PEMANFAATAN MIKROBIOLOGI KLINIK UNTUK PENGOBATAN PENYAKIT INFEKSI

Pendahuluan

 

 

 

 

 

 

 

Gambar : virus

Virus merupakan ‘mahluk-mahluk halus’ yang merupakan mikroba atau mikroorganisme sebagai penyebab penyakit infeksi, yang berhasil dideteksi oleh para ahli Mikrobiologi Kedokteran karena mempunyai tanggung jawab secara profesional untuk melakukan tindakan pencegahan penyebaran dan penanggulangannya. Mikrobiologi Kedokteran sangat berperan dalam penanganan penyakit infeksi terutama untuk mengetahui penyebab infeksinya sehingga mudah diketahui berbagai cara penanggulangannya baik yang terjadi di komunitas maupun dirumah sakit. Mikrobiologi kedokteran dalam pelayanan medis di klinik, selanjutnya disebut Mikrobiologi Klinik, berperan pada semua tahap proses medis, mulai tahap pengkajian, tahap analisis dan penegakan diagnosis klinik, penyusunan rancangan intervensi medis, implementasi rancangan intervensi medis, sampai dengan tahap evaluasi, dan penetapan tindak lanjut.

Mikrobiologi Klinik adalah suatu cabang Ilmu Kedokteran Medik yang memanfaatkan kompentensi di bidang Kedokteran Umum dan Mikrobiologi Kedokteran untuk bersama-sama klinisi terkait melaksanakan tindakan surveilans, pencegahan dan pengobatan penyakit infeksi serta secara aktif melaksanakan tindakan pengendalian infeksi di lingkungan rumah sakit, fasilitas pelayananan kesehatan lain maupun masyarakat.

Sesuai dengan namanya, Mikrobiologi Klinik merupakan salah satu cabang ilmu kedokteran yang berfungsi menjembatani laboratory science, khususnya mikrobiologi medik, dengan clinical sciences, khususnya yang berkaitan dengan manajemen infeksi. Pada pelayanan/asuhan medis dalam menghadapi masalah medis yang berhubungan dengan infeksi, diagnosis rasional dan bijak apabila analisis data dan informasi hasil pengkajian menggunakan landasan teori dan konsep mikrobiologi kedokteran, terutama kepentingannya dalam merancang alternatif tindakan dan terapi antibiotik pilihan (educated-guess). Dengan bertambah jelasnya bidang garapan mikrobiologi klinik dalam menghadapi masalah medis, maka bertambah jelas pula macam dan lingkup perannya dalam mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah medis yang berhubungan dengan penyakit infeksi, baik pengetahuan ilmiah maupun cara-cara pemeriksaan bakteriologi, virologi, mikologi, dan serologi/imunologi, yang sangat berperan dalam proses medis dan pengambilan keputusan medis.

Dalam meningkatkan perkembangan pelayanan dan asuhan medis di masa mendatang, di mana penyakit infeksi masih merupakan salah satu masalah kesehatan yang dihadapi oleh masyarakat di Indonesia, maka mikrobiologi klinik dituntut secara terus menerus mengembangkan cara-cara pemeriksaan mikrobiologi dan konsultasi dengan validitas tinggi dalam rangka meningkatkan kualitas pengelolaan penyakit infeksi. Resistensi bakteri terhadap antimikroba (disingkat : resistensi antimikroba) telah menjadi masalah kesehatan yang mendunia, karena menyulitkan terapi penderita dengan antibiotik pada penyakit infeksi sebagai dampak yang merugikan karena dapat menurunkan mutu pelayanan kesehatan. Data pola keseluruhan penggunaan antibiotik di dalam rumah sakit telah terlihat dalam kepustakaan selama lebih dari satu dekade. Umumnya data tersebut menunjukkan bahwa seperempat sampai sepertiga populasi yang dirawat di rumah sakit telah menerima antibiotik sistemik.

Penelitian lain di tujuh rumah sakit umum yang tersebar di Amerika Serikat menunjukkan bahwa 30 % penderita menerima satu atau lebih antibiotik sistemik, tetapi hanya 38 % dari penderita yang menerima obat tersebut benar-benar mengalami infeksi. Berdasarkan penelitian Djoko Widodo di RSCM Jakarta dinyatakan bahwa 52 % dari seluruh terapi antimikroba dipertimbangkan tidak sesuai. Berdasarkan pada penggunaanya pada pelayanan diketahui bahwa 42 % dari seluruh pelayanan medik tidak sesuai sedangkan dibagian bedah mencapai 62 % dari seluruh terapi antibiotik. Penggunaan yang cukup banyak obat-obat antibakteri tertentu di rumah sakit, apakah pemberiannya untuk indikasi yang tepat atau tidak, mempunyai efek yang besar terhadap inang yang menerima obat-obat tersebut dan bakteri yangterpapar oleh obat tersebut.

Sejumlah pendekatan dilakukan untuk pengendalian penyalah gunaan antibiotik, diantaranya dengan melakukan pendidikan staf dan mencoba membatasi penggunaan antibiotik tertentu dengan komunikasi erat antara apoteker, klinisi dan ahli mikrobiologi. Selain itu, pemberian obat dibatasi hanya untuk terapi yang sesuai dan dilakukan pembatasan terhadap agenagen yang potensial toksik dan mahal. Pemilihan obat juga harus bijaksana termasuk dalam penulisan resep. Berbagai dampak negatif yang merugikan ditemukan baik peningkatan morbiditas maupun mortalitas yang secara keseluruhan akan mengakibatkan menurunnya mutu pelayanan kesehatan. Di seluruh negara telah diupayakan berbagai cara untuk menanggulangi terjadinya peningkatan resistensi antimikroba, baik perorangan, institusi lembaga pemerintahan maupun kerjasama antar institusi dari satu negara atau dengan negara lain. WHO telah berhasil merumuskan 67 rekomendasi guna mengendalikan peningkatan resistensi antimikroba yang dihimpun dalam buku “WHO Global Strategy for Containment of Antimicrobial Resistance” WHO-Geneva 2001. Namun setiap negara memiliki respon yang berbeda beda. Seperti halnya di Indonesia rekomendasi ini nampaknya dilaksanakan secara parsial baik dalam program maupun instansional dan belum ada koordinasi ditingkat nasional.

Meskipun sudah diketahui bahwa penanggulangan resistensi antimikroba ditingkat dunia hanya dapat dituntaskan apabila gerakan global dilaksanakaan secara serentak, terpadu, berkesinambungan dengan komitmen yang tinggi oleh seluruh negara. Perlu pemahaman dan kepercayaan tentang adanya masalah resistensi antimikroba, dilanjutkan dengan gerakan nasional melalui program terpadu antara masyarakat, rumah sakit, profesi kedokteran, usaha farmasi, pemerintah daerah yang dikoordinasi oleh Pemerintah pusat melalui Departemen Kesehatan melaksanakan secara bersama sama penanggulangan resistensi antimikroba paripurna. Peningkatan tumbuh dan berkembangnya resistensi antimikroba terjadi karena proses seleksi (selection) yang berkaitan dengan penggunaan antibiotik dan penyebaran (spread). Proses seleksi dapat dihambat dengan cara meningkatkan penggunaan antibiotik secara bijaksana, sedangkan proses penyebaran dapat dihambat dengan cara melaksanakan pengendalian infeksi (universal precautions) secara benar.

PEMBAHASAN

Peran Laboratorium Mikrobiologi Klinik

Gambar : Peran laboratorium mikrobiologi klinik

  • Tujuan Pokok Laboratorium Mikrobiologi

Laboratorium Mikrobiologi mempunyai tujuan pokok dalam pelayanan laboratorium, yaitu memperoleh kualitas hasil pemeriksaan yang optimal. Para petugas harus menyadari tentang apa yang dibutuhkan dari hasil pemeriksaan untuk dapat menolong penderita. Jawaban yang tidak adekuat merupakan hasil yang buruk, tetapi jawaban yang berlebihan dapat merupakan pemborosan. Dalam hal ini harus ada komunikasi dua arah yang baik antara klinik dan laboratorium untuk dapat memberikan pelayanan sebaik-baiknya.

Dalam aplikasi pelayanan mikrobiologi klinik, pihak laboratorium sedapat mungkin mengusahakan untuk mengetahui sebanyak mungkin tentang bahan spesimen/material klinik yang akan diperiksa. Misalnya, apa diagnosis penyakitnya atau diagnosis sementaranya, bagaimana pemilihan jenis dan jumlah spesimen, hal ini memerlukan pengetahuan mengenai patofisiologi/patogenesis secara molekuler dan imunologi penyakit infeksi, kemudian bagaimana cara transportasi spesimen, kapan spesimen diambil dari penderita dan bagaimana riwayat pengobatan sebelumnya dan sekarang.

Laboratorium harus mampu mempertahankan kualitas sejak bahan diambil dari penderita, apakah tepat waktunya, apakah cukup jumlahnya, apakah memenuhi syarat untuk diperiksa, dsb. Apabila terdapat kekurangan-kekurangan pada kondisi/kualitas spesimen supaya segera dikomunikasikan dengan klinik. Karena pada umumnya hasil pemeriksaan yang sering diperoleh dari laboratorium tidak mencerminkan bakteri patogen sebagai penyebab infeksi melainkan merupakan kontaminasi dari flora normal yang sifatnya endogen dan mikroba dari lingkungan.

Kendala yang timbul dalam tatalaksana operasional adalah bahwa kualitas pemeriksaan dapat dipengaruhi oleh beberapa hal yakni, spesimen salah, kesalahan dalam pengambilan spesimen penyimpanan dan transportasi, pengolahan dan identifikasi, kesalahan pada metoda atua alat 11 yang dipergunakan, kesalahan oleh tenaga laboratorium, kesalahan dalam membaca hasil dan menulis laporan atau dalam interpretasi hasil. Untuk meningkatkan mutu pelayanan laboratorium selain validitas hasil seperti tersebut di atas maka yang perlu diperhatikan lagi adalah kecepatan hasil, sehingga klinisi dapat segera memberikan tindakan dan terapi secara tepat dan tepat kepada penderita, dan akhirnya dapat memberikan pelayanan kesehatan paripurna.

Pemeriksaan Mikrobiologi Klinik

  • Pelayanan Operasional Laboratorium Mikrobiologi

Gambar : pelayanan oprasional pada laboratorium mikrobiologi

            Pemeriksaan Mikrobiologi Klinik berperan dalam seluruh tahapan asuhan/pelayanan medis yang berhubungan dengan tatalaksana perawatan/ pengobatan penderita penyakit infeksi yang meliputi :

Diagnosis Penyakit Infeksi 7

• Tahap Penapisan :

– Langsung : Leptospirosis, Lues,. dsb.

– Pengecatan: Dipteri, Tuberkulosis, Leptospirosis, Gas gangren, Gonorrhoe, Tetanus,        Sifilis, Mikosis, dsb.

• Tahap Diagnostik :

– Kultur dan Tes Resistensi

– Tes Imuno-Serologi : Demam Tifoid, Sifilis, Demam

Berdarah Dengue, AIDS, TORCH, SARS, Avian Flu dsb.

– Tes Mikrobiologi Molekuler: TBC, Avian Flu, SARS

• Pengelolaan penderita (monitoring)/tindak lanjut. (hasil terapi antibiotik)

• Pemeriksaan lanjutan Kultur dan Tes Resistensi

Screening donor darah

Tes Serologi : Sifilis, AIDS, Malaria, Demam,  Tifoid., dan Hepatitis B

Penerapan Biosafety (Keamanan Hayati) Dalam

Laboratorium.

Mengacu pada Keputusan Menteri Kesehatan No.1244/Menkes/XII/1994 tentang : Pedoman Keamanan Laboratorium Mikrobiologi dan Biomedis.

Kegiatan Operasional

   Gambar : Alat pemeriksaan pada laboratorium mikrobiologi

Dengan bertambah jelasnya bidang garapan mikrobiologi klinik dalam menghadapi masalah medis, maka bertambah jelas pula macam dan lingkup perannya dalam mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah medis yang berhubungan dengan penyakit infeksi, baik pengetahuan ilmiah maupun cara-cara pemeriksaan bakteriologi, virologi, mikologi, dan serologi / imunologi, yang sangat berperan dalam proses medis dan pengambilan keputusan medis.

Resistensi kuman terhadap antibiotik, terlebih lagi multidrug resistance merupakan masalah yang sulit diatasi dalam pengobatan pasien. Hal ini muncul sebagai akibat pemakaian antibiotik yang kurang tepat dosis, macam dan lama pemberian sehingga kuman berubah menjadi resisten. Antibiotik seharusnya hanya diberikan kepada pasien dengan diagosis infeksi bakteri yang sudah ditegakan. Apabila bukan infeksi bakteri tetapi infeksi virus atau persangkaan klinis nampaknya bukan suatu infeksi bakterial dianjurkan jangan diberi antibiotika. Kadangkala untuk menegakan diagnosis adanya infeksi, memerlukan berbagai pemeriksaan laboratorium pendukung. Pemeriksan mikrobiologi klinik memungkinkan untuk mengetahui kuman penyebab infeksi beserta gambaran pola kepekaan kuman terhadap antibiotik, sehingga akan membantu klinisi dalam pemilihan antibiotika. Hanya saja untuk pemeriksan sampai indentifikasi spesies dan gambaran antibiogram memerlukan waktu antara 3 – 4 hari, sementara itu pemberian antibiotik kepada pasien tidak dapat ditunda. Dalam keadaan seperti ini maka pemilihan antibiotik secara educated guess sangat penting berdasarkan gambaran pola kepekaan kuman setempat.

 

AUDITING PETA MEDAN KUMAN DAN ANTIBIOGRAM

  • Peta MedanKuman

Penggunaan antibiotik yang efektif tentunya harus sesuai dengan diagnosis yang telah ditetapkan oleh seorang dokter. Penggunaan akan lebih bijaksana jika pengobatan yang diberikan kepada penderita berbasi bukti yang didapat melalui uji resistensi terhadap mikroba penyebab infeksi. Pada kenyataannya seorang dokter seringkali harus mengobati seorang penderita sebelum hasil uji resistensi diperoleh. Dalam keadaan seperti ini, pedoman yang diambil harus sesuai dengan pola resistensi mikroba dari rumah sakit yang bersangkutan. Pedoman penggunaan antibiotik pada suatu rumah sakit harus berdasarkan hasil surveilans yang melibatkan penentu kebijakan di rumah sakit, klinisi, ahli mikrobiologi, dan ahli farmakologi.

Data surveilans minimal harus memuat pola resistensi mikroba patogen yang sering ditemukan di suatu rumah sakit. Berdasarkan evaluasi bersama dari hasil surveilans yang diperoleh, ditentukan antibiotik yang paling efektif digunakan di rumah sakit yang bersangkutan. Dengan demikian pada suatu kasus infeksi dirumah sakit, dapat ditentukan antibiotik pilihan utama dan alternatifnya melalui :

ü  Pendekatan sistim/ review hasil pemeriksaan mikrobiologi klinik

ü  TAT (Turn Around Time)— 3 – 4 hari

ü  Komitmen dengan klinisi bahwa hasil antibiogam dipakai sebagai data Empirik

ü  Dokumentasi hasil evaluasi dan tindak lanjut hasil antibiogram (penggunaan/pemilihan antibiotik sesuai kultur)

 

Masalah KLB Kuman Penghasil ESBL (Extended Spectrum Beta Lactamases ).

  • Strategi Pengendalian Infeksi Nosokomial.

Infeksi yang disebabkan oleh kuman penghasil ESBL dapat dibagi lagi menurut berbagai organ/sistem sebagai berikut:

1. Infeksi Saluran Kemih

2. Bakteremia primer dan sekunder

3. Infeksi saluran napas bawah nosokomial- ventilator associated pneumonia

4. Infeksi saluran cerna- abses intra abdominal- peritonitischolangitis

5. Infeksi pada kulit dan jaringan lunak

6. Infeksi luka infus- pemasangan kateter intra vena sentral dan perifer

7. Sinusitis

8. Neurosurgical meningitis- related to ventricular drainage catheters

Infeksi yang disebabkan oleh kuman penghasil ESBLmenunjukkan dilema therapeutic yang besar karena pilihan antibiotik yang terbatas. Hal ini disebabkan karena enzim betalaktamase yang dihasilkan kuman mempunyai spektrum lebar, kuman penghasil ESBL bersifat resisten terhadap semua golongan beta-laktam termasuk sefalosporin spektrum lebar, aztreonam, penisilin spektrum lebar, dan sering dihubungkan dengan masalah resisten terhadap fluoroquinolone.

Selanjutnya antibiotik seperti trimethoprimsulfamethoxazole dan aminoglikosida terutama gentamisin sering menyebarkan sifat resisten melalui plasmid resisten yang sama, sehingga menyebabkan multi-resisten. Infeksi kuman penghasil ESBL merupakan infeksi yang diperoleh penderita selama dirawat dirumah sakit dan termasuk infeksi saluran kemih, peritonitis, cholangitis, abses intra abdominal, ventilatorassociated pneumonia, dan central-line associated bacteraemia. Meskipun kuman-kuman tersebut bisa menyebabkan infeksi nosokomial, juga sangat penting untuk dibedakan antara kolonisasi dan penyebab infeksi yang signifikan sebelum memutuskan pilihan terapi antibiotik yang akan digunakan, sebab kuman penghasil ESBL cenderung untuk kolonisasi di saluran napas atas dan kulit penderita dengan sakit yang serius dan kritis.

Rekomendasi untuk terapi antibiotik secara optimal berdasarkan efektivitasnya, case series, dan studi observasional secara prospektif. Salah satu problematik utama dengan sefalosporin dan kuman penghasil ESBL adalah deteksi sifat resisten secara invitro. Kuman-kuman ini tampak sensitif pada standar inokulum105 tetapi pada inokulum yang lebih tinggi yaitu 107 atau 108 tampak meningkatkan MIC, hal ini menunjukkan resistensi. Efek inokulum ini terlihat dengan sefalosporin generasi III seperti Ceftazidime, Cefotaxime dan Ceftriaxone.

Manifestasi klinis tidak berubah bila digunakan sefalosporin generasi III untuk terapi kuman penghasil ESBL walaupun kuman sensitif secara in-vitro. Sefalosporin generasi III tidak dianjurkan dipakai untuk infeksi serius yang disebabkan oleh kuman penghasil ESBL. Meskipun cefepime memperlihatkan lebih stabil terhadap upaya hidrolisis oleh kuman penghasil ESBL daripada sefalosporin generasi III, tetapi perubahan klinis akibat terapi dengan antibiotik cefepime belum jelas.

Faktor risiko untuk terjadinya infeksi atau kolonisasi kuman penghasil ESBL :

1. Pemasangan kateter

– Kateter arteri

– Kateter vena sentral

– Kateter saluran kemih

– Gastrostomy atau jejunostomy tube

– Kateter umbilikal

2. Tindakan Bedah

– Operasi abdominal

– Laparotomi darurat

3. Pemakaian antibiotik

– Sefalosporin generasi III (terutama Ceftazidime)

– Fluoroquinolone

– Trimetroprim – sulfamethoxazole

4. Perawatan sebelumnya di panti jompo (Nursing Home).

5. Lamanya waktu perawatan di rumah sakit atau di ICU

Berdasarkan bukti dan data terkini direkomendasikan bahwa penderita yang sakit berat dan kritis dengan risiko tinggi infeksi kuman penghasil ESBL harus di terapi secara empirik, sesuai dengan hasil diagnostik kultur. Meropenem dan Fosfomicin mempunyai efek yang sama terhadap kuman penghasil ESBL . Kombinasi dengan aminoglikosida dapat dipertimbangkan bila terdapat indikasi secara klinis. Bila mencurigai kuman yang tidak menghasilkan ESBL , terapi empirik harus terdiri dari sefalosporin anti –pseudomonal dengan kombinasi aminoglikosida. Apabila hasil kultur adalah kuman penghasil ESBL , terapi harus dimulai dengan carbapenem dengan aminoglikosida atau fosfomicin.

  • Strategi untuk mengontrol timbulnya kuman penghasil ESBL

Spesifik untuk kuman penghasil ESBL dilakukan restriksi penggunaan antibiotik terutama sefalosporin generasi III. Rotational dan penggunaan secara siklik untuk mengurangiresistensi. Survailans dilaksanakan secara periodik untuk mengontrol terjadinya kejadian kuman penghasil ESBL, dengan disertai penggantian penggunaan antibiotik sefalosporin generasi III pada terapi empirik.

  • Implikasi manajerial dalam Penanganan KLB Kuman Penghasil ESBL

1. Pengawasan penurunan potensi dan efektivitas antibiotik golongan Sefalosporin generasi    III, IV dan Carbapenem di ICU

2. Pengawasan ketat penggunaan Antibiotik golongan betalaktam (Cephalosporin), terutama di Ruang Perawatan .

3. Peningkatan secara intensif Standard Precautions dan optimalisasi Asuhan Keperawatan diruang perawatan.

4. Surveilans Mikrobiologi Klinik

5. Sistim Pelaporan secara periodik disetiap disiplin ilmu di Klinik mengenai pola kepekaan kuman (hasil antibiogram) terhadap berbagai antibiotik harus segera dilaksanakan.

6. Komunikasi antara klinisi dan dokter spesialis mikrobiologi klinik ditingkatkan agar pemberian terapi antibiotik secara bijaksana (prudent use antibiotics) dapat dilaksnakan pada penanganan penderita penyakit infeksidalam rangka patiet safety.

7. Melibatkan peranan empat infra struktur dalam penanganan penyakit infeksi yaitu Farmasi/Farmakologi Klinik, Panitia Farmasi dan Terapi, Panitia Pengendalian Infeksi Rumah Sakit, dan Mikrobiologi Klinik.

Implikasi tersebut diatas adalah berdasarkan formulasihasil penelitian “Antimicrobial Resistance in Indonesia, Prevalence and Prevention” (AMRIN Study) yang telah dilaksanakan secara tervalidasi membuktikan adanya masalah-masalah resistensi antimikroba, penggunaan antibiotik yang tidak bijaksana serta pengendalian infeksi yang belum dilaksanakan secara benar. Hasil Penelitian AMRIN ini telah dilokakaryakan pada Lokakarya Nasional Pertama yang telah diselenggarakan di Bandung tanggal 29-31 Mei 2005.

Pandangan Islam Tentang mikrobiologi klinik

Surat al-Baqoroh ayat 164

Artinya : 164. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.

Kandungan yang terdapat diatas menjelaskan bahwa bahwa semua jenis bakteri yang berasal dari mikrobiologi pertanian itu semua adalah ciptaan Allah Maha Kuasa. Dan juga dari penggalan bukti ayat-ayat Al-quran tersebut telah jelas bahwa kita sebagai orang yang beriman, yang yakin akan adanya sang Khalik harus percaya bahwa seluruh makhluk baik di langit dan di bumi, baik berukuran besar maupun kecil, bahkan sampai mikroorganisme (jasad renik) yang tidak dapat terlihat dengan mata telanjang adalah makhluk ciptaan Allah SWT.

 

PENUTUP

Perkembangan mikroba atau jasad renik yang resistan atau kebal terhaap antibiotik yang sering digunakan untuk pengobatan infeksi, telah menjadi masalah besar didalam pelayanan kesehatan dirumah sakit maupun di masyarakat. Bersamaan dengan berkembangnya penyakit baru akhir-akhir ini, ramai dipublikasikan adanya bentuk baru evolusi kuman yang sulit ditanggulangi dengan obat antibiotik yang biasa dipergunakan untuk pengobatan, yang kemudian disebut sebagai “Superbugs” atau “Killerbugs” atau “Killer Microbes” (ESBL/Extended Spectrum Beta Lactamases).

Pada penderita dengan penyakit infeksi yang disebabkan bakteri resistan antibiotik, akan menyebabkan penyakit makin berat, makin lamanya masa sakit dan lebih lama tingga di rumah sakit bagi penderita yang dirawat, juga menyebabkan gejala sisa atau sequelae yang lebih besar, meningkatnya angka kematian/mortalitas, serta biaya pengobatan yang meningkat karena makin mahalnya obat pilihan alternatif. Sebaliknya peningkatan resistensi juga dipengaruhi pengobatan dengan antibiotik itu sendiri, antara lain dimungkinkannya prosedur operasi yang lama dan banyak komplikasi pada penderita immunosupresi, usia lanjut atau penderita yang sakit berat; dapat dilakukan transplantasi; dan dapat digunakannya peralatan dan alat bantu yang kompleks.

Berdasarkan berbagai ilustrasi permasalahan dalam penanganan penyakit infeksi saat ini maka:

• Mengupayakan agar setiap rumah sakit mempunyai pelayanan laboratorium mikrobiologi klinik sesuai dengan kelas rumah sakit yang bersangkutan (Kelas A,B,C, dan Khusus).

• Menyelenggarakan pelayanan mikrobiologi klinik yang bermutu berdasarkan standar baku dan menjalankan quality assurance.

• Melaksanakan surveilans bakteri penyebab infeksi dan pola kepekaan bakteri terhadap antibiotik secara berkala dan dilaporkan setiap 6 bulan kepada semua pihak terkait. Apabila ada Kejadian Luar Biasa (KLB / out-break) harus segera dilaporkan.

• Mengupayakan agar rumah sakit sesuai dengan kelasnya, mengembangkan dan membina sumber daya manusia serta melengkapi fasilitas agar laboratorium mikrobiologi mampu melaksanakan pemeriksaan canggih misalnya “molecular typing”, untuk menunjang penelitian epidemiologis seperti pada Kejadian Luar Biasa..

• Para dokter spesialis mikrobiologi klinik aktif terlibat dalam Komite Farmasi dan Terapi, Komite Pengendalian Infeksi, serta aktif terlibat dalam pengelolaan pasien dengan penyakit infeksi di setiap unit pelayanan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: