REKAYASA GENETIKA DAN KLONING GEN DALAM PROSES PEMBUATAN VAKSIN POLIO

 

GENETIC ENGINEERING AND MANUFACTURING PROCESS GENE CLONING IN POLIO VACCINE

Dwi Rahmawati, DR.H.Moch. Agus Krisno B, M.Kes.

Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Muhammadiyah Malang Jl. Tlogomas 246 Malang Telp 464318

Abstract

Poliomyelitis is a disease paralysis caused by the polio virus. The virus that causes polio, polio virus (PV), enters the body through the mouth, infecting the intestinal tract. Polio virus can enter the blood stream and flows into the central nervous system, causing muscle weakness and sometimes paralysis. Polio virus is spread through contact between people. Polio can spread quietly because most people with polio have no symptoms so do not know if they them selves are suffering from polio. Many found the vaccine to prevent polio, the manufacture of the vaccine could bedone by  genetics engineering and gene cloning.

Molecular Biotechnology offers a new way to manipulate living organisms. The development of cutting edge technology coupled with developments biochemistry and molecular biology enzymes delivery technology and genetic engineering. Gene cloning is a technique to produce multiple copies of a single gene, chromosome, orthe whole individual. Clones derived from the Greek word for twig. Non-reproductive tissues used for cloning whole individuals.

 

Key words : genetics engineering, gene cloning, poliomyelitis,

Abstrak

            Poliomielitis (polio) adalah penyakit paralisis (lumpuh) yang disebabkan virus polio. Virus penyebab polio, poliovirus (PV), masuk ke tubuh melalui mulut, menginfeksi saluran usus. Virus polio dapat memasuki aliran darah dan mengalir ke sistem saraf pusat, menyebabkan melemahnya otot dan kadang kelumpuhan (paralisis). Virus polio menular melalui kontak antar manusia. Polio dapat menyebar luas diam-diam karena sebagian besar penderita polio tidak memiliki gejala sehingga tidak tahu kalau mereka sendiri sedang mengidap polio. Akhirnya banyak ditemukan vaksin untuk mencegah penyakit polio tersebut, pembuatan vaksin tersebut bisa dilakukan dengan cara rekyasa genetika dan kloning gen.

            Bioteknologi molekuler menawarkan cara baru untuk memanipulasi organisme hidup. Perkembangan teknologi mutakhir diiringi dengan perkembangan dibidang biokimia dan biologi molekuler melahirkan teknologi enzim dan rekayasa genetika. Kloning gen merupakan suatu teknik untuk menghasilkan banyak salinan dari satu gen tunggal, kromosom, atau keseluruhan individu. Klon (clone) berasal dari kata Yunani yang berarti ranting. Jaringan-jaringan non reproduktif digunakan untuk pengklonan keseluruhan individu.

                         

PENDAHULUAN

Poliomielitis adalah penyakit menular yang masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius di Indonesia. Wabah poliomielitis pertama kali dilaporkan pada tahun 1948 di Billiton dan berturut-turut sampai dengan tahun 1958 di beberapa kota di Indonsia seperti di Balikpapan, Surabaya, Malang, Sidoarjo, Semarang, Yogyakarta, Plaju dan Bangka. Pada waktu itu fasilitas laboratorium di Indonesia belum ada sehingga konfirmasi diagnosis secara pasti dan identifikasi serotipe virus polio penyebab wabah belum dapat diketahui. Survei kelumpuhan akibat poliomielitis dimulai di Indonesia pada tahun 1971 oleh Direktorat Jenderal PPM & PLP, sedangkan survei serologi dan virologi sudah dimulai sejak tahun 1959 oleh PN Bio Farma Bandung.

Virus polio menyerang dan menyebabkan kelumpuhan dan akibatnya menjadi wabah yang menyerang anak-anak. Untuk mencegah polio mewabah, makanya dilakukan PIN (Pekan Imunisasi Nasional) dengan memberikan vaksin polio pada anak-anak secara merata. PIN ini diperlukan agar tidak ada anak yang terlewat diimunisasi yang dikhawatirkan nanti akan membawa virus polio di lingkungannya.

 Seiring berkembangnya ilmu genetika dan ditemukannya gen, maka manusia pun memiliki alternatif lain yang lebih efektif yaitu melalui teknik rekayasa genetika (Genetic Engineering) yaitu dengan cara melakukan perubahan langsung pada DNA. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan teknologi DNA rekombinan.

Teknologi yang dikenal sebagai teknologi DNA rekombinan, atau dengan istilah yang lebih populer rekayasa genetika, ini melibatkan upaya perbanyakan gen tertentu di dalam suatu sel yang bukan sel alaminya sehingga sering pula dikatakan sebagai kloning gen. Banyak definisi telah diberikan untuk mendeskripsikan pengertian dari teknologi DNA rekombinan. Salah satu pengertian yang mungkin paling representatif, menyebutkan bahwa teknologi DNA rekombinan adalah pembentukan kombinasi materi genetik yang baru dengan cara penyisipan molekul DNA ke dalam suatu vektor sehingga memungkinkan untuk terintegrasi dan mengalami perbanyakan di dalam suatu sel organisme lain yang berperan sebagai sel inang.

Pada tahun 1947, Jonas Salk bekerja sama dengan National Foundation of Infantile Paralysis berupaya untuk mencari vaksin polio. Soalnya saat itu wabah polio sedang menyerang Negara Amerika Serikat dan menyebabkan puluhan ribu anak menjadi lumpuh karena penyakit ini.  Setelah delapan tahun melakukan penelitian, akhirnya pada tanggal 12 April 1955, Jonas Salk mengumumkan bahwa dia berhasil menemukan vaksin yang dinilai efektif mencegah penyakit polio.

Imunisasi adalah pemberian vaksin berisi kuman yang mati atau yang sudah dilemahkan dengan tujuan agar badan membentuk antibodi untuk melawan jenis kuman yang diberikan tersebut. Tujuan imunisasi  adalah untuk melindungi anak dari penyakit, secara tidak langsung juga melindungi lingkungannya dari penyakit. Tujuan akhirnya adalah menghilangkan penyakit yang disebabkan oleh kuman tersebut.

Program Imunisasi Polio untuk mencegah meluasnya wabah poliomielitis di Indonesia telah dilaksanakan mulai tahun 1980. Akan tetapi cakupannya masih sangat rendah yaitu kurang dari 10%, dan sampai saat ini cakupan nasional immunisasi polio untuk pemberian vaksinasi yang ketiga juga masih rendah yaitu hanya 46%, dan untuk daerah-daerah tertentu seperti di Maluku, Sulawesi Tengah dan Kalimantan Barat cakupannya masih di bawah 25%2. Masalah yang selalu timbul dalam melaksanakan program immunisasi polio adalah biaya operasional dan biaya pembelian vaksin yang sangat tinggi karena luasnya daerah Indonesia dan banyaknya jumlah anak yang harus divaksinasi,di samping itu juga pemberian vaksinasi dengan 3 kali dosis mengakibatkan drop out yang cukup tinggi (36%). Oleh karena itu untuk lebih menghemat biaya dan tenaga, perlu dipikirkan pemberian vaksinasi polio dengan 2 kali dosis saja.

Cakupan imunisasi rendah sekali pada awal program imunisasi polio, karena menurut Departemen Kesehatan, pada tahun 1980 belum satupun puskesmas di Indonesia yang imunisasi antigen viral, pada tahun 1981 baru sekitar 3% serta pada tahun .1983 hanya 8% puskesmas yang rnampu rnelaksanakan vaksinasi antigen viral. Pada akhir 1986 sudah 96% dad 5.553 puskesmas melakukan vaksinasi antigen viral dan diharapkan pada akhir tahun 1988 sudah semua puskesmas.

Pada awal program imunisasi polio (1980), cakupannya masih sedemikian rendah yaitu sekitar 47.000 anak (0,9%) untuk dosis 1 kali, 32.000 (0,6%) untuk dosis 2 kali dan 11.000 anak (0,2%) untuk dosis 3 kali. Sampai akhir tahun Keberhasilan peningkatan cakupan imunisasi adalah cermin dari hasil kerjasama vertikal dan intersektoral yang baik. Departemen Kesehatan dari tingkat pusat sampai kabupaten-kabupaten di seluruh Indonesia, didukung oleh 5.553 puskesmas dan sekitar 200.000 posyandu, bekerja sama dengan jajaran Departemen Dalam Negeri dari tingkat pusat sampai tingkat pemerintahan desa. Cakupan imunisasi polio lengkap tertinggi dicapai oleh Propinsi Bengkulu yaitu 70% dan kenaikan cakupan imunisasi polio lengkap Propinsi Jambi naik 52% (6% pada tahun 1985 menjadi 5’8% pada tahun 1986).

REKAYASA GENETIKA

            Perkembangan bioteknologi secara drastis terjadi sejak ditemukannya struktur helik ganda DNA dan teknologi DNA rekombinan di awal tahun 1950-an. Ilmu pengetahuan telah sampai pada sesuatu yang memungkinkan orang untuk memanipulasi suatu organisme di taraf seluler dan molekuler. Bioteknologi mampu melakukan perbaikan galur dengan cepat dan dapat diprediksi, juga dapat merancang galur dengan bahan genetika tambahan yang tidak pernah ada pada galur asalnya. Memanipulasi organisme hidup untuk kepentingan manusia bukan merupakan hal yang baru.

            Bioteknologi molekuler menawarkan cara baru untuk memanipulasi organisme hidup. Perkembangan teknologi mutakhir diiringi dengan perkembangan dibidang biokimia dan biologi molekuler melahirkan teknologi enzim dan rekayasa genetika. Rekayasa genetika menandai dimulainya era bioteknologi modern. Penemuan struktur double heliks DNA oleh Watson dan Cricks (1953) telah membuka jalan lahirnya bioteknologi modern dalam bidang rekayasa genetika yang merupakan prosedur dasar dalam menghasilkan suatu produk bioteknologi. Tahap-tahap penting berikutnya adalah serangkaian penemuan enzim restriksi (pemotong) DNA, regulasi (pengaturan ekspresi) gen (diawali dari penemuan operon laktosa pada prokariota), perakitan teknik PCR, transformasi genetik, teknik peredaman gen (termasuk interferensi RNA), dan teknik mutasi terarah (seperti Tilling).

            Beberapa tahapan yang digunakan dalam rekayasa genetika yaitu: isolasi DNA, manipulasi DNA, perbanyakan DNA dan visualisasi hasil manipulasi DNA, DNA rekombinan, dan Kloning Gen.

KLONING GEN

            Kloning merupakan suatu teknik untuk menghasilkan banyak salinan dari satu gen tunggal, kromosom, atau keseluruhan individu. Klon (clone) berasal dari kata Yunani yang berarti ranting. Jaringan-jaringan non reproduktif digunakan untuk pengklonan keseluruhan individu. Secara alami, seringkali proses kloning terjadi. Misalnya pada tanaman yang mampu berkembang biak secara vegetatif yaitu mampu menghasilkan tanaman baru dari tuber (umbi). Dalam hal ini, tanaman tersebut bisa dikatakan mengalami proses kloning.

            Kloning juga terjadi karena pengaruh atau campur tangan manusia. Pada jaringan atau mikropropagasi merupakan salah satu cara perbanyakan tanaman dengan menempatkan sejumlah kecil sel yang berasal dari tanaman induk yang kemudian ditumbuhkan dalam medium kaya nutrien yang mengandung beberapa hormon pertumbuhan.

            Pada saat melakukan pengklonan suatu DNA asing atau DNA yang diinginkan atau DNA sasaran harus memenuhi hal-hal sebagai berikut:

  1. DNA plasmid vektor harus dimurnikan dan dipotong dengan enzim yang sesuai sehingga terbuka.
  2. DNA yang akan disisipkan ke molekul vektor untuk membentuk rekombinan buatan harus dipotong dengan enzim yang sama.
  3. Reaksi pemotongan dan penggabungan harus dipantau dengan menggunakan elektroforesis gel.
  4. Rekombinan buatan harus ditransformasikan atau ke vektor lainnya.

            Tahapan proses kloning DNA adalah melakukan isolasi DNA plasmid dan DNA target. Kemudian dengan menggunakan enzim restriksi untuk memotong DNA sehingga diperoleh fragment DNA target. Selanjutnya DNA target disisipkan pada plasmid dan ditransformasikan ke dalam sel inang. Hasilnya akan diperoleh bakteri yang mengandung DNA rekombinan dan ada pula bakteri yang tidak mengalami proses transformasi.

Kloning yang dilakukan terhadap hewan maupun pada tumbuhan, jika memiliki daya guna bagi kehidupan manusia maka hukumnya mubah/boleh. Hal ini tercantum dalam surat Al-Baqarah ayat 29 yang artinya “Dia –lah Allah yang menjadikan segala yang ada dibumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu di jadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia maha mengetahui segala sesuatu.”

POLIO

            Poliomielitis (polio) adalah penyakit paralisis (lumpuh) yang disebabkan virus polio. Virus penyebab polio, poliovirus (PV), masuk ke tubuh melalui mulut, menginfeksi saluran usus. Virus polio dapat memasuki aliran darah dan mengalir ke sistem saraf pusat, menyebabkan melemahnya otot dan kadang kelumpuhan (paralisis).

            Polio bisa menyebabkan nyeri otot dan kelumpuhan pada salah satu maupun kedua lengan/tungkai. Polio juga bisa menyebabkan kelumpuhan pada otot-otot pernafasan dan otot untuk menelan. Polio bisa menyebabkan kematian.

 1.  Virus Polio

            Polio virus adalah virus RNA kecil yang terdiri atas tiga strain berbeda dan amat menular. Virus polio menyerang sistem saraf dan kelumpuhan dapat terjadi dalam hitungan jam. Polio menyerang tanpa mengenal usia, lima puluh persen kasus polio terjadi pada anak berusia antara 3 hingga 5 tahun. Masa inkubasi polio dari gejala pertama berkisar dari 3 hingga 35 hari.

            Polio dikategorikan sebagai penyakit peradaban. Virus polio menular melalui kontak antar manusia. Polio dapat menyebar luas diam-diam karena sebagian besar penderita polio tidak memiliki gejala sehingga tidak tahu kalau mereka sendiri sedang mengidap polio. Virus polio masuk ke dalam tubuh melalui mulut ketika seseorang memakan makanan atau minuman yang terkontaminasi feses. Setelah seseorang terinfeksi polio, virus polio akan keluar melalui feses penderita polio selama beberapa minggu dan saat itulah dapat terjadi penularan virus polio.

 2.  Jenis Polio

a)  Polio non-paralisis menyebabkan demam, muntah, sakit perut, lesu, dan sensitif. Terjadi kram otot leher dan punggung, otot terasa lembek jika disentuh.

b)  Polio paralisis spinal, Strain poliovirus paralisis spinal menyerang saraf tulang belakang, menghancurkan sel tanduk anterior yang mengontrol pergerakan batang tubuh dan otot tungkai. Meskipun strain ini dapat menyebabkan kelumpuhan permanen, kurang dari satu dari 200 penderita polio paralisis spinal akan mengalami kelumpuhan. Pada penderita polio paralisis spinal yang tidak memiliki kekebalan atau belum divaksinasi, virus polio biasanya akan menyerang seluruh bagian batang saraf tulang belakang dan batang otak. Infeksi polio akan mempengaruhi sistem saraf pusat menyebar sepanjang serabut saraf. Seiring dengan berkembang biaknya virus polio dalam sistem saraf pusat, virus akan menghancurkan saraf motorik. Saraf motorik tidak memiliki kemampuan regenerasi dan otot yang berhubungan dengannya tidak akan bereaksi terhadap perintah dari sistem saraf pusat.

c)  Polio bulbar disebabkan tidak adanya kekebalan alami sehingga batang otak ikut terserang polio. Batang otak mengandung syaraf motorik yang mengatur pernapasan dan saraf kranial, yang mengirim sinyal ke berbagai syaraf yang mengontrol pergerakan bola mata, saraf trigeminal dan saraf muka yang berhubungan dengan pipi, kelenjar air mata, gusi, dan otot muka, saraf auditori yang mengatur pendengaran, saraf glossofaringeal yang membantu proses menelan dan berbagai fungsi di kerongkongan; pergerakan lidah dan rasa, dan saraf yang mengirim sinyal ke jantung, usus, paru-paru, dan saraf tambahan yang mengatur pergerakan leher.

 3.  Vaksin Polio

            Dalam proses imunisasi polio, ada dua macam vaksin yang digunakan, yaitu IPV (inactivated poliovirus vaccine) dan OPV (oral poliovirus vaccine). Kedua jenis vaksin ini berasal dari virus polio yang dikulturkan pada sel Vero yang berasal dari Monkey kidney dan keduanya mengandung vaksin virus polio serotype 1, 2, dan 3. Tipe 1 (brunhilde), tipe 2 (lanzig) dan tipe 3 (Leon). Tipe 1 seperti yang telah ditemukan merupakan tipe yang paling ganas (paralitogenik) dan sering menyebabkan kejadian luar biasa atau wabah. Sedangkan tipe 2 paling jinak. Perbedaan kedua vaksin ini adalah, kalau IPV merupakan virus yang sudah dinonaktifkan (inactivated) dengan formaldehyde, sehingga sifat virusnya hilang termasuk sifat perkembang biakannya, sedangkan OPV adalah virus yang masih hidup.

            Pada IPV, yang berfungsi sebagai vaksin (antigen) adalah protein-protein dari virus tersebut, terutama protein kapsid (capsid protein) yang mengandung gugusan epitop antigen (antigenic epitope). Berlawanan dengan IPV, OPV adalah virus yang masih hidup dan mempunyai kamampuan untuk berkembang biak, tetapi hampir tidak bersifat patogen karena sifat patogennya sudah dilemahkan. Oleh karena itu OPV juga dinamakan live-attenuated poliovirus vaccine.

            Pada OPV yang berfungsi sebagai antigen adalah virus itu sendiri. Karena OPV mampu berkembang biak, setelah vaksinasi, virus akan berkembang biak di usus penerima vaksin (resepien) dan menyebar ke seluruh tubuh melalui saluran darah. Oleh karena itu, OPV akan membuat daya imun yang lama dan bahkan dikatakan bisa untuk seumur hidup. Selain itu, virus yang terekresi oleh resepien akan terinfeksi kepada orang-orang yang berhubungan dengan resepien, dan otomatis berkembang biak dan memberi daya imun terhadap orang-orang tersebut.

            Sebagaimana Firman Allah dalam surat Asy syuura ayat 30 yang artinya “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)”

 4.  REKAYASA GENETIKA DAN KLONING GEN DALAM PROSES PEMBUATAN VAKSIN POLIO

            Mikroorganisme tertentu memiliki kemampuan menghasilkan suatu produk untuk menyembuhkan penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme lain atau penyakit karena gangguan fisiologis. Dua produk yang erat kaitannya dengan dengan mikroorganisme adalah vaksin dan antibiotik.

            Cara yang dilakukan dengan memasukan mikroorganisme yang dilemahkan ke dalam tubuh manusia untuk memberikan kekebalan (antibodi) terhadap mikroorganisme berbahaya disebut vaksinasi. Bakteri atau virus penyebab penyakit pada umumnya memiliki permukaan protein yang khusus. Dengan penyisipan gen dihasilkan copy salinan dari permukaan tersebut. Salinan permukaan protein tersebut kemudian digunakan untuk memvaksin.

 

Gambar Tahapan sintesis vaksin yang direkayasa secara genetika

sumber: http://www.biology- online.org

          Pada pembuatan Vaksin Polio Inaktif (IPV). Virus polio dikembangbiakkan menggunakan sel vero (berasal dari ginjal kera) sebagai medianya. Proses produksi vaksin ini melalui lima tahap, yaitu:

  1. penyiapan medium (sel vero) untuk pengembangbiakan virus.
  2. penanaman virus.
  3. pemanenan virus (menggunakan tripsin).
  4. pemurnian virus dari tripsin.
  5. inaktivasi / atenuasi virus.

            Penyiapan media (sel vero) untuk pembiakan virus dilakukan dengan menggunakan mikrokarier, yaitu bahan pembawa yang akan mengikat sel tersebut. Bahan tersebut adalah N,N diethyl amino ethyl (DEAE). Selanjutnya sel vero ini harus dilepaskan dari mikrokarier dengan menggunakan enzim tripsin yang berasal dari babi.

            Langkah selanjutnya adalah pembuangan larutan nutrisi. Hal ini dilakukan dengan proses pencucian menggunakan larutan PBS buffer. Larutan ini kemudian dinetralkan dengan larutan serum anak sapi (calf serum). Larutan yang tidak digunakan tadi dibuang atau menjadi produk samping yang digunakan untuk keperluan lain.

            Sel-sel vero yang sudah dimurnikan dan dinetralisasi itu kemudian ditambahkan mikrokarier yang baru, dan ditempatkan pada bioreaktor yang lebih besar. Di dalamnya ditambahkan zat nutrisi yang sedikit berbeda untuk menumbuhkan sel vero dalam jumlah yang lebih besar. Sel vero yang sudah berlipat ganda jumlahnya ini kemudian dilepaskan lagi dari mikrokariernya dengan menggunakan tripsin babi lagi. Berlangsung berulang-ulang sampai dihasilkan sel vero sesuai banyak yang diinginkan.

            Sebenarnya dalam setiap tahap amplifikasi sel, tripsin harus dicuci bersih karena tripsin akan menyebabkan gangguan saat sel vero menempel pada mikrokarier. Lewat pencucian atau pemurnian ini, produk vaksin yang dihasilkan bersih dari sisa tripsin. Jadi tripsin hanya dipakai sebagai bahan penolong dalam proses pembuatan vaksin.

            Seperti yang telah dijelaskan diatas tripsin hanya dipakai sebagai enzim proteolitik (enzim yang digunakan sebagai katalisator pemisah sel/protein), Pada hasil akhirnya (vaksin), enzim tripsin yang merupakan unsur turunan dari pankreas babi ini tidak terdeteksi lagi. Enzim ini akan mengalami proses pencucian, pemurnian dan penyaringan. ”Hingga jejaknya pun tidak terlihat lagi”. Namun karena sudah tersentuh unsur haram dan najis, status kehalalan vaksin jadi bermasalah.

            Dalam surat di atas yaitu, Q.S Al-Baqarah ayat 173 dijelaskan bahwa “barang siapa yang yang dalam keadaan terpaksa, sedang ia tidak menginginkan dan tidak pula melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Seseungguhnya Allah Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang”.dari petikan ayat diatas dapat disimpulkan bahwa dalam proses pembuatan vaksin polio yang menggunakan tripsin babi sebagai enzim proteolitik diperbolehkan jika dalam keadaan mendesak.

 KESIMPULAN

Seiring berkembangnya ilmu genetika dan ditemukannya gen, maka manusia pun memiliki alternatif lain yang lebih efektif yaitu melalui teknik rekayasa genetika (Genetic Engineering) yaitu dengan cara melakukan perubahan langsung pada DNA. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan teknologi DNA rekombinan.

            Teknologi yang dikenal sebagai teknologi DNA rekombinan, atau dengan istilah yang lebih populer rekayasa genetika, ini melibatkan upaya perbanyakan gen tertentu di dalam suatu sel yang bukan sel alaminya sehingga sering pula dikatakan sebagai kloning gen.

            Polio virus adalah virus RNA kecil yang terdiri atas tiga strain berbeda dan amat menular. Virus polio menyerang sistem saraf dan kelumpuhan dapat terjadi dalam hitungan jam. Polio menyerang tanpa mengenal usia, lima puluh persen kasus polio terjadi pada anak berusia antara 3 hingga 5 tahun. Masa inkubasi polio dari gejala pertama berkisar dari 3 hingga 35 hari. Pentingnya pembuatan vaksin untuk mengatasi masalah penyebaran virus polio tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

 

Anonimous. 2010. Proses pembuatan vaksin. (online).http://kiatsehat2010.blogspot.com/2010/09/bagaimana-vaksin-dibuat.html Di akses tanggal 1 januari 2012

Anonimous.2010.Biotekhnologi.(online).http://biologigonz.blogspot.com/2010/02/bioteknologi-konvensional-modern.html Di akses tanggal 1 januari 2012

Anonimous.2010. Virus Mematikan.(online).http://www.kelas-mikrokontrol.com/jurnal/iptek/bagian-2/mutasi-virus-mematikan.html Di akses tanggal 1 januari 2012

Anonimous. 2011. Rekayasa Produk Vaksin Virus dalam Kehidupan.(online).https://aguskrisnoblog.wordpress.com/2011/01/12/rekayasa-produk-vaksin-virus-dalam-kehidupan-sehari-hari/ Di akses tanggal 1 januari 2012

Djoko Yuwono, Gendrowahyuhono, Bambang Heriyanto, Suharyono Wuryadi.1990. Pengamatan Potensi Vaksin Polio yang Dipakai dalam Pengembangan Program Imunisasi di Indonesia. Pusat Penelitian Penyakit Menular, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Departemen Kesehatan R.I., Jakarta

Gendrowahyuhono.1991. Penelitian Vaksinasi Polio di Indonesia. Pusat Penelitian Penyakit Menular Badan Penelitian dan PengembanganKesehatan,Departemen Kesehatan R.I. Jakarta

Rahardjo, Eko. 1990. Imunisasi Polio dan Permasalahannya. Pusat PenelitianPenyakitMenular Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan R.I., Jakarta

Susilowarno, G. dkk., 2007. Biologi SMA/MA Kelas XII. Jakarta : PT. Grasindo

Usman Suwandi.1991. Perkembangan Pembuatan Vaksin. Pusat Penelitian dan Pengembangan, PT. Kalbe Farma Jakarta

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: