PEMANFAATAN TEKNOLOGI GENETIKA UNTUK PENINGKATAN PRODUKSI KEDELAI

PEMANFAATAN TEKNOLOGI GENETIKA UNTUK PENINGKATAN

PRODUKSI KEDELAI

 

Kurniawan Setia Putra, DR.H. Moch. Agus Krisno Budiyanto, M.Kes.

 Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Muhammadiyah Malang

THE BENEFIT OF GENETIC TECHNOLOGY FOR INCREASING

THE PRODUCTION OF SOYABEAN

Abstract

 

Soybean is a food and feed ingredients is very important for Indonesia. Each year an Indonesian import soybeans because national production can not meet the need. The application of genetic technology has its advantages and special advantages because it does not require large capital, raw materials available in nature, the technology easy to master, and not cause waste that pollute the environment. The application of genetic technology to soybean production is expected in the future can produce superior bervarietas soy products and can meet the needs of the community will be soybeans. And able to meet the targeted production of soybean 60% of national needs and in 2015 Indonesia has been 100% self-sufficient in soybeans

Key words: Genetic Technology, soybean

Abstrak

Kedelai merupakan bahan pangan dan pakan sangat penting bagi Indonesia. Setiap tahun 1 Indonesia mengimport kedelai karena produksi nasional tidak dapat mencukupi kebutuhan. Penerapan teknologi genetika memiliki keuntungan dan kelebihan khusus karena tidak memerlukan modal besar, bahan bakunya tersedia di alam, teknologinya mudah dikuasai, serta tidak menimbulkan limbah yang mencemari lingkungan. Penerapan teknologi genetika pada produksi kedelai diharapkan kedepan dapat menghasilkan produk kedelai bervarietas unggul dan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat akan kedelai. Serta ditargetkan produksi kedelai mampu mencukupi 60% kebutuhan nasional dan pada tahun 2015 Indonesia telah 100% swasembada kedelai.

Kata kunci : Teknologi Genetika, kedelai


Pendahuluan

Kedelai merupakan komoditas tanaman pangan terpenting ketiga setelah padi dan  jagung.Selain itu, kedelai juga merupakan tanaman palawija yang kaya akan protein, sehingga mempunyai peran yang sangat penting dalam industri pangan dan pakan. Kedelai merupakan salah satu sumber protein nabati yang paling banyak dikonsumsi masyarakat, karena harganya yang relatif terjangkau. Produksi kedelai beberapa tahun terakhir cenderung menurun, namun sejak tahun 2004 terlihat adanya peningkatan kembali (Tabel 1.1). Penurunan produksi ini, terutama sejak tahun 1992 antara lain disebabkan masuknya kedelai.

impor dengan harga murah dalam jumlah besar. Kondisi ini menyebabkan petani sulit bersaing dengan kedelai impor.

Tabel 1.1 Perkembangan luas panen, produktivitas dan produksi kedelai, 1968-2004

Tahun Luas Panen Produktivitas Produksi
(Ha) (+/- %) (Ku/Ha) (+/- %) (Ton) (+/- %)
196819781988

1992

1993

1994

1995

1996

1997

1998

1999

2000

2001

2002

2003

2004

2005

676.086733.1421.177.360

1.665.706

1.470.206

1.406.918

1.477.432

1.279.286

1.119.079

1.094.262

1.151.079

824.484

678.848

544.522

526.796

564.883

611.094

–60,50

21,74

-11,74

-4,30

5,01

-13,41

-12,52

-2,22

5,19

-28,37

-2,92

-19,80

-3,26

7,23

8,18

6,208,4110,79

11,22

11,62

11,22

11,37

11,86

12,13

11,93

12,01

12,34

12,18

12,36

12,75

12,80

12,95

–2,27

-1,23

3,57

-4,30

2,25

4,31

2,28

-1,65

0,67

2,75

-6,48

-1,50

3,16

0,39

1,17

419.173616.5991.270.418

1.869.713

1.708.528

1.564.847

1.680.007

1.517.181

1.356.891

1.304.950

1.382.848

1.017.634

826.932

673.056

671.600

723.199

791.587

-47,10106,04

20,20

-8,62

-8,41

7,36

-9,69

-10,56

-3,83

5,97

-26,41

-18,74

-18,60

-0,22

7,68

9,46

Sumber : BPS

Keterangan :        (+/-%) : Presentase peningkatan

*) : Angka Ramalan II BPS

Sebagai sumber protein yang murah, konsumsi kedelai akan semakin meningkat seiring dengan peningkatan jumlah penduduk.semakin meningkat seiring dengan peningkatan jumlah penduduk. Konsumsi kedelai saat ini rata-rata sekitar 8,97 kg/kapita/tahun, dan kebutuhan kedelai dalam negeri saat ini sekitar 1,95 juta ton. Selama periode 1988-1998, rata-rata impor kedelai Indonesia sekitar 300.000 -700.000 ton per tahun, namun sejak tahun 1999 hingga saat ini, ratarata impor kedelai Indonesia mengalami peningkatan hingga mencapai 1,1 juta – 1,3 juta ton per tahun.

Kalau pada tahun 2004 produksi dalam negeri hanya sebesar 723 ribu ton, maka masih diperlukan impor kedelai sebesar 1,15 juta ton (Tabel 1.2).

Tabel 1.2 Perkembangan kebutuhan, produksi dan impor kedelai tahun 1988-2004

Tahun

Kebutuhan

(ton)

Luas Panen

(Ha)

Produktivitas

(Ku/Ha)

Produksi

(Ton)

Impor

(Ton)

1988

1992

1998

1999

2000

2001

2002

2003

2004

1.189.038

1.563.845

1.648.074

1.842.526

1.863.775

1.881.174

1.902.865 1.924.804 1.947.000

564.883

1.665.706

1.094.262

1.151.079

824.484

673.845 544.522 526.796 564.883

12,80

11,22

11,93

12,01

12.34

12,18

12,36

12,75

12,80

723.199

1.869.713

1.304.950

1.382.848

1.017.634

826.932 673.056 671.600 723.199

465.839

694.132

343.124

1.301.755

1.277.683

1.136.419 1.365.253

1.192.717 1.115.793

Sumber : BPS

Kedelai merupakan bahan baku utama untuk pembuatan tahu, tempe dan kecap. Hasil kajian Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa sekitar 88 persen kebutuhan kedelai dalam negeri diserap oleh industry pengolahan tahu dan tempe. Kedelai juga merupakan bahan baku untuk industri pakan ternak (dalam bentuk bungkil kedelai), tauco, susu kedelai dan makanan ringan.

Tingginya kebutuhan kedelai tersebut mendorong perlu dilakukannya peningkatan produksi kedelai di Indonesia. Salah satu upaya yang dapat dilakukan yaitu dengan memanfaatkan lahan di bawah tegakan tanaman perkebunan, kehutanan,dan ditumpangsarikan dengan tanaman lainnya.  Penggunaan kedelai terus meningkat sejalan dengan pertambahan jumlah penduduk sertaper kembangan industri pakan dan pangan olahan kedelai sehingga produksi nasional tidak dapat mencukupi kebutuhan.            Sehubungan dengan permasalahan tersebut, upaya perbaikan tanaman kedelai  telah dilakukan oleh tim peneliti kedelai Departemen Agronomi dan Hortikultura, Institut Pertanian Bogor melalui kajian fisiologi, molekuler dan pemuliaan tanaman secara konvensional.  Perakitan varietas baru kedelai tahan naungan ini ditujukan untuk mensukseskan program revitalisasi pertanian dimana pada tahun 2010 ditargetkan produksi kedelai mampu mencukupi 60% kebutuhan nasional dan pada tahun 2015 Indonesia telah 100% swasembada kedelai.

Pada awal tahun 1990-an terdapat 2 juta ha lebih lahan sawah yang diberakan pada musim kemarau dan 5 juta ha lebih lahan kering yang belum diusahakan untuk tanaman pangan.  Dari lahan-lahan tersebut pasti terdapat areal yang sesuai untuk usaha tani kedelai. Sebagai negara dengan konsumsi kedelai yang terus meningkat, areal panen kedelai di Indonesia relative sangat kecil dibandingkan negara-negara penghasil kedelai, seperti Amerika Serikat (25 juta ha), Cina (8 juta ha), Brasil (9 juta ha), dan Argentina (4 juta ha).

Guna mencapai kecukupan dan keamanan penyediaan kedelai hingga awal abad ke-21, Indonesia perlu memiliki luas areal panen kedelai minimal 2 juta ha dengan total produksi 3 juta ton/tahun. Sejak tahun 1970-an, penelitian perbaikan varietas kedelai mulai ditangani lebih intensif. Persilangan lebih banyak dibuat, dan seleksi terhadap varietas lokal dihentikan. Galur-galur yang terpilih diuji di sentra produksi kedelai bekerja sama dengan Direktorat Produksi Tanaman Pangan. varietas-varietas tersebut memiliki keunggulan dibandingkan dengan varietas unggul lama, terutama dari segi potensi hasil, pengurangan umur panen, toleransi terhadap penyakit karat, adaptasi terhadap lingkungan spesifik, serta kualitas biji.


Hasil Perbaikan Genetik Kedelai

 

Perbaikan varietas kedelai di Indonesia telah dimulai sejak tahun 1915 (Somaatmadja 1985). Langkah yang dilaksanakan pada saat itu adalah melakukan koleksi varietas lokal dan mengintroduksi varietas dari Cina, Manchuria, Taiwan, Jepang, dan  Negara lain, yang diikuti dengan  seleksi massal dan seleksi galur murni. Pada saat ini terdapat 18 varietas unggul kedelai Varietasvarietas tersebut umumnya mempunyai daya hasil tinggi (2-2,6t/ha). Varietas yang sudah dilepas tersebut pada umumnya berumur genjah sampai sedang (75-95 hari). Dari 18 varietas yang telah dilepas tersebut, 10 varietas berukuran biji besar (13,5-18,5 g/100 biji) dan 8 varietas mempunyai ukuran biji sedang (10-11,2g/100 biji).

 


 

 

 

Tabel 2.1 Varietas Unggul Kedelai

Varietas

Potensi Hasil (t/ha)

Umur (hr)

Ukuran biji

Biji

(g/100 biji)

PangrangoKawiBromo

Leuser

Argomulyo

Meratus

Burangrang

Menglayang

Kaba

Sinabung

Anjasmoro

Mahameru

Baluran

Merubetiri

Ijen

Panderman

Gumitir

Argopuro

2,12,02,5

2,3

2,2

1,4

2,5

2,4

2,4

2,4

2,5

2,5

2,5

2,5

2,5

2,5

2,4

2,6

888885

78

80

75

82

89

85

88

85

85

80

95

88

85

81

84

Sedang (10,0g)Sedang (10,5g)Besar (15,0g)

Sedang (10,5g)

Besar (15,0g)

Sedang (10,0g)

Besar (15,0g)

Sedang (11,0g)

Sedang (10,4g)

Sedang (10,7g)

Besar (15,0g)

Besar (16,0g)

Besar (16,0g)

Besar (13,5g)

Sedang (11,2g)

Besar (18,5g)

Besar (15,7g)

Besar (17,8g)

Sumber: Puslitbangtan, 2007

Tabel 2.2 Varietas Unggul Kedelai

Varietas

Potensi Hasil (t/ha)

Umur (hr)

Ukuran biji

Biji

(g/100 biji)

Ketahanan Peny. Karat daun
SlametSindoroTanggamus

Sibayak

Nanti

Ratai

Seulawah

2,32,22,5

2,4

2,4

2,5

2,5

878688

84

92

90

93

Sedang (12,5g) Sedang (12,0g) Sedang (11,5g)  Sedang (12,7g) Sedang (11,0g) Sedang (10,5g) Kecil (9,5g) ToleranToleranToleran

Toleran

Toleran

Toleran

Toleran

Sumber: Kedelai. Badan Litbang Pertanian 2007

Gambar Kedelai Varietas Sinabung

Gambar Kedelai Varietas Tanggamus

Berdasarkan survei yang dilakukan Puslitbangtan pada tahun 2007, penanaman varietas unggul kedelai telah mencapai peningkatan. Dengan penyediaan benih mengikuti jalur benih antar lapang dan musim (jabalsim), areal yang ditanami varietas unggul akan makin meningkat. Kenaikan produksi akibat penggunaan varietas unggul merupakan bonus bagi petani karena adopsi varietas unggul tersebut tanpa memerlukan tambahan biaya.

Teknologi Genetika

Teknologi genetika merupakan cabang ilmu pertanian yang berkembang cepat pada abad ini  yang mengubah sistem produksi tanaman, ternak, dan ikan menjadi industri biologi yang lebih baik dan lebih adaptif terhadap lingkungan tumbuh. Penerapan teknologi gene-tika dengan perubahan bentuk menjadi ideal pada tanaman, ternak dan ikan telah meningkatkan produksi pertanian pada abad ini (Budianto, 2000).

Teknologi genetika memicu terjadinya revolusi hijau (green revolution) yang berjalan sejak 1960-an. Dengan adanya revolusi hijau ini terjadi pertambahan produksi pertanian yang berlipat ganda sehingga dapat tercukupi bahan makanan pokok asal serealia. Untuk dapat mempertahankan keberlanjutan re-volusi hijau, Sumarno dan Suyamto (1998) menganjurkan rumusan agroekoteknologi yang menekankan pada tindakan bersama antara sistem produksi dan perawatan sumber daya lahan (Budianto, 2000). Penerapan teknologi genetika memiliki keuntungan dan kelebihan khusus karena tidak memerlukan modal besar, bahan bakunya tersedia di alam, teknologinya mudah dikuasai, serta tidak menimbulkan limbah yang mencemari lingkungan. Indonesia sebagai negara agraris, sebaiknya memanfaatkan teknologi genetika tersebut untuk mendukung pembangunan pertanian dalam arti yang seluas-luasnya. Pada waktu kini diperlukan peningkatan kesadaran akan pentingnya peningkatan penelitian genetika, baik sebagai ilmu dasar maupun sebagai teknologi terapan untuk memanfaatkan kekayaan sumber daya genetik Indonesia.             Teknologi genetika dalam bahasan ini diartikan sebagai semua teknik yang berkaitan dengan usaha perbaikan konstruksi genetik tanaman guna meningkatkan kemampuan varietas tanaman dalam hal produktivitas, ketahanan terhadap hama penyakit, stabilitas, kualitas maupun adaptabilitas tanaman. Berbagai teknik genetika telah dikembangkan dalam kurun waktu 75 tahun terakhir, yang pada dasarnya dapat dikelompokkan menjadi beberapa teknik, yaitu: aklimatisasi dan adaptasi gen, rekombinasi dan fiksasi gen melalui hibridisasi, alterasi gen dengan mutasi, alterasi kromosom, ploidisasi, alterasi genom, introgresi plasma nutfah asing, substitusi sitoplasma, rekayasa genetik, dan kombinasi jaringan somatik.       Penerapan masing-masing teknik genetika tersebut dalam program perbaikan varietas barulah merupakan tahap pertama, yang perlu diikuti oleh tahapan seleksi dan uji daya hasil, adaptasi, stabilitas sifat, mutu hasil, preferensi konsumen, serta uji sifat-sifat lain. Dengan demikian, secara keseluruhan proses perakitan varietas unggul memerlukan waktu yang relatif lama Adaptasi dan aklimatisasi genotipe, teknik rekombinasi dan fiksasi gen, serta teknik alterasi gen telah banyak diterapkan dalam perbaikan genetik tanaman pangan, termasuk kedelai. Berbagai prosedur seleksi dan bentuk varietas yang berkaitan dengan teknik tersebut dapat dipilih sesuai dengan spesies tanamannya. Sebagian besar varietas unggul yang ada pada saat ini dikembangkan  dengan teknik-teknik tersebut.

Teknik alterasi kromosom dimanfaatkan untuk mendapatkan sifat tahan penyakit karat pada terigu, dengan cara menyisipkan sepotong kecil kromosom terigu liar (Aegilops sp.) pada kromosom terigu budi daya (Sears 1956; Riley et al. 1968). Dengan menggunakan translokasi kromosom yang mengandung gen mandul jantan Msms, Patherson (1978) menyarankan alternative pembentukan galur betina mandul jantan pada pembuatan hibrida jagung dengan teknik sitogenetik.

Teknik ini pun berpeluang untuk diterapkan pada pembentukan galur betina (mandul jantan) pada hibrida padi. Ploidisasi bermanfaat dalam persilangan antarspesies guna memperoleh turunan yang fertil. Persilangan Triticum sp. (4x) dengan Secale sp. (2x) menghasilkan keturunan genotipe (3x) yang steril, tetapi setelah kromosomnya digandakan menjadi heksaploid yang fertil menghasilkan spesies baru Triticale (6x) yang stabil.             Ramage (1965) mengusulkan teknik modifikasi genom untuk membentuk hibrida pada tanaman menyerbuk sendiri, dengan cara memasukkan gen mandul jantan Ms pada genom Trisomik (2x+1A).  Penambahan satu kromosom yang mengandung gen Ms mengakibatkan polen steril sehingga galur berfungsi sebagai betina.

Pada tahun 2004 Peneliti Puslit Bioteknologi LIPI, Harmastini Sukiman M.Agr, di Cibinong Science Center, telah mengembangkan kedelai plus yaitu dengan diinsersi oleh bakteri rhizobium BTCC-B64 hasil riset LIPI dengan media pertumbuhan YEM-broth lalu dicampurkan oleh alat pencampur dengan teknologi vakum sehingga dihasilkan kedelai Plus. Keuntungan Kedelai Plus, selain produksi biji yang meningkat, juga mudah ditanam oleh petani, dan kebutuhan pupuk berkurang hingga 60 persen.

Pada tahun 2004 yang lalu BATAN kembali merilis varietas unggul baru kedelai setelah beberapa tahun tidak merilis varietas sejak tahun 1998. Varietas baru ini merupakan hasil persilangan dari galur mutan No. 214 dengan Galur Mutan 23-D ( dihasilkan dari iradiasi sinar Y terhadap varietas Guntur) . Varietas ini diberi nama Rajabasa dan dilepas sebagai varietas unggul melalui SK Menteri Pertanian No. 171/ KPTS/LB 240/3/2004.

Sumber : BATAN

 

 

Rekayasa Genetik Dan Bioteknologi

Prinsip rekayasa genetika sama dengan pemuliaan tanaman, yaitu memperbaiki sifat-sifat tanaman dengan menambahkan sifat-sifat ketahanan terhadap cekaman mahluk hidup pengganggu maupun cekaman lingkungan yang kurang menguntungkan serta memperbaiki kualitas nutrisi makanan. Rekayasa genetika adalah kelanjutan dari pemuliaan secara tradisional. Dalam arti paling luas merupakan penerapan genetika untuk kepentingan manusia akan tetapi masyarakat ilmiah sekarang lebih bersepakat dengan batasan yang lebih sempit, yaitu penerapan teknik-teknik genetika molekuler untuk mengubah susunan genetik dalam kromosom atau mengubah sistem ekspresi genetik yang diarahkan pada kemanfaatan tertentu.            Keunggulan rekayasa genetika adalah mampu memindahkan materi genetika dari sumber yang sangat beragam dengan ketepatan tinggi dan terkontrol dalam waktu yang lebih singkat. Melalui proses rekayasa genetika ini, telah berhasil dikembangkan tanaman yang tahan terhadap organisme pengganggu seperti serangga, penyakit dan gulma yang sangat merugikan tanaman. Rekayasa genetika bermain pada tingkat molekuler khususnya DNA. Beberapa tahapan yang digunakan dalam rekayasa genetika yaitu 4 isolasi DNA, manipulasi DNA, perbanyakan DNA dan visualisasi hasil manipulasi DNA, DNA rekombinan, dan Kloning Gen.

Apabila teknik masing-masing tahap tersebut sudah dapat dilaksanakan secara rutin, penerapan rekayasa genetik memberikan prospek yang sangat besar, terutama dalam penggabungan gen untuk ketahanan hama dan penyakit.

 

 

Penerapan Teknologi Genetika Pada Kedelai

Walaupun varietas unggul kedelai sudah banyak dilepas melalui program perbaikan varietas, kemajuan genetik potensi hasilnya belum maksimal. Untuk mendapatkan peluang yang lebih besar dalam memperoleh terobosan peningkatan potensi hasil varietas unggul kedelai, beberapa alternatif rancangan perbaikan genetik diajukan sebagai berikut

1.   Perbaikan genetik untuk peningkatan potensi hasil berdasarkan sifat fisiologis tanaman.

Proses fisiologis tanaman kedelai yang berupa laju fotosintesis, indeks luas daun, dan laju pertumbuhan tanaman kurang efektif sebagai kriteria pemilihan varietas unggul (Cooper 1976).   Kemungkinan justru sifat-sifat morfofisiologis seperti tipe pertumbuhan batang (determinit, semideterminit, indeterminit), rasio periode vegetatif- generatif, serta rasio hasil biji dan hasil biomassa dapat memberikan indikasi yang baik untuk pemilihan varietas unggul. Hasil penelitian Harsono et al. (1989) menyimpulkan bahwa varietas kedelai yang berdaya hasil tinggi dicirikan oleh sifat tipe tumbuh determinit, distribusi cahaya dalam tajuk tanaman baik, serta memiliki periode pengisian biji efektif yang panjang dan laju pengisian biji tinggi.      Dengan pemilihan umur panen yang disesuaikan dengan sistem usaha tani setempat, varietas unggul yang berdaya hasil tinggi dapat dirakit menggunakan kriteria tersebut.

2.      Perbaikan genetik untuk ketahanan hama dan penyakit utama.

Peningkatan kepastian terhadap hasil biasanya diarahkan pada peningkatan daya hasil, cepat dipanen, ketahanan terhadap organisme pengganggu atau kondisi alam yang kurang baik bagi usaha tani, serta kesesuaian terhadap perkembangan teknologi pertanian yang lain. Hasil yang tinggi menjamin terjaganya persediaan bahan mentah untuk diolah lebih lanjut. Produksi kedelai yang tidak stabil disebabkan oleh gangguan hama dan penyakit yang belum dapat dikendalikan dengan baik. Tersedianya varietas kedelai yang tahan/toleran hama dan penyakit akan memudahkan petani dalam budi daya kedelai, serta meningkatkan stabilitas produksi tanaman.  Hama yang perlu dikendalikan dengan penggunaan deploisasi gen pada varietas tahan terutama adalah lalat bibit (Ophiomya phaseoli), pengisap polong (Nezara sp.; Riptortus sp.), penggerek biji (Etiella sp.), dan kutu trip. Sifat tahan penyakit terutama ditujukan kepada karat daun, virus, bakteri busuk daun, dan bakteri bisul pustul. Gen sumber ketahanan terhadap hama pengisap polong dan kutu trip serta sifat tahan penyakit karat dan bakteri busuk daun tersedia pada koleksi plasma nutfah.

Plasma nutfah adalah bahan baku dasar pemuliaan karena di sini tersimpan berbagai keanekaragaman sifat yang dimiliki oleh masing-masing nomor koleksi (aksesi). Tanpa keanekaragaman, perbaikan sifat tidak mungkin dilakukan. Usaha pencarian plasma nutfah baru berarti eksplorasi ke tempat-tempat yang secara tradisional menjadi pusat keanekaragaman hayati (atau hutan) atau dengan melakukan pertukaran koleksi.

 

Pengisap polong (Riptortus sp)

Lalat kacang (Agromyzd phaseoli)

                             Plasma nutfah

Penerapan teknologi genetika secara konvensional harus diakui belum berhasil mendapatkan varietas-varietas kedelai yang tahan terhadap hama yang bersifat polifag, seperti ulat grayak, ulat Heliothis atau berbagai strain virus. Peluang untuk mendapatkan varietas tahan dengan cara lain, termasuk penerapan rekayasa genetik dalam bioteknologi, perlu dimanfaatkan.

3.      Perbaikan potensi hasil biji atas dasar maksimalisasi ragam aditif dan kemajuan genetik

 

Potensi hasil kedelai dikendalikan oleh banyak gen (poligenik). Persilangan antara dua tetua yang selama ini dilakukan dinilai memiliki kelemahan karena proses inbridisasi sejak generasi F2 langsung diikuti oleh fiksasi gen secara cepat, sehingga tidak dapat menampung rekombinasi gen positif penentu hasil. Keadaan ini diperburuk oleh kecilnya populasi F2 dan sedikitnya famili galur yang dibentuk.

Hal inilah kemungkinan yang menjadi penyebab kecilnya kemajuan genetik daya hasil varietas unggul yang telah dilepas. Untuk meningkatkan terjadinya rekombinasi gen positif dan menunda terjadinya fiksasi gen serta memaksimalkan ragam aditif, perlu dilakukan persilangan ganda dari 16 tetua terpilih yang diikuti dengan inbridisasi menggunakan penurunan biji tunggal.

Keuntungan populasi bastar yang dibentuk dari persilangan banyak tetua, selain dapat meningkatkan kemajuan genetik yang lebih besar dan dapat memperoleh varietas baru yang potensi hasilnya lebih tinggi daripada tetuanya, juga diperoleh hal-hal berikut:

a. Galur-galur yang diperoleh memiliki adaptasi luas, di samping juga tersedianya galur yang adaptif lingkungan spesifik sesuai dengan adaptasi tetuanya.

b. Dari populasi dapat dibentuk banyak galur yang tidak sefamili.

c. Galur-galur yang terbentuk memiliki ragam genetik yang besar.

d. Ragam aditif diperbesar hingga mencapai hampir 200% dari ragam aditif populasi asal, dan ketersediaan keragaman antargalur maksimal.

4.  Penerapan bioteknologi

Teknologi genetika konvensional pada tanaman kedelai dewasa ini memiliki keterbatasan sehingga menghambat keberhasilan usaha perbaikan varietas.

Beberapa contoh kemungkinan penerapan bioteknologi pada tanaman kedelai adalah sebagai berikut:

  1. Transformasi gen ketahanan hama yang berasal dari indotoksin gen Bacillusthuringiensis (Btgene) ke dalam genom kedelai menggunakan bantuan vektor Tiplasmid, diikuti regenerasi sel menjadi tanaman transgenik yang tahan ulat pemakan daun.
  2. Persilangan somatik antara sel kedelai dan sel tanaman kedelai liar atau sel spesies lain, guna memperoleh rekombinasi sifat-sifat unggul baru.
  3. Kultur antera untuk mendapatkan tanaman haploid, diikuti penggandaan kromosom untuk memperoleh tanaman homozigot dalam waktu yang lebih cepat.
  4. Seleksi ketahanan herbisida pada tingkat sel atau biak jaringan untuk mendapatkan sel mutan yang memiliki ketahanan. Sel atau jaringan yang toleran herbisida, bila dilakukan regenerasi menjadi tanaman, diharapkan memiliki sifat toleran/tahan herbisida sehingga mempermudah pengendalian gulma pada kedelai.

Tujuan akhir perbaikan genetik kedelai adalah melepas varietas unggul yang berdaya hasil tinggi, adaptif terhadap lingkungan produksi, serta mutu bijinya disukai petani. Varietas unggul yang telah dilepas tidak akan sampai kepada petani tanpa adanya sistem pengadaan benih bagi area produksi yang dituju. Oleh karena itu, peran perusahaan benih, baik Balai Benih Pemerintah, perusahaan benih BUMN maupun swasta sangat menentukan keberhasilan pengembangan varietas unggul. Usaha perbaikan genetik kedelai di Indonesia masih dalam taraf rintisan. Varietas- varietas yang dihasilkan masih belum sempurna dan memiliki kekurangan.

Namun, tahap rintisan ini dinilai sudah cukup berhasil dan perlu terus dilanjutkan. Pekerjaan perbaikan genetik tanaman memerlukan peneliti-peneliti yang tekun, berdedikasi tinggi, sabar, dan telaten.

Bidang ini diharapkan dapat ditangani oleh peneliti- peneliti muda yang memiliki sifat-sifat tersebut. Generasi mendatang akan banyak yang berminat terhadap penelitian, khususnya di bidang perbaikan genetik kedelai, apabila mereka menyadari peluang keberhasilan yang dapat dicapai.

Menurut Kajian Islam

Islam, menganjurkan kita untuk selalu menggunakan akal dalam memahami agama. Islam adalah agama yang menghormati akal, Islam menghimbau kepada seluruh manusia untuk mengetahui dengan benar akan keesaan Allah, dan semua itu hanya bisa dibangkitkan dengan menggunakan potensi akal sebaik mungkin.

Karena pemahaman yang benar hanya tercipta jika manusia menggunakan akal tersebut untuk berfikir dengan cara yang benar. Dengan akal tersebut manusia dapat meneliti dan memahami bagaimana hakikat dari alam yang telah diciptakan oleh Allah Swt.

Al-Baqarah ayat 29

 Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. dan dia Maha mengetahui segala sesuatu.

Surah al Jatsiyah ayat 13

Dan dia Telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir.

Dalam ayat ini terdapat poin utama : Allah Yang Maha Esa dan Kuasa telah menyediakan seluruh apa yang ada di langit seperti bintang-bintang dan planet-planet, serta apa yang ada di bumi seperti tanah yang subur, udara, air, dan lain-lain, seluruhnya sebagai rahmat yang semata-mata bersumber dari-Nya untuk memenuhi seluruh kebutuhan umat manusia.

KESIMPULAN

  1. Penerapan teknologi genetika pada tanaman kedelai dalam batas tertentu telah menghasilkan varietas-varietas unggul yang memberikan sumbangan nyata terhadap peningkatan produksi kedelai nasional, intensitas pola tanam, dan pendapatan petani.
  2. Guna memperoleh terobosan baru dalam peningkatan potensi hasil kedelai, diperlukan program pembentukan populasi yang memiliki rekombinasi gen dan ragam aditif maksimal.
  3. Seleksi berdasarkan bentuk morfo fisiologis tanaman ideal perlu diterapkan. Stabilitas hasil kedelai yang ditentukan oleh tingkat toleransinya terhadap hama-penyakit, dengan cara pemuliaan konvensional belum berhasil mendapatkan varietas tahan terhadap hama yang bersifat polifag serta penyakit virus. Oleh karena itu, peluang yang terdapat pada teknik rekayasa genetic untuk mengatasi masalah tersebut perlu dimanfaatkan.

DAFTAR PUSTAKA

Anonymous.2010.http://www.wikipedia.com/2010/01/pemuliaan_tanaman.html

Anonymous.2008.http://bioteknews.blogspot.com/2008/01/kedelai-transgenik.html

Anonymous.2008.http://kesehatan.kompas.com/read/2008/01/17/22053221/Kedelai.Plus.LIPI.Dapat.Tingkatkan.Produktivitas

Anonymous,kedelai varietas, Pusat Diseminasi Iptek Nuklir Gedung Perasten : Jl. Lebak Bulus Raya No. 49, Pasar Jum’at, Jakarta 12440 Kotak Pos : 4390, Jakarta 12043, Indonesia, telp : (021) 7659401, 7659402 Fax (021) 75913833, Email : pdin@batan.go.id, infonuk@jkt.bozz.com www.batan.go.id, http://www.infonuklir.com

Badan Pusat Statistik [BPS]. 2005. Statistik Indonesia. Jakarta.

Budianto, J. 2000. Kemajuan, tantangan, dan peluang teknologi genetika dan bioteknologi di Indonesia. Dalam S. Moeljopawiro et al. (Eds.). Prosiding Ekspose: Hasil Penelitian Bioteknologi Pertanian. Jakarta 31 Agustus-1 September 1999. Badan Litbang Pertanian. Deptan. hlm. 1-16.

Patherson, E.B. 1978. Properties and uses of duplicate-deficient chromosom complements in maize. p. 693-710. In D.B. Walden (Ed.). Maize Breeding and Genetics. John Wiley, New York.

Ramage, R.T. 1965. Balanced tertiary trisomics for use in hybrid seed production. Crop Sci. 5: 177-178.

Riley, R.V., D. Chapman, and R. Johnson. 1968. The incorporation of alien chromosome for diseases resistance in wheat by genetic interference with the regulation of meotic chromosom synapsis. Gen. Res. (Cambridge) 12: 199-219.

Sumastri. 2005. Bioteknologi. Bandung : PPPG IPA Bandung

Sumarno dan Suyamto. 1998. Agrobioteknologi sebagai dasar pembangunan

sistem usaha pertanian berkelanjutan. Prosiding Analisis Ketersediaan Sumber Daya Pangan dan Pembangunan Pertanian. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Jakarta.

Winarno,FG .Agustina,W.2007. Pengantar Bioteknologi (Revised Edition). MBrio Press :Jakarta

Winarno,FG.2007. Teknobiologi Pangan. Mbrio Press : Jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: