PERANAN PENTING VITAMIN MINERAL DAN AIR UNTUK TUMBUH KEMBANG BALITA

      PENDAHULUAN

Bawah lima tahun atau yang sering disebut balita adalah bayi yang berada pada rentang usia dua sampai lima tahun. Pada usia ini otak anak mengalami pertumbuhan yang sangat pesat yang dikenal dengan istilah golden age atau masa emas. Setiap orang tua pasti mengiginkan anaknya tumbuh menjadi anak yang cerdas, tapi banyak juga yang tidak menyadari bahwa kecerdasan itu sebenarnya dapat dibentuk sejak bayi.

The golden age

Golden age yang terjadi pada masa usia balita merupakan masa-masa yang sangat penting dalam fase tumbuh kembang anak, karena pada masa ini otak anak berkembang dengan pesat dan kritis. Periode emas penting bagi anak karena masa ini tidak dapat diulang lagi. Pada usia ini otak anak memiliki kemampuan untuk menyerap infomasi 100%, karena pada masa ini fungsi otak anak bekerja dengan sangat baik.

Segala bentuk informasi yang diterimanya pada masa usia ini mempunyai dampak dikemudian hari. Perkembangan intelligence quotientnya (IQ) mencapai 50%, sehingga orang tua memiliki peran besar dalam mendidik dan mengembangkan potensi serta kecerdasan anaknya.

Gizi kurang path balita dapat mengakibatkan terganggunya pertumbuhan jasmani dan kesehatan. Secara tidak langsung gizi kurang dapat menyebabkan anak balita mengalami defisiensi zat gizi yang dapat berakibat panjang, yaitu berkaitan dengan kesehatan anak, pertumbuhan anak, penyakit infeksi dan kecerdasan anak seperti halnya karena serangan penyakit tertentu. Apabila hal ini dibiarkan tentunya balita sulit sekali berkembang. Dengan demikian jelaslah masalah gizi merupakan masalah bersama dan semua keluarga harus bertindak atau berbuat untuk melakukan perbaikan gizi (Sajogyo,dkk. 1994:2).

Akhir-akhir ini, banyak balita yang mengalami berbagai macam penyakit akibat kekurangan gizi. Bahkan, dijumpai ada kasus kematian balita gara-gara masalah gizi buruk kurang diperhatikan. Kondisi balita yang kekurangan gizi sungguh sangat disayangkan. Sebab, pertumbuhan dan perkembangan serta kecerdasannya dipengaruhi oleh gizi, yang diantaranya vitamin, mineral dan air. Kondisi gizi buruk tidak mesti berkaitan dengan kemiskinan dan ketidaksediaan pangan, meski tidak bisa dipungkiri kemiskinan dan kemalasan merupakan faktor yang sering menjadi penyebab gizi buruk pada anak.

Vitamin, Mineral dan Air merupakan bagian dan komponen-komponen penting yang di butuhkan untuk mengoptimalkan tumbuh kembang balita. Namun, pada saat ini banyak sekali masyarakat, khususnya para ibu mengabaikan, bahkan tidak menyadari akan pentingnya komponen-komponen tersebut. Vitamin, mineral dan air adalah komponen-komponen yang tidak dapat dibuat oleh tubuh manusia seutuhnya, bahkan mineral tidak dapat dibuat oleh tubuh sehingga mineral hanya dapat diperoleh tubuh melalui makanan yang kita konsumsi.

Sehingga kesadaran tentang pentingnya vitamin, mineral dan air sangat penting di kembangkan dalam upaya meningkatkan kesadaran para ibu untuk memenuhi kebutuhan akan nutrisi-nutrisi penting, seperti vitamin, mineral, dan air untuk mendukung tumbuh kembang balitanya.

PEMENUHAN NIJTRISI (VITAMIN, MINERAL dan AIR) UNTUK TUMBUH KEMBANG BALITA Kebutuhan Gizi Balita

Status gizi balita merupakan hal penting yang harus diketahui oleh setiap orang tua. Perlunya perhatian lebih dalam tumbuh kembang di usia balita didasarkan fakta bahwa kurang gizi yang terjadi pada masa emas liii, bersifat irreversible (tidak dapat pulih).

Ditinjau dari tinggi badan, sebanyak 25,8 persen anak balita Indonesia pendek (SKRT 2004). Ukuran tubuh yang pendek ini merupakan tanda kurang gizi yang berkepanjangan. Lebih jauh, kekurangan gizi dapat mempengaruhi perkembangan otak anak. Padahal, otak tumbuh selama masa balita Fase cepat tumbuh otak berlangsung mulai dari janin usia 30 minggu sampai bayi 18 bulan.

Usia dibawah 5 tahun atau balita merupakan usia penting dalam pertumbuhan dan perkembangan fisik anak. Pada usia ini, anak masih rawan dengan berbagai gangguan kesehatan, baik jasmani maupun rohani. Secara psikologis, rentang usia ini sangat menentukan karakter anak. Jika anak sering diejek atau dicemooh, kemungkinan besar akan tumbuh menjadi anak yang tidak mempunyai kepercayaan diri. Anak yang selalu dimanja akan tumbuh menjadi anak yang selalu bergantung kepada orang lain. Demikian juga anak yang selalu ditekan dengan ancaman, anak akan tumbuh dengan ketakutan bahkan sampai depresi. Sebaliknya, anak yang dididik dengan pujian dan arahan yang benar, akan turnbuh menjadi anak yang percaya diri karena sejak kecil dia merasa dihargai oleh lingkungan terdekatnya, yaitu keluarga.

Salah satu faktor yang menentukan daya tahan tubuh seorang anak adalah keadaan gizinya. Pertumbuhan anak pada masa balita sangat pesat, sehingga membutuhkan zat gizi yang relatif lebih tinggi dari pada orang dewasa. Disisi lain, alat pencernaan usia ini belum berkeinbang sempurna. Selain itu, anak balita sangat rentan terhadap penyakit gigi sehingga menyulitkan makannya. Gigi susu telah lengkap pada umur 2-2,5 tahun, tetapi belum dapat di gunakan untuk mengerat dan mengunyah makanan yang keras. Karena itu, pengaturan makanan dan perencanaan menu harus hati-hati dan sesuai dengan kebutuhan kesehatannya.

 

Vitamin

a.Vitamin A (Retinol)

Merupakan vitamin yang berperan dalam pembentukkan indra penglihatan yang baik pada balita, dan sebagai salah satu komponen penyusun pigmen mata di retina. Selain itu, vitamin ini juga berperan penting dalam menjaga kesehatan kulit dan imunitas tubuh pada balita.

b.Vitamin B kompleks

Vitamin B kompleks merupakan salah satu unsur gizi penting bagi balita yang harus diperoleh dengan melalui asupan makanan. Vitamin B kompleks terdiri dan:

Vitamin B1 (Tiamin)

Vitamin B2 (Riboflavin).

Vitamin B3 (Niacin).

Vitamin B5 (Asam pantotenat).

Vitamin B6 (Piridoksin)

Vitamin B7 dikenal dengan vitamin H (Biotin).

Vitamin B9 Vitamin B12 (Sianokobalamin)

Masing-masing jenis vitamin ini sangat berperan penting untuk tumbuh kembang balita, dan akan semakin penting lagi apabila jenis-jenis vitamin ini saling bekerja sama membentuk vitamin B kompleks.

Vitamin B1 (Tiamin), Memiliki peranan penting dalam menjaga kesehatan kulit pada balita dan juga membantu proses metabolisme protein dan lemak.

Vitamin B2, Vitamin ini berperan dalam pembentukan molekul steroid, sel darah merah, dan glikogen, serta menyokong pertumbuhan berbagai organ tubuh pada balita, seperti kulit, rambut, dan kuku.

Vitamin B3, Vitamin ini berperan penting dalam metabolisme karbohidrat untuk menghasilkan energi, metabolisme lemak, dan protein. Vitamin ini juga membantu menetralisir berbagai jenis senyawa racun dalam tubuh.

Vitamin B5, Peranan vitamin ini pada balita adalah menjaga komunikasi yang baik antara sistem saraf pusat dan otak serta memproduksi senyawa asam lemak, sterol, neurotransmiter, dan hormon tubuh.

Vitamin B6, Vitamin ini berperan dalam metabolisme nutrisi dan memproduksi antibodi sebagai mekanisme pertahanan tubuh balita terhadap antigen atau senyawa asing yang berbahaya bagi tubuh.

Vitamin B7, dikenal dengan vitamin H (Biotin) Pada balita, biotin banyak berperan dalam metabolisme dan pertumbuhan tubuh, terutama dalam hal pembentukan asam lemak, antibodi, enzim pencernaan, dan niasin.

Vitamin B9, Sangat penting untuk berbagai fungsi tubuh mulai dari sintesis nukleotid ke remetilasi homocysteine. Vitamin ini terutama penting pada periode pembelahan dan pertumbuhan sel. Balita dan Anak-anak memerlukan Asam Folat untuk memproduksi sel darah merah dan mencegah anemia.

Vitamin B12, Pada balita, Vitamin ini banyak berperan dalam metabolisme energi di dalam tubuh. Vitamin B12 juga termasuk dalam salah satu jenis vitamin yang berperan dalam pemeliharaan kesehatan sel saraf, pembentukkan molekul DNA dan RNA, pembentukkan platelet darah.

Sumber vitamin B kompleks dapat di jumpai pada berbagai jenis makanan, seperti gandum, daging, susu, ragi, beras, kuning telur, sayur-sayuran segar, buah-buahan, ragi, ikan, kentang manis, hati, kacang-kacangan, jagung, pisang, bayam, lobak cina, sereal, biji bunga matahari.

       

c.Vitamin C (AsamAskorbat)

   

Vitamin C banyak memberikan manfaat bagi kesehátan tubuh balita. Diantaranya berperan sebagai senyawa pembentuk kolagen yang merupakan protein penting penyusun jaringan kulit, sendi, tulang, dan jaringan penyokong lainnya. Vitamin C juga merupakan senyawa antioksidan alami yang dapat menangkal berbagai radikal bebas dan polusi di sekitar lingkungan kita., dan memberikan perlindungan lebih dari infeksi mikroorganisme pathogen, serta menjaga kebugaran tubuh balita dan membantu mencegah berbagai jenis penyakit. Sumber vitamin C dapat ditemukan pada berbagai jenis makanan, seperti jeruk, tomat, nanas, sayur segar, dan lain sebagainya.

d.Vitamin D (Kalsjferoi).

Bagian tubuh balita yang paling banyak dipengaruhi oleh vitamin ini adalah tulang. Vitamin D ini dapat membantu metabolisme kalsium dan mineralisasi tulang. Sumber vitamin D dapat ditemukan pada minyak ikan, susu, telur, keju, dan lain-lain.

e.Vitamin E (Tokoferol)

Vitamin E berperan dalam menjaga kesehatan berbagai jaringan di dalam tubuh balita, mulai dari jaringan kulit, mata, sel darah merah hingga hati. Selain itu, vitamin ini juga dapat melindungi paru-paru balita dari polusi udara. Nilai kesehatan ini terkait dengan kerja vitamin E di dalam tubuh sebagai senyawa antioksidan alami. Sumber vitamin E dapat ditemukan pada ikan, ayam, kuning telur, kecambah, ragi, minyak tumbuh-tumbuhan, havermut, dsb.

f.Vitamin K (Filokuinona)

Vitamin K banyak berperan dalam pembentukan sistem peredaran darah yang baik pada balita dan pada saat proses penutupan luka. Sumber vitmin K adalah Susu, kuning telur, sayuran segar, dll.

 

Mineral

Sebagai salah satu zat gizi esensial, mineral mempengaruhi tumbuh kembang dan menjaga kesehatan balita. Tanpa mineral, maka karbohidrat, protein, vitamin dan teman-temannya nyaris tanpa guna. Seperti halnya vitamin, mineral diperlukan untuk menjalankan proses pertumbuhan dan perkembangan tubuh balita. Juga, diperlukan untuk menjaga kesehatannya, termasuk membentuk tulang yang kuat, memproduksi hormon dan mempertahankan denyut jantung. Dari sekian banyak zat mineral yang penting untuk anak dan balita, berikut di antaranya.

Kalsium (Ca)

Manfaat: untuk pertumbuhan tulang, gigi dan mencegah anak menderita kerapuhan tulang (osteoporosis) saat dewasa nanti. Selain itu, kalsium juga berperan dalam mengatur pembekuan darah dan kontraksi otot. Sumber: susu dan produk olahannya seperti keju, mentega, yoghurt dan es krim. Selain itu, juga ada pada tempe, tahu dan produk olahan kedelai, serta ikan salmon. Kebutuban: anak usia balita memerlukan sekitar 500 mg atau setara dengan 2-3 gelas susu per hari.

Zat Bei (Fe)

Manfaat: membantu pembentukan hemoglobin (zat warna dalam sel darah merah yang berfungsi mengangkut oksigen dari paru-paru ke seluruh tubuh), penting untuk pembentukan energi dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Sebenamya bayi lahir dengan persediaan zat besi alami yang membantu dalam proses tumbuh kembangnya. Tetapi, setelah berusia 6 bulan, persediaan ini mulai berkurang. Sumber: hati, daging sapi, kuning telur, buah-buahan, dan roti. Kebutuhan: balita sekitar 8-9 mg per hari.

Seng (Zn)

Manfaat: membantu proses pembentukan sel, dan membantu otak menghantarkan informasi genetik dalam sel. Seng juga bermanfaat dalam proses pertumbuhan, penyembuhan luka, dan meningkatkan daya tahan tubuh. Sumber: terkandung dalam bahan makanan tiram, daging sapi, hati, kacang-kacangan. Kebutuhan: anak balita memerlukan sekitar 8-10 mg per hari.

Yodium (I)

Manfaat: diperlukan untuk pembentukan hormon tiroksin yang diproduksi kelenjar tiroid. Hormon tiroksin dibutuhkan dalam proses pertumbuhan dan perkembangan, mengatur suhu tubuh, reproduksi, fungsi otot dan saraf. Selain itu, yodium juga berperan dalam pembentukan sel darah merah dan pembentukan protein. Sumber: yang utama ada pada makanan yang berasal dari laut, seperti udang, ikan, tiram, juga garam beryodium. Kebutuhan: bayi sampai balita memerlukan sekitar 50-90 mcg (mikrograni) per hari.

Magnesium (Mg)

Manfaat: berperanan penting dalam proses metabolisme energi. Selain itu magnesium berperan dalam transmisi saraf, termasuk di dalamnya mengatur fungsi vital tubuh seperti detak jantung, relaksasi otot, dan mencegah pembekuan darah. Di dalam tubuh, magnesium bekerja sama dengan kalsium dalam pembentukan tulang dan gigi. Sumber: kacang-kacangan, avokad, buncis, daging, susu dan cokelat. Kebutuhan: bayi membutuhkan sekitar 55 mg per hari, sedangkan balita sekitar 75-100 mg per hari.

Potasium/kalium (K)

Manfaat: antara lain untuk kontraksi otot, mengatur detak jantung, penghasil energi, serta sebagai bahan pembentuk materi genetik dan protein. Selain itu, potasium juga berfungsi mengatur keseimbangan muatan listrik dalam cairan tubuh yang bertugas menghantarkan rangsang dan satu sel saraf ke sel saraf yang lain. Sumber: terutama ada pada pisang, avokad, serta sayuran dan serealia. Kebutuhan: balita 400-1000 mg per hari. Selenium (Se) Manfaat: seperti vitamin C, E dan beta karoten, selenium juga berfungsi sebagai antioksidan. Sangat diperlukan dalam pembentukan enzim glutation peroksidase yang dikenal sebagai enzim yang ampuh untuk antioksidan. Selenium juga berfungsi mencegah kanker dan penyakit jantung koroner serta meningkatkan kemampuan tubuh untuk menangkal penyakit. Sumber: yang terbaik ada pada makanan hewani, termasuk ikan dan daging sapi, serta whole grain (biji-bijian). Kebutuhan: balita 20 -30 mcg per hari.

Mangan (Mn)

Manfaat: sebagai zat penghantar dalam proses metabolisme karbohidrat dan lemak. Juga, berperan dalam pembentukan jaringan ikat dan tulang. Sumber: gandum, buah-buahan seperti nanas, manisan buah, kacang-kacangan, padi-padian, bayam, dan kentang. Kebutuhan: balita sekitar 1,2-1,5 mg per hari.

Fosfor (P)

Manfaat: bersama-sama kalsium berfungsi dalam mencegah pengapuran tulang dan gigi. Selain itu, juga berfungsi mengatur pengalihan energi dalam metabolisme, dan mengatur keseimbangan asam basa cairan tubuh. Sumber: daging sapi, ikan dan unggas, telur, keju, susu, dan kacang-kacangan. Kebutuhan: balita sekitar 250-400 mg per hari.

Air

Air merupakan komponen utama dari semua struktur sel dan merupakan media kelangsungan proses metabolisme dan reaksi kimia didalam tubuh.

Kandungan air tubuh balita relatif lebih besar dibandingkan orang dewasa. Hal ini disebabkan oleh kurangnya jaringan lemak dan secara relatif organ visera lebih berat dibandingkan dengan berat tubuh seluruhnya.

Terdapat perbedaan fisiologis antara balita dengan orang dewasa dalam hal cairan dalam tubuh. Perbedaan tersebut mencakup perbedaan komposisi, metabolisme, dan derajat kematangan sistem pengaturan air dan elektrolit.

Metabolisme air juga sangat berbeda pada balita bila dibandingkan dengan anak-.anak yang lebih besar dan orang dewasa. Kecepatan sikius air pada balita sangat tinggi, sekitar 5 kali lebih besar per kilogram berat badan bila dibandingkan dengan orang dewasa. Oleh karena itu balita dan anak-anak cenderung rawan terhadap penyakit yang menimbulkan dehidrasi. Perbedaan lain adalah kematangan sistem pengaturan air dalam berbagai sistem atau organ tubuh, belum matangnya fungsi ginjal akan menyebabkan perbedaan komposisi plasma pada balita bila dibandingkan dengan anak yang lebih besar dan orang dewasa.

Kebutuhan air pada bayi dan balita biasanya dihitung berdasarkan perhitungan kalori, tetapi hal ini sering menyulitkan dan tidak pasti. Dalam klinik perhitugan kebutuhan air untuk anak biasanya didasarkan pada berat badan. Lazimnya digunakan 3 metode perhitungan kebutuhan air per hari, yaitu:

1.Kebutuhan air per hari berdasarkan rumus Darrow: Anak dengan berat badan 20 kg = 1.500 mL +20 mL untuk setiap kg kenaikan B di atas 20 kg. 2.Kebutuhan air per hari berdasarkan luas permukaan tubuh = 1.500 mL/m2 luas permukaan tubuh. 3.Kebutuhan air per hari berdasarkan jumlah cairan yang dikeluarkan tubuh = jumlah urin + insensible water loss. Berdasarkan pengalaman klinik, jumlah urine per hari sekitar 1.00mL/m2/hari dan insensible water loss kira-kira 500 mL/m2/hari. Kebutuhan air maksimum pada anak dengan berat badan ,10 kg sebesar 200mL/kgBB/hari dan pada anak dengan berat badan, 10 kg sebesar 4.000 mL/m2 luas permukaan tubuh/hari.

Beberapa Contoh Penyakit pada Balita Akibat Devisiensi Vitamin Mineral dan Air

a)Defisiensi vitamin A Di kalangan anak balita,

akibat kekuranagan Vitamin A (KVA) akan meningkatkan mortalitas dan morbiditas, sehingga anak mudah terkena penyakit infeksi seperti diare, radang paru-paru dan akhirnya kematian. Akibat lain yang berdampak serius dari KVA adalah buta senja dan manifestasi lain xeropthalmia termasuk kerusakan kornea (keratomalasia) dan kebutaan, karena keringnya permukaan bola mata.

  

b) Defisiensi Vitamin B12

Kekurangan Vitamin B12 (cobalamin) menyebabkan kerusakan saraf anemia megaloblastik, dan gangguan fungsi kekebalan tubuh sehingga pada akhirnya akan mengalami gangguan kesehatan lainnya. Jika terjadi pada bayi dan anak-anak maka akan sangat menghambat perkembangan mereka.

c) Devisiensi vitamin D

Penyakit yang ditimbulkan akibat kekurangan vitamin D: Tubuh akan mengalami pertumbuhan kaki yang tidak normal, dimana betis kaki akan membentuk huruf O dan X, gigi akan mudah mengalami kerusakan dan otot pun akan mengalami kekejangan.

Penelitian juga menunjukkan, bahwa anak yang mengalami devisiensi vitamin D 2,3 kali lebih tinggi risikonya menderita alergi dari kulit pohon oak dan 2,4 kali lebih tinggi mendenita alergi kacang. Mereka juga lebih rentan pada beberapa jenis alergen, seperti ilalang, anjing, kecoa, udang, dan debu.

d) Anemia Defisiensi Besi (ADB)

Anemia Defisiensi Besi (ADB) adalah anemia akibat kekurangan zat besi untuk sintesis hemoglobin dan merupakan devisiensi nutrisi yang paling banyak pada anak dan menyebabkan masalah kesehatan yang paling besar di seluruh dunia terutama di negara sedang berkembang termasuk Indonesia. Dari hasil SKRT 1992 diperoleh prevalensi ADB pada anak balita di Indonesia adalah 55,5%. Komplikasi ADB akibat jumlah total besi tubuh yang rendah dan gangguan pembentukan hemoglobin (Hb) dihubungkan dengan fungsi kognitif, perubahan tingkah laku, tumbuh kembang yang terlambat dan gangguan fungsi imun pada anak. Prevalensi tertinggi ditemukan pada akhir masa bayi, awal masa anak-anak (balita), karena adanya percepatan tumbuh pada masa tersebut disertai asupan besi yang rendah, penggunaan susu sapi dengan kadar besi yang kurang. Gejala klinis ADB sering terjadi perlahan dan tidak begitu diperhatikan oleh para orang tua. Bila kadar Hb < 5g/dl ditemukan gejala iritabel dan anoreksia, seperti: Pucat ditemukan bila kadar Hb <7 g/dl Tanpa Organomegali Gangguan pertumbuhan Rentan terhadap infeksi Dapat ditemukan koilonika (kuku sendok), atrofi glositis (lidah halus), angular cheilitis (ulkus di sudut mulut), takikardi (jantung berdebar debar), gagal jantung.  

Angular cheilitis (ulkus sudut mulut)                Atrofi glositis (Lidah halus)

e) Defisiensi Zinc (Seng).

Gejala akibat kekurangan zinc pada balita diantaranya adalah gangguan pertumbuhan, diare, gangguan mental, dan terjadinya infeksi yang berulang. Gejala akibat kekurangan zinc path balita diantaranya adalah gangguan pertumbuhan, diare, gangguan mental, clan terjadinya infeksi yang berulang.

f) Dehidrasi

Dibandingkan orang dewasa, bayi dan balita lebih rentan mengalami dehidrasi atau kekurangan cairan. Jika tidak mendapatkan penanganan yang cepat dan tepat anak yang mengalami dehidrasi akan mengalami berbagai kerusakan organ tubuh serta mengalami syok yang dapat berujung pada kematian.Dehidrasi pada balita dapat sebabkan oleh beberapa faktor seperti diare, pneumonia atau radang paru-paru, dan bisa juga diakibatkan karena kurang makan dan minum.

 

KESIMPULAN

Status gizi balita merupakan hal penting yang harus diketahui oleh setiap orang tua. Perlunya perhatian lebih dalam tumbuh kembang di usia balita didasarkan fakta bahwa kurang gizi yang terjadi pada masa emas ini, bersifat irreversible (tidak dapat pulih). Setiap orang tua tentunya menginginkan anaknya menjadi generasi yang cerdas, sehat dan kuat. Karenanya, memberikan yang terbaik untuk anak adalah suatu keniscayaan. Untuk itu orang tua harus memahami tumbuh kembang tubuh dan otak anaknya, terutama pada masa balita. Beberapa upaya yang dapat dilakukan oleh para orang tua untuk memenuhi kebutuhan nutrisi (vitamin, mineral, dan air) pada balitanya: 1.Mengajarkan pola makan yang benar mulai sejak dini. 2.Memenuhi nutrisi yang dibutuhkan untuk mendukung tumbuh kembang balita, seperti vitamin, mineral dan air dalam komposisi yang seimbang. 3.Membiasakan mengkonsumsi buah dan sayur pada balita. 4.Memenuhi kebutuhan air dalam tubuh balita dengan membiasakan minum cukup air setiap harinya. 5.Memberikan multivitamin sebagai sumber tambahan vitamin pada balita.

 

DAFTAR PUSTAKA

Anonymous, 2009. Kebutuhan Mineral pada balita. http://www.gomedicastore.com/artikel mothers and baby. Di akses 3 Juni 2011 Anonymous, 2009. Dehidrasi pada balita. http://www.wordpress.com. Diakses I mei 2011 Anonymous, 2010. Kebutuhan Vitamin dan Mineral pada Balita. http://www.google.com/Gizi-seimbang-bagi-perkembangan-balita.html. Di akses 20 Mel 2011 Anonymous, 2010. Makanan Pelindung Vitamin dan Mineral. http.//wordpress.com. Di akses 20 Mel 2011 Anonymous, 2010. Penyakit dan Kecacatan. http://www.google.com/Akibat Kekurangan Nutrisi pada anak. Di akses 3 Juni 2011. Champbal, Neil, A. 2003. Biologi. Erlangga: Jakarta. Khomsan Ali, 2004. Peranan Pangan dan Gizi untuk Kualitas Hidup. Grasindo: Jakarta.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: