PENGEMBANGAN PRODUK UNTUK IMUNISASI PADA SAPI

Salah satu kajian bidang mikrobiologi adalah bagaimana mikroorganisme dapat bekerja  dan  memberikan   manfaat   bagi kesejahteraan umat manusia. Pada bakteri dapat memberikan manfaat di berbagai bidang. Miswalnya pada bidang peternakan yaitu pembuatan produk imunisasi pada sapi

Sapi merupakan hewan ternak yang penting sebagai sumber daging, susu, tenaga kerja dan kebutuhan lainnya. Sapi menghasilkan sekitar 50% (45%-55%) kebutuhan daging di dunia, 95% kebutuhan susu dan 85% kebutuhan kulit (Wahid  2000 dan Ismail 2008). Sapi berasal dari famili Bovidae, seperti bison, banteng, kerbau (Bubalus), kerbau Afrika (Syncherus), dan anoa (Ismail 2008).

Gambar1.

Sumber: www.lintas-kabar.com

Sekitar 90% penyakit masuk melalui gastrointestinal (usus) terutama pada anak  yang baru lahir  (neonatus)  sehingga dibutuhkan suatu perlindungan yang mampu mencegah hal tersebut. Kondisi demikian memerlukan faktor kekebalan yang dapat menghalangi kuman patogen masuk ke dalam saluran gastrointestinal (usus). Faktor kekebalan ini dapat diperoleh dalam bentuk kolostrum dari  induk. Menurut Thapa (2005), kolostrum sapi mengandung 20% IgG sedangkan kolostrum manusia hanya mengandung 2% IgG. Kolostrum sapi mengandung IgG dengan konsentrasi  4-40 kali  lebih banyak  dibandingkan dengan  kolostrum manusia (Sanken 2008).

Vaksinasi adalah pemberian vaksin ke dalam tubuh individu untuk memberikan kekebalan terhadap suatu penyakit  (Kreier dan Mortensen 1990). Pemberian vaksin pada prinsipnya dapat mencegah terjadinya infeksi. Pencegahan dengan vaksinasi akan memberikan dampak yang lebih baik karena tidak menimbulkan resistensi dan tidak meninggalkan residu pada ternak (Soeripto 2001).  Vaksinasi dapat menggunakan vaksin  aktif atau vaksin inaktif/  pasif (Soeripto 2001; Tizard 1987).

Beberapa prinsip rekayasa genetika dalam pembuatan vaksin adalah sebagai berikut :

  1. mengisolasi / memisahkan gen-gen dari organisme penyebab sakit yang berperan dalam menghasilkan antigen yang merangsang limfosit untuk menghasilkan antibody.
  2. menyisipkan gen-gen di atas, ke tubuh organisme yang kekurangan pathogen.
  3. mengulturkan orgamisme hasil rekayasa genetika, sehingga menghasilkan antigen dalam jumlah banyak.
  4. mengekstraksi antigen, lalu digunakan sebagai vaksin.
Vaksin E. coli untuk obat kolibosilosis pada sapi
          KOLIBASILOSIS Adalah penyakit infektius bakterial pada anak sapi yang biasanya disebabkan oleh bakteri E. coli (ETEC) dan veterotoksigenik E. coli (VTEC) VAKSIN E. COLI POLIVALEN Dikembangkan dalam bentuk inaktif dari sel bakteri enterotoksogenk E. coli (ETEC) dan veterotoksigenik E. coli (VTEC) untuk pengendalian kolibasilosis anak sapi

.

Gambar.2

Sumber:http://www.jamalnurrosidin.blogsp.

Gambar.3

Sumber: http://www.pkppullet.wordpress.com

ETEC menghasilkan satu atau dua jenis toksin protein  yaitu  heat labil (LT) dan  heat stabil  (ST).  Faktor virulensi tambahan dari ETEC adalah  Colonization factor  (CFA-I dan CFA-II).  Faktor virulensi  LT, ST, CFA-I serta CFA-II dikode oleh plasmid yang dapat dipindahkan (Karsinah et al. 1994). Toksin LT bekerja merangsang enzim adenil  siklase yang terdapat di dalam sel epitel mukosausus halus, menyebabkan peningkatan aktivitas enzim tersebut dan terjadinya peningkatan permeabilitas sel epitel usus.  Hal ini akan menyebabkan  terjadinya  akumulasi cairan di dalam usus dan berakhir dengan diare. Toksin ST bekerja dengan cara mengaktivasi enzim guanilat  siklase menghasilkan siklik guanosin monofosfat, menyebabkan gangguan absorbsi klorida dan natrium dan menurunkan motilitas usus halus (Karsinah et al. 1994). Patogenesa diare yang terjadi akibat ETEC meliputi terjadinya kolonisasi pada usus kecil dan produksi serta aksi enterotoksin yang bertangggung jawab dalam merusak keseimbangan pergerakan cairan dan elektrolit di dalam epitel usus. Kolonisasi pada usus kecil oleh ETEC  tergantung pada pili. Pili berperan dalam penempelan yang spesifik  oleh  bakteri  pada titik sel epitel.  Pili K99 ditemukan pada ETEC dari serogrup 8, 9, 20, 64, dan 101. Produksi antigen K99 dimediasi oleh plasmid dan bergantung pada suhu. Strain dari O grup 101 menghasilkan K99 yang paling banyak dibandingkan dengan strain yang lain dari grup O (Gyles dan Charles 1993).

Proses produk Vaksin E. coli POLIVALN

Kandidat vaksin Streptococcus agalactiae yang dinamakan SGB 85 telah dibuat dengan ciri tertentu sesuai dengan tujuan preparasi vaksin. Staphylococcus aureus dan Escherichia coli merupakan bakteri yang sering kali terisolasi dari kasus mastitis klinik maupun subklinik, membuat vaksin polivalen menggunakan dua bakteri tersebut. Pada tahap I dilakukan penentuan antigen protektif S. aureus dan E. coli, ciri hayati, dan perannya dalam proses infeksi. Isolasi dan karakterisasi protein permukaan, yakni protein hidrofobik dan adhesif yang diduga bertanggung jawab atas kolonisasi bakteri pada ambing, dilakukan dengan teknik kromatografi afinitas. Sebanyak 50 isolat S. aureus memiliki koloni beraspek kasar, mampu mengaglutinasi darah sapi, kelinci, domba, dan kuda. Hal ini menunjukkan keberadaan hemaglutinin pada permukaan selnya dan pola pertumbuhan difus pada soft-agar. Penambahan serum kelinci pada soft-agar menyebabkan pergeseran pola pertumbuhan koloni ke bentuk kompak dan hal ini ditunjukkan oleh lima isolat.  Penambahan serum ayam pada soft-agar tidak menyebabkan pergeseran bentuk koloni bakteri. Hal ini menunjukkan bahwa S. aureus yang diisolasi dari sapi mampu mengikat komponen serum. Lima isolat ini diduga memiliki protein A yang mampu mengikat fraksiFc-imunoglobulin dan isolat tersebut dipilih sebagai kandidat vaksin SA 101. Penelitian tahap II mempelajari adhesivitas dan respons imun nonspesifik, yaitu aktivitas fagositosis sel radang polimorf  terhadap S. aureus dan E. coli yang dikaitkan dengan ekspresi fenotipe bakteri. Reseptor adhesin pada permukaan sel ambing ditentukan dan diisolasi serta dikarakterisasi. Kandidat vaksin ditentukan berdasarkan pada faktor virulen yang diekspresikan. Keberadaan hemaglutinin pada permukaan sel S. agalactiae, S. aureus, dan E. coli selalu konsisten dan keberadaan antigen protein pada permukaan selnya merupakan ciri khas bakteri yang diisolasi dari kasus mastitis. Bakteri yang memiliki hemaglutinin menunjukkan kemampuan adhesi yang jauh lebih baik dibandingkan dengan bakteri yang tidak memiliki hemaglutinin. Kemampuan adhesi ini berkaitan dengan keberadaan hemaglutinin di permukaan sel bakteri. Dari biakan sel epitel ambing terdapat dua jenis sel yang dominan pertumbuhannya, yaitu sel epitel kuboid dan sel epitel lonjong. Adhesi bakteri yang intensif terjadi pada permukaan sel epitel kuboid sedangkan adhesi bakteri yang kurang intensif ditunjukkan oleh sel epitel lonjong. Prainkubasi bakterai yang memiliki hemaglutinin (S. agalactiae, S. aureus, dan E. coli) dengan antiserum hemaglutinin yang homolog mampu menurunkan nilai adhesi pada permukaan sel. Prainkubasi dengan antiserum hemaglutinin heterolog tidak menyebabkan penurunan nilai adhesi. Hal ini menunjukkan bahwa hemaglutin sebagai adhesin hanya mampu dihambat aktivitasnya secara spesifik oleh antiserum yang homolog. Penurunan nilai adhesi ditunjukkan pula oleh bakteri yang sebelumnya diprainkubsi dengan reseptor hemaglutinin homolog, tetapi tidak untuk reseptor heterolog. Pada umumnya bakteri S. agalactiae dan S. aureus yang diisolasi dari kasus mastitis subklinik mudah difagositosis oleh sel radang polimorf karena bakteri ini tidak berkapsul. Keberadaan kapsul ditentukan dengan teknik soft-agar untuk S. agalactiae dan serum soft-agar untuk S. aureus. S. agalactiae dan S. aureus yang tidak berkapsul tumbuh kompak pada masing-masing media. Prainkubasi bakteri dengan antiserum hemaglutinin homolog menyebabkan peningkatan nilai fagositosis. Keberadaan antiserum pada permukaan sel bakteri menyebabkan bakteri lebih mudah difagositosis oleh sel radang polimorf karena bakteri terdapat dalam bentuk teropsonisasi.

Contoh produk Vaksin E. coli POLIVALEN

Berisi semua jenis antigen yang imnoprotektif yang terdapat dilapangan Tidak tiksik dan tidak menimbulkan efek samping lainnya. Mampu mencegah gejala diare dan kematian anak sapi INDIKASI Untuk menmcegah kolibasilosis anak sapi. Untuk vaksinasi pada induk sapi bunting masa akhir KOMPOS

ISI Sel bakteri enterotoksigenik E. coli K99, F41 dan K99, F 41 (serogroup O9, 101) dan veterotoksigenik e. coli (serogroup O157). Formalin 0,02% Alhidrogel 1,5% CARA PAKAI Suntikan VAKSIN E. COLI POLIVALEN sebanyak 5 ml secara subkutan pada leher dibelakang telinga. Vaksinasi dilakukan pada induk bunting 7 bulan. Booster diberikan 2 minggu sebelum melahirkan dengan dosis yang sama Amak terlahir diupayakan meyusu dari induk yang divaksinasi.

PENYAKIT SEPTICAEMIA EPIZOOTICA PADA SAPI

Gambar.4 Penyakit septikaemia pada sapi

Penyakit  Septicaemia Epizootica (SE) atau penyakit ngorok adalah penyakit hewan yang bersifat akut, fatal dan pada dasarnya hanya menyerang hewan kerbau dan sapi. Penyakit SE disebabkan oleh Pasteurella multocida B:2. di Indonesia, penyakit ini sudah menyebar ke hampir seluruh propinsi (ALWIS,1992). Kasus penyakit SE biasanya dilaporkansebagai kematian hewan dalam waktu singkatDalam pengamatan, hewan mengalampeningkatan suhu tubuh,  oedemasubmandibular yang dapat menyebar ke daerahdada, dan gejala pernafasan dengan suarangorok atau keluarnya ingus dari hidungUmumnya, hewan kemudian mengalamkelesuan atau lemah dan kematian.  Pada pemeriksaan pasca mati, kelainan yang tampil menyolok adalah oedema subcutaneous dengan cairan  serogelatinous terutama di daerah submandibula, leher dan dada. Pada jaringan subkutan dapat ditemui adanya perdarahan titik-titik dan kelenjar limfe membengkak yang dapat berupa pembengkakan, kongesti dan hiperemia atau nekrosis yang nyata GRAYDON et al., 1993).Dalam rongga dada terjadi perubahan pada paru-paru yang berkisar dari pembendungan umum sampai konsolidasi yang ekstensif dengan penebalan septa interlobular. Untuk pengendalian ngorok/SE, vaksinasi masih merupakan cara yang utama. Vaksin yang umum digunakan adalah vaksin alum presipitat yang memerlukan 2 kali penyuntikan per tahun. Vaksin lain berupa vaksin beradjuvant minyak yang selama ini digunakan ekali suntikanpertahun di Indonesia. Kelemahan vaksin mati beradjuvant minyak dalah tingginya viskositas sehingga menyulitkan penyuntikan. Salah satu ekomendasi FAO Regional Animal Production and Health Commision for Asia and the Pacific FAO/APHCA) Subgroup on Haemorrhagic Septicaemiapada tahun 1986 adalah pengembangan vaksin yang menggunakan galur Pasteurella multocida avirulen karena di apangan hewan yang mengalami infeksi secara subklinis mempunyai tingkat kekebalan yang tinggi (MYINT, 1994).          Vaksin terhadap SE dapat dikategorikan menjadi dua yaitu: vaksin mati dan vaksin hidup. Umumnya vaksin mati mengandung Pasteurella multocida tipe B:2 dari isolat lokal masing-masing negara.Berbagai cara penyiapan vaksin sudah dikembangkan untuk mengendalikan penyakit SE. Vaksin ini diproses dari broth atau kultur agar dan dapat  memberikan kekebalan kurang dari 6 minggu (BAIN  et al 1982).  Broth bacterin yang tidak diberi adjuvant memberikan kekebalan selama 1,5 – 2 bulan dan dapat menyebabkan  shock karena adanya endotoksin dalam vaksin bacterin tersebut (CARTER and DE ALWIS 1989).Alum-Precipitated Vaccine dibuat dari broth bacterin atau  aerated culture yang dibunuh dengan formalin dan ditambahkan 10-20% larutan potash alum {KAl(SO4)2} untuk mendapatkan 1% alum dalam vaksin. Vaksin ini banyak dipakai karena mudah diaplikasi. Suntikan subkutan vaksin ini dapat memberikan kekebalan selama 5 bulan. Vaksinasi tahunan biasanya dilakukan 2 kali. Oil adjuvant bacterin atau vaksin adjuvant minyak telah terbukti cukup efektif (BAIN  et al., 1982). Emulsi minyak ini minimal harus mengandung 2 mg bakteri kering dalam 3 ml emulsi. Vaksin ini memberikan kekebalan selama 6-9 bulan setelah vaksinasi pertama pada hewan muda, dan dapat melindungi sampai 12 bulan setelah revaksinasi (BAIN,1982; MYINT dan CARTER 1989). Vaksin ini cukup kental dan agak sulit di dalampemakaiannya, cepat rusak pada suhu ruangan, mempunyai waktu simpan yang singkat dan kadang-kadang menimbulkan efek samping berupa reaksi lokal (BAIN  et al. 1982). Usaha untuk mengurangi kekentalan vaksin bisanya berakibat pada pengurangan kekebalan bila dibandingkan dengan yang diberikan oleh oil adjuvant vaccine yang konvensional (YADEV dan AHOOJA, 1983).          Dua vaksin adjuvan minyak telah dikembangkan dengan kekentalan yang rendah dan menimbulkan titer antibodi yang tinggi sampai 230 hari (MUNEER dan AFZAL, 1989).Analisis antigenik dari vaksin adjuvan minyak menunjukkan bahwa ada hubungan antara tingkat proteksi dengan reaksi antibodi terhadap protein berberat molekul 94.000, 80.000, 67.000, 35.000 dan 32.000 serta komponen  lipopolysaccharide yang berberat molekul 14-15.000Daltondari  P. multocida (DAWKINS et al., 1993).

 Vaksin aktif parenteral

Blue variantBeberapa galur P. multocida pernah dicoba sebagai vaksin aktif (hidup). HUDSON (1954)menggunakan blue variant yang diperoleh dari kultur broth yang lama. Variant ini bersifat kurang patogen untuk mencit. Pada kerbau strain ini memberikan kekebalan untuk beberapabulan. Vaksin ini telah tidak digunakan saat ini. Streptomycin-dependent mutant WEI dan CARTER (1978) menggunakan streptomycin-dependent mutant strain Pasteurella multocida tipe B Mesir untuk mengimunisasi mencit. Di Sri Lanka mutant serupa digunakan untuk mengimunisasi sapi dan kerbau. Vaksin ini dapat melindungi 75% sapi dan 100% kerbau dengan dosis tunggal (ALWIS et al 1980).

Vaksin hidup aerosol dengan aplikasi intranasal

Isolat  P. multocida  B;3,4 dari rusa di Inggris merupakan galur yang dipakai sebagai bibit vaksin aerosol (JONES and HUSSAINI, 1982). Isolat ini dapat menimbulkan haemorrhagic septicaemia pada ruminansia liar seperti  elk dan rusa tetapi tidak pada sapi dan kerbau.  P. multocida  B:3,4 juga pernah diisolasi dari luka pada sapi perah di Australia (BAIN and KNOX, 1961) dan dari daerah nasopharynx sapi-sapi sehat di Sri Lanka (MYINT, 1994). Walaupun jarang terisolasi, pengamatan di laboratorium maupun di lapangan menunjukkan bahwa galur  P. multocida  B:3,4 ini mempunyai hubungan imunologis yang dekat dengan isolat  P. multocida  lainnya sehingga dapat memberikan proteksi silang (MYINT, 1994; RIMLER, 1996; PRIADI and NATALIA 2001). 

Contoh Produk Vaksin AEROVAK SE 34

 Septicaemia Epizootica / Haemorrhagic Septocaemia (penyakit ngorok) adalah penyakit infektius pada ternak yang disebabkan oleh bakerti Pasteurella multocida B : 2. Hewan target : Kerbau dan sapi muda AEROVAK SE 34 adalah produk vaksin kering beku yang berisi bakteri hidup dari Pasteurella multocida B :3,4. AEROVAK SE 34 diberikan intranasal dengan penyemprotan pada hidung ternak untuk pengendalian penyakit ngorok Keunggulan Berpotensi untuk pengendalian penyakit ngorok Sebanyak 100 kali yang direkomendasikan tetap; aman untuk kerbau muda Tanpa efek samping baik terhadap hewan maupun lingkungan. AEROVAK SE 34 (1 x 107 CFU) Mampu melindungi hewan dari uji tantang selama 1 tahun setelah vaksinasi Indikasi Imunisasi sapi dan kerbau terhadap penyait ngorok Untuk ternak sehat berumur 6 bulan atu lebih Untuk daerah enzootik (tertular) perlu vaksinasi ulang setiap tahun Cara pemakaian Alat semprot (sprayer) yang bersih untuk produk vaksin. Satu vial dilarutkan dengan larutan garam fisiologis setril hingga menghasilkan 50 dosis semprotan (0.9 1.0 ml per semprotan) Semprota larutan kedalam romgga hidung Vaksin terlarut harus dihabiskan dalam satu jam.Proses Produk Vaksin Skala IndustriProses produksi yang digunakan oleh banyak perusahaan sebagian besar tetap tidak  berubah untuk beberapa tahun. Sampai saat ini, lingkungan regulasi relatif santai dan manufaktur standar dan praktik-praktik dasar. Persyaratan telah berubah selama sepuluh tahun terakhir dengan standar skala industri farmasi. Industri saat ini harus memenuhi standart yaitu produk harus disertai dengan bukti ilmiah yang substansial menunjukkan bahwa keampuhan vaksin tidak berubah. Dalam istilah sederhana, produksi vaksin memerlukan pertumbuhan, inaktivasi, pengolahan organisme, pencampuran bahan, mengisi kemasan vaksin, tes racun, tes toksoid yang dilakaukan dengan sangat spesifik.

Proses sterilisasi perlu untuk menghindari menyebabkan kerusakan pada protein dan penting kofaktor dalam medium. Kerusakan protein, vitamin dan kofaktor di pengaruhi oleh tingkat pemanasan dan waktu. Untuk  sejumlah bakteri memerlukan tingkat panas dan jangka waktu berbeda-beda sampai diterapkan negatif sehinga tidak dapat mempengaruhi hasil vaksin. Untuk alasan ini, banyak produsen masih menggunakan filtrasi steril. Salah satu komponen yang paling kritis dari fermentasi adalah kultur bakteri yang menghasilkan toksin di lingkungan terkendali fermentor tersebut, tidak semua  bakteri  sama dalam kemampuan untuk menghasilkan toksin. Hasil akhir dari jenis program adalah benih yang baik disesuaikan dengan berbagai kondisi. Dalam rangka mempertahankan kualitas benih membutuhkan pengujian yang ketat untuk menunjukkan kesetaraan uji coba kemanjuran pada hewan target.Selain itu produksi vaksin skala industri juga harus memenuhi satandar antara lain yaitu:

Pengontrolan Kualitas

Untuk melindungi kemurnian vaksin dan keselamatan pekerja yang membuat dan mengemas vaksin, kondisi kebersihan laboratorium diamati pada seluruh prosedur. Semua transfer bakteri dan media dilakukan dalam kondisi steril, dan semua instrumen yang digunakan disterilisasi dalam autoklaf (mesin yang membunuh organisme dengan suhu tinggi, dan yang berukuran sekecil kotak perhiasan atau sebesar lift) sebelum dan sesudah digunakan. Pekerja yang melakukan prosedur memakai pakaian pelindung yang meliputi gaun Tyvek sekali pakai, sarung tangan, sepatu bot, jaring rambut, dan masker wajah. Ruangan pabrik sendiri memakai AC yang khusus sehingga jumlah partikel di udara minimal.

 Proses Perizinan

Semua obat yang diresepkan harus menjalani tiga tahap pengujian, meskipun data dari fase kedua kadang-kadang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan tahap ketiga. Tahap 1 pengujian harus membuktikan bahwa obat aman, atau setidaknya tidak ada efek yang tidak diinginkan atau tak terduga akan terjadi dari pemberiannya. Jika obat dapat melewati tahap 1 pengujian, di samping harus diuji efektivitasnya (obat harus memiliki efek apa yang seharusnya). Obat-obatan yang tidak berguna tidak dapat dijual, atau yang membuat klaim untuk efek yang sebenarnya tidak dimiliki. Akhirnya, tahap 3 pengujian ini dirancang untuk mengukur efektivitas obat. Meskipun vaksin diharapkan memiliki efektivitas hampir 100%, obat-obat tertentu mungkin dapat diterima bahkan jika mereka mempunyai efektivitas yang minimal, asalkan dokter yang meresepkan mengetahuinya.Seluruh proses produksi ditelaah dengan hati-hati oleh FDA dengan mempelajari catatan prosedur serta mengunjungi tempat produksi itu sendiri. Setiap langkah dalam proses produksi harus didokumentasikan, dan produsen harus menunjukkan suatu “kontrol yang tetap” untuk proses produksi. Ini berarti bahwa prsedur yang teliti harus terjaga untuk setiap langkah dalam proses, dan harus ada instruksi tertulis untuk setiap langkah dari proses. Kecuali dalam kasus-kasus kesalahan yang memilukan, FDA tidak menentukan apakah setiap langkah dalam proses benar, tetapi hanya bahwa itu aman dan cukup terdokumentasi dengan baik untuk dilakukan, seperti yang ditetapkan oleh produsen.

Masa depan Vaksin

Memproduksi vaksin  yang aman dan dapat dimanfaatkan melibatkan sejumlah besar langkah yang, sayangnya, tidak selalu dapat dilakukan pada setiap bakteri. Masih banyak yang harus dilakukan dan dipelajari. Metode baru dari manipulasi molekul telah menyebabkan lebih dari satu ilmuwan meyakini bahwa teknologi vaksin baru sekarang memasuki “zaman keemasan.” Perbaikan vaksin sangat mungkin dilakukan di masa depan. vaksin Rabies, misalnya, menghasilkan efek samping yang membuat vaksin tidak memuaskan untuk imunisasi masal, di Amerika Serikat, vaksin rabies sekarang digunakan hanya pada pasien yang telah tertular virus dari hewan yang terinfeksi dan mungkin bila tanpa imunisasi, menjadi penyakit yang fatal.

KAJIAN ISLAM

“Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan dia berkehendak menciptakan langit, lalu dijadikan- Nya tujuh langit! Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu “(QS Al – Baqarah : 29). Dari ayat ini dapat di kita yakini Allah telah menciptakan sesuatu yang dapat bermanfaat bagi hambanya dan Dia mengetahui apa yang terbaik bagi hambanya.Sesungguhnya Allah maha mengetahui. “Yang kepunyaan-Nyalah kerajaan langit dan bumi, dan dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagi-Nya, dalam kekuasan-Nya. Dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuranukurannya dengan serapi-rapinya sesuai dengan apa yang dikehendaki mudah bagi Allah” (QS Al-Furqon:2). Dari penggalan bukti ayat tersebut telah jelas bahwa kita sebagai orang yang beriman, yang yakin akan adanya sang Khalik harus percaya bahwa seluruh makhluk baik di langit dan di bumi, baik berukuran besar maupun kecil, bahkan sampai mikroorganisme (jasad renik) yang tidak dapat terlihat dengan mata telanjang adalah makhluk ciptaan Allah SWT, sehingga dengan mempelajari manfaat mikrobiologi. Secara tidak langsung pengetahuan tentang aqidah kitapun semakin bertambah. Sesungguhnya manusia hanyalah sedikit pengetahuannya, jika dibandingkan dengan ilmu Allah SWT yang maha luas dan tak terbatas.

 

DAFTAR PUSTAKA

Ismail R. 2008.  Beternak Sapi Perah.  http://arifiuz.wordpress.com/ 2008/01/10/bangsa-sapi-     perah/[Juni 2009].Karsinah, Lucky HM, Suharto, Mardiastuti HW. 1994.  Bakteri Gram Negatif Didalam Buku Ajar Mikrobiologi Kedokteran. Jakarta : Binarupa Aksara.Sanken. 2008.  Kolostrum Bovine  –  3 Faktor Prima Pendukung Kehidupan Sempurna.  http://www.zorpia.com/qolostra/journals/4931  [16 juli 2008].Soeripto. 2001. Vaksin Bakteri untuk Ternak. Infovet Ed 083: Hlm 40-41.http://bbalitvet.litbang.deptan.go.id/ind/attachments/247_77.pdfhttp://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/27554/B10mam.pdf?sequence=1http://www.bbalitvet.org/index.php?option=com_content&task=view&id=78&Itemid=67http://h0404055.wordpress.com/2010/04/04/preparasi-dan-penggunaan-vaksin-polivalen-sebagai-    pendekatan-baru-pencegahan-mastitis-pada-sapi-perah/http:///E:/pembuatan-vaksin.html
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: