Diferensiasi Konsep Kloning Gen Manusia dalam Aspek Genetika dan Aspek Hukum Islam

Differensiasi Konsep Kloning Gen Manusia Dalam Aspek Genetika Dan Aspek Hukum Islam

(Differentiation Concept Gene Cloning of Human In Genetic Aspects And Islamic Aspects )

 

Lina Yuliana, Moch. Agus Krisno Budiyanto

Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Muhammadiyah Malang

Jl. Tlogomas 246 Malang Telp 464318

 

Abstract

Plan human cloning is one of the various developments can be said at once a rapid progress in the field of biomedical technology. Every new discovery, would be followed by a new issue that will also appear. It can not be denied, because some people have agreed that every human activity undertaken must be based on the norms prevailing in the community who all would refer to the ethical and moral foundation. But not all respond to this progress as a positive thing. Behind it also appears among those who are skeptical and tend to prejudice against the religious teachings, which he believed would hinder this development. On the other hand, the development of science and technology seemed unstoppable difficult, on the other side of religion as well as the source of ethics / morals should be able to play a role in all situations.

One of the  developments of science and technology today is genetically engineered in a variety of processes and products that recently have evolved quite dramatically and ask serious attention.  Various points of view  used to see the problems of cloning. From the standpoint of biological, medical, legal and moral,  this all illustrates how cloning will have enormous implications for the future of human civilization since the ability to perform a radical  genetic engineering of  human life journey.  Through genetic engineering  (human cloning)  has led to various problems, ethical questions, as well as the level of human concern which is very worrisome to the entire development. Application of human cloning efforts have led to reactions pros and cons of various backgrounds and different  views of the issued share a strong enough argument. So cloning in humans is really in a position that very dilemma.  Hence, in this case the author will review the cloning of humans in two views, which is based on the theoretical view (genetics)  and the Islamic perspective.

Keywords:  Human Cloning,  Genetic Engineering, Islamic Perspective.

 

Abstrak

Rencana kloning manusia merupakan salah satu dari berbagai perkembangan sekaligus bisa dikatakan sebuah kemajuan pesat di bidang teknologi biomedis. Setiap ada penemuan baru, pasti akan diikuti dengan persoalan baru pula yang akan muncul. Hal ini tidak dapat dipungkiri, karena sebagian kalangan telah menyepakati bahwa setiap aktifitas yang dilakukan manusia harus didasarkan kepada norma-norma yang berlaku di masyarakat yang kesemuanya akan mengacu pada landasan etika dan moral. Namun tidak semuanya merespon kemajuan ini sebagai suatu hal yang positif. Di balik itu juga muncul kalangan yang bersikap skeptis dan cenderung apriori terhadap ajaran agama, yang diyakininya akan menghambat perkembangan ini. Di sisi lain, perkembangan IPTEK serasa sulit terbendung, di sisi lain pula agama sebagai sumber etika / moral harus mampu memainkan perannya dalam segala situasi.

Salah  satu  dari  perkembangan  IPTEK  dewasa  ini  adalah rekayasa genetika dalam berbagai proses dan produknya yang akhir-akhir ini mengalami perkembangan yang cukup drastis dan meminta perhatian serius. Berbagai sudut pandang digunakan untuk melihat permasalahan  kloning. Dari sudut pandang biologi,  medis, hukum dan moral, ini semua menggambarkan betapa kloning akan memiliki  dampak  yang  sangat  besar  bagi  masa  depan  peradaban karena kemampuan manusia untuk melakukan rekayasa genetika yang radikal terhadap perjalanan hidup manusia. Melalui  rekayasa  genetika  (kloning  manusia)  telah memunculkan  berbagai  problem,  pertanyaan-pertanyaan  etis,  serta tingkat  kekhawatiran  manusia  yang  sangat  mencemaskan  terhadap seluruh perkembangannya. Upaya  penerapan  kloning  pada  manusia  telah  menimbulkan reaksi pro dan kontra dari berbagai kalangan dan berbagai pandangan yang dikeluarkan sama-sama memiliki argument yang cukup kuat. Sehingga kloning pada manusia benar-benar dalam posisi yang sangat dilematis. Untuk itu dalam hal ini penulis akan mengkaji mengenai kloning manusia dalam dua pandangan, yaitu berdasarkan pandangan teoritis (ilmu genetika) dan pandangan Islam.

Kata kunci: Kloning  Manusia, Rekayasa Genetika, Pandangan dalam Islam.

 

PENDAHULUAN

Kloning adalah teknik membuat keturunan dengan kode genetik yang sama dengan induknya. Pada manusia kloning dilakukan dengan mempersiapkan sel telur yang sudah di ambil intinya lalu disatukan dengan sel somatis dari suatu organ tubuh, kemudian hasilnya ditanamkan dalam rahim seperti halnya pada bayi tabung. Macam-macam teknik pengkloningan: teknik kloning dapat dilakukan terhadap semua makhluk hidup, baik tumbuhan, hewan dan manusia. Pada tumbuhan, kloning dapat dilakukan dengan melalui teknik okulasi, sedangkan pada hewan dan manusia, ada beberapa teknik-teknik yang dapat dilakukan, kloning ini dapat berupa kloning embrio dan kloning hewan atau manusia itu sendiri.

Teknologi kloning merupakan suatu cara reproduksi yang menggunakan teknik tingkat tinggi di bidang rekayasa genetika untuk menciptakan makhluk hidup tanpa melalui perkawinan. Teknik reproduksi ini menjadi terkenal sejak tahun 1996 karena keberhasilan Dr. Ian Welmut, seorang ilmuwan Scotlandia yang sukses melakukan kloning pada domba yang kemudian dikenal dengan Dolly. Sekarang teknik dan tingkat keberhasilan kloning telah begitu pesat.

Pada dasarnya, kloning merupakan suatu ide ilmiah hasil pemikiran kreativitas manusia. Ide ini merupakan realisasi dari pembacaan manusia terhadap alam yang sebenarnya juga dianjurkan oleh Islam. Namun Islam menilai bahwa teknologi kloning hukumnya haram karena lebih berpotensi menghasilkan dampak buruk daripada dampak baiknya. Keharaman kloning ini lebih didasarkan pada hilangnya salah satu hal yang harus dilindungi manusia yaitu faktor keturunan. Hilangnya garis keturunan manusia yang dikloning akan menghilangkan hak-hak manusia tersebut, seperti misalnya hak untuk mendapat penghidupan dari keluarganya, warisan, lebih parah lagi hak untuk mendapatkan kasih sayang dari orang tua genetiknya, dan hak-hak lain yang harus ia dapatkan.

Berbeda halnya dengan kloning yang dilakukan dengan tujuan untuk pengobatan, misalnya penggantian organ tubuh manusia dengan organ kloning menurut kajian Islam diperbolehkan sepanjang hal itu mendatangkan maslahah dan karena kondisi darurat yang dialami oleh pasien.

Adapun kloning dalam ranah binatang dan tumbuh-tumbuhan, maka Islam secara jelas membolehkannya, apalagi kalau tujuannya untuk meningkatkan mutu pangan dan kualitas daging yang dimakan manusia. Selain itu, karena binatang dan tumbuh-tumbuhan tidak perlu mengetahui tentang asal-usul garis keturunannya.

Dalam hal ini, penulis akan mengkaji mengenai perbedaan konsep kloning gen manusia jika ditinjau dari sudut pandang aspek genetika dan aspek Islami.

 

PEMBAHASAN

A. Pengertian Kloning

Secara etimologis kloning berasal dari kata “clone” yang diterjemahkan dari bahasa Yunani “klon”, yang artinya potongan yang digunakan untuk memperbanyak tanaman. Sedangkan secara terminologis kloning adalah proses pembuatan sejumlah besar sel atau molekul yang seluruhnya identik dengan sel atau molekul asalnya. Kloning dalam bidang genetika merupakan replikasi segmen DNA tanpa melalui proses seksual.

Kloning adalah teknik membuat keturunan derngan kode genetik yang sama dengan induknya. Pada manusia kloning dilakukan dengan mempersiapkan sel telur yang sudah di ambil intinya lalu disatukan dengan sel somatis dari suatu organ tubuh, kemudian hasilnya ditanamkan dalam rahim seperti halnya pada bayi tabung.

Selain itu, kloning juga dapat diartikan upaya untuk menduplikasi genetik yang sama dari suatu organisme dengan menggantikan inti sel dari sel telur dengan inti sel organisme lain. Kloning pada manusia dilakukan dengan mempersiapkan sel telur yang sudah diambil intinya lalu disatukan dengan sel dewasa dari suatu organ tubuh. Hasilnya ditanam ke rahim seperti halnya embrio bayi tabung.

Berdasarkan pengertian di atas, ada beberapa jenis kloning yang dikenal antara lain sebagai berikut :

1. Kloning DNA rekombinan

Kloning ini merupakan pemindahan sebagian rantai DNA yang diinginkan dari suatu organisme pada satu element replikasi genetik, contohnya penyisipan DNA dalam plasmid bakteri untuk mengklon satu gen.  

Kloning ini meliputi serangkaian proses isolasi fragmen DNA spesifik dari genom suatu organisme, dimulai dari penentuan sekuen DNA serta pembentukan molekul DNA rekombinan, dan ekspresi gen target dalam sel inang.

Penentuan sekuen DNA yang melalui sekuensing memiliki tujuan untuk memastikan fragmen DNA yang kita isolasi adalah gen target sesuai dengan kehendak kita. Gen target yang kita peroleh selanjutnya kita klon dalam sebuah vektor (plasmid, phage atau cosmid) melalui teknologi DNA rekombinan yang selanjutnya akan membentuk molekul DNA rekombinan. DNA rekombinan yang dihasilkan kemudian ditransformasi ke dalam sel inang (biasanya sel bakteri, misalnya strain E. coli) untuk diproduksi lebih banyak. Gen-Gen target yang ada di dalam sel inang jika diekspresikan akan mengahasilkan produk gen yang kita inginkan.

Aplikasi kloning DNA rekombinan yang sudah pernah ada yaitu produksi insulin dengan pendekatan kloning gen. Dimulai dari fragmen DNA spesifik penyandi insulin diisolasikan dan diklon dalam suatu vektor  hingga membentuk DNA rekombinan, yang selanjutnya produksi insulin dilakukan di dalam sel inang bakteri E. coli.

2. Kloning Reproduktif

Kloning ini merupakan teknologi yang digunakan untuk menghasilkan hewan yang sama, contohnya Dolly dengan suatu proses yang disebut SCNT (Somatic Cell Nuclear Transfer). Pada tipe reproduktif, DNA yang berasal dari sel telur manusia atau hewan dihilangkan dan diganti dengan DNA yang berasal dari sel somatik (kulit, rambut, dan lain-lain) hewan atau menusia dewasa yang lain. Dengan suatu loncatan listrik, inti sel hewan atau manusia yang telah diinjeksikan pada sel somatik tersebut selanjutnya akan berkembang dan membelah. Selanjutnya, embrio hasil teknik ini dimasukkan (diimplantasikan) dalam rahim hewan atau manusia yang memungkinkan embrio berkembang menjadi hewan ataupun menjadi  manusia baru.

Meskipun teknik kloning ini berpotesi menghasilkan individu hewan atau manusia yang identik dengan hewan atau manusia pendonor DNA, teknik kloning ini juga berpotensi besar dalam menghasilkan kelainan genetik yang berat pada individu hasil kloning.

 

3. Kloning Terapeutik

Kloning ini merupakan suatu kloning untuk memproduksi embrio manusia sebagai bahan penelitian. Tujuan utama dari proses ini bukan untuk menciptakan manusia baru, tetapi untuk mendapatkan sel batang yang dapat digunakan untuk mempelajari perkembangan manusia dan penyembuhan penyakit.

Tujuan lain dari kloning  ini ialah menghasilkan suatu stem cell (sel yang belum terdiferensiasi) yang memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi organ-organ tubuh atau jaringan untuk kepentingan penggantian organ atau jaringan yang rusak pada manusia akibat suatu penyakit tertentu (penyakit degeneratif) tanpa adanya penolakan respon kekebalan tubuh penerima.

Secara umum prosedur yang dilakukan pada teknologi transfer inti sel somatik (kloning terapeutik) terbagi atas tiga bagian, yaitu: dimulai dari pembentukan embronik stem cells, pengkulturan sel tipe spesifik yang murni, dan uji fisiolagis (uji efikasi dan uji keamanan).

a) Pembentukan Sel Stem Embrionik

Pada pembentukkan sel stem embrionik, langkah pertama yang dilakukan ialah pengambilan inti sel dari sel telur. Hal yang sama juga dilakukan pada sel somatik. DNA yang berasal dari sel somatik selanjutnya ditransfer ke dalam sel telur yang sudah tidak memiliki inti sel. Melalui kejutan arus listrik, sel ini dirangsang untuk membentuk pra-embrio. Dalam suatu persentase yang kecil, pra-embrio ini akan terbentuk. Selanjutnya, zona pelusida (lapisan tebal yang mengelilingi blastosit) di hilangkan dengan menambahkan suatu zat kimia tertentu. Massa sel bagian dalam dari blastosit selanjutnya di letakkan pada medium khusus yang selanjutnya akan berkembang dan menghasilkan banyak sel stem.

b) Pengkulturan Sel Tipe Spesifik

Setelah diperoleh sel stem embrionik, setiap stem sel yang tumbuh dalam cawan petri yang mengandung medium tertentu diambil dan di letakkan pada cawan petri yang baru yang mengandung medium spesifik. Medium spesifik ini mengandung suatu zat tertentu yang dapat merangsang sel stem tumbuh menjadi jaringan atau organ tertentu.

Teknologi transfer inti sel somatis (kloning terapeutik), sangat erat kaitannya dengan permasalahan stem cell. Karena pada hakikatnya tujuan dari teknologi transfer inti sel ini atau yang dikenal sebagai therapeutic cloning ialah mendapatkan sekumpulan sel yang dapat berkembang selanjutnya menjadi jaringan atau organ yang diinginkan (stem cell).

B. Manfaat Kloning

Teknologi kloning diharapkan dapat memberi manfaat kepada manusia, khususnya di bidang medis. Beberapa keuntungan terapeutik dari teknologi kloning adalah sebagai berikut:

1. Kloning manusia memungkinkan banyak pasangan tidak subur untuk mendapatkan anak.

2. Organ manusia dapat dikloning secara selektif untuk dimanfaatkan sebagai organ pengganti bagi pemilik sel organ itu sendiri, sehingga dapat meminimalisir resiko penolakan.

3. Sel-sel dapat dikloning dan diregenerasi untuk menggantikan jaringan-jaringan tubuh yang rusak, misalnya urat syaraf dan jaringan otot. Kemungkinan bahwa kelak manusia dapat mengganti jaringan tubuhnya yang terkena penyakit dengan jaringan tubuh embrio hasil kloning, atau mengganti organ tubuhnya yang rusak dengan organ tubuh manusia hasil kloning. Di kemudian hari akan ada kemungkinan tumbuh pasar jual-beli embrio dan sel-sel hasil kloning.

4. Teknologi kloning memungkinkan para ilmuan medis untuk menghidupkan dan mematikan sel-sel. Dengan demikian, teknologi ini dapat digunakan untuk mengatasi kanker.

5.  Teknologi kloning memungkinkan dilakukan pengujian dan penyembuhan penyakit-penyakit keturunan. Dengan teknologi kloning, kelak dapat membantu manusia dalam menemukan obat kanker, menghentikan serangan jantung, dan membuat tulang, lemak, jaringan penyambung, atau tulang rawan yang cocok dengan tubuh pasien untuk tujuan bedah penyembuhan dan bedah kecantikan.

C. Dampak Kloning

Kloning memiliki dampak buruk bagi kehidupan, antara lain :

1.   Merusak peradaban manusia.

2.   Memperlakukan manusia sebagai objek.

3. Jika kloning dilakukan manusia seolah seperti barang mekanis yang bisa dicetak semaunya oleh pemilik modal, hal ini akan mereduksi nilai-nilai kemanusiaan yang dimiliki oleh manusia hasil kloning.

4. Kloning akan menimbulkan perasaan dominasi dari suatu kelompok tertentu terhadap kelompok lain. Kloning biasanya dilakukan pada manusia unggulan yang memiliki keistimewaan dibidang tertentu. Tidak mungkin kloning dilakukan pada manusia awam yang tidak memiliki keistimewaan. Misalnya kloning Einstein, kloning Beethoven maupun tokoh-tokoh yang lain. Hal ini akan menimbulkan perasaan dominasi oleh manusia hasil kloning tersebut sehingga bukan suatu kemustahilan ketika manusia hasil kloning malah menguasai manusia sebenarnya karena keunggulan mereka dalam berbagai bidang.

D. Proses Kloning Manusia

            Kloning adalah upaya untuk menduplikasi genetik yang sama dari suatu organisme dengan menggantikan inti sel dari sel telur dengan inti sel organisme lain. Kloning pada manusia dilakukan dengan terlebih dahulu mempersiapkan sel telur yang sudah diambil intinya lalu disatukan dengan sel dewasa dari suatu organ tubuh. Hasilnya ditanam ke rahim seperti halnya embrio bayi tabung.

            Seiring dengan kemajuan teknologi dan perkembangan zaman, teknologi proses kloning manusia telah berhasil menciptakan manusia kloning pertama di dunia yang bernama Eve. Bayi perempuan itu kini berusia 5 tahun, sehat dan kini mulai menginjak pendidikan Taman Kanak Kanak di pinggiran kota Bahama. Kondisi fisik Eve juga sama dengan kondisi manusia normal pada umumnya.

Kloning manusia adalah teknik membuat keturunan dengan kode genetik yang sama dengan induknya yang berupa manusia. Hal ini dapat dilakukan dengan cara mengambil sel tubuh (sel somatik) dari tubuh manusia, kemudian diambil inti selnya (nukleusnya), dan selanjutnya ditanamkan pada sel telur (ovum) wanita yang telah dihilangkan inti selnya dengan suatu metode yang mirip dengan proses pembuahan atau inse­minasi buatan.

Melalui metode semacam itu, kloning manusia dilaksanakan dengan cara mengambil inti sel dari tubuh seseorang, lalu dimasukkan ke dalam sel telur yang diambil dari seorang perempuan. Lalu dengan bantuan cairan kimiawi khusus dan setruman arus listrik, inti sel digabungkan dengan sel telur. Setelah proses penggabungan ini terjadi, sel telur yang telah bercampur dengan inti sel tersebut ditransfer ke dalam rahim seorang perempuan, agar dapat memperbanyak diri, berkembang, serta berdiferensiasi dan berubah menjadi janin sempurna. Setelah itu keturunan yang dihasilkan dapat dilahirkan secara alami. Keturunan ini akan berkode genetik sama dengan induknya, yakni orang yang menjadi sumber inti sel tubuh yang telah ditanamkan pada sel telur perempuan.

Dengan penanaman sel telur ke dalam rahim perempuan ini, sel telur tadi akan mulai memperbanyak diri, berkembang serta  berdiferensiasi dan berubah manjadi janin. Janin ini akan menjadi sempurna dan akhirnya dilahirkan ke dunia. Anak yang dilahirkan merupakan keturunan dengan kode genetik yang persis sama dengan perempuan yang menjadi sumber asal pengambilan sel tubuh. Dengan demikian, proses kloning dalam kondisi seperti ini dapat berlangsung sempurna pada seluruh tahapnya tanpa perlu adanya seorang laki-laki.

Proses kloning manusia dapat dijelaskan secara sederhana sebagai berikut:

1. Mempersiapkan sel stem, yaitu suatu sel awal yang akan tumbuh menjadi berbagai sel tubuh. Sel ini diambil dari manusia yang hendak dikloning.

2. Sel stem diambil inti sel yang mengandung informasi genetik kemudian dipisahkan dari sel.

3. Mempersiapkan sel telur, yaitu suatu sel yang diambil dari sukarelawan perempuan kemudian intinya dipisahkan.

4. Inti sel dari sel stem diimplantasikan ke sel telur. Sel telur dipicu supaya terjadi pembelahan dan pertumbuhan. Setelah membelah (hari kedua) menjadi sel embrio.

5. Sel embrio yang terus membelah (blastosis) mulai memisahkan diri (hari ke lima) dan siap diimplantasikan ke dalam rahim.

6. Embrio tumbuh dalam rahim menjadi bayi dengan kode genetik persis sama dengan sel stem donor.

Dengan demikian, anak yang dihasilkan dari proses kloning ini akan mempunyai ciri-ciri hanya dari orang yang menjadi sumber pengambilan inti sel. Anak tersebut merupakan keturunan yang berkode genetik sama persis dengan induknya.

E. Kloning Manusia dalam Perspektif Islam

            Dalam  Islam,  kegiatan kloning  dapat  menimbulkan akibat  yang  fatal apabila  hal  ini  dilakukan  terhadap  manusia  yaitu  mulai  dari perkawinan,  nasab  dan  pembagian  warisan  dan  tentu  hal  ini  akan keluar  dari  jalur  Islam. Dalam hal penciptaan manusia adalah melalui beberapa tahapan. Sebagaimana  firman  Allah  dalam  QS. Al-Hajj: 5, yaitu:

Artinya: “Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur- angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah”. (QS. Al-Hajj:5).

            Dari kutipan ayat di atas, tampak  bahwa paradigma Al-Qur’an  mengenai  penciptaan  manusia  dan  terlihat  pencegahan terhadap  tindakan-tindakan  manusia  yang  mengarah  terhadap cloning, mulai dari awal kehidupan hingga saat kematian, semuanya adalah tindakan dari Tuhan. Segala bentuk peniruan atas tindakanNya dianggap sebagai perbuatan melampaui batas.

             Al-Qur’an  telah megisyaratkan  adanya  intervensi manusia  di dalam  proses  produksi  manusia. Sebagaimana  termaktub di dalam Q.S. Al-Mukminun:13-14 yaitu: 

 Artinya: “Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim)”. (Al-Mukminun:13).

 Artinya: “Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.”. (Al-Mukminun: 14).

            Ayat di atas mengisyaratkan unsur manusia ada tiga yaitu; unsur jasad (jasadiyah), unsur nyawa (nafs), dan unsur ruh (ruh). Adapun dalam  pertimbangan  ini  manusia  mengetahui  proses  terjadinya manusia, oleh karenanya untuk mengetahui keafsahan kloning dalam Islam  harus  dikaitkan  dengan  dua  pertimbangan  selanjutnya,  yaitu pertimbangan moral dan hukum. 

            Proses kejadian manusia tanpa proses pembuahan sperma laki-laki  adalah  tanda  dari  kekuasaan  Tuhan.  Perkembangan  ilmu  dan teknologi  merupakan konsekuensi logis dari konsep ilmu dalam Al-Qur’an yang mengatakan hakekat ilmu adalah menemukan sesuatu yang   baru bagi masyarakat dari hal yang tidak tahu menjadi tahu, seperti dalam firman Allah dalam QS. Al-Baqarah:151, yaitu:

 Artinya: “Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.”. (Al-Baqarah: 151).

            Pemanfaatan  teknologi  kloning pada  tanaman  diperbolehkan,  karena hajat manusia untuk kemaslahatannya. Kloning gen pada hewan juga diperbolehkan dengan catatan;   dengan hewan yang halal di makan, tidak  menimbulkan  takdzib  (penyiksaan),  tidak  melakukan penyilangan antar hewan yang haram dengan yang halal.

            Adapun kloning pada gen manusia menurut etika dan hukum agama tidak dibenarkan (haram) serta harus dicegah sedini mungkin. Hal ini karena akan menimbulkan masalah baru dan madharat yang lebih  besar,  diantaranya; Pertama,  tidak  mengikuti  sunnah  Rasul, karena Rasul menganjurkan untuk menikah. Dan barang siapa tidak mengikuti  sunnah  Rasul  berarti  tidak  termasuk  golongan  Rasulullah. Kedua, tidak mungikuti ajaran kedokteran Nabi, karena mereka tidak melakukan hubungan seksual. Ketiga, bagi kaum laki-laki yang tidak beristeri bisa menimbulkan gangguan yang tidak diharapkan seperti hal syahwatnya menjadi  lemah,  menimbulkan  kesedihan  dan kemuraman, gerak  tubuhnya  menjadi kaku dan bagi kaum wanita badannya  menjadi  dingin  (frigiditis).  Keempat,  ada  kecenderungan untuk melakukan onani (masturbasi) atau berzina yang sangat dilarang oleh Islam. Kelima, tidak bisa memanfaatkan kegembiraan dan kelezatan dalam hubungan seksual.

            Kloning  terhadap  manusia  banyak  melahirkan  persoalan  bagi kehidupan manusia, terutama dari sisi etika dan persoalan keagamaan serta  keyakinan,  namun  di  sisi  lain  adapula  beberapa  manfaatnya. Sedang menurut M. Qurash Shihab seperti yang dikutip dalam Al-Islam dan  IPTEK,  bahwa  Islam tidak  pernah  memisahkan  ketetapan-ketetapan  hukumnya  dari  moral.  Sehingga  dalam  kasus  kloning, walaupun dalam segi akidah tidak melanggar wilayah kodrat Illahi, namun karena dari moral teknologi kloning dapat mengantar kepada pelecehan manusia, maka dilarang lahir dari aspek ini.

            Dengan  demikian,  perlu  kita sadari  bahwa  hal  ihwal  tentang penciptaan setiap  yang hidup/ bernyawa adalah termasuk dalam wilayah  kekuasan Tuhan yang sangat mustahil untuk dapat ditiru oleh ilmuan sejenius apapun,  kesadaran  ini  perlu  ada  dalam  jiwa  manusia  untuk  lebih bijaksana  dalam  menjelajahi  ilmu  pengetahuan,  atau  paling  tidak  meminimalisir sikap coba-coba yang akan menyebabkan organisme dan gen atau bahan-bahan dasar lainnya terbuang sia-sia atau dimatikan begitu saja dengan unsur kesengajaan yang lebih besar hanya demi teknologi.

 

KESIMPULAN

            Berdasarkan uraian dari pembahasan di atas, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: 1) Kloning pada manusia secara teoritis dapat diartikan upaya untuk menduplikasi genetik yang sama dari suatu organisme dengan menggantikan inti sel dari sel telur dengan inti sel organisme lain. Kloning manusia dilakukan dengan mempersiapkan sel telur yang sudah diambil intinya lalu disatukan dengan sel dewasa dari suatu organ tubuh. Hasilnya ditanam ke rahim seperti halnya embrio bayi tabung. 2) Beberapa jenis kloning yang dikenal, antara lain kloning DNA rekombinan, kloning reproduktif, dan kloning terapeutik. 3) Kloning manusia dapat dilakukan dengan cara mengambil sel tubuh (sel somatik) dari tubuh manusia, kemudian diambil inti selnya (nukleusnya), dan selanjutnya ditanamkan pada sel telur (ovum) wanita yang telah dihilangkan inti selnya dengan suatu metode yang mirip dengan proses pembuahan atau inseminasi buatan. 4) Dalam  Islam,  kegiatan kloning  dapat  menimbulkan akibat  yang  fatal apabila dilakukan  terhadap  manusia  yaitu  mulai  dari perkawinan,  nasab  dan  pembagian  warisan  dan  tentu  hal  ini  akan keluar  dari  jalur  Islam, sebagaimana  yang telah tercantum dalam firman  Allah QS. Al-Hajj ayat 5, bahwa paradigma Al-Qur’an  mengenai  penciptaan  manusia  dan  terlihat  pencegahan terhadap  tindakan-tindakan  manusia  yang  mengarah  terhadap cloning, mulai dari awal kehidupan hingga saat kematian, semuanya adalah tindakan dari Tuhan. Segala bentuk peniruan atas tindakanNya dianggap sebagai perbuatan melampaui batas. 5) Dalam Al-Qur’an  telah mengisyaratkan  adanya  intervensi manusia  di dalam  proses  produksi  manusia, sebagaimana  termaktub di dalam Q.S. Al-Mukminun ayat 13-14 yang mengisyaratkan unsur manusia ada tiga yaitu; unsur jasad (jasadiyah), unsur nyawa (nafs), dan unsur ruh (ruh).

 

DAFTAR PUSTAKA

Anonymous. 2010. Kloning Gen Manusia. (Online.http://sourceflame.blogspot.com/2010/12/pengertian-kloning-gen-manusia-dan.html). Diakses Tanggal 24 Desember 2011.

Anonymous. 2009. Kloning Gen. (Online.http://wordbiology.wordpress.com/2009/02/02/kloning-gen/). Diakses Tanggal 24 Desember 2011.

Anonymous. 2011. Kloning. (Online. http://id. wikipedia.org/wiki/Kloning). Diakses Tanggal 24 Desember 2011.

Daryono, Budi. 2009. Kloning pada Manusia. (Online. http://budidaryono.blog.ugm. ac.id/2009/10/08/dilema-di-balik-upaya-kloning-pada-manusia/). Diakses Tanggal 24 Desember 2011.

Elrod S, Stansfield W. 2002. Genetika Edisi 4. Jakarta: Erlangga.

Masduki, M. 2007. Kloning Menurut Pandangan Islam. Pasuruan: Garoeda.

Muhammad, S.A. 2001.  Pengantar Kloning Gena. Yogyakarta: Yayasan Esentia Medica.

Musthafa, Aziz  dan  Imam Musbikin. 2001. Kloning manusia Abad XXI Antara Harapan, Tantangan dan pertentangan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: