhadap sel-sel embrio/ biji, sehingga akan menghambat

bahkan merusak perkembangan embrio/biji. Pertumbuhan buah tetap berlangsung, tetapi tidak menghasilkan biji. Sebagai contoh, penggunaan gen barnase yang diisolasi dari bakteri Bacillus

amyloliquefaciens (Paddon dan Hartley, 1987; Tomes et al., 1996b) atau kombinasi gen sitotok-sik, misalnya gen iaaM dan iaaH dari bakteri yang mengekspresikan senyawa toksik kadar tinggi terhadap sel-sel embrio/biji. Kombinasi ekspresi dua gen ini akan merubah triptofan menjadi IAA melalui senyawa indoleacetamide (Kosuge et al., 1966). Kadar IAA tinggi ini akan bersifat toksik terhadap sel-sel biji atau embrio tanaman. Grossniklaus dan menggunakan gen regulator yang dapat mengekspresikan senyawa toksik yang mempengaruhi perkembangan embrio atau endosperm. Gen barnase akan menghasilkan enzim ribonuklease pada bagian biji di bawah kontrol promoter spesifik bagian kulit biji. Tetapi pembentukan partenokarpi melalui cara pendekatan ini kurang berhasil dan tidak berkembang, karena hingga kini belum ada data hasil percobaan yang mendukung keberhasilan teknik ini.

Cara pendekatan kedua dalam menghasilkan partenokarpi adalah melalui pengekspresian senyawa fi-tohormon IAA atau analognya pada bagian bakal buah (ovary) terlihat lebih efektif. Cara kedua ini didasari oleh pengetahuan sebelumnya bah-wa aplikasi fitohormon sejenis auksin/ giberelin dapat menggantikan peran biji dalam merangsang pembentukan dan perkembangan buah. Tomes et al. (1996a) telah berhasil menginduksi buah partenokarpi melalui penggunaan gen pengkode giberelin, yaitu giberellin 20-oxidase yang diekspresikan pada bagian po-len

(serbuk sari) sebelum polinasi (di

bawah kontrol promoter spesifik

bagian polen). Buah partenokarpi

dapat terbentuk sebelum fertilisasi (anthesis). Li (1997) berhasil menggunakan gen pengkode auksin, giberelin atau sitokinin (iaaM, iaaH atau ipt) dari Agrobacterium tumefaciens di bawah kontrol sequen regulator spesifik bagian ovary. Gen iaaM mengkode senyawa triptofan 2-monooxigenase yang akan meru-bah triptofan menjadi indoleaceta-mide (IAM), lalu menjadi indole acetic acid (IAA) dan amonia (Kosuge et al., 1966)

menggunakan promoter GH3 dari

kedelai (Hagen et al., 1991) atau AGL5 (Agamous-like 5) dari Arabidopsis (Ma et al., 1991) atau

PLE36 dari tembakau (Li, 1997).

 

Dari hasil percobaan ternyata terdapat faktor penting di dalam pembuatan buah partenokarpi melalui rekayasa genetika, yaitu terletak pada penggunaan bagian regulator (regulator region) dalam konstruksi gen kimera. Bagian regulator merupakan informasi genetik yang sangat penting dalam mengontrol ekspresi gen interest baik secara temporal atau spatial. Dua parame-ter ini sangat penting dalam mem-peroleh partenokarpi dan meyakin-kan ekspresi yang optimal dari gen partenokarpi tanpa menghambat pertumbuhan

vegetatif (buah) pada tanaman transgeniknya. Dengan demikian,

semua gen regulator yang digunakan diarahkan ekspresi-nya ke bagian ovary dan bagianbagiannya. Sebagai contoh gen kimera defh9-iaaM (Rotino et al., 1997), bagian regulator defh9 (promoter) dapat mengontrol ekspresi gen iaaM (pengkode IAA) hanya pa-da bagian plasenta, ovule, dan ba-gian ovule (Ficcadenti et al. 1999). Ekspresi IAA pada bagian ovule di-tujukan untuk menggantikan peran biji dalam memacu pertumbuhan buah, sedangkan ekspresi IAA pada bagian plasenta untuk meyakinkan bahwa partenokarpi terjadi sebelum polinasi (anthesis). Hal ini dimaksudkan untuk membandingkan dengan buah hasil penyerbukan biasa atau aplikasi ZPT. Buah par-tenokarpi tanpa biji dapat terbentuk pada bunga tomat dan terung yang diemaskulasi atau dikastrasi (dihilangkan bagian benang sarinya) ter-lebih dahulu. Sedangkan ekspresi IAA pada bagian jaringan ovule di-maksudkan untuk menjaga kelang-sungan pertumbuhan dan perkem-bangan buah hingga dewasa. Ekspresi IAA yang sangat rendah diperlukan untuk memperoleh perkembangan buah partenokarpi secara normal, karena apabila ekspresi terlalu tinggi dapat menyebab-kan pertumbuhan yang abnormal (malformation), terutama pada je-nis tanaman yang sensitif terhadap auksin.

 

Dalam Perspektif Agama

Islam, menganjurkan kita untuk selalu menggunakan akal dalam memahami agama. Islam adalah agama yang menghormati akal, Islam menghimbau kepada seluruh manusia untuk mengetahui dengan benar akan keesaan Allah, dan semua itu hanya bisa dibangkitkan dengan menggunakan potensi akal sebaik mungkin. Karena pemahaman yang benar hanya tercipta jika manusia menggunakan akal tersebut untuk berfikir dengan cara yang benar.

Dengan akal tersebut manusia dapat meneliti dan memahami bagaimana hakikat dari alam yang telah diciptakan oleh Allah Swt.

(إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ مَاءٍ فَأَحْيَا بِهِ اْلأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَاْلأَرْضِ َلآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ) البقرة : 164

Artinya : “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan” .

Dalam hadits yang masyhur pun dinyatakan bahwa Rasulullah Saw menganjurkan kita untuk menuntut ilmu bahkan sampai ke negeri Cina sekalipun.

Dan Allah juga menganjurkan kita untuk terus membaca dan mempelajari apa yang di temukan oleh manusia.

 

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5) –العلق

 

Dari semua itu, selain belajar dan memahami suatu ilmu, islam pun sangat menekankan pada implikasi dari ilmu tersebut, karena ilmu tersebut ada untuk memudahkan dan meningkatkan kulaitas hidup manusia itu sendiri.

Secara ontologi, keberadaan ilmu dan agama saling bergantung sama lain. Secara epistemologis, hubungan ilmu dan agama saling melengkapi satu sama lain. Sementara secara aksiologis seluruh nilai kebenaran, kebaikan, keindahan dan keilahian saling mengkualifikasi satu dengan yang lain. Maka, peran agama dalam teknologi rekayasa genetika ini menjadi “pengendali” ataupun penuntun ilmu yang berbasis akal agar tidak menyalahi aturan-aturan sebagai manusia itu sendiri. Untuk mewujudkan semua itu, agama harus ikut berkembang seiring berkembangnya teknologi dan ilmu apapun.

Dalam buku ushul fiqh Syatibi juga dinyatakan bahwa yang bersifat dharuri (penting) ada lima, yaitu memelihara agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Oleh karena itu, untuk menuntun teknologi rekayasa genetika tersebut harus bisa memenuhi tuntutan kepentingan kepentingan yang ada, dan selama teknologi tersebut memenuhi syarat kepentingan dalam islam, maka teknologi tersebut dibenarkan.

 

KESIMPULAN

Beberapa pendekatan dan percobaan telah dilakukan dalam

rang-ka pembentukan buah partenokar-pi pada tanaman transgenik. Pem-bentukan buah partenokarpi mela-lui rekayasa genetika akan dapat menjawab tuntutan konsumen yang menginginkan adanya buah tanpa biji dengan kualitas lebih baik dan produktivitas yang tinggi, khususnya pada tanaman hortikultura yang bernilai tinggi (komersial). Sejalan dengan itu, pendekatan secara molekuler dengan teknik microarray juga dapat digunakan untuk studi pembandingan dan studi perubahan pola ekspresi gen selama perkembangan buah baik pada buah partenokarpi maupun

buah normal (hasil pembuahan).

Dengan demikian, sintesis fitohormon secara endogen pada bunga atau bakal buah akan dapat terkontrol baik waktu (timing), tempat (lo-kasi), dan kekuatan (strength) eks-presi serta pengaruhnya bagi per-tumbuhan dan perkembangan buah.

 

 

PUSTAKA

-Rotino, G.L., E. Perri, M. Zottini, H. Sommer, and A. Spena. 1997.Genetic engineering of arthenocarpic plants. Nature Biotech. 15:1398- 1401.

Ficcadenti, N., S. Sestili, T. Pandolfini, C. Cirillo, G.L. Rotino, and A. Spena. 1999. Genetic engineering

470.

of parthenocarpic fruit development in tomato. Mol. Breed. 5:463

Kihara, H. 1951. Triploid watermelon Proc. Amer. Soc. Hort. Sci. 58:217-

230.

Nitsch, J.P. 1950. Growth and porphogenesis of strawberry as related toauxin. Am. J. Botany 37:211-215.

Li, Y. 1997. Transgenic seedless fruit and methods. Patent Application Number US1997060045725. 09849888A1

Gustafson, F.G. 1942. Parthenocarpy: Natural and Artificial. Botanical Review 8:599-654.

Fitting, H. 1909. Die beeinflussung der Orchideenbluten durch die Bestaubung und durch andere Umstande. Zeitshchrift fuer Botanik 1:1-86.

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: