PENGEMBANGAN PEMULIAAN TANAMAN PADI SRI KUNING MENGGUNAKAN TEKNIK POLIMERI

PENGEMBANGAN PEMULIAAN TANAMAN PADI

SRI KUNING MENGGUNAKAN TEKNIK POLIMERI

(Development Of Rice Plant Sri Kuning Systems Breeding Using Polimeri)

 

Fathiah (09330017) & Ariyanti Dianita (09330041) ) , Dr. H. Moch. Agus Krisno B, M. Kes

Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Muhammadiyah Malang

Jl. Tlogomas 246 Malang Telp 464318

 

 

Abstract


Experiments aimed at the trial this time only to assume the role of inheritance and the genes that control a number of quantitative characters in rice plants Sri kuning.

One way to overcome problems in the development of superior rice crop is to assemble a high production of new varieties, excellent quality and resistant to pests, diseases and abiotic stresses. Some ways that can be applied to obtain new varieties, among others, doing crosses with certain species, perform artificial mutation, the application of methods of transformation or protoplast fusion in breeding improved crop production techniques polimeri in sri kuning rice.

Seeds in the world of agriculture is an important part that can not be separated in the agricultural business. In recent decades local genetic resources has been greatly decreased and vice versa farmers heavily dependent on new varieties. This is indirectly supported the creation of extinction of local varieties that have resistance to your Site ecosystem and the best quality. In the development of sri Kuning rice plant breeding technique can polimeri tendorong expected to be the alternative use of better quality rice.

Key words: Breeding, Sri Kuning Rice, Engineering Polimeri.

 

Abstrak

Percobaan yang ditujukan pada percobaan kali ini hanya untuk menduga pewarisan dan peran gen yang mengendalikan sejumlah karakter kuantitatif pada tanaman padi Sri Kuning.

Salah satu cara untuk mengatasi masalah dalam pengembangan tanaman padi unggul adalah dengan merakit varietas baru yang berproduksi tinggi, kualitas bagus dan tahan terhadap hama, penyakit serta cekaman abiotik. Beberapa cara yang dapat diterapkan untuk mendapatkan varietas baru antara lain melakukan persilangan dengan spesies tertentu, melakukan mutasi buatan, penerapan metode transformasi atau melakukan fusi protoplas dalam perbaikan pemuliaan produksi teknik polimeri dalam  tanaman padi sri kuning.

Benih dalam dunia pertanian merupakan bagian penting yang tidak bisa terpisah dalam usaha pertanian. Dalam beberapa dekade terakhir ini sumber genetik lokal sudah sangat menurun dan sebaliknya petani sangat tergantung oleh varietas unggul baru. Hal ini yang secara tidak langsung telah mendukung terciptanya kepunahan varietas-varietas lokal yang mempunyai ketahanan terhadap ekosistem setempa dan kualitas terbaik. Dalam pengembangan pemuliaan tanaman padi sri kuning menggunakan teknik polimeri dapat diharapkan menjadi alternative penggunaan tendorong kualitas padi yang lebih baik.

Kata kunci : Pemuliaan, Tanaman Padi Sri Kuning, Teknik Polimeri


 


PENDAHULUAN

Pemuliaan tanaman padi bertujuan untuk menghasilkan berbagai varietas padi ungul baru yang memiliki sifat lebih baik dibandingkan dengan varietas ungul yang telah ada, antara lain hasil dan kualitas hasil lebih baik, toleran terhadap faktor pembatas biotik dan abiotik, adaptif terhadap spesifik lokasi serta sesuai dengan preferensi konsumen.  Sebagian besar dari varietas padi unggul yang telah dilepas dihasilkan melalui program persilangan dan seleksi yang memerlukan waktu cukup lama hingga 5-7 tahun bahkan lebih. Dalam upaya menyediakan varietas unggul baru dengan waktu yang relatif lebih cepat dan banyak yang  dapat dilakukan antara lain melalui pemanfaatan teknik metode polimeri.

Padi merupakan tanaman pangan berupa rumput berumputan. Tanaman pertanian kuno berasal dari dua benua yaitu Asia dan Afrika barat tropis dan subtropis. Bukti sejarah memperlihatkan bahwa penanaman padi Zhejiang (Cina) sudah dimulai pada 3.000 tahun sebelum masehi. Fosil butir padi dan gabah ditemukan di Hastinapur Uttar Pradesh India sekita sekitar 100-600 SM. Selain Cina dan India, beberapa wilayah asal  padi adalah, Bangladesh Utara, Birma, Thailand, Laos, Vietman (Anonim, 2007).

Sumber : Anonyim, 2007

Padi (Oryza sativa) tumbuh baik di daerah tropis maupun sub-tropis untuk padi sawah, ketersediaan air mampu menggenangi lahan tempat penanaman sangat penting. Oleh kerana iar menggenang terus menerus maka lahan sawah harus memiliki kemampuan yang tinggi, seperti tanah lempung. Untuk kebutuhan air tersebut, diperlukan sumber mata air yang besar, kemudian ditampung dalam bentuk waduk. Dari waduk inilah sewaktu – waktu air dapat dialirkan selama periode pertumbuhan padi sawah.

Pentinganya padi sebagai sumber utama makanan pokok dan dalam perekonomian bangsa Indonesia tidak seorangpun yang menghasilkannya. Oleh karena itu setiap faktor yang mempengaruhi tingkat produksinya sangat penting diperhatikan. Salah satu faktor itu adalah kualitas produktif hama dan penyakit (Harahap, 1989).

Sifat kuantitatif merupakan lawan dari sifat kualitatif atau sifat Mendel. Pada kenyataannya hanya sebagian kecil dari sifat yang teramati pada organisme yang bersifat kualitatif, dapat dibedakan dengan jelas ekspresinya, seperti biji berpermukaan halus dan kasar atau warna mahkota bunga putih dan merah, sebagaimana dalam percobaan klasik oleh Mendel. Banyak sifat yang bervariasi secara halus, seperti tinggi badan atau warna kulit. Sifat yang demikian disebut sifat kuantitatif atau dikenal pula sebagai sifat rumit (complex trait). dan dibatasi sebagai sifat pada organisme yang tidak dapat dipisahkan secara jelas variasinya. Perbedaan itu hanya bisa dilihat melalui pengukuran karena itu disebut kuantitatif.

Dalam genetika kuantitatif, konsep poligen (polimeri), digunakan untuk menjelaskan terbentuknya sifat kuantitatif. Ronald Fisher (1918) dapat menjelaskan bahwa sifat kuantitatif terbentuk dari banyak gen dengan pengaruh kecil, yang masing-masing bersinggunan pada teori Mendel. Karena pengaruhnya kecil, fenotipe yang diatur oleh gen-gen ini dapat dipengaruhi oleh lingkungan. Meskipun demikian, penjelasan Fisher ini tetap menempatkan gen-gen yang mengatur sifat kuantitatif sebagai sesuatu yang abstrak karena hanya merupakan konsep.

Langkah pembuktian mengenai adanya gen-gen yang mengatur sifat kuantitatif mulai terbuka setelah tersedianya banyak penanda genetik sehingga memungkinkan orang membuat peta pautan genetik yang dapat menjangkau sebagian besar kromosom. Penanda-penanda genetik digunakan sebagai titik rambu (flanking markers) yang menunjukkan situasi alelik pada bagian kromosom tertentu. Variasi alel pada suatu penanda menjadi genotipe bagi kromosom atau kelompok pautan (apabila kromosomnya belum teridentifikasi).

 

METODE

Pendekatan percobaan yang digunakan dalam percobaan ini adalah percobaan kuantitatif. Jenis penelitian yang digunakan dalam percobaan ini adalah pengembangan pemuliaan tanaman padi sri kuning menggunakan teknik polimeri yang ingin menjelaskan tentang fenomena teknik memperbanyak atau gen ganda.

Sumber : Anonyim, 2011

Sifat dikendalikan oleh gen resesif dan system polgen (polimeri). Pemuliaan untuk sifat berdasarkan sistem genetik poligeni adalah proses yang panjang.  Diharapkan kemajuan dalam pemuliaan. Kemajuan yang dibuat dalam pemuliaan tergantung pada jumlah dan sifat karakteristik yang akan diperkenalkan.

Pada pewarisan sifat, kita dapat menemukan adanya variasi sifat yang diturunkan. Hal ini disebabkan oleh gen ganda (multiple gen / poligen). Poligen merupakan suatu seri gen ganda yang menentukan sifat secara kuantitatif. Dalam hal ini, pewarisan sifat dikendalikan oleh lebih dari satu gen pada lokus yang berbeda dalam kromosom yang sama atau berlainan. Pewarisan sifat yang dikendalikan oleh poligen tersebut pertama kali ditemukan pada tanaman tembakau (Nicotiana tabacum) oleh J. Kolreuter (1760). Saat menyilangkan tanaman dengan dua sifat beda, keturunan yang didapat pada F1 adalah intermediet, sedangkan F2 terdapat banyak variasi antara kedua tanaman induknya. Sifat keturunan terlihat berderajat berdasarkan intensitas dari ekspresi sifat itu.

Pewarisan sifat yang dikendalikan oleh poligen dapat terjadi baik pada tumbuhan, hewan, maupun manusia. Contoh poligen pada tumbuhan adalah warna biji pada tanaman gandum, panjang bunga tembakau serta berat buah tomat. Contoh poligen pada manusia adalah perbedaan pigmentasi kulit, jumlah rigi dermal dan tinggi badan.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Dari hasil percobaan dapat dinyatakan bahwa Penyediaan bibit yang berkualitas baik merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan dalam pengembangan pertanian di masa mendatang. Pengadaan bibit pada suatu tanaman yang akan dieksploitasi secara besar-besaran dalam waktu yang cepat akan sulit dicapai dengan perbanyakan melalui teknik konvensional.

Sumber : Anonyim, 2011

Data yang akan diambil dari karakter kuantitatif melalui pengembangan pemuliaan tanaman padi sri kuning menggunakan teknik polimeri yaitu pada jumlah anakan produktifnya. Sehingga dengan persialangan dalam teknik poligenik (polimeri) dapat menciptakan gen ganda dan dapat memperbanyak jumlah anakn produktif dalam pengembang padi Sri kuning.

Karakter kuantitatif yang dimiliki oleh varietas Sri Kuning yang diperoleh menunjukkan karakter dari varietas adalah sebagai berikut :

 

 

Berdasarkan persilangan di atas, terbentuknya gradasi jumlah anakan produktif pada tanaman Padi  disebabkan banyak sedikitnya akumulasi gen-gen dominan, sehingga rasio fenotipnya adalah produktif : tidak produktif = 15 : 1.

Berdasarkan hasil percobaan, maka dapat ditarik kesimpulan percobaan perhitungan yaitu sebagai berikut: Karakteristik merupakan kegiatan untuk mengenali karakter dari suatu tanaman dalam suatu populasi. Sedangkan karakter yang diamati memiliki dua macam yang berbeda yaitu karakter kualitatif dan karakter kuantitatif. Karakter kualitatif merupakan karakter yang nampak dan tidak melalui proses pengukuran. Sedangkan Genetika Kuantitatif Cabang genetika yang membahas pewarisan sifat-sifat terukur (kuantitatif atau metrik), yang tidak bisa dijelaskan secara langsung melalui hukum pewarisan Mendel. Sifat-sifat yang tergolong sifat kuantitatif misalnya tinggi atau berat badan, hasil panen, atau produksi susu.

Untuk varietas Padi Sri kuning meliki karakteristik yang diketahui karakter khasnya yaitu:

  • Warna daun: hijau
  • Permukaan daun: berambut
  • Eksersi Malai: Seluruh malai keluar; leher sedang;
  • Cabang Malai Sekunder: Banyak

Dimana pada ciri-ciri tertentu padi sri kuning harus melakukan perhitungan terlebih dahulu. Missal:

  • Jumlah anakan
  • Produktif Tinggi tanaman
  • Panjang daun
  • Panjang daun bendera
  • Panjang malai
  • Jumlah bulir per malai
  • Umur berbunga
  • Umur masak fisiologis

 

Sumber : Anonyim, 2011

            Sehingga dari keseluruhan varietas sri kuning diambil data jumlah anakan produktif untuk dikalian dengan jumlah anankan yang tidak produktif dari varietas padi sri kuning dengan menggunakan teknik Perhitungan dan teknik polimeri.

            Padi Sri kuning termasuk jenis padi gogo, yang termasuk dalam jenis-jenis pembudi dayaan padi.  Di beberapa daerah tadah hujan orang mengembangkan padi gogo, suatu tipe padi lahan kering yang relatif toleran tanpa penggenangan seperti di sawah. Di Lombok dikembangkan sistem padi gogo rancah, yang memberikan penggenangan dalam selang waktu tertentu sehingga hasil padi meningkat.

Oleh karena itu dapat diperoleh hasil dan terbentuknya gradasi jumlah anakan produktif pada tanaman Padi  disebabkan banyak sedikitnya akumulasi gen-gen dominan, sehingga rasio fenotip nya adalah produktif : tidak produktif = 15 : 1

Genetika kuantitatif menerapkan hukum pewarisan Mendel untuk gen dengan pengaruh yang kecil/lemah (minor gene). Selain itu, diasumsikan pula bahwa tidak hanya sedikit gen yang mengendalikan suatu sifat melainkan banyak gen, karena itu, sifat kuantitatif sering dasamakan dengan sifat poligenik.

KESIMPULAN 

 

  • Sifat dikendalikan oleh gen resesif dan system polgen (polimeri). Pemuliaan untuk sifat berdasarkan sistem genetik poligeni adalah proses yang panjang.  Diharapkan kemajuan dalam pemuliaan. Kemajuan yang dibuat dalam pemuliaan tergantung pada jumlah dan sifat karakteristik yang akan diperkenalkan.
  • Untuk varietas Padi Sri kuning meliki karakteristik yang diketahui karakter khasnya yaitu:
  • Warna daun: hijau;
  • Permukaan daun: berambut;
  • Eksersi Malai: Seluruh malai keluar; leher sedang; Cabang
  • Malai Sekunder: Banyak

Dimana pada ciri-ciri tertentu padi sri kuning harus melakukan perhitungan terlebih dahulu. Missal:

  • Jumlah anakan
  • Produktif Tinggi tanaman
  • Panjang daun
  • Panjang daun bendera
  • Panjang malai
  • Jumlah bulir per malai
  • Umur berbunga
  • Umur masak fisiologis

  • Sifat yang terbentuk dari percobaan pengembangan pemuliaan tanaman padi sri kuning menggunakan teknik polimeri yaitu dengan terbentuknya gradasi jumlah anakan produktif pada tanaman Padi  disebabkan banyak sedikitnya akumulasi gen-gen dominan, sehingga rasio fenotip nya adalah produktif : tidak produktif = 15 : 1.

 

Sumber : Anonyim, 2011

  • Genetika Kuantitatif Cabang genetika yang membahas pewarisan sifat-sifat terukur (kuantitatif atau metrik), yang tidak bisa dijelaskan secara langsung melalui hukum pewarisan Mendel. Sifat-sifat yang tergolong sifat kuantitatif misalnya tinggi atau berat badan, hasil panen, atau produksi susu.

DAFTAR PUSTAKA

 

Anonymous, 2011. Variabilitas Genetik Padi http://id.wikipedia.org/wiki/Variabilitas_genetik. Di akses 27 Maret 2011

Anonymous, 2007. Poligenik http://blogspot.org.poligenik-806 tanaman.com.  Di akses 27 Maret 2011

Anderson. 2000. Effect of Level and Duration Suplemantary Light on Development of Chrysanthemum. Hort.

Glaszmann, J.C. 1987. Isozymes and classification of asian rice varieties. Theor. Appl. Genet.

Hendaryono, D. P. S. dan A Wijayani. 2002. Teknik Kultur Jaringan. Kanisius. Yogyakarta.

Kartha, K.K. 1977. Meristem Culture. Culture Methods. Published by the National Research Council of Canada Praire Regional Laboratory. Saskhatoon Saskachewan.

Moeljopawira, S., dan Bustaman M., 1993. Pemuliaan dan Biologi Molekuler. Prosinding.

Sitepoe M., 2001. Rekayasa Genetika. Penerbit Gransindo. Jakarta.

Sriyanti D.P. dan Wijayani A. 1994. Teknik Kultur Jaringan. Yayasan Kansius.      Yogyakarta.

Yoeman, M.M. 1973. Tissue (Callus) Culture – Technique Plant Tissue and Cell Culture. Botanical Monographs. Blackwell Scientific. Publication Oxford London.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: