Peranan Bakteri Escherichia coli Melalui Hormon Bst (Bovine Somatotropin) Dalam Upaya Meningkatkan Produksi Susu Sapi Perah

Peranan Bakteri Escherichia coli Melalui Hormon Bst (Bovine Somatotropin)

 Dalam Upaya Meningkatkan Produksi Susu Sapi Perah

 

Role of Escherichia coli Bacteria Through Bst Hormone (Bovine Somatotropin)
  Efforts to Increase Milk Production in Dairy Cattle

 

Sulhiyah, Moch. Agus Krisno Budiyanto

Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Muhammadiyah Malang

Jl. Tlogomas 246 Malang Telp 464318 psw 120

 

Abstract

Indonesia at the moment and the next few years highly charged effort to increase milk production. Supplies of fresh milk and milk products is increasing due to rapid population growth. But this did not offset by the production of milk is still limited. One technology that is currently being used extensively is the use of Bovine Somatotropin (BST). The use of BST in some countries, especially America has proven its ability to increase milk production. However, various kalangaan including practitioners, researchers and consumers are still questioning the impact of the use of BST, both in cattle, humans and the environment. So the use in Indonesia may still wait some time yet. Yet compared with imports of dairy cows are at present a very large cost, the use of BST to increase milk production by up to 20% by using the bacterium Escherichia coli role without having to increase the number of dairy cows as well as adding facilities such as stables and use of new land.

Keywords: Hormone Bovine Somatotropin, Dairy Products Dairy Cattle, Escherichia coli

 

Abstrak

            Indonesia saat ini dan beberapa tahun ke depan sangat dituntut upaya meningkatkan produksi susu. Kebutuhan susu segar dan produk susu semakin meningkat akibat pertambahan penduduk yang sangat cepat. Tetapi hal ini tidak diimbangi dengan produksi susu yang masih terbatas. Salah satu teknologi yang saat ini sedang digunakan secara luas adalah penggunaan Bovine Somatotropin (bST). Penggunaan bST di beberapa negara terutama Amerika telah teruji kemampuannya dalam meningkatkan produksi susu. Akan tetapi berbagai kalangaan termasuk praktisi, peneliti maupun konsumen masih mempertanyakan dampak penggunaan bST, baik pada ternak, manusia maupun lingkungan. Sehingga penggunaan di Indonesia mungkin masih menunggu beberapa waktu lagi. Padahal dibandingkan dengan impor sapi perah yang pada saat ini yang sangat besar biayanya, penggunaan bST dapat meningkatkan produksi susu hingga 20% dengan menggunakan peranan bakteri Escherichia coli tanpa harus menambah jumlah sapi perah serta menambah fasilitas seperti kandang dan penggunaan lahan baru.

Kata Kunci : Hormon Bovine Somatotropin, Produk Susu Sapi Perah, Escherichia coli

PENDAHULUAN

Kebutuhan susu nasional semakin meningkat seiring bertambahnya jumlah penduduk Indonesia. Tapi Peningkatan permintaan ini tidak bisa diimbangi oleh peningkatan jumlah produk susu nasional. Setiap tahunnya, Indonesia membutuhkan sekitar 2,5 juta ton susu. Produksi susu dalam negeri Indonesia masih sangat rendah, yakni 636,8 ribu ton atau sekitar 26,5% dari total pasokan nasional, sementara 1.420,4 ribu ton atau 73,5% pasokan susu didapat dari impor. Ketika Indonesia sangat bergantung kepada bahan baku susu dari Australia dan Selandia Baru, harga susu pun mudah naik karena dipengaruhi kenaikan harga susu dunia (Eniza, 2004).

Rendahnya produksi susu di Indonesia terjadi karena adanya permasala han yang dihadapi dalam bidang peternakan di Indonesia yaitu masih rendahnya kemam puan budidaya khususnya menyangkut kesehatan ternak dan mutu bibit yang ren dah. Kekurangan tersebut selain mengakibat kan lambatnya pertumbuhan produksi susu juga berpengaruh terhadap kualitas susu yang dihasilkan. Selain itu mulai sulitnya lahan sebagai sumber rumput hijauan bagi ternak, tingginya biaya transportasi, serta kecilnya skala usaha sebagaimana telah dike mukakan di atas, juga menjadi penghambat perkembangan produksi susu domestik (Anonymous, 2011).

Hasil yang ditunjukan oleh fakta-fakta tersebut mendorong kita sebagai mahasiswa untuk dapat menemukan alternatif umum untuk meningkatkan jumlah produksi susu.

            Rekayasa genetika dapat digunakan agar susu yang dihasilkan oleh sapi dapat lebih banyak lagi. Sapi-sapi akan ditambahkan pada tubuhnya hormon bovine somatotropin yang disebut BST, yaitu hormon yang dapat meningkatkan produksi susu hingga 20 persen. Produksi susu sapi normalnya 5,3 galon atau sekitar 20 liter per hari. Dengan ditingkatkannya hormon bovine somatotropin setidaknya produksi akan bertambah 6 galon, setara 25 liter per hari. Dengan mengembangkan eksperimen rekayasa genetika tersebut maka kebutuhan susu di Indonesia dapat terpenuhi karena produksi susu sapi akan ditingkatkan (Eniza,2004).

 

PEMBAHASAN

1.   Sapi Perah

           Sapi perah merupakan ternak penghasil susu yang sangat dominan dibandingkan ternak perah lainnya. Sapi perah sangat efisien dalam mengubah makanan ternak berupa konsentrat dan hijauan menjadi susu yang sangat bermanfaat bagi kesehatan (Hartutik, 2005).

           Di negara-negara maju, sapi perah dipelihara dalam populasi yang tertinggi, karena merupakan salah satu sumber kekuatan ekonomi bangsa. Sapi perah menghasilkan susu dengan keseimbangan nutrisi sempurna yang tidak dapat digantikan bahan makanan lain. Seperti yang telah dijelaskan dalam surah An-Nahl ayat 5 yang artinya yaitu:

“Dan Dia telah menciptakan binatang ternak untuk kamu; padanya ada (bulu) yang menghangatkan dan berbagai-bagai manfaat, dan sebahagiannya kamu makan” (An-Nahl : 5)

           Dari ayat diatas dapat di katakan bahwasannya segala sesuatu yang diciptakan allah pasti memiliki manfaat bagi semua makhluk yang ada dimuka bumi ini termasuk manusia seperti halnya pada sapi perah yang bisa  diambil manfaatnya dari susu yang dihasilkan oleh api tersebut

 2.       Susu Sapi Perah

           Susu merupakan cairan yang berasal dari pemerahan hewan menyusui yang sehat dan bersih, diperoleh dengan cara yang benar dan kandungan dari susu itu sendiri tidak dikurangi atau ditambah bahan-bahan lain (Hadiwiyoto, 1994).

           Produksi susu di Indonesia masih sangat rendah. Di Jawa Timur saja, susu sapi perah yang dihasilkan hanya sebesar 6-10 liter per ekor sapi per hari, seharusnya menghasilkan 15-20 liter per ekor sapi per hari. Sementara itu, konsumsi susu di Indonesia juga sangat rendah bila dibandingkan Negara di kawasan ASEAN, yaitu hanya 5,6 liter per kapita per tahun. Padahal susu sapi merupakan bahan pangan yang sangat berharga karena memiliki kandungan nutrien esensial yang tinggi, dan menu rut penelitian, dengan mengkonsumsi susu, resiko terkena penyakit degenaratif menjadi rendah. Rendahnya konsumsi protein hewani berdampak pada tingkat kualitas hidup dan daya saing bangsa (Hartutik, 2005).

           Awal pengembangan susu sapi perah diatur dalam Inpres No. 1/1985 yaitu mengenai pengembangan persu suan dilakukan untuk membangun dan membina usaha persusuan agar mampu meningkatkan produksi susu dalam negeri dan susu olahan dengan mutu yang baik dan harga terjangkau oleh masyarakat sekaligus untuk mengurangi impor susu serta meningkatkan kesejah teraan petani ternak sapi perah pada khususnya dan meningkatkan gizi masya rakat pada umumnya.

           Pada tahap awal pengembangan susu sapi perah ini dikembangkan oleh sistem kemitraan, yaitu antara peternak, Koperasi Unit Desa (KUD), dan Industri Pengolah Susu (IPS) (Muksin, 2002).

            Untuk meningkatkan mutu dari susu sapi perah supaya layak untuk dikonsumsi dapat dilakukan pengujian secara mikrobiologik yang meliputi jumlah dan jenis bakteri dalam susu sapi. Menurut Benson (2002), jumlah bakteri dalam susu dapat digunakan sebagai indikator terhadap kualitas susu. Bakteri yang sering terdapat pada susu sapi adalah dari famili  Lactobacteriaceae (Streptococcuslactis),family Enterobaac ter Iaceae (E. coli) dan Staphylococcus.

 

Kandungan Susu

            Menurut Hadiwiyoto (1994) kandungan susu sapi secara umum yaitu :

1). Protein

          Protein susu terdiri atas kasein, laktaalbumin (protein albumin) dan laktaglobulin (jenis protein susu yang larut dalam alkohol). Protein susu yang jumlahnya terbanyak adalah kasein. Kasein merupakan jenis protein terpenting dalam susu dan terdapat dalam bentuk kalsium kasenat.

2). Lemak susu

 Lemak merupakan komponen susu yang penting. Lemak dapat memberikan energi lebih besar daripada protein maupun karbohidrat karena lemak mempunyai nilai gizi yang tinggi. Jenis dan mutu makanan merupakan faktor-faktor utama yang mempengaruhi komposisi lemak susu.

3). Hidrat Arang

Dalam susu hidrat arang paling banyak terdapat dalam bentuk gula disakarida, yaitu laktosa.

4). Garam-garam mineral

 Susu mengandung berbagai macam mineral, seperti garam kalsium, kalium, dan fosfat.

5). Vitamin

Susu mengandung berbagai macam vitamin-vitamin baik yang larut dalam lemak maupun yang larut dalam air. Vitamin yang larut dalam lemak adalah vitamin A, D, E serta sedikit vitamin K. Sedangkan vitamin yang larut dalam air adalah vitamin B kompleks.

6). Air

Komponen terbanyak susu adalah air, jumlahnya mencapai 64,89%.

7). Enzim

 Enzim merupakan katalisator biologik yang dapat mempercepat reaks kimiawi. Dalam susu terdapat 20 jenis enzim yang secara alami merupakan komponen susu, diantaranya adalah lipase, protease, katalase, peroksidase, reduktase, fosfatase, diastase, dan laktase.

 

Faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas air susu

1. Keadaan kandang

Letak kandang harus bebas dari kandang babi, ayam dan ternak lainnya. Hal ini maksudnya untuk menjaga flavour (rasa dan bau), karena air susu mudah sekali menyerap bau.

2. Keadaan kamar susu

Kamar susu terhindar dari bau kandang yang tidak enak, dan ukuran kamar susu tidak perlu terlalu luas tetapi bersih

3. Kesehatan sapi

 Kesehatan sapi harus selalu dijaga. Penyakit yang bisa ditulari sapi kepada manusia dan sebaliknya (zoonosis) melalui air susu adalah penyakit TBC, Anthrax, dan Brucellosis. Tanda-tanda sapi yang terserang penyakit anthrax antara lain adalah keluarnya darah dari hidung dan feses, sedangkan penyakit anthrax pada manusia menyebabkan bisul-bisul pada tubuh. Penyakit Brucellosis pada sapi dapat menyebabkan abortus (keguguran) pada sapi.

4. Kesehatan pemeliharaan sapi

Kesehatan pemeliharaan sapi dapat mempengaruhi kualitas air susu sapi. Bila pekerja/pemelihara sapi men derita TBC atau typus, maka penyakit tersebut akan menular melalui air susu kepada konsumen air susu lainnya.

5. Cara pemberian pakan sapi

Pemberian pakan sapi sebaiknya dilakukan tidak pada waktu pemerahan susu, karena aroma dari pakan ternak dapat diserap oleh air susu.

6. Persiapan sapi yang akan diperah

Sebelum sapi diperah, sebaiknya disekitar lipat paha sapi dibersihkan. Ambingnya dilap dengan kain yang diba sahi air panas. Hal ini bertujuan untuk mengurangi kontaminasi dan menstimulir memancarnya air susu sapi.

7. Persiapan pemerah

Sebelum memerah air susu, tangan pemerah harus dicuci bersih, begitu pula alat-alat yang digunakan pemerah pada saat memerah air susu. Jumlah kuman yang dapat terkoreksi adalah 150 – 200 ribu/ml air susu.

8. Bentuk dari ember

Ember yang digunakan pada waktu pemerahan adalah ember khusus, dimana ember tersebut agak tertutup, hanya diberi lubang sedikit.

9. Pemindahan air susu dari kandang

Setelah memerah, air susu dibawa ke kamar susu. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari agar air susu tersebut tidak berbau sapi ataupun kotoran.

10. Penyaringan air susu

Untuk menghilangkan kotoran-kotoran dari air susu, sebaiknya air susu disaring dengan menggunakan saringan yang memakai filter kapas atau kain biasa yang dicuci dan direbus setiap kali habis dipakai (Wijayanti, 2009).

 

Kajian Religi

 a.   Susu adalah makanan sekaligus minu man yang baik.

              Diriwayatkan oleh Imam Abi Daud dari hadits Ibn Abbas :
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَطْعَمَهُ اللَّهُ طَعَامًا فَلْيَقُلْ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيهِ وَارْزُقْنَا خَيْرًا مِنْهُ وَمَنْ سَقَاهُ اللَّهُ لَبَنًا فَلْيَقُلْ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيهِ وَزِدْنَا مِنْهُ فَإِنِّي لَا أَعْلَمُ مَا يُجْزِئُ مِنْ الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ إِلَّا اللَّبَنُ

 

Rasulullah SAW bersabda : Barangsiapa diberi makanan oleh Allah, maka ucapkanlah “ Ya Allah berilah keberka han kepada kami di dalam makanan ini, dan berilah kami rizqi yang lebih baik lagi”, dan barangsiapa diberi Allah minuman susu, maka ucapkanlah “Ya Allah berilah keberkahan kepada kami di dalam minuman ini dan tambahilah kami dari susu, karena sesungguhnya aku tidaklah mengetahui apa yang bisa mencukupi dari makan dan minum kecuali susu’’.

            Dari hadits di atas dapat kita cermati bahwa Rasulullah membedakan dalam berdoa ketika mengkonsumsi sesuatu antara makanan dan susu. Dalam makanan Nabi menggunakan konteks “وارزقنا خيرا منه ” (berilah kami rizqi yang lebih baik lagi) tapi ketika berupa susu nabi menggunakan konteks “وزدنا منه ” (dan tambahilah kami darinya), ini menunjukkan adanya sesuatu kekhusu san pada susu yang tidak didapati pada makanan lainnya dengan bukti nabi hanya meminta tambahan kenikmatan susu karena sudah mengetahui dengan keistimewaan yang ada di dalamnya. Berbeda dengan makanan, nabi justru meminta kenikmatan yang lebih baik lagi. Beliau pun menjelaskan kelebihan susu dalam ucapan setelahnya “karena sesungguhnya aku tidaklah mengetahui apa yang bisa mencukupi dari makan dan minum kecuali susu” .

      Di dalam kitab Tuhfatul Akhwadzi syarh sunan At-Tirmidzi juz 8 hal 353 disebutkan bahwa :  وَزِدْنَا مِنْهُ( وَلَا يَقُولُ خَيْرًا مِنْهُ لِأَنَّهُ لَيْسَ فِي الْأَطْعِمَةِ خَيْرٌ مِنْهُ) لَيْسَ شَيْءٌ يُجْزِئُ ( بِضَمِّ الْيَاءِ وَكَسْرِ الزَّايِ بَعْدَهَا هَمْزٌ أَيْ يَكْفِي فِي دَفْعِ الْجُوعِ وَالْعَطَشِ مَعًا .

Alasan kenapa nabi menggunakan konteks  وَزِدْنَا مِنْهُ pada susu, tidak menggunakan “وارزقنا خيرا منه ” karena memang tidak didapatkan makanan yang lebih bagus dari susu dan tidak ada yang bisa menghilangkan rasa lapar dan dahaga sekaligus kecuali susu.

 b.      Susu adalah anugerah Allah yang menakjubkan

           Jika kita mau meneliti asal usul susu, maka sungguh mengagumkan, karena menunjukkan kepada kita begitu besar kekuasaannya Allah SWT. Bagaimana tidak, Allah menciptakan susu yang suci lagi bermanfaat di antara 2 tempat yang najis dan menjijikkan yaitu kotoran di usus besar dan darah, sebagaimana yang termaktub didalam Al-Qur’an surat An-Nahl ayat 66 yaitu:

 وَإِنَّ لَكُمْ فِي الأنْعَامِ لَعِبْرَةً نُسْقِيكُمْ مِمَّا فِي بُطُونِهِ  فَرْثٍ وَدَمٍ لَبَنًا خَالِصًا سَائِغًا لِلشَّارِبِينَ

 

Artinya : “dan sesungguhnya bagi kalian di dalam binatang-binatang ternak ada satu pelajaran. Kami memberi kalian minum dari apa yang ada di perutnya diantara kotoran dan darah (berupa) susu yang bersih yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya” (An-Nahl : 66).

             Ayat tersebut menjelaskan bahwa Allah memberi kita minuman dari dalam perut binatang ternak yang men cakup onta, sapi, dan kambing berupa susu yang suci lagi bermanfaat bagi yang meminumnya (baik untuk anak kecil atau orang dewasa). Berarti tidaklah benar bahwa minum susu itu hanya dikhususkan bagi yang masih kecil atau hanya pada susu ASI bukan dari susu binatang ternak, karena bagaimana mungkin kita akan mencela apa yang diberikan oleh Allah SWT.

c.    Susu Merupakan Minuman Rosulul lah

              Rasulullah SAW begitu sering meminum dan memuji susu. Beberapa hadits di bawah ini menjelaskan tentang hal itu, diantaranya:

1. Di dalam shohih  Muslim diriwayat kan hadits dari Maimunah

شرح النووي على مسلم – (ج 4 / ص 113
و حَدَّثَنِي هَارُونُ بْنُ سَعِيدٍ الْأَيْلِيُّ حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِي عَمْرٌو عَنْ بُكَيْرِ بْنِ الْأَشَجِّ عَنْ كُرَيْبٍ مَوْلَى ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنْ مَيْمُونَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهَا قَالَتْ إِنَّ النَّاسَ شَكُّوا فِي صِيَامِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَرَفَةَ فَأَرْسَلَتْ إِلَيْهِ مَيْمُونَةُ بِحِلَابِ اللَّبَنِ وَهُوَ وَاقِفٌ فِي الْمَوْقِفِ فَشَرِبَ مِنْهُ وَالنَّاسُ يَنْظُرُونَ إِلَيْهِ

    “ Berkata Maimunah (istri Rasulullah SAW) bahwa “Sesungguhnya manusia (para sahabat) meragukan puasa Nabi SAW di hari Arafah, maka sayyidah Maimunah mengirim kan kepada Nabi susu ketika Nabi wuquf di Arafah, lalu Nabi meminum susu tersebut”

2. Di dalam musnad Imam Ahmad, dirawayatkan hadits Dliror bin Auzar: 
المعجم الكبير للطبراني – (ج 7 / ص 344
حَدَّثَنَا مُعَاذُ بن الْمُثَنَّى، حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ، حَدَّثَنَا حَفْصُ بن غِيَاثٍ، عَنِ الأَعْمَشِ، عَنْ يَعْقُوبَ بن بَحِيرٍ، عَنْ ضِرَارِ بن الأَزْوَرِ، قَالَ: أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بناقَةٍ هَدِيَّةٍ، فَقَالَ لِي:”قُمْ فَاحْلُبْهَا”، فَقُمْتُ فَحَلَبْتُهَا، فَلَمَّا ذَهَبْتُ لأُجْهِدَهَا، قَالَ:”دَعْ دَاعِيَ اللَّبَنِ”.

Berkata Dliror bin Auzar : “Aku membawa kepada Rasulullah SAW onta hadiah, lalu Nabi berkata kepada “ Berdirilah dan perahlah susunya” maka, akupun memerah nya, ketika aku bersemangat untuk memerah keseluruhannya, Nabi berkata : “Tinggalkan sedikit sebagai perangsang keluarnya susu.”

3.Hadits isro’ mi’roj Nabi Muhammad SAW:

وَفِي حَدِيث اِبْن عَبَّاس عِنْد أَحْمَد” فَلَمَّا أَتَى الْمَسْجِد الْأَقْصَى قَامَ يُصَلِّي ، فَلَمَّا اِنْصَرَفَ جِيءَ بِقَدَحَيْنِ فِي أَحَدهمَا لَبَن وَفِي الْآخَر عَسَل ، فَأَخَذَ اللَّبَن ” الْحَدِيث ، وَقَدْ وَقَعَ عِنْد مُسْلِم مِنْ طَرِيق ثَابِت عَنْ أَنَس أَيْضًا أَنَّ إِتْيَانه بِالْآنِيَةِ كَانَ بِبَيْتِ الْمَقْدِسِ قَبْل الْمِعْرَاج وَلَفْظه ” ثُمَّ دَخَلْت الْمَسْجِد فَصَلَّيْت فِيهِ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ خَرَجْت فَجَاءَ جِبْرِيل بِإِنَاءٍ مِنْ خَمْر وَإِنَاء مِنْ لَبَن ، فَأَخَذْت اللَّبَن ، فَقَالَ جِبْرِيل : أَخَذْت الْفِطْرَة . ثُمَّ عَرَجَ إِلَى السَّمَاء

Dalam hadits Ibn Abbas yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad “ ketika Nabi sampai di Masjid Al-Aqsha, maka Nabi sholat, ketika beranjak dari sholat, Nabi diberi 2 wadah berupa susu dan madu, maka Nabi-pun mengambil susu”. Dalam riwayat Imam Muslim dari hadits Anas “ lalu aku (Nabi) masuk kedalam masjid dan sholat 2 rakaat, lalu aku keluar, datanglah Jibril dengan membawa susu dan khomr, maka akupun mengambil susu, lalu Jibril mengatakan “ kau telah mengambil yang suci (yaitu agama islam)”

             Hadits di atas menunjukkan bahwasannya Nabi lebih memilih susu daripada madu atau khomr dan Jibril menyatakan susu adalah lambang  kesucian.  

           Dari Ayat al Qur’an dan hadits-hadits di atas dapat disimpul kan bahwa susu adalah makanan yang dianugerah kan oleh Allah untuk manusia. Bahkan kekasih Allah Muhammad Rasulullah serta para shahabat pengikut Rasul me minum susu. Dengan demikian kita sebagai orang yang beriman marilah kita jadikansusu sebagai konsumsi kita setiap hari karena dengan adanya ayatdan hadist di atas sudah cukup membuktikan bahwasannya susu merupakan makanan sekaligus minuman yang baik,menyehat kan bahkan sudah dinyatakan sebagai lambang kesucian.

                 

3. Hormon Bst (Bovine Somatotropin)

             Bovine somatotropin yang disingkat BST atau BGH adalah hormon peptida yang diproduksi oleh kelenjar pituitari sapi. Seperti hormon lainnya, ya ng diproduksi dalam jumlah kecil dan di gunakan dalam mengatur proses metabo lisme (Sari, 2009).

            Hormon ini dapat memicu pertumbuhan dan meningkatkan produksi susu serta mengontrol laktasi (pengelua ran susu) pada sapi dengan meningkatkan jumlah sel-sel kelenjar susu. Jika hormon yang dibuat dengan rekayasa genetika ini disuntuikkan pada hewan, maka produksi susu akan meningkat 20%.

            Pemakaian BST telah disetujui oleh FDA (Food and Drug Administra tion), lembaga pengawasan obat dan makanan di Amerika. Yang berpendapat bahwasannya susu yang dihasilkan karena hormon BST aman di konsumsi tapi, di Eropa hal ini dilarang karena penyakit mastitis pada hewan yang diberikan hormon ini meningkat 70% (Anonymous, 2010)

           Selain memproduksi susu, hormon ini dapat memperbesar ukuran ternak menjadi 2 kali lipat ukuran normal. Caranya dengan menyuntik sel telur yang akan dibuahi dengan hormon BST. Daging dari hewan yang diberi hormon ini kurang mengandung lemak. Sehingga dikhawatirkan hormon ini dapat mengga nggu kesehatan manusia (Ikhsan, 2007).

 4.   Proses Hormon BST (Bovine Somatot ropin) Dalam Rekayasa Genetika

           Dengan rekayasa genetika juga dapat diproduksi hormon pertumbuhan hewan, yaitu hormon BST (Bovine somatotropin). Hormon BST jika diinjek sikan ke tubuh hewan dapat mendorong pertumbuhan dan meningkatkan produksi susu. Karena hormon BST dapat mengon trol laktasi (pengeluaran susu) pada sapi dengan meningkatkan jumlah sel-sel pada kelenjar susu. Jika hormon yang dibuat dengan rekayasa genetika ini disuntikan pada hewan, maka produksi susu akan meningkat sampai 20% (Anonymous, 2011).

           Bovine somatotropin telah disintesis menggunakan teknologi DNA rekombinan, dengan volume besar dari seluruh penelitian di dunia (lebih dari 1.500 penelitian) telah menetapkan bah wa selama dua mingguan dapat diyakini bahwasannya suntikan BST pada sapi perah akan meningkatkan produksi susu 10 hingga 15 persen dan meningkatkan efisiensi pakan dari 5 sampai 15 persen (Sari,2009).

5.   Pemberian Hormon Bst (Bovine somatotropin) Pada Sapi Perah  Melalui Bakteri Eschericia coli

            Pada dasarnya hormon adalah suatu produk yang dihasilkan oleh suatu kelenjar dalam tubuh yang didistribusikan melalui darah dan memberikan pengaruh tertentu pada sel target. Oleh karena itu, hormon mempunyai peranan yang sangat penting di dalam pengaturan pertumbu han, komposisi tubuh dan produksi susu (Kurnia, 2011).

            Pada umumnya sapi berumur 5 – 6 tahun sudah mempunyai produksi susu yang tinggi tetapi hasil maksimum akan dicapai pada umur 8 – 10 tahun. Umur ternak erat kaitannya dengan periode laktasi. Pada periode permulaan produksi susu tinggi tetapi pada masa-masa akhir laktasi produksi susu menurun. Selama periode laktasi kandungan protein secara umum mengalami kenaikan, sedangkan kandungan lemaknya mula-mula menu run sampai bulan ketiga laktasi kemudian naik lagi (Etnjang, 2003).

            Sampai saat ini, satu-satunya sumber BST adalah dari kelenjar pituitari sapi disembelih. Hanya ada sejumlah kecil BST yang tersedia, dan itu sangat mahal. Namun sekarang sudah ada ilmu baru dari bioteknologi memungkinkan untuk bekerja dengan DNA, bagian dari sel yang berisi informasi genetik untuk hewan atau tanaman. Para ilmuwan telah menentukan yang gen dalam kontrol ternak atau kode untuk produksi BST (Anonymous, 2010).             Adapun cara pemberian hormone bovine somatotropin melalui peranan bakteri Escherichia coli yaitu :

  1. Melakukan penanaman DNA somatotr opin pada sapi tersebut melalui bakteri Esherichia coli. Dimana  bakteri ini bisa ditemukan di dalam saluran usus hewan.
  2. Kemudian setelah mengalami suatu proses yang komplek sehingga bakteri Escherichia coli mampu menduplika si susunan asam amino yang persis sama seperti yang berada pada hormon tersebut, dengan penanaman DNA maka berturut-turut akan dihasilkan hormon bST, oST, pST dan hST tergantung dari hormon yang diinginkan.
  3. Setelah itu hormon BST yang dihasilkan oleh bakteri  Escherichia coli dimurni  kan dan kemudian disuntikkan pada sapi tersebut
  4. Dengan  bertambahnya konsentrasi somatotropin yang bergabung dengan darah yang  sudah mengandung hormon sejenis yang berasal dari kelenjar pituitary, selanjutnya mereka secara bersama-sama akan menuju ke sel target dan di sel target inilah membe rikan tambahan kekuatan untuk merang sang dan meningkatkan protein dan produksi susu, hal ini ditunjukkan dengan tingginya sintesis protein tubuh secara keseluruhan dan membaiknya efisiensi deposisi protein. Selain itu, bST juga mempunyai sifat anti insulin atau anti diabetogenik yang menyebabk an konsentrasi plasma glukosa mening kat pada hewan yang diberi perlakuan bST. Peningkatan ini dikarenakan meni ngkatnya gluconeogenesis dan menurun nya uptake glukosa oleh jaringan adipose (Kurnia, 2011)

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dari gambar di bawah ini.

Image

a.  Mekanisme kerja hormone bovine somatotropin

           Hormon Somatotropin sapi merupakan polypeptida bercabang yang mempunyai 416 asam-amino. Hormon ini mempunyai efek terhadap membran sel. Fungsi hormon ini diantaranya sebagai pemicu untuk membentuk dan meningkat kan konsentrasi cAMP sebagai proses terjadinya utusan kedua (second messen ger) yang diikuti oleh proses-proses biolo gis lainnya yaitu meningkatkan asam-amino ke dalam otot, ginjal dan fibroplast dan juga dapat menyebabkan lypolysis pada jaringan lemak yang dibantu oleh hormon lain seperti tiroksin dan glucocor ticoid (sari, 2009).

           Mekanisme kerja Somatotropin dalam memperbaiki performans laktasi yaitu dengan perubahan pembagian penyerapan zat makanan (partitioning of absorbed nutrients), pertambahan lemak dikurangi, mobilisasi lemak ditingkatkan dan penggunaan glukosa oleh jaringan peripheral dan oksidasi glukosa dan asam-amino dikurangi . Akibatnya glukosa dan asam-amino menjadi tersedia untuk sintesis komponen susu serta cadangan lemak digunakan sebagai sumber energy (Anonymous, 2011).

 b.   Aturan Pemakaian BST

           Terlebih dahulu kita harus menentukan apakah produk tersebut aman, murni, kuat, dan efektif. Kemudian mengontrol kualitas BST yang akan digunakan dengan melakukan pengujian atau pemantauan, dan semua prosedur yang akan digunakan harus sudah disetujui oleh FDA sebelum pengujian dimulai untuk membuktikan bahwa penggunaannya tidak berbahaya bagi lingkungan. Kemudian Sapi disuntik dengan BST pada berbagai waktu selama periode menyusui. Dengan melihat efektivitas obat dan keamanannya untuk periode laktasi pertama (Sari, 2007).

Untuk mengevaluasi keamanan, perusahaan harus menggunakan satu, tiga, dan lima kali tingkat dosis yang diharapkan BST untuk dua berturut-turut dalam satu lactations ternak tes mereka.

 

c. Faktor yang perlu diperhatikan dalam penyuntikan Hormon BST (Bovine So matotropin)

           Ada beberapa faktor yang perlu diperhatikann ketika penyuntikan hormone BST (bovine somatotropin) di antaranya dosis yang digunakan, kapan atau pada hari keberapa setelah beranak, apakah sebelum atau setelah puncak laktasi. Kemudian kondisi atau persyaratan apa yang perlu disiapkan pada sapi seperti pakan, kondisi kesehatan, kandang dan peternak itu sendiri (Anonymous, 2010)

           Adapun pemberian dosis per 14 hari didasarkan bahwa respons bST mulai terjadi selama 24 jam dan respons maksimal terjadi selama satu minggu. Dengan dilakukan penyuntikan setiap dua minggu, ikut mengurangi penderitaan (stress) yang terjadi akibat penyuntikan yang dilakukan terus menerus dalam tempo yang singkat. Hal ini sangat menjadi concern pada penyayang binatang yang berhubi,ungan dengan Isue Animal Welfare (Sari, 2007).

            Namun  ada beberapa perbedaan pendapat terhadap beberapa dosis yang digunakan, mulai 167, 250, 334, 500 dan 640 mg per 14 hari.  Menurut luna,2000 Ternyata dosis 345 dan 500 mg per 14 hari yang memberikan hasil yang terbaik. Namun menurut Phipps ,1997 dosis 354 dan 500 mg tidak memperlihatkan produksi susu yang signifikan. Hasil lain yang berbeda dilaporkan oleh peneliti Malaysia ternyata dosis 250 mg per 14 hari merupakan dosis yang paling ekonomis. Kondisi ini berbeda mungkin disebabkan adanya perbedaan berat badan (Eniza, 2004).

            Bagitu juga dalam hal kapan pemberian bST disini juga terdapat beberapa perbedaan pendapat yaitu menurut Phipps, 1997 dan luna,2000 umumnya bSt diberikan setelah puncak laktasi setelah 50 hari namun Phipps, 1997 dan luna, 2000 sepanjang laktasi. Tapi, menurut Bauman,1999 diberikan bST  sepanjang laktasi dan menurut moallem, 2000 bST diberikan pada awal hingga pertengahan laktasi.

           Dari beberapa perbedaan penda  pat tersebut dapat dikatakan Ternyata pemberian setelah laktasi memberikan respons terbaik. Hal ini berhubungan dengan kondisi sapi sebelum puncak laktasi yang memberikan kondisi keseimbangan energi yang negatif yang akan menimbulkan gangguan pada sapi penurunan bobot badan dan nurunnya Body Condition Score (BCS) sapi, sehingga kerentanan terhadap beberapa penyakit meningkat. Sapi pada pertenga han laktasi atau akhir laktasi keseimba ngan pakannya umum nya positif.

           Kondisi lain adalah hampir semua memerlukan dukungan energi yang cukup sesuai kebutuhan sapi untuk berproduksi sesuai dengan kemampuan nya. Karena penggunaan bST dapat meni ngkatkan produksi susu yang membutuh kan makanan untuk sintesis susu tersebut. Tetapi menurut Phipps,1997 menyatakan bahwa penggunaan bST tidak perlu mengubah manajemen dan kualitas sum ber pakan yang ada di daerah tersebut. Selain itu dari beberapa peneliti yang lainnya ternyata hasil yang didapat lebih baik pada sapi multiparous (beranak lebih dari satu kali) dari pada primiparous (beranak pertama kecil). Hal ini berhubu ngan dengan makin meningkatnya bobot badan setelah laktasi pertama. Demikian pula yang perlu diper  hatikan khusus oleh peternak pada sapi yang mendapat perlakuan bST seperti kondisi kandang dan lain-lain(Luna,2002)

d. Dampak Negatif Penggunaan Hormon BST (Bovine somatotropin)

            Adapun dampak negatif dari peng gunaan BST yaitu: BST dapat meningkat kan kejadian mastitis pada sapi. Hal ini diketahui bahwa sapi memproduksi susu lebih banyak, terlepas dari penyebab dari produksi yang lebih besar, memiliki peningkatan kecil dalam kejadian masti tis. Ada sebuah peningkatan kecil dalam kasus mastitis pada sapi yang disuntik BST Namun, peningkatan ini baik dalam kisaran yang diharapkan berdasarkan susu yang diproduksi meningkat. Selan jutnya, bila dihitung berdasarkan volume susu yang dihasilkan, BST tidak mempe ngaruhi kejadian mastitis. Jadi peningka tan kejadian mastitis pada sapi yang di suntik dengan BST adalah karena hasil yang lebih tinggi dari susu dan bukan efek langsung dari BST (Wijayanti, 2009)

 e. Dampak Positif Penggunaan Hormon BST (Bovine somatotropin)

            Adapun kelebihan dari pengguna an BST yaitu Sejak persetujuan untuk penggunaan komersial, ribuan sapi perah telah disuntik dengan BST, dan ketika digunakan sesuai dengan petunjuk label, tidak ada masalah diverifikasi. Serta dengan penyuntikan BST ini dapat meningkatkan produksi susu, BST juga member keamanan pada sapi, dan susu yang menghasilkan aman bagi konsumen.(Eniza, 2004).

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Benson&Muksin, 2002. Susu Sapi

            http://google. Susu sapi.com

 

Entjang, 2003. E.coli. ONLINE

             http://www.E.coli.com. (Diakses

            tgl 25 Desember,2011).

 

Eniza, 2004. Pengolahan Susu dan Ternak Universitas Sumatera Timur: Sumatera

 

Hartutik, 2005.Pemberian Pakan Sapi

Universitas Brawijaya: Malang.

 

Hadiwiyoto, 1994. Susu Sapi Perah.

               Domi Nques. Inggris.

 

Ikhsan, 2007. Manfaat Susu Sapi           http://1ggplus.wordpress.commemetik-manfaat-susu-sapi/. (Di akses tgl 25 Desember 2011)

 

Kurnia,2011. Penggunaan Hormon dalam Produksi Susu

                   http://Website.com (di akses 27 Desember 2011)

 

Luna, 2000. Reproduksi Sapi

                  Dominguez : Jerman

 

Sari, 2009. Bioteknologi Peternakan

                  http://annehira.com.bioteknologi

                  (di akses tgl 25 Desember 2011)

 

Wijayanti, 2009. Manfaat Susu. Universi  

               Tas Muhammadiyah Surakarta:

              Surakarta.

 

Anonymous,2011. Sapi Perah

              http://Wikipedia. Sapi Perah.com

             (Di akses tgl 25 Desember 2011).

 

Anonymous, 2010. Hormon BST.

http://www.biotech.iastate.edBovine_Somatotropin.html (Diakses 25 Desember 2011)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: