Fenomena Hereditas Penderita Penyakit Hemofilia dalam Perspektif Genetika Populasi Di Indonesia

The phenomenon of Heredity Disease Hemophilia Patients in Population Genetics Perspective on Indonesia

Heni Tri Utami, Dr. H.Moch. Agus Krisno B,  M.Kes

Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Muhammadiyah Malang

Jl. Tlogomas 246 Malang Telp 464318

Abstract

Hemophilia is a rare genetic disease that causes this disease has a fairly complex problem from various aspects among others in terms of emotional, physical, social and financial. Rare frequency of hemophilia disease causes minimal disease is known by health workers so that more and add to the complex problems faced by people with hemophilia. Nevertheless, the management of patients with hemophilia has been progressing very rapidly in the last 40 years.

Hemophilia is a genetic disorder caused by deficiency of blood clotting factors that cause one’s blood freezes hard. People with hemophilia do not have anti-hemophilia factor in their blood. This causes the patient’s blood is difficult to freeze. This disorder is recessive and is controlled by the X-linked genes. This property is more at risk experienced by men than women.

Key word: Population genetics, Heredity, Hemophilia

 Abstrak

Hemofilia merupakan penyakit genetik yang jarang terjadi sehingga menyebabkan penderita penyakit ini mengalami permasalahan yang cukup kompleks dari berbagai segi antar lain segi emosional, fisik, social dan keuangan. Jarangnya frekuensi penyakit hemofilia menyebabkan minimnya penyakit ini diketahui oleh tenaga kesehatan sehingga semakin menambah kompleks permasalahan yang dihadapi oleh penderita hemofilia.

Hemofilia adalah kelainan genetik pada darah yang disebabkan adanya kekurangan faktor pembekuan darah yang mengakibatkan darah seseorang sukar membeku. Penderita hemophilia tidak memiliki faktor anti hemophilia dalam darahnya. Hal tersebut menyebabkan darah penderita sulit membeku. Kelainan ini bersifat resesif dan dikontrol oleh gen yang terpaut kromosom X. Sifat ini lebih berisiko dialami oleh pria dibanding wanita.

PENDAHULUAN

            Genetika populasi adalah cabang dari ilmu genetika yang mempelajari gen-gen dalam populasi dan menguraikannya secara matematik akibat dari keturunan pada tingkat populasi. Genetika populasi berusaha menjelaskan implikasi yang terjadi terhadap bahan genetik akibat saling kawin yang terjadi di dalam satu atau lebih populasi. Suatu populasi dikatakan seimbang apabila frekuensi genetik berada dalam keadaan tetap dari setiap generasi (Elrod S &Stansfield W, 2002).

Hereditas adalah pewarisan watak dari induk ke keturunannya baik secara biologis melalui gen (DNA) atau secara sosial melalui pewarisan gelar, atau status sosial. Seperti diketahui kromosom ada dua jenis yaitu Autosom dan Gonosom, jadi penyakit genetik pada manusia juga ada dua sebab yaitu disebabkan oleh kelainan autosom dan disebabkan oleh kelainan gonosom (Anonymous, 2011).

Peristiwa penurunan sifat atau hereditas telah mendapat banyak perhatian peneliti. Peneliti yang paling popular adalah Gregor Johann Mendel. Ilmuwan ini lahir pada tahun 1822 di Cekoslowakia.  Pada tahun 1842, mendel mulai mengadakan penelitian dan meletakkan dasar-dasar hereditas. Ilmuwan yang juga birawan ini menemukan prinsip-prinsip dasar pewarisan melalui percobaan yang dikendalikaan dengan cermat dalam pembiakan silang (Saman, 2004).

Hemofilia  berasal  dari  bahasa  Yunani  Kuno,  yang  terdiri  dari  dua  kata  yaitu   haima  yang  berarti  darah  dan  philia  yang  berarti  cinta  atau   kasih  sayang.  Hemofilia  adalah  suatu  penyakit  yang diturunkan,  yang  artinya  diturunkan  dari  ibu  kepada  anaknya  pada  saat  anak  tersebut dilahirkan. Darah pada seorang penderita hemofilia  tidak  dapat  membeku   dengan sendirinya  secara normal (Anonymous, tanpa tahun).

Saat ini, penderita hemofilia mem­pu­nyai usia dan  harapan hidup yang sama dengan individu normal lainnya, produktif sebagai anggota masyarakat, dapat berpartisipasi lebih baik sebagai sebagai anggota keluarga, maupun di sekolah.

Hemofilia

1.      Pengertian Hemofilia

Hemofilia adalah penyakit keturunan yang mengakibatkan darah seseorang sukar membeku. Penderita hemofilia jika terluka darahnya akan membeku sekitar 50 menit hingga 2 jam. Hal ini akan mengakibatkan penderita hemofilia mengalami kehilangan banyak darah dan dapat menimbulkan kematian. Penyakit ini dikendalikan oleh gen resesif (h) yang terpaut kromosom X (Oman, 2008).

Hemofilia paling banyak diderita hanya pada pria. Wanita  akan  benar-benar  mengalami  hemofilia  jika  ayahnya  adalah  seorang hemofilia dan ibunya adalah pembawa  sifat (carrier). Sebagai suatu penyakit  yang  diturunkan,  orang  akan  terkena  hemofilia  sejak  ia  dilahirkan,  akan  tetapi  pada  kenyataannya  hemofilia  selalu  terdeteksi di tahun pertama kelahirannya (Anonymous, tanpa tahun).

Penderita hemofilia tidak memiliki faktor anti hemofilia dalam darahnya. Hal tersebut  dapat menyebabkan darah penderita sulit membeku. Kelainan ini bersifat resesif dan dikontrol oleh gen yang terpaut kromosom X. Sifat ini lebih berisiko dialami oleh pria dibanding wanita. Satu (1) kromosom X saja terdapat gen h akan menyebabkan hemophilia pada pria. wanita hemophilia hanya terjadi jika kedua kromosom X memiliki gen h (Anonymous, 2011).

2.  Penyebab Hemofilia

Pria dan wanita masing-masing memiliki 23 pasang kromosom. Wanita memiliki dua kromosom X; pria memiliki 1 kromosom X dan 1 kromosom Y. Hemofilia merupakan penyakit genetik terpaut X, yang berarti penyakit ini diwariskan dari ibu ke anak laki-laki pada kromosom X. Jika si ibu membawa gen hemofilia pada salah satu kromosom X-nya, setiap anak laki-lakinya memiliki peluang 50% untuk menderita hemophilia (Samuel, 2011).

Walaupun anak perempuan jarang sekali menunjukkan gejala hemofilia, mereka dapat menjadi pembawa penyakit ini. Pada beberapa kasus, anak perempuan yang pembawa dapat mengalami gejala perdarahan ringan. Bagi anak perempuan untuk menderita hemofilia, mereka harus mendapat kromosom dari ayahnya yang hemofilia, dan juga kromosom X dari ibunya yang merupakan pembawa. Walaupun ini sangat mungkin terjadi namun sangat kecil kemungkinannya (Samuel, 2011).

Faktor penyebab Hemofilia:
a) Faktor Genetik

Hemofilia menurun dari generasi ke generasi lewat wanita pembawa sifat (carier) dalam keluarganya, yang bisa secara langsung, bisa tidak. Di dalam setiap sel tubuh manusia terdapat 23 pasang kromosom dengan bebagai macam fungsi dan tugasnya. Kromosom ini dapat menentukan sifat atau ciri organism. Sementara, sel kelamin adalah sepasang kromosom di dalam inti sel yang menentukan jenis kelamin. Seorang pria mempunyai satu kromosom X dan satu kromosom Y, sedangkan wanita mempunyai dua kromosom X. Pada kasus hemofilia, kecacatan terdapat pada kromosom X akibat tidak adanya protein faktor VIII dan IX (dari keseluruhan 13 faktor), yang diperlukan bagi komponen dasar pembeku darah (fibrin). (Sylvia&Lloraine, 2003).

b) faktor komunikasi antar sel

Adanya interaksi/komunikasi antar sel, menyebabkan hilangnya satu bagian saja atau kerusakan sekecil apapun padanya, akan menjadikan keseluruhan proses tersebut  tidak berfungsi. Dalam jalur intrinsic menggunakan faktor-faktor yang terdapat dalam sistem vaskular atau plasma. Pengaktifan salah satu prokoagulan akan mengakibatkan pengaktifan bentuk seterusnya. Faktor XII, XI, dan IX harus diaktivasi secara berurutan, dan faktor VIII harus dilibatkan sebelum faktor X dapat diaktivasi(Sylvia&Lloraine, 2003).

Aktivasi faktor X dapat terjadi sebagai akibat reaksi jalur ekstrinsik atau jalur intrinsik. Pada penderita hemofilia, dalam plasma darahnya kekurangan bahkan tidak ada faktor pembekuan darah, yaitu faktor VIII dan IX. Semakin kecil kadar aktivitas dari faktor tersebut maka, pembentukan faktor X dan seterusnya akan semakin lama. Sehingga pembekuan akan memakan waktu yang lama  (terjadi perdarahan yang berlebihan) (Sylvia&Lloraine, 2003).

c) faktor epigenik

Hemofilia A disebabkan kekurangan faktor VIII dan hemofilia B disebabkan kekurangan faktor IX. Kerusakan dari faktor VIII dimana tingkat sirkulasi yang fungsional dari faktor VIII ini tereduksi. Aktifasi reduksi dapat menurunkan jumlah protein faktor VIII, yang dapat menimbulkan abnormalitas dari protein. Faktor VIII menjadi kofaktor yang efektif untuk faktor IX yang aktif, faktor VIII aktif, faktor IX aktif, fosfolipid dan juga kalsium bekerja sama untuk membentuk fungsional aktifasi faktor X yang kompleks (”Xase”), sehingga hilangnya atau kekurangan kedua faktor ini dapat mengakibatkan kehilangan atau berkurangnya aktifitas faktor X yang aktif dimana berfungsi mengaktifkan protrombin menjadi trombin, sehingga jika trombin mengalami penurunan pembekuan yang dibentuk mudah pecah dan tidak bertahan mengakibatkan pendarahan yang berlebihan dan sulit dalam penyembuhan luka. (Sylvia&Lloraine, 2003).

Ketika seseorang mengalami perdarahan berarti terjadi luka pada pembuluh darah (yaitu saluran tempat darah mengalir keseluruh tubuh), lalu darah keluar dari pembuluh. Pembuluh darah mengerut/ mengecil. Keping darah (trombosit) akan menutup luka pada pembuluh. Faktor-faktor pembeku darah bekerja membuat anyaman (benang- benang fibrin) yang akan menutup luka sehingga darah berhenti mengalir keluar pembuluh (Reliance, 2010).

Ketika penderita hemofilia  mengalami perdarahan berarti terjadi luka pada pembuluh darah (yaitu saluran tempat darah mengalir keseluruh tubuh), lalu darah keluar dari pembuluh. Pembuluh darah mengerut/ mengecil. Keping darah (trombosit) akan menutup luka pada pembuluh. Kekurangan jumlah factor pembeku darah tertentu, mengakibatkan anyaman penutup luka tidak terbentuk sempurna, sehingga darah tidak berhenti mengalir keluar pembuluh (Reliance, 2010).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 1.1 Proses pembekuan darah pada orang normal (atas) Proses pembekuan darah pada penderita hemofilia (bawah)

Sumber:http://enfermeriaaa.blogspot.com/2009/03/conceptos-basicos-sobre-hemofilia.html

3. Tipe-Tipe Hemofilia

            Tubuh kita memiliki 12 faktor pembekuan yang bekerja sama dalam proses ini (dinomori dengan angka Romawi dari I sampai XII). Jumlah faktor VIII dan IX yang sedikit merupakan penyebab hemofilia. Penderita hemofilia hanya kekurangan satu faktor saja, baik itu faktor VIII ataupun faktor IX, yang jelas tidak keduanya (Samuel, 2011).

 

 

 

 

 

Gambar1.2 Komponen Darah

Sumber:http://dinkes.bontangkota.go.id/images/stories/others/hmofiliiii.jpg

Hemofilia terbagi atas dua jenis, yaitu  :

1.  Hemofilia A; yang dikenal juga dengan nama hemofilia klasik  karena  jenis  hemofilia  ini  adalah yang  paling  banyak  kekurangan  faktor  pembekuan  pada darah.  Disebut juga hemofilia  kekurangan  Factor  VIII terjadi  karena  kekurangan  faktor  8  Factor  VIII)  protein  pada darah  yang  menyebabkan  masalah  pada  proses  pembekuan darah.

2.  Hemofilia B; yang dikenal juga dengan nama Christmas disease karena di temukan  untuk pertama kalinya  pada seorang bernama Steven Christmas asal Kanada.   Disebut juga Hemofilia  kekurangan  Factor  IX terjadi  karena  kekurangan  faktor  9 (Factor  IX)  protein  pada  darah  yang  menyebabkan masalah pada proses pembekuan darah (Anonymous, tanpa tahun).

Hemofilia A atau B adalah suatu penyakit yang jarang ditemukan. Hemofilia A terjadi sekurang – kurangnya 1 di antara 10.000 orang. Hemofilia B lebih jarang ditemukan, yaitu 1 di antara 50.000 orang (Anonymous, tanpa tahun).

Hemofilia diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu :

1.  Hemofilia berat, jika kadar aktivitas faktor kurang dari 1 %.

2.  Hemofilia sedang, jika kadar aktivitas faktor antara 1-5 %.

3.  Hemofilia ringan, jika kadar aktivitas faktor antara 6-30 % (Anonymous, 2008).

 

 

 

 

 

Gambar 1.3 klasifikasi hemofilia

Sumber:http://enfermeriaaa.blogspot.com/2009/03/conceptos-basicos-sobre-hemofilia.html

Gangguan pembekuan darah terjadi karena kadar aktivitas faktor pembeku darah jenis tertentu kurang dari jumlah normal, bahkan hampir tidak ada. Sementara tingkat normal faktor VIII dan IX adalah 50-200 %. Pada orang normal, nilai rata-rata kedua faktor pembeku darah adalah 100% (Anonymous, 2008).

4. Gejala atau Tanda Hemofilia

Beratnya gejala tergantung kepada pengaruh kelainan gen yang terjadi terhadap aktivitas faktor VIII dan faktor IX.
Jika aktivitasnya kurang dari 1 %, maka akan terjadi episode perdarahan hebat dan berulang tanpa alasan yang jelas (Anonymous, 2011).

Biasanya pada episode perdarahan pertama terjadi sebelum usia 18 bulan, yang sering terjadi setelah suatu cedera ringan.

Gejala hemofilia antara lain:

  • Memar dengan jumlah dan pada lokasi yang tidak biasanya
  • Apabila terjadi benturan pada tubuh penderita akan mengakibatkan kebiru-biruan atau pendarahan di bawah kulit.
  • Apabila terjadi pendarahan di kulit luar maka terjadi pendarahan yang tidak dapat berhenti
  • Pendarahan dalam kulit sering terjadi pada persendian seperti siku tangan maupun lutut kaki sehingga mengakibatkan rasa nyeri yang hebat (Anonymous, tanpa tahun).

5. Pengobatan Hemofilia

  • Seperti halnya penyakit genetis lain, sampai saat ini masih belum ada terapi yang dapat menyembuhkan penyakit hemofilia secara total. Penangan ditujukan untuk pencegahan dan pengobatan jika terjadi perdarahan (Arie, 2009).

    Pengobatan definitif yang bisa dilakukan oleh penderita Hemofilia adalah dengan metode RICE. Berikut penjabarannya:

    • Rest yaitu penderita harus senantiasa beristirahat.
    • Ice yaitu jika terjadi luka, perdarahan itu dibekukan dengan mengkompresnya dengan es.
    • Compression, dalam hal ini, luka itu juga harus dibebat atau dibalut dengan perban.
    • Elevation yaitu berbaring dan meninggikan luka tersebut lebih tinggi dari posisi jantung (Arie Y, 2009).

    Untuk menjaga kadar pembeku dalam darah (VIII dan IX) dan sebagai pencegah terjadinya pendarahan dapat dilakukan pemberian faktor pembeku VIII dan IX dalam bentuk suntikan atau injeksi. Meskipun sampai saat ini belum ada terapi yang dapat menyembuhkan hemofilia, tapi dengan pengobatan yang memadai, Para penderita dapat hidup dengan baik dan sehat (Arie Y, 2009).

    Sesuai  firman Allah SWT:

    Surat At-tin ayat 4

    Artinya:

    Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya .

    Dari ayat diatas dapat kita ketahui bahwa Allah SWT menciptakan manusia sebagai Khalifah di bumi karena manusia adalah ciptaan Allah yang paling sempurna. Manusia dilengkapi dengan akal yang membedakan dengan makhluk lain. Manusia dilengakapi dengan akal yang mana pada bahasan ini agar dia mampu melakukan atau mengobati penyakit yang telah Allah berikan salah satunya yaitu hemofilia dengan berobat atau dengan menghindarkan dia dari sesuatu yang membahayakan hidupnya.

    Surat Al-baqarah ayat 286

 

 

 

 

 

 

 

Artinya:

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma’aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.”

Dari ayat diatas dapat kita ketahui bahwa Allah SWT memberikan penyakit kepada manusia sebagai bentuk ujian, salah satunya penyakit hemofilia. Allah memberikan penyakit kepada manusia sebagai bentuk pengujian kepada manusia, apakah dia   mampu menerima dan bersabar dalam mengahadapi ujian. Tapi Allah SWT  juga tidak akan memberikan cobaan diluar batas kemampuan   umatnya.

Penderita Hemofilia Di Indonesia

Nasib penderita kelainan darah hemofilia di Indonesia masih memprihatinkan. Dari puluhan ribu penderita hemofilia yang ada, hanya segelintir saja yang tercatat, terdiagnosis dan tertangani. Sedangkan sisanya tersebut  tidak terdiagnosis dan mendapatkan mendapatkan pengobatan yang sesuai (Acandra, 2010).

Berdasarkan data yang dimiliki Himpunan Masyarakat Hemofilia Indonesia (HMHI), jumlah penderita hemofilia diperkirakan sekitar 20.000 orang.  Namun hingga Maret 2010, tercatat hanya 1.236 penderita hemofilia dan kelainan pendarahan lainnya yang teregistrasi. Hal ini menunjukkan baru sekitar 5 persen saja kasus yang terdiagnosis. Hingga saat ini, sebagian besar penderita kelainan darah di Indonesia belum terdiagnosis dengan tepat. Angka 1.200 itu adalah berdasarkan data pasien yang mereport atau yang datang ke tempat layanan kesehatan. Sedangkan yang lainnya masih banyak yang belum  teregistrasi (Acandra, 2010).

Diakui Prof Moeslichan (Ketua HMHI), masih banyaknya penderita yang tidak tercatat, terdiagnosa dan terobati adalah akibat beragam masalah seperti minimnya fasilitas pemeriksaan di tempat-tempat layanan kesehatan, mahalnya harga pengobatan, hingga miskinnya informasi dan pelaporan masyarakat tentang penyakit ini (Acandra, 2010).

Persilangan Hemofilia

Jika orang tua merupakan penderita hemofilia, maka dapat dipastikan akan melahirkan anak-anak yang hemofilia. Jika seorang wanita carier menikah dengan laki-laki normal maka keturunannya  kemungkinan anak 75% normal (terdiri dari 25% perempuan normal, 25% perempuan normal carrier, dan 25 % laki-laki normal) dan 25% laki-laki menderita hemophilia. Bagaimana ini dapat terjadi?

Bila:

1.    Genotip wanita hemofilia:
HH = XHXH =wanita  normal

Hh = XHXh = wanita  carrier

Hh = XhXh =  wanita hemofilia

2.    genotip laki-laki hemofilia:
XHY = laki-laki normal

XhY =  laki-laki hemophilia

P         :          XHXh  ><  XHY

(wanita carier)  (pria normal )

Gamet : XH dan Xh        XH dan Y

XH Y
XH XHXH XHY
Xh XhXH XhY

F1:

XHXH: perempuan normal

XHXh: perempuan normal carier

XHY: Laki-laki normal

XhY: Laki-laki hemofilia

Untuk :

XHXH, XHXh, XHY (normal 75 %)

XhY(hemofilia 25 %)

 

 

 

 

 

Gambar 1.4 Perkawinan laki-laki normal dengan wanita carier

Sumber:http://www.tanyadokteranda.com/2010/03/kenali-hemofilia-sejak-dini/

Jika  wanita normal menikah dengan pria penderita hemofilia, maka kemungkinan anak mereka adalah 100 %  normal  terdiri dari 50 % perempuan carier dan 50 % laki-laki normal. Bagaimana hal ini dapat terjadi?

P         :  XHXH  ><  XhY

(wanita normal)   (pria hemofilia )

Gamet : XH dan XH        Xh dan Y

Xh Y
XH XHXh XHY
XH XHXh XHY

F1:

XHXh: perempuan carier

XHXh: perempuan carier

XHY: laki-laki normal

XHY: laki-laki normal

Untuk: XHXh, XHXh, XHY, XHY (normal 100 %)

 

 

 

 

 

Gambar 1.6 Perkawinan laki-laki hemofilia dengan wanita normal

Sumber:http://www.tanyadokteranda.com/2010/03/kenali-hemofilia-sejak-dini/.

Jika wanita carier menikah dengan laki-laki penderita hemophilia maka keturunanya 50 % normal (terdiri dari 25 % perempuan carier, dan 25 % laki-laki normal) dan 50 % hemofilia (terdiri dari 25 % perempuan hemofilia dan 25% laki-laki hemofilia). Bagaimana ini dapat terjadi?

P         :  XHXh  ><  XhY

(wanita carier)   (pria hemofilia )

Gamet : XH dan Xh      Xh dan Y

Xh Y
XH XHXh XHY
Xh XhXh XhY

F1:

XHXh: perempuan normal carier

XhXh: perempuan hemofilia

XHY: laki-laki normal

XhY: laki-laki hemofilia

Untuk:

XHXh, XHY (normal 50 %)

XhXh, XhY (hemofilia 50 %)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 1.6perkawinan laki-laki hemophilia dengan wanita carier

Sumber:http://www.tanyadokteranda.com/2010/03/kenali-hemofilia-sejak-dini/

Penderita hemofilia di Indonesia pada tahun 2010:

Jumlah penduduk Indonesia berdasarkan hasil sensus 2010 adalah sebanyak 237.556.363 orang, terdapat 1.236 orang menderita hemofilia. Berapa orang pembawa sifat hemofilia pada Negara tersebut?

  1. Orang hemofilia =

hh  =      1.236_

237.556.363

= 0,000005202

a =√0,000005202

= 0,002281003

Dibulatkan = 0,0023

A + a = 1

A = 1 – 0,0023

= 0,9977

Jadi frekuensi gen A = 0,9977dan a = 0,0023

  1. Orang pembawa sifat hemofolia (Hh)

Hh = 2Hh = 2 x 0,9977 x 0,0023 = 0,00458942

Dibulatkan = 0,0046 = 0,46 %

Berarti dalam populasi 237.556.36 orang terdapat carrier hemofilia sebanyak

237.556.363 x 0,0046= 1.092.759 orang.

Kesimpulan.

  • Hemofilia adalah penyakit keturunan yang mengakibatkan darah sukar membeku. Penyakit hemofilia dikendalikan oleh gen resesif (h) yang terpaut oleh kromosom X.
  • Satu (1) kromosom X saja yang terdapat pada gen h akan menyebabkan hemofilia pada pria. wanita hemophilia hanya terjadi jika kedua kromosom X memiliki gen h.
  • Hemofilia A; yang dikenal juga dengan nama hemofilia klasik  karena  jenis  hemofilia  ini  adalah yang  paling  banyak  kekurangan  faktor  pembekuan  pada darah. Disebut juga Hemofilia  kekurangan  Factor  VIII terjadi  karena  kekurangan  faktor  8  Factor  VIII)  protein  pada darah  yang akan menyebabkan  masalah  pada  proses  pembekuan darah.
  • Hemofilia B; yang dikenal juga dengan nama Christmas disease karena di temukan  untuk pertama kalinya  pada seorang bernama Steven Christmas asal Kanada.   Atau disebut juga hemofilia  kekurangan  Factor  IX terjadi  karena  kekurangan  faktor  9  Factor  IX)  protein  pada  darah  yang  menyebabkan masalah pada proses pembekuan darah

    DAFTAR PUSTAKA 

Acandra, 2010. Penderita Hemofilia Tak Terurus. http://kesehatan.kompas.com/read/2010/04/15/16081298/Penderita.Hemofilia.Tak.Terurus. Diakses 28 Desember 2011

Akhyar, M. Salman. 2004. Biologi untuk SMA kelas XII Semester 1. Bandung: Grafindo Media Utama

Anonymous, 2008. Gangguan Pembekuan darah atau Koagulasi.http://devin4.blogdetik.com/ Diakses 28 Desember 2011.

Anonymous, 2011. Hemofilia. http://medicastore.com/penyakit/768/Hemofilia.html. Diakses 28 Desember 2011

Anonymous, 2011. Makalah Hemofili.http://www.scribd.com/doc/63045240/MAKALAH-HEMOFILI diakses 28 Desember 2011.

Anonymous, tanpa tahun. Tetes Cinta Hemofilia. http://www.soindonesia.org/files/fact%20sheet%20HemofiliaBahasa%20Indonesia_0.pdf. Diakses 28Desember 2011.

Elrod S, Stansfield W.2002. Genetika Edisi 4. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Karmana, Oman. 2008.Biologi untuk kelas XII Semester I Sekolah Menengah Atas. Bandung: Grafindo Media Pratama

Pratiwi, dkk. 2006. Biologi SMA 3. Erlangga: Jakarta. Erlangga.

Price.Sylvia A &Lloraine M.Wilson,2003. Patofisioogi klinik proses-proses penyakit vol.1.)

Reliance, 2010. Hemofilia. http://www.reliance-insurance.com/Info%20Sehat/Info_Sehat_Mar_2010_HEMOFILIA.pdf. Diakses 28 Desember 2011.

Samuel, 2011. Hemofilia pada Remaja.http://www.morphostlab.com/artikel/hemofilia-pada-remaja.html. Diakses 28 Desember 2011.

Yulianto, Arie. 2009. Kenali Hemofilia Sejak Dini. http://www.tanyadokteranda.com/2010/03/kenali-hemofilia-sejak-dini/. Diakses 28 Desember 2011.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: