Implementasi Stem Cell Sebagai salah Satu Upaya Meminimalisir Penderita Diabetes Melitus di Indonesia

Implementasi Stem Cell Sebagai salah Satu Upaya Meminimalisir Penderita Diabetes Melitus di Indonesia
Implementation of Stem Cell As one One Minimize Efforts Diabetes Mellitus in Indonesia
Feni Nur’aini, Dr. H. Agus Krisno Budianto,M.Kes
Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Muhammadiyah Malang

Abstact
Stem cells, stem cells, stem cells (English: stem cells) are undifferentiated cells and have a very high potential to develop into many different cell types in the body. Diabetes Mellitus (DM), also known as diabetes or blood sugar disease is a type of chronic disease characterized by elevated levels of sugar in the blood as a result of disturbances in the body’s metabolic system, where the organ pancreas unable to produce insulin the body needs. Stem cell transplantation is a good alternative and has shown positive results in mice. But there are still many obstacles to be overcome in order to use stem cells to cure type I diabetes patients can be accomplished. adult stem cells produced both C-peptide, a part of the insulin precursor protein, and insulin itself. The presence of C-peptide was especially crucial, because although insulin is found in the growth medium in which cells are maintained and are often taken up by other cells, the presence of C-peptide proves that at least some insulin have been produced, or synthesized, by the cells that has formed.
Key words: stem cell, Diabetes Melitus, Autologous, Allogenik, Singenik
Abstrak
Sel punca, sel induk, sel batang (bahasa Inggris: stem cell) merupakan sel yang belum berdiferensiasi dan mempunyai potensi yang sangat tinggi untuk berkembang menjadi banyak jenis sel yang berbeda di dalam tubuh. Penyakit Diabetes Mellitus (DM) yang juga dikenal sebagai penyakit kencing manis atau penyakit gula darah adalah golongan penyakit kronis yang ditandai dengan peningkatan kadar gula dalam darah sebagai akibat adanya gangguan sistem metabolisme dalam tubuh, dimana organ pankreas tidak mampu memproduksi hormon insulin sesuai kebutuhan tubuh. Transplantasi sel stem merupakan alternatif baik dan telah menunjukkan hasil positif pada mencit. Tetapi masih banyak kendala yang harus diatasi supaya penggunaan sel stem untuk menyembuhkan pasien diabetes tipe I dapat  terlaksana. stem sel dewasa tersebut memproduksi baik C-peptida, bagian dari protein pelopor insulin, dan insulin itu sendiri. Keberadaan C-peptida ini terutama penting sekali, karena walaupun insulin tersebut ditemukan dalam media pertumbuhan ini dimana sel-sel ini dipelihara dan sering diambil oleh sel lain, keberadaan C-peptida membuktikan bahwa setidaknya beberapa insulin telah diproduksi, atau disintesis, oleh sel-sel yang telah terbentuk.
Kata kunci: sel induk, Diabetes melitus, autologus, Allogenik, Singenik

PENDAHULUAN
Stem Cell (sel punca)

http://id.wikipedia.org/wiki/Sel_punca_dewasa
Sel punca, sel induk, sel batang (bahasa Inggris: stem cell) merupakan sel yang belum berdiferensiasi dan mempunyai potensi yang sangat tinggi untuk berkembang menjadi banyak jenis sel yang berbeda di dalam tubuh. Sel punca juga berfungsi sebagai sistem perbaikan untuk mengganti sel-sel tubuh yang telah rusak demi kelangsungan hidup organisme. Saat sel punca terbelah, sel yang baru mempunyai potensi untuk tetap menjadi sel punca atau menjadi sel dari jenis lain dengan fungsi yang lebih khusus, misalnya sel otot, sel darah merah atau sel otak.
Sifat-sifat sel punca (stem cell)
Sel punca memiliki dua sifat penting yang sangat berbeda dengan sel lain, yaitu:
1. Kemampuan untuk berdiferensiasi menjadi sel lain (differentiate). Dalam hal ini stem cell mampu berkembang menjadi berbagai jenis sel matang, misalnya sel saraf, sel otot jantung, sel otot rangka, sel pankreas, dan lain-lain.
2. Kemampuan untuk memperbaharui atau meregenerasi dirinya sendiri (self-regenerate/self-renew). Dalam hal ini stem cell dapat membuat salinan sel yang persis sama dengan dirinya melalui pembelahan sel.
Macam-macam stem cell (sel punca)
Berdasarkan Kemampuannya sel punca digolongkan menjadi empat tipe,yaitu:
1.    Totipotensi
Sel punca yang berasal dari inner cell mass embrio memiliki kemampuan totipotensi atau dapat beruabah menjadi berbagai macam sel, termasuk berubah menjadi sel punca pluripotensi.
2.     Pluripotensi
Sel punca pluripotensi merupakan sel-sel yang menyusun tiga lapisan embrional.

Gambar Sel Punca totipoten dan pluripoten
3.    multipotensi
Sel punca multipotensi hanya dapat berubah menjadi sel-sel yang tidak jauh berbeda.
4.    unipotensi.
lebih spesifik lagi, sel punca unipotensi hanya dapat berubah menjadi satu jenis sel saja.

Gambar Multipotent dan unipotent stem cells pada sumsum tulang
Berdasarkan asalnya
•    Sel punca embrio (embryonic stem cells)


Sel induk ini diambil dari embrio pada fase blastosit (5-7 hari setelah pembuahan).  Massa sel bagian dalam mengelompok dan mengandung sel-sel induk embrionik. Sel-sel diisolasi dari massa sel bagian dalam dan dikultur secara in vitro. Sel induk embrional dapat diarahkan menjadi semua jenis sel yang dijumpai pada organisme dewasa, seperti sel-sel darah, sel-sel otot, sel-sel hati, sel-sel ginjal, dan sel-sel lainnya.
•    Sel germinal/benih embrionik (embryonic germ cells)

Sel germinal/benih (seperti sprema/ovum) embrionik induk/primordial (primordial germ cells) dan prekursor sel germinal diploid ada sesaat pada embrio sebelum mereka terasosiasi dengan sel somatik gond dan kemudian menjadi sel germinal. Sel germinal embrionik manusia/human embryonic germ cells (hEGCs) termasuk sel punca yang berasal dari sel germinal primordial dari janin berumur 5-9 minggu. Sel punca jenis ini memilki sifat pluripotensi
•    Sel punca fetal
Sel punca fetal adalah sel primitif yang dapat ditemukan pada organ-organ fetus (janin) seperti sel punca hematopoietik fetal dan progenitor kelenjar pankreas. Sel punca neural fetal yang ditemukan pada otak janin menunjukkan kemampuan untuk berdiferensiasi menjadi sel neuron dan sel glial (sel-sel pendukung pada sistem saraf pusat). Darah, plasenta, dan tali pusat janin kaya akan sel punca hematopoietik fetal.
•    Sel punca dewasa (adult stem cells)

Sel punca dewasa mempunyai dua karakteristik. Karakteristik pertama adalah sel-sel tersebut dapat berproliferasi untuk periode yang panjang untuk memperbarui diri. Karakteristik kedua, sel-sel tersebut dapat berdiferensiasi untuk menghasilkan sel-sel khusus yang mempunyai karakteristik morfologi dan fungsi yang spesial.
Sel induk hematopoietik
Salah satu macam sel induk dewasa adalah sel induk hematopoietik (hematopoietic stem cells), yaitu sel induk pembentuk darah :yang mampu membentuk sel darah merah, sel darah putih, dan keping darah yang sehat. Sumber sel induk hematopoietik adalah sumsum :tulang, darah tepi, dan darah tali pusar. Pembentukan sel induk hematopietik terjadi pada tahap awal embriogenesis, yaitu dari mesoderm dan disimpan pada situs-situs spesifik di dalam embrio.

Sel punca mesenkimal
Sel induk mesenkimal/ mesenchymal stem cells (MSC)dapat ditemukan pada stroma sumsum tulang belakang, periosteum, lemak, dan kulit. [4] MSC termasuk sel induk multipontensi yang dapat berdiferensiasi menjadi sel-sel tulang, otot, ligamen, tendon, dan lemak. Namun ada beberapa bukti yang menyatakan bahwa sebagian MSC bersifat pluripotensi sehingga tidak hanya dapat berubah menjadi jaringan mesodermal tetapi juga endodermal.
•    Sel punca kanker (cancer stem cells)


Sel punca kanker adalah sel yang mengaktivasi lintasan onkogenik berupa tumorigenesis yang membuat sel normal mengalami fasa inisiasi tumor, namun sel punca kanker tidak memiliki sifat tumorigenik. Dari data terakhir, ditemukan keberadaan sel punca kanker pada berbagai jenis kanker seperti leukimia, kanker payudara, kanker otak, kanker otak, kanker usus besar dan kanker kulit. Sel punca kanker pankreas memiliki kluster diferensiasi CD44, CD24 dan epithelial-specific antigen, selain SDF-1 (stromal cell-derived factor 1)/CXCR4 untuk bermigrasi seperti sel punca normal, serta ekspresi genetik lebih tinggi dari sel punca normal, seperti gen BMI-1 dan SHH (Sonic hedgehog) untuk memperbaharui diri.
Penggunaan Sel Punca (Stem Cell) Dalam Pengobatan Penyakit
Ada 3 golongan penyakit yang dapat diatasi olehstem cell
:a. Penyakit autoimun. Misalnya pada lupus, artritis rheumatoid dan diabetes tipe 1.Setelah diinduksi oleh growth factor  agar hematopoietic stem cell banyakdilepaskan dari sumsum tulang ke darah tepi,hematopoietic stem cell dikeluarkan dari dalam tubuh untuk dimurnikan dari sel imun matur. Lalu tubuhdiberi agen sitotoksik atau terapi radiasi untuk membunuh sel-sel imun matur yang tidak mengenal self antigen (dianggap sebagai foreign antigen). Setelah itu hematopoietic stem cell dimasukkan kembali ke tubuh, bersirkulasi danbermigrasi ke sumsum tulang untuk berdiferensiasi menjadi sel imun matur sehingga system imun tubuh kembali seperti semula.
b. Penyakit degeneratif. Pada penyakit degeneratif seperti stroke, penyakitParkinson, penyakit Alzheimer, terdapat beberapa kerusakan atau kematian sel- sel tertentu sehingga bermanifestasi klinis sebagai suatu penyakit. Padakeadaan ini stem cell  setelah dimanipulasi dapat ditransplantasi ke dalam tubuhpasien agar  stem cell tersebut dapat berdiferensiasi menjadi sel-sel organtertentu yang menggantikan sel-sel yang telah rusak atau mati akibat penyakitdegenerative.
c. Penyakit keganasan. Prinsip terapi stem cell pada keganasan sama denganpenyakit autoimun.Hematopoietic stem cell yang diperoleh baik dari sumsumtulang atau darah tali pusat telah lama dipakai dalam terapi leukemia dan penyakit darah lainnya
Diabetes Melitus
Penyakit Diabetes Mellitus (DM) yang juga dikenal sebagai penyakit kencing manis atau penyakit gula darah adalah golongan penyakit kronis yang ditandai dengan peningkatan kadar gula dalam darah sebagai akibat adanya gangguan sistem metabolisme dalam tubuh, dimana organ pankreas tidak mampu memproduksi hormon insulin sesuai kebutuhan tubuh.
Insulin adalah salah satu hormon yang diproduksi oleh pankreas yang bertanggung jawab untuk mengontrol jumlah/kadar gula dalam darah dan insulin dibutuhkan untuk merubah (memproses) karbohidrat, lemak, dan protein menjadi energi yang diperlukan tubuh manusia. Hormon insulin berfungsi menurunkan kadar gula dalam darah.
Tanda dan Gejala Diabetes Mellitus
Tanda awal yang dapat diketahui bahwa seseorang menderita DM atau kencing manis yaitu dilihat langsung dari efek peningkatan kadar gula darah, dimana peningkatan kadar gula dalam darah mencapai nilai 160 – 180 mg/dL dan air seni (urine) penderita kencing manis yang mengandung gula (glucose), sehingga urine sering dilebung atau dikerubuti semut. Penderita kencing manis umumnya menampakkan tanda dan gejala dibawah ini meskipun tidak semua dialami oleh penderita :
1. Jumlah urine yang dikeluarkan lebih banyak (Polyuria)
2. Sering atau cepat merasa haus/dahaga (Polydipsia)
3. Lapar yang berlebihan atau makan banyak (Polyphagia)
4. Frekwensi urine meningkat/kencing terus (Glycosuria)
5. Kehilangan berat badan yang tidak jelas sebabnya
6. Kesemutan/mati rasa pada ujung syaraf ditelapak tangan & kaki
7. Cepat lelah dan lemah setiap waktu
8. Mengalami rabun penglihatan secara tiba-tiba
9. Apabila luka/tergores (korengan) lambat penyembuhannya
10.Mudah terkena infeksi terutama pada kulit.
Kondisi kadar gula yang drastis menurun akan cepat menyebabkan seseorang tidak sadarkan diri bahkan memasuki tahapan koma. Gejala kencing manis dapat berkembang dengan cepat waktu ke waktu dalam hitungan minggu atau bulan, terutama pada seorang anak yang menderita penyakit diabetes mellitus tipe 1. Lain halnya pada penderita diabetes mellitus tipe 2, umumnya mereka tidak mengalami berbagai gejala diatas. Bahkan mereka mungkin tidak mengetahui telah menderita kencing manis.
Tipe Penyakit Diabetes Mellitus
1. Diabetes mellitus tipe 1
Diabetes tipe 1 adalah diabetes yang bergantung pada insulin dimana tubuh kekurangan hormon insulin,dikenal dengan istilah Insulin Dependent Diabetes Mellitus (IDDM). Hal ini disebabkan hilangnya sel beta penghasil insulin pada pulau-pulau Langerhans pankreas. Diabetes tipe 1 banyak ditemukan pada balita, anak-anak dan remaja.
Sampai saat ini, Diabetes Mellitus tipe 1 hanya dapat di obati dengan pemberian therapi insulin yang dilakukan secara terus menerus berkesinambungan. Riwayat keluarga, diet dan faktor lingkungan sangat mempengaruhi perawatan penderita diabetes tipe 1. Pada penderita diebetes tipe 1 haruslah diperhatikan pengontrolan dan memonitor kadar gula darahnya, sebaiknya menggunakan alat test gula darah. Terutama pada anak-anak atau balita yang mana mereka sangat mudah mengalami dehidrasi, sering muntah dan mudah terserang berbagai penyakit.
2. Diabetes mellitus tipe 2
Diabetes tipe 2 adalah dimana hormon insulin dalam tubuh tidak dapat berfungsi dengan semestinya, dikenal dengan istilah Non-Insulin Dependent Diabetes Mellitus (NIDDM). Hal ini dikarenakan berbagai kemungkinan seperti kecacatan dalam produksi insulin, resistensi terhadap insulin atau berkurangnya sensitifitas (respon) sell dan jaringan tubuh terhadap insulin yang ditandai dengan meningkatnya kadar insulin di dalam darah.
Ada beberapa teori yang mengutarakan sebab terjadinya resisten terhadap insulin, diantaranya faktor kegemukan (obesitas). Pada penderita diabetes tipe 2, pengontrolan kadar gula darah dapat dilakukan dengan beberapa tindakan seperti diet, penurunan berat badan, dan pemberian tablet diabetik. Apabila dengan pemberian tablet belum maksimal respon penanganan level gula dalam darah, maka obat suntik mulai dipertimbangkan untuk diberikan.
Kadar Gula Dalam Darah
Normalnya kadar gula dalam darah berkisar antara 70 – 150 mg/dL {millimoles/liter (satuan unit United Kingdom)} atau 4 – 8 mmol/l {milligrams/deciliter (satuan unit United State)}, Dimana 1 mmol/l = 18 mg/dl. Namun demikian, kadar gula tentu saja terjadi peningkatan setelah makan dan mengalami penurunan diwaktu pagi hari bangun tidur. Seseorang dikatakan mengalami hyperglycemia apabila kadar gula dalam darah jauh diatas nilai normal, sedangkan hypoglycemia adalah suatu kondisi dimana seseorang mengalami penurunan nilai gula dalam darah dibawah normal.
Diagnosa Diabetes dapat ditegakkan jika hasil pemeriksaan gula darah puasa mencapai level 126 mg/dl atau bahkan lebih, dan pemeriksaan gula darah 2 jam setelah puasa (minimal 8 jam) mencapai level 180 mg/dl. Sedangkan pemeriksaan gula darah yang dilakukan secara random (sewaktu) dapat membantu diagnosa diabetes jika nilai kadar gula darah mencapai level antara 140 mg/dL dan 200 mg/dL, terlebih lagi bila dia atas 200 mg/dl.
Pengobatan dan Penanganan Penyakit Diabetes
Penderita diabetes tipe 1 umumnya menjalani pengobatan therapi insulin (Lantus/Levemir, Humalog, Novolog atau Apidra) yang berkesinambungan, selain itu adalah dengan berolahraga secukupnya serta melakukan pengontrolan menu makanan (diet).
Pada penderita diabetes mellitus tipe 2, penatalaksanaan pengobatan dan penanganan difokuskan pada gaya hidup dan aktivitas fisik. Pengontrolan nilai kadar gula dalam darah adalah menjadi kunci program pengobatan, yaitu dengan mengurangi berat badan, diet, dan berolahraga. Jika hal ini tidak mencapai hasil yang diharapkan, maka pemberian obat tablet akan diperlukan. Bahkan pemberian suntikan insulin turut diperlukan bila tablet tidak mengatasi pengontrolan kadar gula darah.

Aplikasi stem cell Untuk Pengobatan Diabetes Melitus

http://careandhealed.com/2010/03/proses-pencangkokan-sel-induk/
Prinsip metode pemanfaatan sel punca ialah mengekstraksi dan mengawetkan sel punca tersebut. Sel punca dapat bertahan hingga 15 tahun dalam masa pengawetan. Ketika sel punca akan digunakan, sel punca tersebut akan diinduksi dengan faktor pertumbuhan tertentu hingga berubah menjadi sel yang diinginkan. Faktor pertumbuhan bersifat spesifik. Proses pengawetan sel punca terbilang panjang karena sel-sel tersebut harus melewati serangkaian proses untuk menentukan status, apakah sel-sel itu benar sel punca. Penggunaan marker, zat kimia penanda sel, untuk mengetahui sifat sel sering digunakan, namun marker-marker tersebut bersifat spesifik terhadap sel punca yang digunakan. Penelitian lebih lanjut mengenai marker dibutuhkan untuk mempermudah proses pengawetan.
Beberapa hal yang membentur perkembangan penerapan sel punca di banyak negara ialah kode etik dalam mendapatkan sel punca. Banyak orang berpendapat bahwa suatu embrio harus dimatikan terlebih dahulu untuk mendapatkan sel puncanya, namun opini tersebut sebenarnya hanya disebabkan karena penjelasan mengenai sel punca tersebut amat minim. Menurut Ferry Sandra, Phd, salah satu pendiri Stem Cell and Cancer Institute, sel punca dapat diekstraksi tanpa mematikan embrio tersebut, karena embrio memiliki 8 sel yang tergolong dalam inner cell mass. Kultur sel punca dapat dilakukan hanya dengan satu sel saja, yang kemudian apabila sel telah berhasil di kultur, sel dapat dikembalikan ke embrio tersebut.
Pencangkokan sel punca beresiko karena sel darah putih si penerima telah dihancurkan atau berkurang jumlahnya oleh kemoterapi atau radiasi terapi. Akibatnya, resiko infeksi sangat tinggi untuk sekitar 2 sampai 3 minggu sampai sel punca yang didonasikan bisa menghasilkan sel darah putih yang cukup untuk melindungi dari infeksi.
Masalah lain adalah bahwa sumsum tulang yang baru diperoleh dari orang lain bisa menghasilkan sel yang menyerang sel si penerima, menyebabkan penyakit graft-versus-host. Selanjutnya, gangguan semula bisa terulang.
Resiko infeksi bisa dikurangi dengan menjaga penerima donor di ruang isolasi untuk jangka waktu tertentu (sampai sel yang dicangkokkan mulai menghasilkan sel darah). selama waktu ini, anggota staff dan pengunjung harus menggunakan penutup muka dan baju panjang dan mencuci tangan mereka secara menyeluruh sebelum memasuki ruang tersebut. antibody yang diisolasi dari danar pendonor kemungkinan diberikan secara infus kepada penerima untuk membantu melindungi dari infeksi. Faktor pertumbuhan, yang merangsang produksi sel darag, bisa membantu mengurangi resiko infeksi dan penyakit graft-versus-host.
Penerima cangkok punca sel biasanya tetap tinggal di rumah sakit untuk 1 sampai 2 bulan. Setelah keluar dari rumah sakit, kujungan lanjutan diperlukan pada jarak yang teratur. Kebanyakan orang memerlukan setidaknya 1 tahun untuk sembuh.
Pada diabetes tipe I sel pankreas beta yang mensekresi insulin mengalami kerusakan oleh faktor genetik, lingkungan dan imunologik. Akibatnya terjadi defisiensi insulin dan menyebabkan hiperglikemi. Transplantasi seluruh organ pankreas kadaver dapat menyembuhkan penderita. Tetapi jumlah kadaver sangat sedikit dan obat imunosupresi yang dibutuhkan untuk mencegah reaksiimunologik menimbulkan banyak efek samping. Transplantasi sel stem merupakan alternatif baik dan telah menunjukkan hasil positif pada mencit. Tetapi masih banyak kendala yang harus diatasi supaya penggunaan sel stem untuk menyembuhkan pasien diabetes tipe I dapat  terlaksana. stem sel dewasa tersebut memproduksi baik C-peptida, bagian dari protein pelopor insulin, dan insulin itu sendiri. Keberadaan C-peptida ini terutama penting sekali, karena walaupun insulin tersebut ditemukan dalam media pertumbuhan ini dimana sel-sel ini dipelihara dan sering diambil oleh sel lain, keberadaan C-peptida membuktikan bahwa setidaknya beberapa insulin telah diproduksi, atau disintesis, oleh sel-sel yang telah terbentuk.
(http://www.cellsafeindonesia.com/stemcell_news10.htm)
Resiko-Resiko Penggunaan Stem Cell(Sel Punca)
Ada beberapa resiko yang perlu dicermati.
•    Manfaat akan terasa lebih saat sel induk yang diterima ternyata memang cocok. Akan lain ceritanya jika sel induk yang diterima tidak cocok. Akan muncul penyakit baru yang disebut Graft versus Host Disease (GvHD). Sumsum tulang yang baru menghasilkan sel-sel aktif yang menyerang sel tubuh penerima donor.
•    Risiko kontaminasi virus. Jika prosedur pengambiian sel induk kurang bersih, resiko terjangkit oleh virus sangat besar. Sumsum merupakan tempat memproduksi darah, sehingga harus dipastikan sterilitas alat dan ruangan.
•    Prosedur pencarian donor sel induk memakan waktu lama. Ini untuk menghindari kemungkinan terjadinya ketidakcocokan antara donor dan resipien. Belum lagi uji kekebalan tubuh resipien sebelum dilakukannya transplantasi. Baik pendonor maupun resipien terlebih dahulu akan diisolasi selama 3 minggu, sehinga sel induk bisa menghasilkan sel darah putih untuk melindunginya dari infeksi. Selama isolasi, petugas medis dan pengunjung harus menggunakan penutup muka dan baju panjang kala datang ke ruang isolasi. Mereka juga harus mencuci tangan secara menyeluruh sebelum memasuki ruangan tersebut. Setelah menerima cangkokan sel induk, resipien harus tetap tinggal di rumah sakit selama 1-2 bulan, dan jika keluar dari rumah sakit mereka harus tetap berkunjung secara teratur selama 1 tahun.
•    Biaya mahal, tentu saja. Dengan gambaran prosedur di atas, mungkin Anda bisa membayangkan kira-kira berapa biaya yang pantas untuk perawatan intensif semacam itu.
Kajian Islam
Dipandang dari sudut agama, pencangkokan stem cell (sel punca) pada sel tubuh manusia memliki banyak manfaat dikarenakan dapat mencegah terjadinya penyakit dan menyembuhkan beberapa penyakit, diantaranya adalah jantung, parkinson, leukimia, diabetes melitus, ginjal, HIV, kanker otak, kanker payudara, dll. Allah berfirman dalam QS: Al-Hijr ayat 20


Artinya :
Dan Kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup, dan (Kami menciptakan pula) makhluk-makhluk yang kamu sekali-kali bukan pemberi rezki kepadanya (QS. Al-Hijr ayat 20).
Maksud dari ayat diatas adalah bahwa Allah Azza Wa Jalla telah menciptakan segala sesuatu di bumi yang menjadi kebutuhan umat-Nya, dan Allah lah yang telah mengatur semuanya.
Selain itu Allah telah menciptakan sesuatu yang sangat bermanfaat bagi umat manusia yang telah ada di bumi. Allah telah menentukan seberapa besar manfaatnya, dan bagaimana cara penggunaanya, serta Allah menentukan ukurannya, meskipun itu hal yang kecil dan terkecil sekalipun.
Hal ini tersurat dalam Al-Qur’an Surat Al-Furqan ayat 2:

Artinya:
yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagiNya dalam kekuasaan(Nya), dan dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.
Maksud dari ayat diatas adalah segala sesuatu yang dijadikan Allah diberinya perlengkapan-perlengkapan dan persiapan-persiapan, sesuai dengan naluri, sifat-sifat dan fungsinya masing-masing dalam hidup.

DAFTAR PUSTAKA
Boenjamin Setiawan, Aplikasi Terapeutik Sel Stem Embrionik Pada BerbagaiPenyakit Degeneratif, Cermin Dunia Kedokteran,  2006
Keputusan Menteri kesehatan Republik Indonesia Nomor 159/Menkes/SK/II/2009, Penunjukan Rumah Sakit Umum Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo JakartaSebagai Pusat Penelitian, Pengembangan dan Pelayanan Medis Sel Punca
Lawrence S.B. Goldstein and Meg Schneider, Stem Cells For D ummies, 2010, WileyPublishing, Indianapolis, Indiana.
Merancang Ulang Sel Punca, http://nasional.kompas.com, Juni 2009
http://id.wikipedia.org/wiki/Sel_punca
http://stemcells.nih.gov/info/basics/
Saputra, Virgi.
Nurlisa, Purnamawati. 2010. DASAR DASAR SEL PUNCA(STEM CELL) DAN PENGGUNAANNYA DALAM PENGOBATAN PENYAKIT. http://www.scribd.com/doc/76627588/DASAR-DASAR-SEL-PUNCA-STEM-CELL-DAN-PENGGUNAANNYA-DALAM-PENGOBATAN-PENYAKIT.

Anonymou,2008.http://www.infopenyakit.com/2008/03/penyakit-diabetes-mellitus-dm.html Anonymous, 2010. http://careandhealed.com/2010/03/proses-pencangkokan-sel-induk/ http://id.wikipedia.org/wiki/Sel_punca
http://medicastore.com/penyakit/3233/Transplantasi_Sel_Punca_Stem_Cell.htm
http://id.wikipedia.org/wiki/Sel_punca_dewasa
http://careandhealed.com/2010/03/proses-pencangkokan-sel-induk/
http://www.cellsafeindonesia.com/stemcell_news10.htm

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: