Rekayasa E.coli untuk Pembuatan Biodiesel

Pendahuluan

Escherichia coli, atau biasa disingkat E. coli, adalah salah satu jenis spesies utama bakteri gram negatif. Pada umumnya, bakteri yang ditemukan oleh Theodor Escherich ini dapat ditemukan dalam usus besar manusia. Kebanyakan E. Coli tidak berbahaya, tetapi beberapa, seperti E. Coli tipe O157:H7, dapat mengakibatkan keracunan makanan yang serius pada manusia. E. Coli yang tidak berbahaya dapat menguntungkan manusia dengan memproduksi vitamin K2, atau dengan mencegah baketi lain di dalam usus.

E. coli banyak digunakan dalam teknologi rekayasa genetika. Biasa digunakan sebagai vektor untuk menyisipkan gen-gen tertentu yang diinginkan untuk dikembangkan. E. coli dipilih karena pertumbuhannya sangat cepat dan mudah dalam penanganannya. Escherichia coli (E. coli) juga adalah anggota dari kelompok besar kuman bakteri yang menghuni saluran pencernaan manusia dan hewan berdarah panas lainnya (mamalia, burung). Bayi yang baru lahir memiliki saluran pencernaan steril, yang dalam dua hari menjadi terjajah dengan E. coli.

Lebih dari 700 serotipe E. coli telah diidentifikasi. Dan “H” “O” antigen di tubuh mereka dan flagela membedakan E. berbeda coli serotipe, masing-masing. E. coli serotipe yang bertanggung jawab untuk laporan berbagai wabah dilacak ke konsumsi makanan yang terkontaminasi dan minuman adalah mereka yang memproduksi toksin Shiga (STX), disebut demikian karena toksin itu hampir identik dengan yang dihasilkan oleh bakteri lain yang dikenal sebagai jenis dysenteria Shigella 1 (yang juga menyebabkan diare berdarah dan sindrom uremik hemolitik [HUS] di negara berkembang seperti Bangladesh) (Griffin & Tauxe, 1991, hal 60, 73). Yang paling terkenal dan paling terkenal yang memproduksi E. STX E. coli adalah coli O157: H7. Penting untuk diingat bahwa sebagian besar jenis E. bakteri coli tidak menyebabkan penyakit pada manusia, memang, ada yang menguntungkan, dan beberapa menyebabkan infeksi pencernaan, seperti infeksi saluran kencing. Bagian ini membahas khusus dengan memproduksi E. STX coli, termasuk khusus E. coli O157: H7.

Toksin Shiga adalah salah satu racun yang paling kuat dikenal manusia, begitu banyak sehingga Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) mendaftar sebagai agen bioteroris potensial (CDC, nd). Nampaknya bahwa DNA dari bakteri Shigella yang memproduksi toksin Shiga ini dialihkan oleh bakteriofag (virus yang menginfeksi bakteri) untuk tidak berbahaya dinyatakan bakteri E.coli, sehingga memberikan mereka dengan bahan genetik untuk menghasilkan toksin Shiga.

Meskipun E. coli O157: H7 bertanggung jawab atas sebagian besar penyakit manusia disebabkan oleh E. coli, ada yang memproduksi STX tambahan E.coli (misalnya, E. coli O121: H19) yang juga dapat menyebabkan kolitis hemoragik dan diare pasca sindrom uremik hemolitik (D + HUS) . HUS adalah sindrom yang didefinisikan oleh trilogi anemia hemolitik (penghancuran sel darah merah), trombositopenia (jumlah platelet rendah), dan gagal ginjal akut.
STX-memproduksi E. coli organisme memiliki beberapa karakteristik yang membuat mereka begitu berbahaya. Mereka adalah organisme kuat yang bisa bertahan beberapa minggu di permukaan seperti etalase, dan sampai satu tahun di beberapa bahan seperti kompos. Mereka memiliki dosis menular sangat rendah yang berarti bahwa hanya sejumlah kecil bakteri (kurang dari 50) yang diperlukan “untuk set-up rumah tangga” dalam saluran usus korban dan menyebabkan infeksi.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) memperkirakan bahwa setiap tahun setidaknya 2000 orang Amerika dirawat di rumah sakit, dan sekitar 60 meninggal sebagai akibat langsung dari E. coli infeksi dan komplikasi nya. Sebuah studi baru-baru ini memperkirakan biaya tahunan E. coli O157: H7 penyakit menjadi $ 405.000.000 (dolar tahun 2003), yang termasuk $ 370.000.000 untuk kematian dini, $ 30 juta untuk perawatan medis, dan $ 5 juta untuk kehilangan produktivitas (Frenzen, Drake, dan Angulo, 2005).

Klasifikasi Ilmiah

Kingdom        : Bacteria
Filum               : Proteobacteria
Kelas                : Gammaproteobacteria
Ordo                 : Enterobacteriales
Famili               : Enterobacteriaceae
Genus                : Escherichia
Spesies              : Escherichia coli

 

 

 

 

Biodiesel

Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, bioenergi bertransformasi menjadi bentuk yang lebih modern. Bioenergi diperoleh dari biomassa yaitu material yang dihasilkan oleh makhluk hidup (tanaman, hewan, dan mikroorganisme). Indonesia memiliki banyak sumber daya alam hayati yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku bioenergi. Pengembangan bioenergi sebagai energi alternatif sangat cocok diaplikasikan karena didukung oleh ketersediaan lahan yang mencukupi untuk membudidayakan tanaman penghasil bioenergi (Hambali et. al 2007).

Biodiesel adalah bioenergi atau bahan bakar nabati yang dibuat dari minyak nabati, baik minyak baru maupun bekas penggorengan dan melalui proses transesterifikasi, esterifikasi, atau proses esterifikasi-transesterifikasi. Biodiesel digunakan sebagai bahan bakar alternatif pengganti BBM untuk motor diesel. Biodiesel dapat diaplikasikan baik dalam 100% (B100) atau campuran dengan minyak solar pada tingkat konsentrasi tertentu (BXX), seperti 10% biodiesel dicampur dengan 90% solar yang dikenal dengan nama B10 (Hambali et. al 2007).

Menurut Hambali et. al (2007) bahan bakar yang berbentuk cair ini bersifat menyerupai solar sehingga sangat prospektif untuk dikembangkan. Apalagi biodiesel memilki kelebihan lain dibandingkan dengan solar, antara lain bahan bakar ramah lingkungan karena menghasilkan emisi yang jauh lebih baik (free sulfur, smoke number rendah) sesuai dengan isu-isu global, Cetane number lebih tinggi dari 57 sebagai efisiensi pembakaran lebih baik dibandingkan dengan minyak kasar, memilki sifat pelumasan terhadap piston mesin dan dapat terurai, merupakan sumber energi terbarukan (renewable energy) karena terbuat dari bahan alam yang dapat diperbaharui, meningkatkan independensi ketersedian bahan bakar karena dapat diproduksi secara lokal.

Rekayasa E.coli untuk Biodiesel

Biodiesel merupakan bahan bakar yang terdiri dari campuran mono-alkyl ester, yaitu senyawa organik yang terbentuk melalui penggantian satu atau lebih atom hidrogen dalam gugus hidroksil dengan gugus organik di sebuah rantai asam lemak. Biodiesel dapat dipakai sebagai alternatif bahan bakar mesin diesel pengganti bahan bakar fosil.

Untuk memproduksi biofuel konvensional, para produsen memiliki dua strategi yang diterapkan. Strategi pertama ialah menanam tanaman yang mengandung gula semisal tebu, bit gula, dan sorgum manis atau tanaman yang kaya kandungan pati, seperti jagung.

Pemilihan tanaman-tanaman yang mengandung gula dan pati berdasarkan alasan tanaman-tanaman tersebut mengandung glukosa yang jika difermentasi-kan dengan ragi dapat menghasilkan etil alkohol.Strategi kedua, menanam tanaman-tanaman yang berkadar minyak nabati tinggi, seperti kelapa sawit, kedelai, alga, atau jathropa. Apabila dipanaskan,kekentalan minyak nabati akan berkurang dan dapat langsung dibakar di dalam mesin, tepatnya mesin diesel.

Namun, agar dapat beradaptasi penuh dengan mesin diesel, bahan bakar hayati dari minyak nabati itu harus diproses secara kimia hingga menjadi biodiesel.Peneliti dari pusat penelitian bioteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI),Yopi, mengatakan pada pembuatan biofuel konvensional, bakteri berperan sebagai perombak susunan struktur kimiawi dari biomassa sehingga dapat dikonversi menjadi bahan bakar hayati.”Misalkan pada tumbuhan pati, agar dapat menjadi etanol, maka susunannya direkayasa dengan penambahan bakteri perombak,” jelasnya.Meski cukup efektif menghasilkan etanol, proses tersebut memakan waktu lama dan menghabiskan dana besar.

Menurut Dwi Sulistyaningsih, peneliti dari pusat penelitian bioteknologi LIPI, untuk dapat menciptakan biofuel murni yang memiliki titik nyala 70 hingga 80 persen, dibutuhkan proses penyulingan lebih dari empat kali.”Umumnya, dalam satu kali penyulingan menggunakan mikroba hanya menghasilkan 40 sampai 60 persen etanol,” ujarnya. Proses yang panjang itulah yang coba dipangkas agar tercapai efisiensi.Salah satu caranya ialah dengan memanfaatkan E.coli yang bukan ditujukan sebagai bakteri perombak asam lemak nabati pada tumbuhan, tetapi sebagai sumber asam . lemak untuk biodiesel.

Asam lemak merupakan sebuah molekul kaya energi yang ditemukan dalam minyak tumbuhan dan hewani. Dari temuan DOE, E.coli dapat secara natural menyintesis-kan asam lemak dan relatif mudah untuk diubah secara genetik. Hal itu membuat bakteri temuan Theodor Escherich tersebut menjadi mikroorganisme ideal untuk penelitian biofuel. Bekerja sama dengan Eric Steen, ahli biologi JBEI, Keasling menggunakan reaksi biokimia untuk memproduksi struktur biodiesel, alkohol, dan lilin langsung dari ekstrak E.coli.

Proses pembuatannya berupa Toward this goal, the authors established biosynthesis of biodiesel-adequate FAEEs, referred to as Microdiesel, in metabolically engineered Escherichia coli.biosintesis FAEE hal ini dengan memanfaatkan metabolically engineered Escherichia coli. This was achieved by heterologous expression in E. coli of the Zymomonas mobilis pyruvate decarboxylase and alcohol dehydrogenase and the unspecific acyltransferase from Acinetobacter baylyi strain ADP1.Pengembangan mikrobiodiesel ini menggunakan heterologous ekspresi di dalam sel E.coli dari Zymomonas mobilis pyruvate decarboxylase dan alkohol dehidrogenase dan unspecific acyltransferase dari Acinetobacter baylyi strain ADP1. By this approach, ethanol formation was combined with subsequent esterification of the ethanol with the acyl moieties of coenzyme A thioesters of fatty acids if the cells were cultivated under aerobic conditions in the presence of glucose and oleic acid. Dengan pendekatan ini, etanol formasi kemudian digabungkan dengan esterifikasi dari etanol dengan acylmoieties dari koenzim A tioester asam lemak jika sel di bawah kondisi aerobik pada glukosa dan asam oleat. Ethyl oleate was the major constituent of these FAEEs, with minor amounts of ethyl palmitate and ethyl palmitoleate. Etil oleat merupakan komponen utama FAEEs ini, dengan jumlah kecil dan palmitat etil etil palmitoleat. FAEE concentrations of 1.28 gl–1 and a FAEE content of the cells of 26 % of the cellular dry mass were achieved by fed-batch fermentation using renewable carbon sources. FAEE konsentrasi dari 1,28 gl-1 dan FAEE isi sel dari 26% dari sel-sel kering massa telah dicapai oleh fed-batch fermentasi menggunakan sumber karbon diperbaharui. This novel approach might pave the way for industrial production of biodiesel equivalents from renewable resources by employing engineered micro-organisms, enabling a broader use of biodiesel-like fuels in the future. Gagasan ini membuka jalan bagi industri produksi biodiesel setara dari sumber daya diperbaharui dengan menggunakan engineered mikroorganisme, yang lebih luas yang memungkinkan penggunaan biodiesel seperti bahan bakar di masa depan.

Dalam perkembangan ethanologenik Escherichia coli dimasukkan dalam kombinasi secara langsung dari teknik dan evolusi metabolisme. Produksi bakteri etanol terdiri dari pyruvate decarboxylase (PDC) and alcohol dehydrogenase (ADH) yang menyediakan produksi setimbang dari dua molekul etanol per glukosa.

  Glukosa E.coli -> Etanol+Asetat+2 Formate

Glukosa Homoetanol -> 2 Etanol + Co2

Produksi bakterial etanol menghasilkan kesetimbangan konversi dari glukosa dalam etanol.

Teknik dan evolusi metabolisme Escherichia coli.

Untuk menghasilkan bioetanol dari Escherichia coli sebagai alternatif biodisel dapat dilakukan dengan 2 metode yaitu metode transesterifikasi dan fermentasi.

1.    Metode Transesterifikasi

Biodiesel diperoleh dari trigliserida minyak nabati melalui proses transesterifikasi. Proses ini dilakukan dengan mereaksikan minyak nabati, alkohol (metanol), dan katalis sehingga dihasilkan ester yang sifat fisiknya mirip dengan minyak solar.

Reaksi umum yang terjadi adalah sebagai berikut:

WVO + Metanol <-> FAME + Gliserin

Reaksi tersebut berlaku reversibilitas, sehingga kita bisa meningkatkan laju reaksi ke kanan yang berarti akan memberikan kita kesempatan untuk peningkatan hasil FAME (Fatty Acid Methyl Ester) yang diinginkan, dua hal yang bisa dilakukan adalah menambahkan konsentrasi metanol dan mengurangi/mengambil gliserin.

Proses reaksi transesterifikasi

Dalam proses transesterifikasi dibutuhkan sejumlah metil alkohol dan KOH yang dicampur pada tangki reaktor kurang lebih 10 menit hingga KOH terlarut dengan sempurna. Proses pertama transesterifikasi adalah pemurnian Escherichia coli ATCC 11303. Tahap pemurnian ini menggunakan air yang mengandung zat asam. Larutan ini dapat diperoleh dengan mencampur asam asetat (CO3COOH) dengan air (H2O). Perbandingan campuran adalah 40% dari Escherichia coli. Air dengan kandungan asam tersebut berfungsi untuk mengeluarkan angin didekat dasar tangki sehingga gelembung-gelembung dan udara terangkat. Setelah melalui tahapan pada proses tersebut maka akan dihasilkan bioetanol murni dan gliserin. Hasil dari proses pemurnian tersebut kemudian dimasukkan Waste Cooking Oils (WCO) ke dalam reaktor dengan menambahkan 25% (dengan volume WCO) etanol murni dan KOH dalam berbagai variasi konsentrasi. Variasi konsentrasi KOH/liter WCO adalah  6,00 gram; 6,25 gram; 6,50 gram; dan 6,75 gram.

Tahapan kedua memanaskan sampel dalam reaktor dengan variasi suhu 48oC, 60oC, dan 65oC, selama 50 – 60 menit. Variasi tekanan dikombinasikan dengan variasi suhu kemudian didiamkan selama 12 jam. Larutan kemudian menjadi potasium metoksida. Minyak nabati kemudian dialirkan atau ditransfer ke reaktor utama untuk menghasilkan minyak nabati atau biodiesel yang diinginkan Tangki reaktor harus disesuaikan untuk mempercepat determinasi volume. Metoksida kemudian dialirkan kedalam reaktor dan proses pencampuran pun dimulai. Dalam proses eterifikasi ini dibutuhkan waktu kira-kira 60 menit. Ester kemudian ditransfer dengan pompa atau secara grafitasi kedalam tangki penampungan. Setiap bak memproduksi kurang lebih 500 liter per hari oleh sebab itu harus disiapkan dua bak dalam sehari.

Tahapan ketiga adalah pengambilan sejumlah gliserin dari hasil tahapan pertama dan kedua, kemudian menuangkan kembali biodiesel yang dihasilkan ke dalam reaktor dan ditambahkan metanol dari sisa proses pertama dan kedua dengan jumlah yang sama pada tahapan pertama juga pemberian katalis KOH, yang ditujukan untuk meningkatkan tingkat kemurnian biodiesel.

2.    Metode Fermentasi

Proses fermentasi dilakukan melalui proses hidrolisis. Hidrolisis enzimatis dari material mentah dan fermentasi hidrolisis gula dapat dilakukan terpisah atau secara bersamaan. Dua proses hidrolisis yang digunakan adalah SHF (separate hydrolysis and fermentation) atau SSF (simultaneous saccharification and fermentation). Susunan proses SSF secara umum mempertimbangkan keuntungan dari penurunan harga produksi etanol. Secara keseluruhan, hasil yang lebih menguntungkan adalah dengan menggunakan thermostable enzyme dalam proses hidrolisisnya

Pada tahapan metode fermentasi, Escherichia coli ATCC 11303 yang membawa plasmid pLOI297 diletakkan dalam medium dengan pendinginan (-200C) dalam 40% gliserol dan pertumbuhan medium yang kompleks mengandung 2% glukosa dan 10 mg/L tetracyclin. Mediumnya terdiri dari trypton (10 g/L), ekstrak ragi (5 g/L) dan NaCl (5 g/L). Fermentasi dilakukan pada medium tersebut dengan menggunakan larutan buffer potassium fosfat (pH = 7) pada konsentrasi akhir 0,2 M.

Fermentasi dari glukosa (5g/L), xylosa (80g/L) dan arabnosa (5g/L) dibuat dengan 42,5g/L ethanol selama 96 jam yang menghasilkan 0,49 alkohol per 1 gram gula menggunakan Recombinant Escherichia coli. Konsentrasi glukosa, xylosa dan arabinosa dalam proses hidrolisis dapat dikembangkan untuk teknologi konversi biomassa pada produksi  fuel etanol menggunakan ethanologenik E.coli. Untuk menghasilkan etanol dari fermentasi dapat dilakukan variasi konsentrasi yaitu glukosa dan xylosa (80g/L, 100g/L, 120g/L). Semakin banyak konsentrasi glukosa dan xylosa yang terkandung pada ethanologenik E.coli maka semakin banyak etanol yang dihasilkan. Dua proses hidrolisis tersebut dapat digunakan dengan metode SHF (separate hydrolysis and fermentation) atau SSF (simultaneous saccharification and fermentation).

Diagram alir sistem pengolahan Escherichia coli  menjadi minyak biodiesel.

Para ahli menginjeksikan gen yang dapat membuat E.coli mengeluarkan enzim yang biasa bertugas memecah material terkuat dalam tumbuhan, yaitu enzim selulosa atau lebih spesifiknya hemiselulosa. Enzim itu akan memproduksi gula yang dibutuhkan untuk proses pembuatan biodiesel dan bisa dikatakan enzim tersebut merupakan biomassa selulosa.

Karena modifikasi itulah E.coli dapat memproduksi biodiesel secara langsung dari tubuhnya. Hal itu membuat proses distilasi dan purifikasi bisa dipangkas.”Sebagai perbandingan, apabila menggunakan lemak atau minyak dari tumbuhan, maka harus melewati proses esterifika-si terlebih dahulu sebelum dapat digunakan,” jelas Keasling.Lebih jauh, Keasling menerangkan proses pengkloningan gen berasal dari Clostridium ster-corarium dan Bacteroides ovalus (bakteri yang tumbuh subur di tanah dan usus binatang herbi-vora) yang memproduksi enzim pemecah selulosa.

Para peneliti juga menambahkan kode genetik tambahan untuk membentuk asam amino pendek agar E.coli dapat mengeluarkan enzim hemiselulosa dan mengubahnya menjadi gula. Gula itulah yang kemudian diolah menjadi biodiesel.Proses tersebut memang terbilang sempurna untuk pembuatan hidrokarbon, namun belum bisa mencapai tahap pembuatan bensin. Karenanya, para peneliti kini bermaksud memaksimalkan efisiensi dari pengolahan modifikasi turunan E.coli. Mereka juga telah mengeksplorasi berbagai cara untuk meningkatkan jumlah biodiesel yang diproduksi dari reaksi tunggal.

Kajian Religi

An Nahl ayat 13

وَمَاذَرَأَلَكُمْفِىٱلْأَرْضِمُخْتَلِفًاأَلْوَٰنُهُۥٓۗإِنَّفِىذَٰلِكَلَءَايَةًۭلِّقَوْمٍۢيَذَّكَّرُونَ

Artinya : Dan Dia (menundukkan pula) apa yang Dia ciptakan untuk kamu di bumi ini dengan berlain-lainan macamnya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang mengambil pelajaran.

Yaasiin ayat 83

 

Artinya : Maka Maha Suci (Allah) yang di tangan-Nya kekuasaaan atas segala sesuatu dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan.

Thaahaa ayat 6

 

Artinya : Kepunyaan-Nya-lah semua yang ada di langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya dan semua yang di bawah tanah.

Allah menciptakan makhluk hidup bermacam-macam. Ada yang bisa dilihat dengan mata telanjang dan ada pula yang hanya bisa dilihat dengan alat bantu misalnya saja dengan mikroskop. Salah satu contoh makhluk mikroskopis itu adalah mikroorganisme. Allah menciptakan makhluk hidup tidak hanya merugikan tetapi juga menguntungkan bagi makhluk hidup yang lainnya, misalnya saja mikroorganisme. Allah menciptakan mikroorganisme tentu tidak hanya merugikan bagi kita, tetapi bisa juga menguntungkan apabila kita mau mempelajarinya. Contohnya saja bakteri Escherchia coli. Bakteri ini tidak hanya menyebabkan diare tetapi bisa juga di manfaatkan sebagai bahan biodiesel. Itu semua merupakan tanda-tanda kekuasaan Allah. Kita sebagai manusia wajib bersyukur atas semua yang telah diberikan kepada kita dan kita diberikan ilmu untuk mempelajari semua yang ada di bumi ini sehingga kita dapat menemukan penemuan-penemuan baru yang kelak akan berguna untuk masa depan.

Kesimpulan

E.coli hasil rekayasa bisa mengubah bahan alam menjadi bahan bakar biodiesel. Bakteri E.coli hasil rekayasa dapat menyintesa dan memproduksi enzim hemiselulosa (enzyme hemicellulose). Dengan enzim hemiselulosa bakteri E.coli mampu menguraikan selulosa menjadi gula.Selanjutnya bakteri akan mengubah gula menjadi berbagai macam bahan bakar biodiesel. Bahan bakar yang dihasilkan tadi akan mengambang pada bagian atas bejana fermentasi, sebelum dapat dipisahkan. Secara alami, bakteri E.coli mengubah gula menjadi asam lemak untuk membentuk membran sel. Oleh para peneliti tersebut, gen bakteri direkayasa dengan memberikan arus pendek listrik agar dapat memproduksi molekul asam lemak dalam jumlah besar, sehingga mampu mengubah molekul asam lemak menjadi bahan bakar dan senyawa kimia lain.

 

Daftar Pustaka

Hambali et al. 2007. Teknologi Bioenergi. Bogor: PT. Agromedia Pustaka.

Kalscheuer et, al. 2006. Microdiesel: Escherichia coli engineered for fuel Production. [Jurnal]. Institut fu¨ r Molekulare Mikrobiologie und Biotechnologie, Westfa¨ lische Wilhelms-Universita¨ t,Corrensstrasse 3, D-48149 Mu¨ nster, Germany.

Rahayu, M. 2005. Teknologi Proses Produksi Biodiesel. [Jurnal]. Prospek Pengembangan Bio

fuel sebagai Substitusi Bahan Bakar Minyak.

Anonymous 2011.http://iyan201080.blogspot.com/2011/05/rekayasa-bakteri-ecoli-untuk.html

Diakses tanggal 10 November 2011

Anonymous 2011.http://www.guideto.com/science-nature/matter-energy/energy-technology/bacteria

modified-to-make-biodiesel.html. Diakses tanggal 10 November 2011

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: