Upaya penanggulangan mikroorganisme yang merugikan dalam bidang pertanian

Pendahuluan
Penyakit adalah suatu kondisi tidak normal yang menyebabkan tanaman terganggu fungsinya. Penyakit biasanya paling mudah dikenal dengan melihat gejala yang diderita oleh tanaman. Berbagai macam agen, baik bekerja sendiri atau bersamaan dapat menyebabkan timbulnya penyakit. Agen tersebut dapat berupa biotic (benda hidup) dan abiotik (benda tak hidup). Organism yang sering menimbulkan penyakit disebut pathogen. Pathogen tersebut misalnya saja bakteri, jamur, nematode, virus dan mikoplasma. Penyakit tanaman muncul karena adanya kultivar yang peka terhadap phatogen, dan peka terhadap pengaruh lingkungan. (Sudarmo, 1993).
Pengganggu tanaman (pest) mencakup semua bentuk hidup yang merusak tanaman merupakan spectrum biologi yang sangat luas, dari virus yang sukar dilihat sampai tikus dan babi hutan. Pengganggu dapat dikelompokkan dalam istilah-istilah yang lebih luas dari patogen, predator, dan gulma. Efek merugikannya adalah berturut-turut penyakit, kerusakan dan persaingan. Perkiraan kerugian akibat pengganggu untuk pertanian dunia sampai mencapai 33 persen.
Beberapa pengganggu memiliki daya merusak yang mengerikan sehingga dapat menihilkan seluruh tanaman. Lainnya kurang spektakuler, tetapi sama merugikannya dalam jangka panjang, terus-menerus mengikis sementara kerusakan terus berjalan tanpa kita perhatikan. (Hardjadi, 1979)
Pemberantasan pengganggu tanaman merupakan disiplin dalam pertanian yang disebut proteksi tanaman. Suatu teknologi yang telah sangat terspesialisasi dan selalu berubah dengan cepat, telah dikembangkan dalam pemberantasan pengganggu tertentu (mikroorganisme, nematode, serangga, dan gulma).
Walaupun teknik pemberantasan berbeda menurut pengganggu dan tanamannya, pendekatan dasarnya adalah dengan mencampuri beberapa tahap kehidupan dari pengganggu tersebut atau dengan melindungi tanaman inangnya. Perlakuan yang palaing berhasil adalah dengan pencegahan (preventif) dan bukannya penyembuhan (curatif). Pencegahan bertujuan menahan, mencegah kerusakan dan bukannya menyembuhkan tanaman-tanaman yang telah terserang.
Semua ara tergantung pada pengetahuan yang mendalam mengenai penyebab biologiknya, sejarah dan ekologinya secara alami, dan terutama pertalian khasnya dengan tanaman inangnya. Pemberantasan yang berhasil sering tergantung pada penggunaan yang tepat dari banyak cara yang berbeda.
Cara-cara pemberantasan yang dikenal adalah: 1) cara teknik budidaya, 2) cara fisik, 3) cara kimia, 4) cara biologi. (Hardjadi, 1979)

Pembahasan
Dengan terus meningkatnya jumlah mikroorganisme pada lingkungan pertanian, para petani di harapkan dapat mengantisipasi tanaman pertaniannya dari gangguan mikroorganisme yang merugikan bagi tanaman. Akan tetapi menggunakan bahan kimia sebagai salah satu solusi untuk membasmi organisme itu sendiri dapat berdampak buruk bagi lingkungan dan kesehatan para petani, dan dapat menyebabkan mikroorganisme tersebut juga resisten terhadap bahan-bahan kimia jika digunakan terus menerus. Sehingga sangat diharapkan dalam membasmi mikroorganisme yang merugikan dapat menggunakan bahan hayati (alami).
Upaya penanggulangan mikroorganisme yang dapat merugikan dalam bidang pertanian yaitu:

A. Cara Teknik Budidaya

Cara kultur teknik digunakan untuk mengurangi populasi pengganggu yang efektif, mencakup pembuangan tanaman-tanaman atau benih sakit atau terserang (roguing), pemotongan bagian-bagian tanaman yang terserang (surgery) atau pembuangan sisa-sisa tanaman yang dapat merupakan biakan pengganggu (sanitation).
Pengurang populasi pengganggu dapat dicapai dengan menggilir tanaman yang terhadap pengganggu tertentu (rotasi). Populasi gulma dapat dikurangi dengan rotasi menggunakan tanaman-tanaman yang beradaptasi baik terhadap gulma, yang mengalahkannya, seperti pupuk hijau, atau jagung ataupun singkong. Pupuk hijau merupakan pupuk organik yang berasal dari tanaman atau berupa sisa panen. Bahan tanaman ini dapat dibenamkan pada waktu masih hijau atau setelah dikomposkan. Pupuk hijau dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kandungan bahan organik dan unsur hara di dalam tanah sehingga terjadi perbaikan sifat fisika, kimia, dan biologi tanah, yang selanjutnya berdampak pada peningkatan produktivitas tanah dan ketahanan tanah terhadap erosi. Kadang-kadang pengolahan tanahlah, yang digunakan sewaktu rotasi, yang menyebabkan gulma terberantas. Misalnya, penyiangan tanaman-tanaman berjalur (jagung, kacang-kacangan) dapat mengurangi gulma rumput-rumputan untuk penanaman padi berikitnya. Penanaman Grotalaria sebagai rotasi, dapat menarik nematode dari sekitarnya untuk hidup membiak di situ. Akan tetapi karena siklus hidupnya tidak lengkap, dapat berakibat punahnya populasi nematode tersebut.
Tidak seperti hewan, tanaman tidak memiliki mekanisme antibodi yang dapat digunakan untuk melawan penyakit, jadi tidak dapat dibuat imun dengan vaksin. Namun, keadaan fisiologi tanaman dapat diubah untuk mempengaruhi kesanggupannya baik untuk menahan invasi oleh patogen atau untuk mengatasi pengaruhnya yang merugikan. Misalnya, menyakit layu pembuluh pada kapas,yang disebabkan verticilium albotratum dapat dikompensasikan dengan pemberian pupuk, yang akan menyebabkan secara harfiah tanaman mendahului tanaman pathogen. Teknik kebalikannya digunakan untuk penyakit layu bakteri pada tomat, dimana infeksi dan pertumbuhan bakteri penyebabnya luar biasa cepatnya pada tanaman-tanaman yang sukulen dan tumbuh subur.
Memperlambat pertumbuhan pohon dengan menghilangkan pemupukan N berlebihan atau dengan menghindari pemangkasan secara ekstensif merupakan salah satu cara untuk memberantas penyakit. Pemberian hara anorganik memberikan proteksi pada beberapa keadaan. Misal, penyakit bengkak akar (clubroot) pada kubis, tampak berkurang keganasannya bila perbandingan kalsium terhadap kalium dalam tanah berkurang.
Populasi pengganggu dapat dikurangi dengan cara-cara yang mencegah lingkungan menjadi favorable, mencakup praktek-praktek yang luas aspeknya seperti drainase tanah, penggunaan tanah, pemangkasan untuk mengurangi kerapatan daun dan untuk menaikkan kecepatan pengeringan, dan pengubahan suhu dan kelembaban. Penyakit kudis pada kentang biasanya diberantas dengan menurunkan pH tanah, atau menghindari tindakan pengapuran yang dapat menaikkan pH tanah. (Harjadi, 1979)
B. Cara Fisik
Cara-cara fisik dapat digunakan untuk melindungi tanaman dalam melawan gangguan atau menghilangkan gangguan seluruhnya. Mendirikan barier-barier fisik untuk melindungi tanaman merupakan perlakuan yang telah berlangsung sejak kuno.
Teknik secara fisik untuk digunakan untuk melawan mikroorganisme jelas sekali sukar. Bila kehadirannya menjadi ketahuan lewat gejala yang ditimbulkannya, sangtlah sukar untuk merusak mereka secara fisik tanpa merusak tanaman inangnya. Barangkali cara yang paling berhasil adalah penggunaan panas. Perlakuan air panas digunakan untuk memusnahkan pathogen-patogen tertular biji (seed-borne) atau tertular tanaman (plant-borne), misalnya “loose smut”, suatu penyakit cendawan pada gandum; penyakit busuk hitam,suatu penyakit bakteri pada kubis; nematode pada tanaman stroberi dormant. Perlakuan panas juga efektif pada penonaktifan beberapa virus. Menguapi tanah-tanah pot merupakan cara-cara dalam rumah kaca untuk menghilangkan banyak pengganggu tanah, termasuk cendawan, nematode, dan biji-biji gulma. (Hajadi, 1979)
C. Cara Kimia
Pestisida merupakan nama golongan dari semua bahan kimia yang digunakan untuk memberantas pengganggu, biasanya tosik pada beberapa tahap kehidupan pengganggu. Termasuk ke dalam pestisida, juga “rapelent”, suatu persenyawaan yang barangkali tidak beracun secara aktif, tetapu membuat tanaman tidak menarik predator karena baunya, rasa atau sifat-sifat fisik lain.
Selektivitas. Pestisida yang selektif adalah yang membunuh suatu organisme tetepi tidak membahayakan yang lain. Akan tetapi, selektivitas merupakan konsep yang relative, tergantung pada interaksi dari banyak faktor: dosis, saat pemberian, cara pemberian, sifat-sifat kimia dan fisik dari bahan yang diberikan, dan status genetic dan fisiologi dari organism yang terlibat. Pestisida yang nonselektif membunuh tanpa pandang bulu. Pada umumnya pestisida bersifat selktif sampai derajat tertentu. Sehingga pestisida digolongkan menurut organism yang dipengaruhi misalnya bakterisida, fungisida, nematisida, mitisida, insektisida, herbisida dan rodentisida.
Banyak pestisida bersifat selektif dalam suatu kelompok besar organisme. Missal insektisida, dapat digolongkan menurut kekuatannya sebagai racun perut atau racun kontak. Racun perut biasanya digunakan melawan serangga mengunyah, dicerna bersama bahan yang dikunyah dan menimbulkan kematian bila mencapai perut. Karena serangga-serangga pengisap memakan cairan tanaman (sap) dan tidak mencerna bahan-bahan luar, mereka jarang dipengaruhi racun perut. Mereka harus diberantas dengan racun kontak, yang membunuh dengan menembus badan serangga secara langsung atau memasuki lewat pernafasan atau pori-pori saraf.
Herbisida, bahan yang membunuh tanaman, diabsorpsi oleh tanaman dan mengakibatkan kematian dengan memberikan reaksi keracunan. Yang hanya membunuh daerah dari tanaman yang terkena (persenyawaan dinitro, minyak dan arsenik) disebut herbisida kontak; herbisida lainya ditraslokasi dalam tanaman (missal 2,4-D) disebut herbisida nonkontak, atau herbisida ditranslokasi.
Selektivitas dapat ditimbulkan dengan mengarahkan herbisida kontak jauh dari tanaman pertanian (toleransi posisi) atau dengan memanipulasikan perbedaan morfologi antara gulma dengan tanamannya (termasuk kutikula berlilin, bentuk dan arah daun, letak titik-titik tumbuh). Selektivitas dapat juga tercapai mengatur dosis.
Pada konsentarasi tinggi, 2,4-D dapat membunuh segala tanaman, sedang pada dosis rendah dapat secara efektif digunakan untuk membunuh secara selektif. Selektivitas dapat dicapai dengan cara lain, yaitu denganmenggunakan beda fisiologi antara tanaman-tanaman. Selektifitas fisiologi dapat berubah secara drastic sesuai dengan tahap pertumbuhan. Banyak herbisida peling efektif digunakan pada saat perkecambahan dan pertumbuhan awal.
Sifat-sifat fisik dan kimia. Banyak sekali persenyawaan-persenyawaan, anorganik dan organic, alami dan sintetik, yang bersifat pestisida. Dewasa ini, pestisida dapat ketinggalan zaman secara cepat, karena bahan-bahan baru atau yang diperbaiki terus-menerus dikeluarkan oleh industry-industri besar.
Fungisida dan insektisida yang mula-mula adalah garam-garam anorganik dari logam-logam seperti tembaga, merkuri, timbale, dan arsen; banyak yang dewasa ini masih berfaedah. Persenyawaan-persenyawaan organic alami muncul terkemuka pada abad 19. Termasuk insektisida-insektisida berasal dari tamanaman: nikotin, pirethrum dan rotenone. Industri pestisida modern didasrkan pada bahan-bahan organik sintetik. Industry menjadi giat karena dua bahan yang berhasil secara luas yaitu DDT dan 2,4-D, nama yang sekarang hanya merupakan istilah biasa.
Pestisida dapat diberikan dalam berbagai bentuk dan cara. Pemberian yang efisien memerlukan penutupan secara merata pada tingkatan yang terkendalikan. Tidaklah praktis memberikan bahan kimia dalam bentuk murninya, maka diberikan dengan pengenceran dengan karier yang inert. Bila kariernya padat (talek, liat), pestisida diberikan sebagai debu (dust). Pemberian secara debu punya keuntungan dalam ringannya dan cocok untuk pemberian dengan pesawat terbang atau helicopter. Akan tetapi debu sukar untuk diberikan secara seragam, dan tidak bertahan lama. Tambahan pula beberapa bahan (missal minyak), tidak dapat diberikan dengan cara ini.
Ketidakuntungan ini dapat diatasi dengan pengguanaan karier cair, biasnya air, di mana bahan-bahan kimia dapat dilarutkan, disuspensikan, atau diemulsikan. Bahan lalu diberikan dengan tekanan dalam tetes-tetes berbagai ukuran, tetapi biasnya dalam bentuk semprotan (spray). Ketidakuntungan dari kerier air dalam hal berat dan banyaknya, dapat diatasi dengan menggunakan konsentrasi tinggi dari bahan-bahan aktif dan mencapai disperse dengan hembusan udara. Pada permukaan tanaman yang berkutin tebal, spray membentuk titik-titik dan bukan merupakan lapisan sinambung. Disperse yang tidak teratur ini dapat diatasi dengan memberikan bahan pembasah (wetting agents), yaitu bahan kimia yang mematahkan tegangan permukaan.
Masih dikenal pestisida yang aktif sebagai gas dan disebut fumigant, yang sangat berfaedah untuk pemberantasan dalam tanah. Untuk menghindari fumigant keluar tanah, dapat ditutupi plastic, digenangi air atau permukaan tanah dipadatkan.
Pestisida dapat bersifat sistemik atau nonsistemik. Pestisida sistemik diabsorpsi oleh tanaman dan ditranslokasi di dalamnya, membuat tanaman dengan sendirinya toksik atau “repallent” terhadap pengganggu. Penggunaannya pada tanaman pangan dibatasi, kecuali bela dapat terurai sebelum dikonsumsi. Kerja pestisida nonsistemik berlangsung pada permukaan tanaman, walaupun dapat terisap sampai tingkatan tertentu.
Saat pemberian. Keefektifan pemberantasan secara kimia biasanya tergantung pada saat pemberian. Pestisida tertentu dapat tidak sama toksiknya pada semua bentuk pengganggu tertentu, dan ini juga merupakan hal yang tidak perlu. Biasanya suatu tahap atau tahap lainnya peka, dan inilah mengapa saat pemberian sangat penting. Mata rantai yang lemah mungkin ditemukan sewaktu spora cendawan berkecambah, tahap larva muda pada serangga, atau serangga vector dari penyakit virus, biji gulma berkecambah.
Untuk kebanyakan penyakit, pemberantasan kimia harus dilakukan sebelum gejala sakit Nampak. Misalnya, sangtlah sukar membunuh cendawan sesudah mereka memasuki tanaman, tetapi pemberantasan dapat tercapai dengan bahan-bahan yang mematikan atau mencegah spora berkecambah ke dalam tanaman.
Saat pemberian terutama penting dalam pengendalian gulma. Selektivitas dapat tercapai untuk fumigant dan herbisida nonselektif lain, bila diberikan sebelum tanaman ditanamkan (preplanting treatment). Herbisida selektif sebelum tanam juga tersedia yang menyerang biji-biji gulma tanpa merusak biji tanaman budidaya. Pemberian sesudah tanama ditanamkan tetapi sebelum muncul dari tanah disebut pre-emergensi treatments.
Cara kerja dari bahan ini terbatas pada permukaan tanah. Supaya efektif, bahan-bahan emergence harus dapat menutup secara baik dan secara relative tahan pencucian. Kelembaban tanah biasanya kritikal karena air dapat diperlukan untuk mengaktifkan herbisida tersebut, walaupun kelebihan air dapat menyebabkan pencucian. Pestisida pre-emergence secara fisiologi selektif terhadap gulma dan tanamannya. Selektivitas dapat ditingkatkan dengan perkecambahan biji gulma yang terjadi lebih dulu. Perkecambahan biji crop-nya biasanya agak tertunda karena kedalaman tanam dan waktu yang dibutuhkan untuk imbibisi air dulu.
Pemberian herbisida pada tanaman yang sedang tumbuh disebut perlakuan post emergence. Selektivitas harus diusahakan secara posisi atau fisiologi, missal sewaktu menyemprotkan, tanamannya di tutupi plastic, atau sewaktu disemprotkan titik-titik tumbuh tanaman terlindung, tetapi titik tumbuh gulma terbuka.
Kerusakan semprot dan residu. Pengaruh menguntungkan dari bahan-bahan kimia harus diimbangi usaha melawan daya merusaknya. Untuk memberikan penggunaan yang tepat dan aman beberapa aturan dibuat, terutama bila bahan-bahan tersebut digunakan dalam hubungan dengan bahan pangan. Harus diperhatikan agar dapat terjamin kerusakan yang timbul oleh kerusakan obat lebih kecil dari yang ditimbulkan pengganggunya. Beberapa bahan kimia meninggalkan residu tanah yang mungkin mencampuri pertumbuhan tanaman atau penggunaan tanah dimasa depan (polusi bahan kimia).
Akhirnya menghilangkan bahan-bahan ini mungkin karena penguapan, perombakan secara kimia, dekomposisi biologi, pencucian, atau absorpsi pada koloid tanah. Beberapa pestisida bersifat fitotoksik dan menurunkan hasil dan mutu tanaman. Akan tetepi yang perlu diperhatikan adalah kemungkinan bahwa pestisida atau bahan-bahan rombakannya yang membahayakan, dapat bertambah dalam produk tanaman atau pada hewan yang memakannya, dan ini membahayakan manusia.
Semua bahan kimia memiliki dosis yang tidak toksik, dan dosis tetentu toksik. Bila dosis naik, menjadi rusak dan akhirnya beracun. Beberapa zat lain tidak memiliki efek yang nyata pada dosis rendah tetapi menumpuk dalam bagian tubuh tertentu. Masalah ini adalah sungguh-sungguh. Risiko-risiko banyak untuk konsumen maupun orang yang memberikannya, dan akibatnya tidak tertahankan. (Harjadi, 1979)
Pestisida adalah senyawa kimia yang digunakan untuk mengendalikan hama. Ada empat tipe pestisida yang digunakan pada tanaman padi: (1) insektisida untuk mengendalikan serangan hama (2) herbisida untuk mengendalikan gulma (3) rodentisida untuk mengendalikan tikus (4) fungisida untuk mengendalikan penyakit tanaman.

Pestisida biasanya tidak diaplikasikan dalam bentuk murni, tetapi perlu dicampur dengan air, oil, atau bentuk yang lain sehingga kalau disemprotkan dapat memperluas cakupan. Maksud percampuran tersebut adalah untuk mengurangi bahaya racun terhadap manusia dan kehidupan lain.
Tipe formulasi:
• Debu-pestisida dengan butiran sangat lembut menyerupai debu, talk, atau abu vulkanik; dapat diaplikasikan langsung tanpa campuran. Formulasi ini dapat menyebar sampai jauh, sehingga dapat menyebabkan kontaminasi pada hewan ternak, tempat tinggal atau perkampungan.
• Butiran-pestisida dengan formulasi menyerupai butiran pasir dan lebih kasar; dapat diaplikasikan langsung tanpa campuran, misalnya dengan cara disebar.
• Cairan-pestisida dengan formulasi cairan, aplikasinya dicampur terlebih dahulu dengan air.
• Bubuk-pestisida dengan formulasi bubuk perlu dicampur air sebelum diaplikasikan. Formulasi seperti ini mudah di bawa dan disimpan, tetepi harus hati-hati saat mencampur dengan air, formulasi bubuk mudah terisap.
• Bait-pestisida yang dicampurkan dengan makanan sebagai umpan, untuk memerangkap tikus atau burung. Apabila makan umpan tersebut selanjutnya tikus dan burung akan mati. Pestisida umpan yang beracun ini sangat berbahaya, terutama kalau dipasang di rumah; pestisida umpan tersebut harus dijauhkan dari jangkauan anak-anak.
Toksisitas pestisida:
Pestisida dapat masuk ke dalam tubuh melaluai berbagai cara yaitu:
• Mulut-dengan cara menelan langsung, merokok, kontiminasi makanan yang dibungkus oleh bekas pembungkus pestisida.
• Pernafasan-dengan cara mengisap pestisida sewaktu kita sedang bernafas.
• Kulit-dengan cara masuk ke tubuh melalui permukaan kulit; mungkin melalui pakaian yang terkontaminasi oleh pestisida, atau peralatan lain yang digunakan dalam perlengkapan penyemprotan. Beberapa bagian tubuh yang mudah dilewati pestisida seperti leher, ketiak bagian depan, jari tangan dan pergelangan serta telapak kaki.
Dampak penggunaan pestisida:
• Resistensi pestisida-beberapa serangan hama telah resisten terhadap insektisida tertentu. Apabila insektisida lebih banyak digunakan maka akan menambah problem resistensi. Untuk menghindari hal tersebut, maka penggunaan pestisida harus dipertimbangkan, yaitu apabila diperlukan dan berdasar ambang semprot yang telah ditentukan.
• Pencemaran lingkungan-penggunaan pestisida yang berlebihan akan menyebabkan pencemaran lingkungan. Adanya pestisida yang resisten, yaitu pestisida yang lama mengalami peruraian, juga pestisida akumulatif, di mana terjadi penumpukan pestisida dalam makhluk hidup, misalnya pada ikan atau tanaman.
• Fitotoksisitas-akibat penggunaan pestisida yang salah dosis, waktu ataupun aplikasi, menjadikan tanaman keracunan.
• Membunuh jasad bukan sasaran-beberapa serangga berguna dapat ikut mati, ternak bahkan manusia.

Aplikasi pestisida
Karena pestisida adalah racun yang berbahaya, maka untuk menghindari dampak penggunaan pestisida beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut;
Sebelum aplikasi:
• Bacalah label pestisida dengan hati-hati, baik mengenai dosis, cara aplikasi maupun waktu aplikasi yang tepat.
• Gunakan pakaian pelindung beserta perlengkapannya, serta sarung tangan, topi, kaca mata dan masker.
• Cek alat semprot, dan dibetulkan apabila ada kerusakan.
• Hati-hati waktu mencampur pestisida dengan air, jangan mencampur pestisida dengan cara mengaduk dengan tangan. Hindari sentuhan cairan pestisida dengan tubuh.
Selama aplikasi:
• Jangan sambil makan, minum atau merokok waktu menyemprot atau selama bekerja dengan pestisida.
• Hindari kontak pestisida karena angin ketika sedang menyemprot.
• Hindari kontaminasi jasad bukan sasaran.
• Jangan menyemprot pada waktu angin kencang.
• Pertimbangkan waktu menyemprot dengan aktivitas hewan peliharaan yang sering berkeliaran di sekitar lahan yang akan disemprot.
• Apabila lahan yang akan disemprot itu dekat dengan kolam ikan, danau, parit atau sungai, harap hati-hati. Kontaminasi pestisida dapat melalui air mengalir.
• Jangan melakukan penyemprotan waktu angin kencang, lebih-lebih apabila lahan yang disemprot dekat dengan pemukiman penduduk.
Sesudah aplikasi:
• Mengemasi pestisida, serta membersihkan alat semprot dan mengimpannya di gudang.
• Ganti pakaian dan mandi dengan sabun sampai bersih. (sudarmo, 1993)
Oleh karena itu, penggunaan bahan kimia tidak dianjurkan, karena memiliki kerugian yang sangat berpengaruh terhadap tanaman, tanah, dan bagi manusia itu sendiri dan memiliki dampak yang merugikan yang sangat fatal.
D. Cara Biologis

Kontrol biologis hama di pertanian adalah suatu metode pengendalian hama (termasuk serangga, tungau, gulma dan penyakit tanaman ) yang bergantung pada predasi, parasitisme, herbivora, atau mekanisme alam lainnya. Hal ini dapat menjadi komponen penting dari pengelolaan hama terpadu (PHT) program.
Pengendalian biologis didefinisikan sebagai pengurangan hama populasi dengan musuh alami dan biasanya melibatkan peran aktif manusia. Musuh alami hama serangga, juga dikenal sebagai agen kontrol biologi, dan termasuk predator, parasitoid, dan patogen. Agen kontrol biologis tanaman penyakit yang paling sering disebut sebagai antagonis. Agen kontrol biologis gulma termasuk herbivora dan patogen tanaman. Predator, seperti burung, kumbang wanita dan lacewings, terutama spesies yang hidup bebas yang mengkonsumsi sejumlah besar mangsa selama seumur hidup mereka. Parasitoid adalah spesies yang belum dewasa berkembang pada atau di dalam sebuah host serangga tunggal, akhirnya membunuh atau fatal menginfeksi host. Sebagian besar memiliki kisaran inang yang sangat sempit. Banyak spesies tawon dan beberapa lalat parasitoid. Patogen penyebab penyakit organisme termasuk bakteri, jamur, dan virus . Mereka membunuh atau melemahkan induk mereka sendiri dan relatif spesifik. Ada tiga tipe dasar strategi pengendalian biologis, konservasi, pengendalian hayati klasik, dan augmentasi. (anonymous, 2011)
Semua kehidupan serangga hama dipengaruhi oleh faktor alam. Faktor tersebut akan membatasi reproduksi dan populasi. Faktor-faktor tersebut adalah (1) penyakit dan pathogen (2) makanan dan tempat tinggalnya (3) iklim (4) predator atau pemangsa dan (5) parasit.
Parasit, predator serta pathogen sangat menguntungkan karena secara alami dapat menekan perkembangbiakan serangga hama. Dasar pemikiran itulah yang mengawali dirintisnya pengendalian secara biologi, yaitu dengan membiakkan secara masal musuh alami tersebut secara buatan.
Parasit biasanya mempunyai ciri menyerang jenis hama tertentu atau jenis hama yang masih dekat dengan kekerabatannya. Satu parasit biasanya menyerang satu inang. Parasit hama padi biasanya berupa lalat atau berbagai jenis tawon. Sedangkan predator yang sering dijumpai adalah laba-laba, yang mampu memakan berbagai jenis serangga hama. Satu predator mampu memangsa sejumlah serangga hama, dengan memakan atau mengisap cairan tubuhnya. (Sudarmo, 1993)
Pengganggu tanaman dapat pula diberantas dengan manipulasi faktor-faktor biologi. Pemberantasan biologi dapat tercapai dengan mengarahkan kompetinsi alami antara organisme. Misalnya, dengan mengintroduksi parasit atau predator alami dari pengganggu atau menggunakan resistensi alami pada tanaman inang. Pemberantasa secara biologi merupakan cara yang menarik, sebab sekali digunakan akan berlangsung tanpa pengaruh manusia, dan bahaya-bahaya bahan kimia dapat ditiadakan.
Predator alami. Suatu contoh daari pemberantasan biologi yang berhasil adalah dengan introduksi predator alami pada kutu jeruk di Kalifornia. Hama tersebut terus terkendalikan sampai meluasnya DDT menyebabkan matinya predatornya. Hal yang sama terjadi dengan hama Plutella maculipennis pada kubis yang dapat diparasit Angitia. Contoh yang lebih baru adalah penggunaan spora Bacillus thuringinsis untuk memberantas ulat-ulat; spora diberikan secara sprey. Pemberantasan secara biologi juga dapat dilkaukan terhadap gulma.
Introduksi predator paling sesuai digunakan pada pemberantasan hama yang tidak memiliki predator atau penyakit secara alami, atau musuh-musuh lain. Untuk predator yang diintoduksi, supaya berhasil mereka harus hidup dan berkembang pada habitat baru dan tidak merusak tanama-tanaman pertanian. Jadi hanya predator yang sangat selektif dalam kebiasaan makan yang dapat diimpor. Karena luasnya daerah yang harus diatasi, dan masalah-masalah yang timbul bersamaan, cara-cara pemberantasan ini harus dilakukan oleh Dinas-dinas (Pemerintah) dan bukan oleh petani perorangan.
Resisten genetik. Penggunaan resistensi genetik, kesanggupan secara bawaan dari tanaman untuk menahan pengaruh merusak dari petogen atau predator, merupakan cara ideal untuk pemberantasan. Resistensi bervariasi, dari nol (susceptibility = kepekaan), ke parsial, sampai lengkap (imunity). Toleransi mrupakan suatu tipe resistensi di mana tanaman menderita infeksi dan sedikit kerusakan, tetepi sanggup hidup dengannya dan masih mampu bereproduksi.
Banyak tanaman diketahui memiliki resistensi terhadap virus, bakteri, fungi dan nematoda. Tanaman-tanaman ini memiliki resistensi karena roman structural atau pengaruh biokimiawi yang dapat menghambat atau mencegah masuknya dan bertahannya penggangu tertentu. Resistensi dapat secara kompleks atau secara tunggal. Beberapa tamnaman memiliki hanya resistensi spesifik terhadap rasa tau spesies tertentu.
Kombinasi antara resisten dan mutu atau daya hasil merupakan tujuan utama dari pemulia-pemulia tanaman. Di mana pathogen dan tanaman saling beradaptasi (seperti pada parasit obligat), hubungan erat terdapat antara resistensi genetik dari tanamannya dankemampuan genetic dari petogen untuk merusak atau mengatasi resistensi ini. Timbulnya ras baru dari petogen akibat mutasi atau introduksi merupakan masalah besar yang dihadapi pemuliaan tanamn, dan kemokalan mengombinasikan resistensi genetik jangka penjang pada beberapa penyakit, telah mengilhami pencarian resistensi secara luas atau sifat toleransi.
Keseimbangan biologi. Keseimbang biologi yang terdapat dalam lingkungan alami tidak dapat diabaikan dalam proteksi tanaman. Perusakan keseimbangan oleh fluktuasi lingkungan merupakan gejala alami. Pertanian, menurut alamnya, mengganggu keseimbangan biologi secara alami, tetepi tidak bertindak tersendiri.
Misalnya sering bila suatu fungisida mengganti yang lain, cendawan yang dulunya hanya petogen minor dapat mulai menyebabkan kerusakan-kerusakan hebat (karena organisme yang antagonik dengannya terbunuh oleh fungisida baru tersebut). Lebih lanjut, patogen bukanlah suatu faktor statik. Varietas-varietas resisten baru dan pestisida-pestisida baru dapat bertindak sebagai alat screening untuk seleksi tipe-tipe resisten. Jadi banyak serangga, contoh lalat, telah menjadi resisten kepada DDT. Serupa halnya, perkembangan varietas tanaman yang resisten karat segera dinihilkan dengan pembentukan ras virulen baru dari cendawan karat tersebut. (harjadi, 1979).
Setiap hama mempunyai musuh alami yang langsung dapat menekan jumlahnya. Untuk mengintroduksi predator atau parasit menghendaki modal besar. Tetapi apabila parasit yang diterapkan efisien dapat bertahan lebih lama dan cara biologi ini tidak mencemarkan lingkungan seperti penerapan insektisida. Penerapan cara biologi harus mengusahakan pendistribusian parasit seefisien mungkin agar tercipta keseimbangan biologi antara parasit dengan serangga. Keseimbangan yang diharapkan adalah parasit dapat mengurangi populasi serangga sampai tidak membahayakan, tetapi bukan memusnahkan serangga hama yang menjadi hama tanaman itu. (Jumin, 1991)
Di persawahan kita sebetulnya telah tersedia ratusan jenis organisme yang dapat kita masukkan dalam kelompok musuh alami hama-hama padi. Dengan mekanisme control yang rumit dan dinamik secara keseluruhan kompleks hama dan musuh alami tersebut saling mengendalikan satu dengan yang lain sehingga tercapailah kestabilan ekosistem. Ekosistem yang stabl dicirikan dengan tetap bergeraknya populasi setiap organism (termasuk hama-hama pedi) di sekitar aras keseimbangannya.
Peran musuh alami hama padi. Musuh alami sebagai factor pengendali secara alami terhadap hama padi sangat diperlukan keberadaannya di dalam ekosistem tanaman padi. Untuk itu harus dijaga kelestariannya dan ditingkatkan peranannya.
Musuh alami hama penggerek batang padi oleh (Kasno 1974) dilaporkan bahwa tingkat parasitas pada telur hama penggerek batang padi Typoryza incertulas, di Klaten rata-rata 66-72%, oleh Tetastichus schoenobii, trichogramma japonicum dan Telenomus beneficiens. Sedangkan di Yogyakarta tingkat parasitasi telur mencapai 72,60% oleh ketiga jenis parasit tersebut di atas secara bersama-sama. Di antara ketiga spesies parasit telur tersebut yang paling penting ialah Tetastichus schoenobii diikuti Trichogramma japonicum dan Telenomus beneficiens.
Pemanfaatan musuh alami dalam pengendalian hama padi. Agar musuh alami yang ada di agro-ekosistem dapat kita manfaatkan untuk mengendalikan hama, perlu kita ciptakan keadaan ekosistem yang memungkinkan mereka untuk dapat melaksanakan fungsinya secara maksimal. Dalam istilah pengendalian hayati dikenal teknik konservasi musuh alami.
Kita berusaha untuk membuat ekosistem yang sedemikian rupa sehingga sangat sesuai bagi kehidupan dan perkembangan musuh alami dan sejauh mungkin menghindari tindakan-tindakan yang dapat mengurangi atau membunuh musuh alami.
Upaya konservasi musuh alami dapat dilakukan dengan melalui berbagai teknik bercocok tanam yang sesuai seperti yang saat ini kita lakukan dalam menerapkan PHT hama-hama padi. Teknik-teknik bercocok tanam seperti pergiliran tanaman, pengolahan tanah yang sesuai, pananaman serentak, penanaman tumpang sari, penggunaan varietas tahan hama, dan lain-lain dapat digunakan untuk meningkatkan efektivitas pengendalian oleh musuh alami. Pada prinsipnya peningkatan diversitas biotic baik yang bersifat spasial dan temporal akan meningkatkan peranan musuh alami. Untuk usaha konservasi tersebut masih diperlukan banyak studi tentang berbagai aspek biologi dan ekologi musuh alami termasuk perilaku dan fenologi musuh alami dalam hubungannya dengan sifat populasi hama-hama padi.
Perlu diperhatikan bagaimana mengurangi sejauh mungkin terbunuhnya musuh alami terutama oleh penyemprotan pestisida. Pestisida hanya digunakan secara selektif baik dilihat dari jenisnya, waktu dan tempat aplikasi, serta teknik aplikasinya.
Pestisida hanya digunakan apabila popuasi musuh alami memeang tidak mampu mengendalikan atau menghentikan peningkatan populasi hama. Dalam kaitan ini diperlukan adanya ketetapan ambang pengendalian atau AE yang mempertimbangakan juga populasi musuh alami.
Ada beberapa penyakit yang dapat disebabkan oleh bakteri, virus dan cendawan dan cara pengelolaan (penanggulangannya) yaitu:
1. Bakteri
Bakteri juga dapat menyebabkan penyakit pada tanaman padi. Bakteri member dampak kerugian yang lebih parah daripada yang disebabkan oleh cendawan.
Penyakit akibat bakteri yang biasa menyerang padi ialah: Penyakit Kresek dan Daun Bergaris.

a. Penyakit Kresek
Sumber: Anonim, 1989 dan http://www.hartanto.wordpress.com
• Penyebab dan penularan
Penyakit Kresek disebabkan oleh bakteri Xanthomonas campestris pv. Oryzae. Bakteri ini berbentuk batang, besarnya 0,3-0,45 hingga 0,7-2,4 mikron. Bakteri terberpindah tempat menggunakan flagellanya, maka air merupakan perantara penyebaran yang baik. Penyekit ini sering dijumpai di Jawa, dan juga disebut bacterial leaf blight, bacteri hawar daun.
• Bagian tanaman yang diserang yaitu daun dan titik tumbuh.
• Pengelolaan:
a. Menanam varietas unggul
Salah stu cara pencegahan yang tepat ialah menanam varietas padi yang resisten /tahan terhadap bakteri tersebut. Varietas yang tahan antara lain yaitu: IR 36, IR 46, Cisadane, Cipunegara, Cikapundung, Kruing Aceh, Dodokan.
b. Cara lain
Dilarang memotong atau melukai tanaman, untuk menghindari terjadinya infeksi, sanitasi dan perlakuan benih mengurangi sumber infeksi.
c. Cara kimia
Dilakuakan pengobatan dengan stable 10 WP.

b. Penyakit Bakteri Daun Bergaris (Leaf streak)

• Penyebab dan Penularan
Penyaki ini disebabkan oleh bakteri Xanthomonas translucens, berbentuk batang dan bergerak dengan flagella.
• Bagian tanaman yang diserang: daun dan titik tumbuh.
• Pengelolaan
a. Penanaman varietas unggul
Penanaman varietas unggul yang tahan terhadap penyakit tersebut merupakan tindakan yang tepat. Varietas tersebut antara lain: IR 56, IR 42, PB 38.
b. Cara lain
Diusahakan tidak terjadi luka yang memungkinkan masuknya bakteri pada tanaman.
c. Cara kimia
Dilakukan pengobatan dengan bakterisida seperti Stablex 10 WP.
2. Virus
Virus juga menyerang padi di Indonesia, sehingga menyebabkan terjadinya penyakit. Ada beberapa jenis virus, dua di antaranya, mula-mula timbul di Jepang, yang kemudian yang menyebabkan penyakit “kerdil” dan penyakit “Goresan”. Sedangkan virus lainnya menyebabkan terjadinya penyakit Hoyablanca. Penyakit ini telah lama di ketahui di Kuba, Negara-negara Amerika Selatan dan Florida.
a. Penyakit “Kerdil” atau Dwarf (Grassy stunt)

• Penyeban dan penularan
Penyakit Kerdil disebabkan oleh virus yang ditularkan Nilaparvata lugens. Virus tersebut bertahan di dalam tubuh serangga Nilaparvata lugens. Ini terjadi selama serangga masih hidup, sehingga virus ini dikatakan bersifat persistent. Menurut Holmes, segala macam virus termasuk dalam satu ordo virales.
• Bagian tanaman yang diserang yaitu semua bagian tanaman padi.
• Pengelolaan
Usaha mengendalaikan virus ini masih mengalami kesulitan, apalagi penyebaran virus ini berkaitan erat dengan serangga penularannya (vektor).maka keberhasilan usaha pengendalian virus ini tergantung hasil pengendalian penularannya (wereng). Varietas resisten yang dapat ditanam antara lain: Porong,IR 64, IR 65, Bogowonto, Semeru, IR 36, IR 42, IR 46.

b. Penyakit Tungro (Mentek)

• Penyebab dan penularannya
Penyakit ini di sebabkan oelh virus atau mikoplasma yang ditularkan oleh wereng Nephotettix impicticeps, dan Nephotettix apicalis. Tungro berarti pertumbuhan degenerative, yang pernah menyerang tanaman padi di Filipina dan Bngladesh, kemudian masuk ke Indonesia. Sedangkan di Thailand penyakit ini di kenal dengan Yellow orange leaf. Menurut Holmes, virus ini adalah Fractilinea oryzae Holmes, sedangkan menurut Smith ialah Oryza virus I (Fukushi) Smith. Virus tersebut bersifat non persisten yaitu hanya dapat menimbulkan infeksi dalam jangka pendek saja.
• Bagian tanaman yang diserang yaitu semua bagian tanaman padi.
• Pengelolaan
Berhubung tanaman padi tersebut mendapat serangan yang disebabkan oleh virus dan penularannya maka tindakan yang harus dilakukan adalah:
a. Penanaman varietas unggul resisten terhadap vector (wereng). Ini merupakan tindakan yang tepat, sebab virus adalah penyakit yang paling sukar diketahui cara pengendaliannya.
b. Varietas padi yang dapat di tanam ialah: Kelara, IR 52, IR 36, IR 48, IR 54, IR 46, IR 42.
3. Cendawan
Beberapa penyakit yang disebabkan cendawan yaitu:
a. Penyakit Bercak Coklat Daun
• Penyebab dan penularan
Cendawan Cochliobolus miyabeanus, sering disebut juga cendawan Helminthosporium oryzae van Breda de Haan. Spora cendawan ini menyebar dengan perantara angin dan menempel pada tanaman padi, serta terbawa oleh benih padi.
• Bagian tanaman yang diserang: Daun termasuk pelepah daun, Buah yang sedang tumbuh, malai, Bibit yang sedang berkecambah.
• Pengelolaan
a. Cara fisis: sebelum benih disebar, harus direndam di dalam air hangat yang dibubuhi abu, kemudian rendaman tadi dibiarkan selama satu malam, untuk menekan perkembangbiakan spora cendawan.
b. Meningkatkan kesuburan tanah dengan menambah pupuk N dan memperbaiki pengelolaan air melalui perbaikan drainase sawah.
c. Penanaman varietas unggul: penanaman varietas yang tahan (resisten) seperti kapuqs misalnya, akan membantu usaha pengendalian penyakit ini.
d. Cara kimia: pengendalian penyakit dengan cara kimiawi, dapat dilakukan dengan cara menaburkan campuran serbuk air raksa dan bubuk kapur dengan perbandingan 1:71/2. Pengendalian dengan cara kimiawi ini dilakukan pada pagi hari, saat masih ada embun. Disamping itu dapat digunakan fungisida seperti Rabcide 50 WP dan lain sebagainya.

b. Penyakit Blast

Blast menyerang hamper seluruh bagian tanaman padi, oleh karena itu perlu mendapat perhatian yang lebih serius.
• Penyebab: oleh cendawan Pyricularia oryzae CAF atau disebut juga cendawan Pyricularia grisea CKE. Cendawan ini mempertahankan diri dengan konidia pada biji dan jerami.
• Bagian tanaman yang diserang: Daun, Buku-buku pada batang, Ujung tangkai malai.

Sumber: http://saungsumberjambe.blogspot.com/2011/06/penyakit-blast-pyricularia-grisea.html
• Pengelolaan
a. Secara fisis: tindakan preventif yang perlu dilakukan ialah batang dan jerami sisa tanaman sebelumnya harus dibakar. Apabila tampak ada gejala penyakit tersebut, baik yang terjadi pesemaian maupun di sawah, maka sawah perlu digenangi air secukupnya. Penanaman varietas unggul yang resisten seperti: Sentani, Cimandiri, Dodokan, IR 48, IR 36, dan Si Ampat.pengelolaan pupuk N yang tepat yaitu pemberian pupuk tidak bersamaan dengan waktu tanam, pada saat pertengahan fase vegetative dan fase mulai pembentukan bulir.
b. Secara kimiawi
Pestisida yang dipakai: Fujuwan 400 EC, Fongorene 50 WP, Kasumin 20 AS, Rabcide 50 WP.
c. Penyakit garis coklat daun
• Penyebab dan penularan
Cendawan Cecospora oryzae adalah pengebab penyakit ini. Pertumbuhan sporanya dapat menimbulkan penyakit baru dengan perantara angin, sehingga dalam waktu singkat telah tersebar di daerah prtanaman padi.
• Bagian tanaman yang diserang: daun, termasuk pelepah daun.
• Pengelolaan
a. Cara bercocok tanam
Waktu penanaman harus memperhatikan musim, terutama mengenai kelembaban udara, sebab perkembangbiakan dan intensitas infeksi cendawan ini dipengaruhi oleh kelembaban udara yang tinggi, sedang varietas tahan penyakit Citarum, Serayu.
b. Cara kimiawi
Sebelum ditabur benih dicelup ke dalam zat kimia terlebih dahulu, misalnya mercuri. Bahan kimia ini dapat menahan serangan Cendawan. Disamping itu dapat dilakukan penyemprotan dengan fungisida seperti Benlate, Benlate T20/20 WP, Delsene MX 200.

d. Penyakit busuk pelepah daun

Sumber: http://saungurip.blogspot.com/2011_03_01_archive.html
• Penyebab dan penularan
Cendawan Rhizoctonia sp. adalah penyebab penyakit ini. Rhizoctonia sp. termasuk cendawan yang benang-benang Myceliumnya berukuran lebar 6-10 m. Mycelia cendawan ini dapat bertahan pada rumput dan jerami dengan membentuk sclerotia.
Jarak tanam rapat dan kondisi yang terlalau subur akan mempermudah terjadinya infeksi. Hal ini terjadi terutama pada varietas padi yang peka dan dalam keadaan udara lembab.
• Bagian tanaman yang terserang: Daun dan pelepah daun.
• Pengelolaan
a. Cara bercocok tanam
Tindakan pencegahan dapat dilakukan dengan cara menanam jenis padi yang tahan terhadap penyakit ini, Cimandiri.
b. Cara kimiawi
Usaha pengendalian cawan ini dapat dilakukan dengan menyemprotkan fungisida pada fase pembentukan anakan maksimum dan fase bunting sedang fungisida yang digunakan Moncaren 25 WP, Validacin 3 AS.
e. Penyakit Fusarium

• Penyebab dan penularan
Cendawan Fusarium sp. antara lain Fusarium moniforme Shell. Cendawan ini mempertahankan dengan membentuk konidia. Penyakit ini dapat ditularkan dengan perantara sisa tanaman terdahulu, angin , air dan sebagainya.
• Bagian tanaman yang diserang: Malai dan biji muda.
• Pengelolaan
a. Cara bercocok tanam
Memperbaiki keadaan tanaman antara lain dengan mengatur jarak tanam, agar tidak terlalu rapat, sehingga mengurangi penyebab konidia.
b. Cara kimia
Pencegahan dengan zat kimia dapat dilakukan dengan perlakuan benih, yaitu mencelup benih pada desinfektan mercuri.

f. Penyakit Noda (Penyakit api palsu/false smut)

• Penyebab dan penularan
Cendawan Ustilaginoidea virens (CKE) TAK adalah penyebabnya. Cendawan tersebut mempertahankan diri dengan cara membentuk sclerotia.
• Bagian tanaman yang terserang: Malai dan buah padi (gabah)
• Pengelolaan
a. Cara fisis mekanis
Mengambil malai yang terserang jamur, kemudian dibakar.
b. Cara kimiawi
Menyemprot tanaman yang terkena serangan dengan fungisida.

Kajian religi
Sesungguhnya di balik penciptaan alam semesta, manusia, dan kehidupan, terdapat Pencipta (Al-Khaliq) yang telah menciptakan ketiganya, serta yang telah menciptakan segala sesuatu lainnya. Dialah Allah SWT, bahwasanya Pencipta telah menciptakan segala sesuatu dari tidak ada menjadi ada. Sama halnya, bahwa semua jenis bakteri yang berasal dari mikrobiologi pertanian itu semua adalah ciptaan Allah Maha Kuasa. Dan juga dari penggalan bukti ayat-ayat Al-quran tersebut telah jelas bahwa kita sebagai orang yang beriman, yang yakin akan adanya sang Khaliq harus percaya bahwa seluruh makhluk baik di langit dan di bumi, baik berukuran besar maupun kecil, bahkan sampai mikroorganisme (jasad renik) yang tidak dapat terlihat dengan mata telanjang adalah makhluk ciptaan Allah SWT, sehingga dengan mengetahui dengan adanya mikrobiologi lingkungan, pertanian maupun peternakan. Secara tidak langsung pengetahuan tentang aqidah kitapun semakin bertambah. Sesungguhnya manusia hanyalah sedikit pengetahuannya, jika dibandingkan dengan ilmu Allah SWT yang maha luas dan tak terbatas.. Sesuai dengan Firman Allah SWT dalam (QS. Al- Baqaroh 164)

Artinya: Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan “ (QS. Al Baqarah: 164). ”
Sesungguhnya Allah telah menciptakan seluruh yang ada di bumi ini berguna bagi manusia, dan sekarang tinggal bagimana manusia memanfaatkan apa yang telah diciptakan oleh Allah tersebut. Apakah mereka memanfaatkannya dengan baik atau tidak, karena seluruh apa yang telah diciptakan tidak ada yang sia-sia, baik itu mikroorganisme maupun makhluk hidup lainnya. Adapun mikroorganisme yang menyebabkan kerugian bagi makhluk hidup seperti bakteri, virus, jamur, dll. Akan tepati semua penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme tersebut pasti Allah telah menciptakan obatnya melalui tangan manusia (orang-orang yang berfikir)

Daftar Pustaka
AAK. 1992. Budidaya Tanaman Padi. Penerbit Kanisius: Yogyakarta
Harjadi, Sri Setyati. 1979. Pengantar Agronomi. Penerbit PT Gramedia: Jakarta
Jumin, Hasan Basri. Ir. 1991. Dasar-Dasar Agronomi. Rajawali: Jakarta
Sudarmo, Subiyakto. 1993. Pengendalian Serangga Hama Penyakit dan Gulma Padi. Penerbit Kanisius: Yogyakarta
Untung, Kasumbogo. 1993. Konsep Pengendalian Hama Terpadu. Penerbit Andi Offset: Yogyakarta
Anonymous. 2011. Aplikasi Rhizobium sp. dalam Peningkatan Produktivitas Pertanian. https://aguskrisnoblog.wordpress.com diakses pada tanggal 29 November 2011
Anonymous. 2011. Biologi Pengendalian Hama. http://en.wikipedia.org/wiki/Biological_pest_control&usg diakses pada tanggal 30 november 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: