KARYA SEJARAH MIKROBIOLOGI DALAM MENJAWAB PERANAN BIDANG MIKRO MODERN

ABSTRAK
Mikrobiologi adalah suatu kajian tentang mikroorganisme dan mempunyai sejarah panjang dalam perkembangannya, yang menghasilkan penemuan-penemuan penting oleh para ilmuan yang dipakai sampai sekarang dalam dunia mikro modern, seperti Antonie Van Leeuwenhoeke dengan mikroskopnya, teori abiogenesis, fermentasi sebagai proses mikrobiologis, peran mikroorganisme sebagai penyebab penyakit dan juga terdapat era keemasan dan era modern. Tujuan artikel ini untuk memberitahukan sejarah perkembangan mikrobiologi yang sampai saat ini masih digunakan di dunia mikro dan bahkan semakin modern. Aspek akademis memberikan informasi kepada masyarakat tentang sejarah perkembangan mikrobiologi.

Key word : mikroorganisme, penemuan penting, mikrobiologi modern

PENDAHULUAN
Latarbelakang
Mikrobiologi adalah ilmu yang mempelajari organisme hidup yang berukuran sangat kecil sehingga tidak dapat dilihat dengan mata telanjang melainkan dengan bantuan mikroskop. Organisme yang sangat kecil ini disebut sebagai mikroorganisme, atau kadang-kadang disebut mikroba ataupun jasat renik. Adanya dunia mikroorganisme belum dapat diketahui sampai ditemukannya mikroskop. Alat optik ini berguna untuk membesarkan bayangan benda yang demikian kecil sehingga tidak nampak jelas dilihat tanpa bantuan alat itu. Anthony Van Leeuwenhoek (1632-1723), seorang pedagang belanda yang mengetahui tentang adanya dunia mikroorganisme tersebut, yang kemudian dengan mikroskop buatannya itu dapat melihat makhluk-makhluk kecil yang sebelumnya tidak diduga keberadaannya. Dia adalah orang yang pertama kali yang mengetahui adanya dunia mikroorganisme itu.
Dunia mikroba lebih terbuka lagi ketiak Louis Pasteur, seorang ahli kimia prancis menemukan prinsip-prinsip dasar yang berkaitan dengan sifat hidup mikroorganisme, antara lain masalah fermentasi. Beberapa mikroorganisme yang terlibat dalam proses fermentasi makanan: pembuatan keju, anggur, yoghurt, tempe/oncom, kecap, dll, produksi penisilin, sebagai agens biokontrol, serta yang berkaitan dengan proses pengolahan limbah.
Mikroorganisme yang merugikan, antara lain yang sering menyebabkan berbagai penyakit (hewan, tumbuhan, manusia), diantaranya: flu burung yang akhir-akhir ini menggemparkan dunia termasuk Indonesia, yang disebabkan oleh salah satu jenis mikroorganisme yaitu virus. Selain itu, juga terdapat beberapa jenis mikroorganisme yang dapat menyebabkan pencemaran lingkungan. Asal usul kehidupan mikroorganisme diawali dengan kegemaran seorang ilmuwan bernama Leeuwenhoek yang mengamati mikroorganisme pada air hujan, air laut, dan kotoran gigi. Ternyata pada berbagai bahan tadi banyak ditemukan jasad renik, diantaranya protozoa, khamir, dan bakteri. Walaupun saat itu, Leeuwenhoek hanya menggunakan jenis mikroskop yang sangat sederhana. Kemudian berkembang, munculnya jasad renik berasal dari dekomposisi jaringan tumbuhan/hewan yang telah mati atau dengan kata lain kehidupan muncul begitu saja dan berasal dari bahan mati, sehingga dikenal dengan teori Generatio Spontanea: Abiogenesis (abio: tidak hidup, genesis: asal). Teori tersebut diperkuat dengan pembuktian bahwa daging yang dibiarkan membusuk dan menghasilkan belatung.
Namun, teori tersebut dapat dipatahkan oleh Francesco Redi, dkk. melalui beberapa percobaan yang dilakukannya, sehingga berkembang teori baru yang dikenal dengan Generatio Spontanea: Biogenesis yang menyatakan bahwa kehidupan berasal dari bahan yang hidup. Hal ini dibuktikan bahwa belatung pada daging yang membusuk tidak terjadi secara mendadak dan berasal dari bahan mati. Tetapi, lalat tertarik dengan daging yang membusuk, kemudian bertelur di atas kain yang menutupi dagingnya, baru kemudian tumbuh belatung. Teori itupun akhirnya disanggah lagi oleh beberapa tokoh yang menyatakan bahwa mikroorganisme terjadi tidak secara tiba-tiba. Tokoh-tokoh tersebut antara lain: John Needham, Lazzaro Spallanzani. Sedangkan John Tyndall dan Louis Pasteur adalah tokoh-tokoh yang memberikan sanggahan akhir terhadap teori generation spontanea dengan dibuktikannya proses fermentasi, dengan menyatakan bahwa mikroorganisme hanya dapat muncul atau timbul akibat dari aktivitas jasad renik lain.
Saat ini informasi yang diperoleh dari mikrobiologi memberikan sumbangan besar, khususnya dalam mengawasi penyakit menular. Selain itu, mikroorganisme telah digunakan untuk mempelajari berbagai proses biokimia yang diketahui terjadi pula pada bentuk kehidupan yang lebih tinggi. Banyak fakta tentang metabolisme manusia yang diketahui sekarang mula-mula diketahui terjadi pada mikroorganisme. Demikian pula dengan teknologi yang sekarang sedang popular, misal Rekayasa Genetik, yang tidak lain merupakan perkembangan genetika molekuler yang menjelaskan bagaimana gen mengatur aktivitas sel. Semua ini berasal dari studi tentang mikroorganisme. Jadi, bidang mikrobiologi tidak hanya studi tentang penyebab penyakit tetapi merupakan studi tentang semua aktivitas hayati mikroorganisme. Diharapkan di waktu mendatang, dapat mengendalikan kelainan genetika dan penyakit seperti kanker. Selain itu, juga diharapkan dapat diperoleh berbagai varietas hewan/tumbuhan yang berkualitas (cepat panen, tahan penyakit, dan produktivitasnya tinggi).

PEMBAHASAN
Mikrobiologi adalah ilmu yang mempelajari organisme hidup yang berukuran sangat kecil sehingga tidak dapat dilihat dengan mata telanjang melainkan dengan bantuan mikroskop. Organisme yang sangat kecil ini disebut sebagai mikroorganisme, atau kadang-kadang disebut mikroba ataupun jasat renik. Seperti virus (virologi), pengetahuan tentang bakteri (bakteriologi), pengetahuan tentang hewan bersel satu (Protozoologi), pengetahuan tentang jamur (Mikologi), terutama yang meliputi jamur-jamur rendah.
Dunia mikroba lebih terbuka lagi ketiak Louis Pasteur, seorang ahli kimia prancis menemukan prinsip-prinsip dasar yang berkaitan dengan sifat hidup mikroorganisme, antara lain masalah fermentasi. Sehingga banyak masalah dan pertanyaan yang tadinya belum terjawab setelah penemuan-penemuan pasteur menjadi jelas. Tampil pula peranan penemu lain yang banyak berjasa dalam dalam mikrobiologi seperti Robert Koch, seorang dokter Jerman. Atas penemuan dan hasil penelitiannya, kemudian katan dan peranan mikroba sebagai penyebab penyakit dapat di terangkan secara jelas dengan postulat (batasan) yang telah di susunnya masih berlaku sampa sekarang yang umumnya disebut dengan Postulat Kock.

Era Perintisan Tahun 1850
Pada periode perintisan ini timbul fenomena, batasan (postulat) tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan mikrobiologi secara umum maupun secara khusus, yang berkaitan dengan bidang kesehatan lingkungan, pertanian, dan lain sebagainya. Dalam periode ini para ahli mencoba mencari jawaban dari berbagai permasalahan yang timbul di lingkungannya yang mungkin berkaitan dengan mikroba, antara lain dari mana asal mula kehidupan yang pertama, kenapa makanan menjadi rusak (membusuk, berlendir), bagaimana suatu penyakit dapat menular dan menyebar (masalah kontagion), kenapa bila terjadi luka bisa membengkak dan mengeluarkan nananh, dan bagaimana proses fermentasi terjadi.

Anthony Van Leeuwenhoek (1632-1723)
Penemu mikroba pertama adalah Anthony Van Leeuwenhoek (1632-1723). Penemuan ini diawali oleh penemuan mikroskop. Lensa mikroskop buatannya masih sangat terbatas perbesarannya (200-300 kali). Mikroskopnya mempunyai sedikit mempunyai persamaan dengan mikroskop sekarang. Lensa berbentuk bola yang dipasang diantara dua pelat logam yang kecil. Benda yang akan di amati diletakkan di ujung jarum tumpul yang diletakkan di pelat belakang dan difokuskan dengan memutar dua sekrup yang dapat mengubah letak jarumterhadap lensa. Dengan sarana ini dia dapat mengamati mikroorganisme di dalam air hujan, air laut, bahan pengorekan dari sela-sela gigi, campuran yang sedang berfermentasi dan berbagai bahan lainnya, kemudian ia menamai hewan temuan pertamanya ini dengan nama hewan kecil (animalcule) .
Anthony Van Leeuwenhoek sebenarnya adalah seorang pedagang Belanda, tidak pernah mengenyam pendidikan formal, dan hanya tahu tentang bahasa belanda saja. Sekalipun demikian, hasil penemuannya membuka cakrawala baru tentang adnya mikroorganisme.

Teori Generatio Spontanea (Abiogenesis) Dan Biogenesis
Setelah Leeuwenhoek menyingkapkan rahasia alam tentang mikroba, timbul rasa ingin tahu para ilmuan tentang asal usul mikroba tersebut. Ada dua berpendapat mengenai hal ini. Beberapa orang percaya bahwa animalkules timbul dengan sendirinya dari bahan-bahan yamg mati, sedangkan yang lain berpendapat bahwa mereka terbentuk dari benih yang selalu ada di udara.
Sebenarnya teori abiogenesis sudah sejak lama ada, hal ini terbukti Aristoteles (300 sm) telah berpendapat, bahwa mahluk-mahluk kecil terjadi begitu saja dari benda mati. Pendapat ini juga di anut oleh Needham, seorang bangsa polandia selama 5 tahun mengadakan eksperimen-eksperimen dengan berbagai rebusan padi-padian daging dan lain seabagainya. Meskipun air rebusan tersebut disimpan rapat-rapat dalam botol tertutup, namun masih timbul mikroorganisme dengan perkataan lain kehidupan baru dapat timbul dari barang mati.
Teori Generatio Spontanea ini di kembangkan untuk menjelaskan adanya lalat pada daging yang membusuk pada air yang menggenang, pada abad XIX, muncul isu ilmu pengetahuan mengenai dari mana asal-usul kehidupan. Setelah ditemukannya suatu dunia organisme yang tidak tampak dengan mata telanjang memebangun minat terhadap perbedaan mengenai asal-usul kehidupan yaitu dari manakah asal jasad-jasad renik itu muncul, maka timbullah pertentangan antar ilmuan sehingga lahirlah teori abiogenesis. Ilmuan-ilmuan yang juga mengamati teori Generatio Spontanea antaralain.
Pengetahuan tentang mikroorganisme semakin bertambah, sedikit demi sedikit bahkan generatio spontanea pada mahluk hidup tidak ada. Hal ini dibuktikan pada tahun 1665 oleh Francesco Redi, seorang dokter dari italia dari hasil percobaannya, ditunjukkan bahwa ulat berkembang biak di dalam daging busuk tidak akan terjadi bila daging disimpan dalam suatu tempat di tutup dengan kasa halus sehingga lalat tidak dapat menaruh telurnya dalam dalam daging itu. Redi melakukan eksperimen dengan memasukkan daging kedalam wadah yang ditutup dengan kain tupis yang berlubang hakus untuk mencegah masuknya lalat, ia membuktikan bahwa belatung tidak terjadi secara mendadak pada daging yang membusuk. Lalatlah yang tertarik pada daging yang membusuk, bertelur pada kain tipis yang penutup wadah. Ketiadaan belatung yang tumbuh pada daging yang memebusuk memberikan bukti yang menentukan untuk menentang perkembangan secara mendadak.

Orang yang juga menentang pendapat Aristoteles dan Needham adalah Lazzaro Spallanzani pada tahun 1768. Dia mengatakan bahwa perebusan dan penutupan botol-botol berisi air rebusan yang dilakukan oleh Needham tidak sempurna spallanzani sendiri merebus sepotong daging sampai berjam-jam lamanya, kemudian air rebusan itu di tutup rapat-rapat di dalam botol, dengan demikian tidak diperoleh mikroorganisme baru.

Pada tahun 1836 Schultze memperbaiki eksperimen spallanzani dengan mengalirkan udara lewat suatu asam atau basa yang keras kedalam botol isi kaldu yang telah direbus dengan baik terlebih dahulu. Pada tahun 1837 membuat percobaan serupa itu juga dengan mengalirkan udara lewat pipa yang dipanasi berjam-jam lamanya.
Schoeder dan Th. Von Dusch tahun 1854 menemukan suatu akal untuk menyaring udara yang menuju ke dalam botol yang berisi kaldu, dan demikian tumbanglah teori abiogenesis. Pada tahun 1865 Louis Pasteur melakukan percobaan, dimana dia menggunakan suatu botol yang berisi kaldu dengan di tutup oleh pipa yang melengkung seperti leher angsa. Dengan akal yang istimewa ini pasteur dapat meyakinkan kepada khalayak, bahwa tidak ada kehidupan baru yang timbul dari barang mati.

Serangkaian percobaan lain berusaha membuktikan bahwa teori abiogenesis adalh tidak benar adalah John Tyndall. Ia seoarang ahli fisika dari inggris dan merupakan seorang pendukung pasteur. Thyndall melakukan serangkaian percobaan dengan kaldu yang terbuat dari daging dan sayuran segar, ia memperoleh cara sterilisasi dengan menaruh tabung-tabung kaldu ayam dalam air garam yang sudah mendidih 5 menit. Dari hal tersebut dapat disimpulkan bahwa pada bakteri terdapat fase-fase tertentu yang satu bersifat termolabil dan yang satunya bersifat termoresisten. Yang kemudian Tyndall melanjutkan dengan mengembangkan cara sterilisasi dengan pemanasan terputus, yang kemudian disebut sebagai Tyndalisasi.

Fermentasisebagai Proses Mikrobiologis
Pada tahun 1837, C. Cagniard-Latour, Th. Schawann, dan F. Kutzing secara terpisah mengemukakan bahwa khamir yang terdapat pada proses fermentasi yang menghasilkan alkohol adalah tumbuhan renik. Cukup ironis sekali ,louis Pasteur seorang ahli kimia dapat meyakinkan dunia ilmu pengetahuan bahwa semua proses fermentasi adalah hasil kegiatan mikroorganisme. Karya Pasteur mengenai fermentasi berpangkal dari hal yang praktis. Pabrik minuman keras di Lille meminta tolong kepada Pasteur. Selama penyelidikannya mengenai fermentasi, Pasteur menemukan peristiwa biologis lainnya, yakni bentuk kehidupan yang dapat hidup tanpa pksigen bebas. Dengann penemuannya ini ia memperkenalkan istilah Aerobik dan Anaerobik yang masing-masing menandakan kehidupan tanpa oksigen dan tanpa oksigen.

Penemuan Peranan Mikroorganisme Sebagai Penyebab Penyakit
Varro, bangsa romawi pada abad pertama sebelum masehi mempunyai pendapat bahwa penyakit tertentu oleh sesuatu yang dibawa oleh udara masuk kedalam tubuh manusia melalui mulut atau hidung. Pada masa Francastorius (Italia, 1546), berkat pengamatannya mengenai penularan penyakit seperti pes, cacar, toberkolosis, karena adanya sesuatu”seminaria” (benih) yang tular menular dari seorang ke irang lain. Kemudian Kircher, 1654 telah mengetahui cara penyebaran, penularan, dan perpindahan jasat penyebab penyakit, karena ia menemukan cacing-cacing kecil di dalm darah penderita pes. Penemuan Kircher dapat memberikan jalan ditemukannya penyakit campak oleh Panum (Ahli kedokteran dari Denmark, 1820-1885) dan penyebab epidemi kolera-Asia oleh Snow (1813-1858) dan Budd (1811-1880). Pada tahun 1840, Henle seorang ahli ilmu penyakit bangsa Jerman menyatakan suatu penyakit tertentu disebabkan oleh suatu mikroorganisme tertentupula. Sebenarnya pendapat Henle ini sudah dimiliki oleh Von Plencis, 1762 (Austria), ia menyatakan bahwa tiap penyakit disebabkan oleh berbagai jenis mikroorganisme (penyebab yang berbeda). dibuktikan oleh Wollstein, 1787 dengan menggesekkan sesuatu yang diambil dari rongga hidung kuda menderita penyakit pilek kepada rongga hidung yang sehat, dan ternyata kuda yang sehat itu pilek juga. Oiver Wendell Holmes, 1843 dan Ignaz Semmelweis (1847), di wina secara terpisah bahwa tangan atau alat yang dipakai oleh dokter yang mengadakan pembedahan perlu sekali disinfeksi dulu agar tidak membawa bibit penyakitkepada pasien. Dengan mencuci tangan dengan larutan antiseptik maka hal tersebut dapat dicegah.
Pollender (1849) menemukan mikroorganisme di dalam darah ternak yang menderita penyakit antrax, dan darah yang mengandung mikroorganisme tersebut dapat menjangkitti ternak yang masih sehat. Secara umum pada periode perintis ini masalah mikrobiologi bidang penyakit (kedokteran) yaang paling banyak diteliti, diamati, dan diungkapkan.

Era Keemasan
Periode keemasan ini dikaitkan dengan penemuan-penemuan baru terutama oleh Robert Koch, tentang piaraan murni. Berdasarkan hal tersebut ia mengemukakan 4 dalil (postulat) yang terkenal dengan “Postulat Koch”. Penyelidikan lebih lanjut mengatakan bahwa, keempat dalil itu tidak selalu berlaku. Misalnya, basil tipus Salmonellatyphosa dapat dipiara secara murni,tetapi hasil yang dipiara itu tidak dapat lagi menimbulkan penyakit tipus pada hewan yang masih sehat. Basil yang telah dipeliara itu telah kehilangan keganasannya. Kelemahan lain dari postulat koch adalah bahwa tidak setiap bakteri patogen dipiara secara murni.

Penelitian-penelitian Koch yang lain adalah pembiakan kuman antraxs (1876). Koch juga menenukan cara pewarnaan dan cara-cara memperoleh bakteri dalam biakan murni dengan menggunakan pembiakan padat. Disamping itu mmenemukan kuman Tuberkolosis (1882), Vibrio cholerae (1883), dan menemukan hipersensifitas pada kuman Mycobacterium tubercolusis

Pada periode keemasan juga ditemukan cawan petri (petri disk)di dalam cara teknik mikroba oleh Petri (salah seorang asisten Koch). Penemuan Gram (1844) untuk sistem pewarnan baakteri, sehingga bakteri terbagi menjadi dua kelompok besar, yakni Gram positif dan Garam negatif. Penemuan Chamberland, yakni bahan dengan sistem saringan atau filter (1887) secara fisik.

Era Modern
Pada era ini ditandai dengan dipakainya metode dan alt yang mutakhir, seperti misalnya mikroskop elektron, kromatografi, sampai dengan komputer.

Masalah-masalah pelik yang sebelumnya belum terungkap dan belum dijelaskan misalnya antibiotik, vaksin, serum, sekarang telah diketahui.
Virus, misalnya sudah sejak lama Pasteur dan Koch telah melakukan penelitian. Tetapi publikasi yang lebih jelas mengenai virus baru diumumkan oleh Iwanowski, yaitu sebagai penyebab penyakit aneh pada daun tembakau (TMV = tobacco mozaic virus) terungkaplah sudah masalah Virus itu.

Herelle (1967) dan Towert (1951) menemukan fenomena lisis pada biakan kuman, yang disebabkan oleh bakteriofage (virus yang menyerang bakteri). Fleming (1925) secara kebetulan menemukan jamur Penicillium yang dapat membuat zat penghancur bakteri Stafilokokus. Jerne (1955) mengungkapkan teori seleksi ilmiah dari sintesis antibodi. Burner (1957) mengemukakan seleksi klonal, dan Burnet (1967) memperkenalkan daya pencegahan imunologis. Periode modern masih akan ditandai masih akan mempunyai sejarah panjang di zaman sekarang, kalau dikaitkan dengan semakin luasnya wawasan mikrobiologi di berbagai bidang ilmu lainnya.
Penemuan dan Pengembangan Baru di Bidang Mikrobiologi sampai Tahun 2011.
1. Rekayasa genetika (1970)

Perkembangan penelitian genetika molekuler terjadi demikian pesatnya. Jika ilmu pengetahuan pada umumnya mengalami perkembangan dua kali lipat dalam satu dasawarsa, maka waktu yang dibutuhkan untuk itu (doubling time) pada genetika molekuler hanyalah dua tahun. Bahkan, perkembangan yang lebih revolusioner dapat disaksikan semenjak tahun 1970-an, yaitu pada saat dikenalnya teknologi manipulasi molekul DNA atau teknologi DNA rekombinan atau dengan istilah yang lebih populer disebut sebagai rekayasa genetika oleh J.D. Watson dan F.H.C. Crick
(Ing. genetic engineering) dalam arti paling luas adalah penerapan genetika untuk kepentingan manusia. Dengan pengertian ini kegiatan pemuliaan hewan atau tanaman melalui seleksi dalam populasi dapat dimasukkan. Demikian pula penerapan mutasi buatan tanpa target dapat pula dimasukkan. Walaupun demikian, masyarakat ilmiah sekarang lebih bersepakat dengan batasan yang lebih sempit, yaitu penerapan teknik-teknik biologi molekular untuk mengubah susunan genetik dalam kromosom atau mengubah sistem ekspresi genetik yang diarahkan pada kemanfaatan tertentu.

Obyek rekayasa genetika mencakup hampir semua golongan organisme, mulai dari bakteri, fungi, hewan tingkat rendah, hewan tingkat tinggi, hingga tumbuh-tumbuhan. Bidang kedokteran dan farmasi paling banyak berinvestasi di bidang yang relatif baru ini. Sementara itu bidang lain, seperti ilmu pangan, kedokteran hewan, pertanian (termasuk peternakan dan perikanan), serta teknik lingkungan juga telah melibatkan ilmu ini untuk mengembangkan bidang masing-masing.
Perkembangan
Ilmu terapan ini dapat dianggap sebagai cabang biologi maupun sebagai ilmu-ilmu rekayasa (keteknikan). Dapat dianggap, awal mulanya adalah dari usaha-usaha yang dilakukan untuk menyingkap material yang diwariskan dari satu generasi ke generasi yang lain. Ketika orang mengetahui bahwa kromosom adalah material yang membawa bahan terwariskan itu (disebut gen) maka itulah awal mula ilmu ini. Tentu saja, penemuan struktur DNA menjadi titik yang paling pokok karena dari sinilah orang kemudian dapat menentukan bagaimana sifat dapat diubah dengan mengubah komposisi DNA, yang adalah suatu polimer bervariasi.
Tahap-tahap penting berikutnya adalah serangkaian penemuan enzim restriksi (pemotong) DNA, regulasi (pengaturan ekspresi) DNA (diawali dari penemuan operon laktosa pada prokariota), perakitan teknik PCR, transformasi genetik, teknik peredaman gen (termasuk interferensi RNA), dan teknik mutasi terarah (seperti Tilling). Sejalan dengan penemuan-penemuan penting itu, perkembangan di bidang biostatistika, bioinformatika dan robotika/automasi memainkan peranan penting dalam kemajuan dan efisiensi kerja bidang ini.

2. ANTIBODI MONOCLONAL (1975)

Metode produksi antibodi monoklonal pertama kali dikembangkan oleh Kohler dan Milstein pada tahun 1975.
Antibodi monoklonal adalah antibodi monospesifik yang dapat mengikat satu epitop saja. Antibodi monoklonal ini dapat dihasilkan dengan teknik hibridoma. Sel hibridoma merupakan fusi sel dan sel
Pembuatan sel hibridoma terdiri dari tiga tahap utama yaitu imunisasi, fusi, dan kloning Imunisasi dapat dilakukan dengan imunisasi konvensional, imunisasi sekali suntik intralimpa, maupun imunisasi in vitro Fusi sel ini menghasilkan sel hibrid yang mampu menghasilkan antibodi seperti pada sel limpa dan dapat terus menerus dibiakan seperti sel myeloma. Frekuensi terjadinya fusi sel ini relatif rendah sehingga sel induk yang tidak mengalami fusi dihilangkan agar sel hasil fusi dapat tumbuh.
Frekuensi fusi sel dapat diperbanyak dengan menggunakan Polietilen glikol (PEG), DMSO, dan penggunaan medan listrik PEG berfungsi untuk membuka membran sel sehingga mempermudah proses fusi. Sel hibrid kemudian ditumbuhkan pada media pertumbuhan. Penambahan berbagai macam sistem pemberi makan dapat meningkatkan pertumbuhan sel hibridoma
3. Kultur Jaringan (1996)
Tokoh-tokoh yang berperan dalam sejarah dimulainya pengetahuan kultur jaringan antara lain adalah:
• Orang yang melakukan kultur jaringan adalah Gottlieb Haberlant pada tahun 1902.
• Tahun 1904 Hannig melakukan kultur embrio pada tanaman cruciferae.
• Knudson berhasil mengecambahkan anggrek secara in vitro di tahun 1922, pada tahun yang sama Robbins mengkulturkan ujung akar secara in vitro.
• Gautheret, nobecourt dan White yang menemukan auxin dan telah berhasil membudidayakan kalus pada tahun 1939.
• Skoog dkk. telah menemukan sitokinin dan orang pertama yang sukses dalam melakukan kultur jaringan pada tahun 1939.
• Tahun 1940 Gautheret melakukan ku.ltur jaringan kambim secara in vitro pada tanaman Ulmus untuk study pembentukan tunas adventif.
• Tahun 1941 Penggunaan air kelapa untuk campuran media dalam kultur Datura oleh van Overbeek.
• Pembentukan tunas adventif pertama pada kultur tembakau secara in vitro oleh Skoog pada tahun 1944.
• Baru pada tahun 1946, tanaman lengkap pertama dapat dihasilkan dari eksplan kultur tunas ujung pada Lupinus dan Tropaeolum oleh Ball.
• Pada tahun 1950 Ball mencoba menanam jaringan kalus tanaman Sequoia sempervirens dan dapat menghasilkan organ.
• Muir berhasil menumbuhkan tanaman lengkap dari kultur sel tunggal pada tahun 1954.
• Tahun 1955 Miller dkk. Menemukan kinetin yang dapat memacu pembelahan sel.
• Produksi tanaman haploid pertama dihasilkan oleh Guha pada tahun 1964.
• Laminar air flow digunakan pertamakali pada akhir tahun 60-an.
• Power mencoba melakukan penyatuan (fusi) protoplas pertama kali pada tahun 1970.
• Baru pada tahun 1971 tanaman lengkap dihasilkan dari eksplan protoplas oleh Takebe.
• Untuk mendapatkan tanaman yang tahan penyakit, Larkin pada tahun 1981 mengadakan penelitian variasi somaklonal yang pertama kali.\
• Salah satu cara untuk mendapatkan kultuvar unggul adalah dengan melakukan transformasi. Transformasi sel pertama dilakukan oleh Horch pada tahun 1984.

Trasformasi tanaman pertama dilakukan oleh IPTC pada tahun 1986. Transformasi wheat oleh Vasil pada tahun 1992. Pada tahun 1996 pelepasan pertama tanaman hasil transformasi genetik.
Kultur jaringan adalah suatu metode untuk mengisolasi bagian dari tanaman seperti sekelompok sel atau jaringan yang ditumbuhkan dengan kondisi aseptik, sehingga bagian tanaman tersebut dapat memperbanyak diri tumbuh menjadi tanaman lengkap kembali.

Prinsip
Teknik kultur jaringan memanfaatkan prinsip perbanyakan tumbuhan secara vegetatif.[1] Berbeda dari teknik perbanyakan tumbuhan secara konvensional, teknik kultur jaringan dilakukan dalam kondisi aseptik di dalam botol kultur dengan medium dan kondisi tertentu. Karena itu teknik ini sering kali disebut kultur in vitro. Dikatakan in vitro (bahasa Latin), berarti “di dalam kaca” karena jaringan tersebut dibiakkan di dalam botol kultur dengan medium dan kondisi tertentu. Teori dasar dari kultur in vitro ini adalah Totipotensi. Teori ini mempercayai bahwa setiap bagian tanaman dapat berkembang biak karena seluruh bagian tanaman terdiri atas jaringan-jaringan hidup.Oleh karena itu, semua organisme baru yang berhasil ditumbuhkan akan memiliki sifat yang sama persis dengan induknya.
Prasyarat
Pelaksanaan teknik ini memerlukan berbagai prasyarat untuk mendukung kehidupan jaringan yang dibiakkan. Hal yang paling esensial adalah wadah dan media tumbuh yang steril. Media adalah tempat bagi jaringan untuk tumbuh dan mengambil nutrisi yang mendukung kehidupan jaringan. Media tumbuh menyediakan berbagai bahan yang diperlukan jaringan untuk hidup dan memperbanyak dirinya.
Media
Ada dua penggolongan media tumbuh: media padat dan media cair. Media padat pada umumnya berupa padatan gel, seperti agar, dimana nutrisi dicampurkan pada agar. Media cair adalah nutrisi yang dilarutkan di air. Media cair dapat bersifat tenang atau dalam kondisi selalu bergerak, tergantung kebutuhan. Komposisi media yang digunakan dalam kultur jaringan dapat berbeda komposisinya. Perbedaan komposisi media dapat mengakibatkan perbedaan pertumbuhan dan perkembangan eksplan yang ditumbuhkan secara in vitro. Media Murashige dan Skoog (MS) sering digunakan karena cukup memenuhi unsur hara makro, mikro dan vitamin untuk pertumbuhan tanaman.
Nutrien yang tersedia di media berguna untuk metabolisme, dan vitamin pada media dibutuhkan oleh organisme dalam jumlah sedikit untuk regulasi. Pada media MS, tidak terdapat zat pengatur tumbuh (ZPT) oleh karena itu ZPT ditambahkan pada media (eksogen). ZPT atau hormon tumbuhan berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Interaksi dan keseimbangan antara ZPT yang diberikan dalam media (eksogen) dan yang diproduksi oleh sel secara endogen menentukan arah perkembangan suatu kultur.
Penambahan hormon tumbuhan atau zat pengatur tumbuh pada jaringan parenkim dapat mengembalikan jaringan ini menjadi meristematik kembali dan berkembang menjadi jaringan adventif tempat pucuk, tunas, akar maupun daun pada lokasi yang tidak semestinya. Proses ini dikenal dengan peristiwa dediferensiasi. Dediferensiasi ditandai dengan peningkatan aktivitas pembelahan, pembesaran sel, dan perkembangan jaringan.
Metode
Metode perbanyakan tanaman secara in vitro dapat dilakukan melalui tiga cara, yaitu melalui perbanyakan tunas dari mata tunas apikal, melalui pembentukan tunas adventif, dan embriogenesis somatik, baik secara langsung maupun melalui tahap pembentukan kalus. Ada beberapa tipe jaringan yang digunakan sebagai eksplan dalam pengerjaan kultur jaringan. Pertama adalah jaringan muda yang belum mengalami diferensiasi dan masih aktif membelah (meristematik) sehingga memiliki kemampuan regenerasi yang tinggi. Jaringan tipe pertama ini biasa ditemukan pada tunas apikal, tunas aksiler, bagian tepi daun, ujung akar, maupun kambium batang. Tipe jaringan yang kedua adalah jaringan parenkima, yaitu jaringan penyusun tanaman muda yang sudah mengalami diferensiasi dan menjalankan fungsinya. Contoh jaringan tersebut adalah jaringan daun yang sudah berfotosintesis dan jaringan batang atau akar yang berfungsi sebagai tempat cadangan makanan.
4. Kloning (1997)
Sejarah tentang hewan kloning telah muncul sejak tahun 1900, tetapi hewan kloning baru dapat dihasilkan lewat penelitian Dr. Ian Willmut seorang ilmuwan skotlandia pada tahun 1997, dan untuk pertama kali membuktikan bahwa kloning dapat dilakukan pada hewan mamalia dewasa. Hewan kloning tersebut dihasilkan dari inti sel epitel ambing domba dewasa yang dikultur dalam suatu medium, kemudian ditransfer ke dalam ovum domba yang kromosomnya telah dikeluarkan, yang akhirnya menghasilkan anak domba kloning yang diberi nama Dolly.
Kloning dalam biologi adalah proses menghasilkan individu-individu dari jenis yang sama (populasi) yang identik secara genetik. Kloning merupakan proses reproduksi aseksual yang biasa terjadi di alam dan dialami oleh banyak bakteria, serangga, atau tumbuhan. Dalam bioteknologi, kloning merujuk pada berbagai usaha-usaha yang dilakukan manusia untuk menghasilkan salinan berkas DNA atau gen, sel, atau organisme. Arti lain kloning digunakan pula di luar ilmu-ilmu hayati.

Kata ini diturunkan dari kata clone atau clon, dalam bahasa Inggris, yang juga dibentuk dari kata bahasa Yunani, κλῶνος (“klonos”) yang berarti “cabang” atau “ranting”, merujuk pada penggunaan pertama dalam bidang hortikultura sebagai bahan tanam dalam perbanyakan vegetatif

5. Proyek Genom Manusia (Human Genome Project) (2000)
Dilaksanakan untuk memetakan genom manusia sampai tingkat nukleotid atau base pair dan untuk mengidentifikasi seluruh gen yang ada di dalamnya Tujuan

Tujuan awal dari HGP adalah tidak hanya untuk menjelaskan seluruh 3 milyar “base pair” dalam genome manusia dengan sedikit kesalahan, tetapi juga untuk mengidentifikasi seluruh gen dalam data yang besar ini. Sebagian proyek ini masih berlangsung meskipun penghitungan awal mencatat sekitar 25.000 gen dalam genome manusia, yang lebih sedikit dari yang dikira oleh para ilmuwan.
Tujuan
Tujuan lain dari HGP adalah mengembangkan lebih cepat lagi metode yang lebih efisien untuk mensekuens DNA dan analisis sekuens dan peralihan teknologi ini ke industri.
Keuntungan
Keuntungan praktikal proyek ini keluar ketika projek ini belum selesai. Misalnya, sejumlah perusahaan seperti Myriad Genetics mulai menawarkan tes genetik yang murah dan mudah yang dapat menunjukan gejala ke berbagai penyakit, termasuk kanker payudara, blood clotting, cystic fibrosis, liver, dan lainnya.

6. Kloning Organ Tubuh Manusia (2011)
Teknik stem cell (cangkok sel induk) dan kloning berkembang pesat dalam berapa tahun terakhir. Jika teknik cangkok sel induk (stem cell) sudah beberapa kali digunakan dalam dunia kedokteran untuk pengobatan pasien, kini penggunaan teknik kloning (kembaran) organ makin mendekati kenyataan. Ilmuwan untuk pertama kalinya berhasil menggunakan teknik kloning untuk membuat sel induk embrio yang tumbuh pada sel telur manusia yang tidak subur. Sel induk hasil kloning ini nantinya berpotensi sebagai pengobatan diabetes, kebutaan dan penyakit lain.

Sekedar informasi teknik kloning adalah teknik non perkawinan seperti halnya pertemuan sel telur dan sperma yang bersatu. Teknik kloning memungkinkan penciptaan sel induk baru atau embrio tanpa proses pertemuan seperti itu. Untuk mudah membayangkan seperti halnya tanaman cangkok yang bisa tumbuh sama persis seperti tanaman dari biji. Nah, penemuan baru ini memungkinkan ilmuwan untuk menciptakan sel-sel penting dari embrio tersebut dengan mengambil sel induknya. Sel induk dari embrio ini bisa digunakan untuk pembuatan sel jantung yang memperbaiki kerusakan jantung, sel untuk insulin bagi penderita diabetes atau sel mata yang rusak bagi orang buta.
Dalam penemuan baru ini, ilmuwan menggunakan sel somatis atau sel tubuh manusia yang disebut somatic cell nuclear transfer (SCNT), untuk membuat sel-sel induk (stem cell) embrionik yang cocok dengan DNA pasien. Sel somatis yang diambil adalah sel kulit orang dewasa yang lalu dimasukkan ke dalam sel telur manusia. Materi genetik tersebut ditanam selama 6-12 bulan yang lalu menghasilkan embrio awal untuk selanjutnya sel induk embrio akan digunakan untuk pengobatan.
Berbeda dengan teknik kloning domba Dolly di tahun 1996 yang menghapuskan inti sel telur dari dalam sel telur, kali ini inti sel telur dalam sel telur dibiarkan menyatu dengan sel kulit yang kemudian tumbuh menjadi embrio. Pada kloning domba Dolly tahun 1996, sel tubuh yang diambil waktu itu adalah sel dari puting susu domba lain yang lalu dimasukkan dalam sel telur domba lain yang telah dihapuskan inti selnya yang lalu embrionya dikembangkan menjadi cikal bakal domba dolly.
Namun para ilmuwan dari New York Stem Cell Foundation Laboratory di New York telah berhasil menjaga materi genetik dari telur inang dan hanya menambahkan nukleus dari sel dewasa. “Agak mengherankan, karena hal ini berarti mereka sedang menciptakan sebuah embrio dengan salinan terlalu banyak dari setiap kromosom. Konstruksi ini dikembangkan dengan baik dan efisien untuk tahap blastokista (tahap sebelum implantasi, dimana embrio sekitar 80 sampai 100 sel),” ujar Professor Robin Lovell-Badge, Kepala Divisi Britain’s National Institute for Medical Research, seperti dilansir Reuters, Jumat (7/10/2011).
Profesor Mary Herbert dari Universitas Newcastle dan Newcastle Fertility Centre mengatakan studi terbaru ini menawarkan pendekatan baru yang memungkinkan para ilmuwan membandingkan teknik yang berbeda untuk menciptakan sel-sel yang penting dan kuat. Namun kali ini, ilmuwan hanya membatasi penggunaan embrio kloning tersebut untuk dipakai sel induknya untuk dijadikan beberapa sel baru untuk pengobatan sel yang rusak, seperti sel jantung, sel mata dan lainnya. Walaupun ini bisa menjadi cikal bakal perkembangan kloning manusia ilmuwan masih membatasi pada penggunaan untuk pengobatan saja.
Meski menawarkan banyak harapan untuk pengobatan dan dunia kedokteran, namun teknik ini bisa memicu kontroversi baru di beberapa kalangan terutama kalangan umat yang religius yang percaya bahwa menghancurkan setiap embrio manusia adalah tindakan yang salah.

Mengkaji sejarah perkembangan mikrobiologi diatas sangatlah menjadi hal yang menarik, dikarenakan banyaknya segala upaya para ilmuan yang intinya ingin mengetahui asal mula kehidupan. Dalam hak ini terjadi sebuah benturan-benturan dan pertentangan antar para ilmuan, mereke berlomba-lomba mencari kebenaran dari sebuah teori dan ilmu pengetahuan mereka, dan tidak jarang kita dapatkan fenomene bahwa mereka saling menjatuhkan dalam hal pendapat, dengan segala penelitian yang dilakukan. Dan mereka menganggap bahwa asal mula kehidupan adalah dari benda mati. Disinilah terjadi perdebatan dan pertentangan pendapat dan hasil eksperimen yang dilakukan. Jawaban dari semua ini tergantung dari pandangan hidup seseorang, jika dikaitkan dengan segi spiritual yaitu aqidah islam, maka bukti-bukti tenteng penciptaan alam alam semesta termasuk didalamnya seluruh makhluk hidup di muka bumi, jelas tercantum di dalam Al-Quran, sebagaimana firman Allah yaitu:
“Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu”(Qs Al-Baqarah : 29)

“yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagiNya dalam kekuasaan(Nya), dan dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya[1053]”( Qs Al-Furqon : 2)

“Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia” ( Qs Yasin :82)
“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk, Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniup kan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud” ( Qs Al-Hijjr :28-29)

“Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur- angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah” ( Qs Al-Hajj :5)

“Allah lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy[1188]. Tidak ada bagi kamu selain dari padaNya seorang penolongpun dan tidak (pula) seorang pemberi syafa’at[1189]. Maka apakah kamu tidak memperhatikan? ( Qs As-Sajadah :4)
Dari penggalan ayat di atas maka sesungguhnya semua mahluk yang ada didunia dan seluruh alam semesta, baik besar maupun kecil bahkan mikrooganisme, adaalah merupakan ciptaan dari Allah SWT. Dengan mempelajari tentang mikrobiologi dan sejarahnya maka kita telah menambah nilai keimanan dan ketaqwaan, bahkan ilmu kita.

KESIMPULAN
Dalam pembahasan maka penulis dapat menyimpulkan
− Bidang mikrobiologi memiliki sejarah perkembangan yang sangat panjang dan rumit, dari awalnya hanya mengetahui mikroskop sederhana Antonie Van leeuwenhoek, yang menjadikan terungkapnya dunia mikroorganisme, yang selanjutnya berkembang dengan disusul para ilmuan lain yang berusaha lebih mendalam mengetahui dunia mikroorganisme.
− Dengan perkembangan dunia mikroorganisme yang kian modern, hingga akhirnya dunia mikrobiologi ini menembus hingga kedalam bidang mikrobiologi dalam kedokteran, yang akhirnya ditemukannya banyak sekali macam penyakit akibat bakteri, seperti antraxs, tifus dan bahkan ssudah menjamah lagi kedalam dunia virus.

DAFTAR PUSTAKA
Anoymous. 2007. Seratus Tokoh Yang Berpengaruh Dalam Masyarakat. (Online).http://www.suarapembaruan.com/harian/0204/06/ragamI.htm. Diakses tanggal 30 Desember 2008.
Anoymous. 2003. Louis Pasteur Ilmuan Terkemuka Dan Penentang Teori Evolusi .(Online).http://www.korantempo.com/news/2003/12/4/Ilmu%20dan%20Teknologi/41.html. Diakses Tanggal 24 Juni 2008.
Waluyo, Lud. 2007. Mikrobiologi Umum. UMM Press. Malang.
Dwidjoseputro. 1994. Dasar-dasar Mikrobiologi. Djambatan. Malang.
Stanier, dkk. 1982. Dunia Mikrobe I. Bhathara Karya Aksara. Jakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: