PEMBELAJARAN AKTIF, INOVATIF KREATIF DAN EFEKTIF

PEMBELAJARAN AKTIF, INOVATIF KREATIF DAN EFEKTIF

Moh Ridwan Derwotubun, Dr. H. Agus Krisno B, M.Kes

Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Muhammadiyah Malang

Jl. Tlogomas 246 Malang Telp 464318

 

ABSTRAK

Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif dan Efektif dapat didefinisikan sebagai: pendekatan mengajar (approach to teaching) yang digunakan bersama metode tertentu dan pelbagai media pengajaran yang disertai penataan lingkungan sedemikian rupa agar proses pembelajaran menjadi aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan. Dengan demikian, para siswa merasa tertarik dan mudah menyerap pengetahuan dan keterampilan yang diajarkan. Selain itu, juga memungkinkan siwa melakukan kegiatan yang beragam untuk mengembangkan sikap, pemahaman, dan keterampilannya sendiri dalam arti tidak semata-mata “disuapi” guru. Di antara metode-metode mengajar yang amat mungkin digunakan untuk mengimplementasikan Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif dan Efektif, ialah: metode ceramah plus, metode diskusi, metode demonstrasi, metode role-play, dan metode simulasi.

Keyword : Pembelajaran, Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif.

 


PENDAHULUAN

Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif dan Efektif dikembangkan berdasarkan beberapa perubahan atau peralihan:

  1. Peralihan dari belajar perorangan (individual learning) ke belajar bersama  (cooperative learning).                                                                                                                                                                                                                                                                                        
  2. Peralihan dari belajar dengan cara menghafal (rote learning) ke belajar untuk memahami (learning for understanding).                                                                                                                                                                     
  3. Peralihan dari teori pemindahan pengetahuan  (knowledge-transmitted) ke bentuk interaktif, keterampilan proses dan pemecahan masalah.
  4. Peralihan paradigma dari guru mengajar  ke siswa belajar.
  5. Beralihnya bentuk evaluasi tradisional ke bentuk authentic assessment seperti portofolio, proyek, laporan siswa, atau penampilan siswa (Shadiq dalam Setiawan, 2004).

Dasar peralihan tersebut di atas sesuai dengan  PP No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, Pasal 19, ayat (1) yang berbunyi:

“Proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, dan memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreatifitas dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik”.

Penjabaran Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif Dan Efektif

  1. 1.      Pembelajaran Aktif

Secara harfiah active artinya: ”in the habit of doing things, energetic” (Hornby, 1994:12), artinya terbiasa berbuat segala hal dengan menggunakan segala daya.  Pembelajaran yang aktif berarti pembelajaran yang memerlukan keaktifan  semua siswa dan guru secara fisik, mental, emosional, bahkan moral dan spiritual. Guru harus menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga siswa aktif bertanya, membangun gagasan, dan melakukan kegiatan yang dapat memberikan pengalaman langsung, sehingga belajar merupakan proses aktif siswa dalam membangun pengetahuannya sendiri. Dengan demikian, siswa didorong untuk  bertanggung jawab terhaap proses belajarnya sendiri.

Menurut Taslimuharrom (2008)  sebuah proses belajar dikatakan aktif (active learning) apabila mengandung:

  1. Keterlekatan pada tugas (Commitment)
  2. Tanggung jawab (Responsibility)
  3. Motivasi (Motivation)
  4. 2.      Pembelajaran Inovatif

McLeod (1989:520) mengartikan inovasi sebagai: “something newly introduced such as method or device”.  Berdasarkan takrif ini, segala aspek (metode, bahan, perangkat dan sebagainya) dipandang baru atau bersifat inovatif apabila metode dan sebagainya itu berbeda atau belum dilaksanakan oleh seorang guru meskipun semua itu bukan barang baru bagi guru lain.

Pembelajaran inovatif  dapat  menyeimbangkan fungsi otak kiri dan kanan apabila dilakukan dengan cara mengintegrasikan media/alat bantu terutama yang berbasis teknologi baru/maju ke dalam proses pembelajaran tersebut. Sehingga, terjadi proses renovasi mental, di antaranya membangun rasa pecaya diri siswa. Penggunaan bahan pelajaran, software multimedia, dan microsoft power point merupakan salah satu alternatif.

Membangun pembelajaran inovatif bisa dilakukan dengan cara-cara yang di antaranya menampung setiap karakteristik siswa dan mengukur kemampuan/daya serap setiap siswa. Sebagian siswa ada yang berkemampuan dalam menyerap ilmu dan keterampilan dengan menggunakan daya visual (penglihatan) dan auditory (pendengaran), sedang sebagian lainnya menyerap ilmu dan keterampilan secara kinestetik (rangsangan atau gerakan otot dan raga). Dalam hal ini, penggunaan alat/perlengkapan (tools) dan metode yang relevan dan alat bantu langsung dalam proses pembelajaran merupakan kebutuhan dalam membangun proses pembelajaran inovatif.

Selain itu, dalam menerapkan  pembelajaran yang inovatif diperlukan adanya beraneka ragam strategi pembelajaran yang dapat diterapkan dalam berbagai bidang studi.

  1. 3.      Pembelajaran Kreatif

            Kreatif (creative) berarti menggunakan hasil ciptaan / kreasi baru atau yang berbeda dengan sebelumnya. Pembelajaran yang kreatif mengandung makna tidak sekedar melaksanakan dan menerapkan kurikulum. Kurikulum memang merupakan dokumen dan rencana baku, namun tetap perlu dikritisi dan dikembangkan secara kreatif. Dengan demikian, ada kreativitas pengembangan kompetensi dan kreativitas dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas termasuk pemanfaatan lingkungan sebagai sumber bahan dan sarana untuk belajar. Pembelajaran kreatif juga dimaksudkan agar guru menciptakan kegiatan belajar yang beragam sehingga memenuhi berbagai tingkat kemampuan siswa dan tipe serta gaya belajar siswa.

  1. 4.      Pembelajaran Efektif

Pembelajaran dapat dikatakan efektif (effective / berhasil guna) jika mencapai sasaran atau minimal mencapai kompetensi dasar yang telah ditetapkan. Di samping itu, yang juga penting adalah banyaknya pengalaman dan hal baru yang  “didapat“ siswa. Guru pun diharapkan memeroleh “pengalaman baru” sebagai hasil interaksi dua arah dengan siswanya.

Untuk mengetahui keefektifan sebuah proses pembelajaran, maka pada setiap akhir pembelajaran perlu dilakukan evaluasi. Evaluasi yang dimaksud di sini bukan sekedar tes untuk siswa, tetapi semacam refleksi, perenungan yang dilakukan oleh guru dan siswa, serta didukung oleh data catatan guru. Hal ini sejalan dengan kebijakan penilian berbasis kelas atau penilaian authentic yang lebih menekankan pada penilaian proses selain penilaian hasil belajar (Warta MBS UNICEF : 2006).

Hal-Hal Yang Harus Diperhatikan Dalam Implementasi Pendekatan Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif Dan Efektif

Dalam rangka melaksanakan pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, dan efektif, guru perlu memperhatikan beberapa hal sebagai berikut:

  1. 1.      Memahami sifat yang dimiliki siswa

Pada dasarnya anak memiliki imajinasi dan sifat ingin tahu. Semua anak terlahir dengan membawa dua potensi ini. Keduanya merupakan modal dasar bagi berkembangnya sikap/pikiran kritis dan kreatif. Oleh karenanya, kegiatan pembelajaran perlu dijadikan lahan yang kita olah agar menjadi tempat yang subur bagi perkembangan kedua potensi anugerah Tuhan itu. Suasana pembelajaran yang diiringi dengan pujian guru terhadap hasil karya siswa, yang disertai pertanyaan guru yang menantang dan dorongan agar siswa melakukan percobaan, misalnya, merupakan pembelajaran yang baik untuk mengembangkan potensi siswa.

  1. 2.      Memahami perkembangan kecerdasan siswa

Menurut Jean Piaget dalam Syah  (2008:29-33), perkembangan kecerdasan akal atau perkembangan kognitif manusia berlangsung dalam empat tahap, yakni: Sensory-motor (Sensori-motor/0-2 tahun) Pre-operational (Pra-operasional / 2-7 tahun) Concrete-operational (Konkret-operasional / 7-11tahun) Formal-operational (Formal- operasional / 11 tahun ke atas). Selama kurun waktu pendidikan dasar dan menengah, siswa mengalami tahap Concrete-operational dan Formal-operational.

Dalam periode konkret-operasional yang berlangsung hingga usia menjelang remaja, anak memeroleh tambahan kemampuan yang disebut system of operations (satuan langkah berpikir). Kemampuan satuan langkah berpikir ini berfaedah bagi anak untuk mengkoordinasikan pemikiran dan idenya dengan peristiwa tertentu ke dalam sistem pemikirannya sendiri.

Selanjutnya, dalam perkembangan kognitif tahap Formal-operational seorang remaja telah memiliki kemampuan mengkoordinasikan baik secara serentak maupun berurutan dua ragam kemampuan kognitif, yakni: 1) kapasitas menggunakan hipotesis, 2) kapasitas menggunakan prinsip-prinsip abstrak. Dengan kapasitas menggunakan hipotesis (anggapan dasar), seorang  remaja akan mampu berpikir hipotetis, yakni berpikir mengenai sesuatu khususnya dalam hal pemecahan masalah dengan menggunakan anggapan dasar yang relevan dengan lingkungan yang ia respons. Selanjutnya, dengan kapasitas menggunakan prinsip-prinsip abstrak, remaja tersebut akan mampu mempelajari materi-materi pelajaran yang abstrak, misalnya ilmu tauhid, ilmu matematika dan ilmu-ilmu abstrak lainnya dengan luas dan mendalam.

Sebagai bukti bahwa seorang remaja pelajar telah memiliki kedewasaan berpikir, dapat dicontohkan ketika ia menggunakan pikiran hipotesisnya sewaktu mendengar pernyataan seorang kawannya, seperti: “Kemarin seorang penggali peninggalan purbakala menemukan kerangka manusia berkepala domba dan berkaki empat yang telah berusia sejuta tahun”. Apa yang salah dalam pernyataan ini? Remaja pelajar tadi, setelah berpikir sejenak dengan serta-merta berkomentar: “Omong kosong!” Ungkapan “omong kosong” ini merupakan hasil berpikir hipotetis remaja pelajar tersebut, karena mustahil ada manusia berkepala domba dan berkaki empat betapapun tuanya umur kerangka yang ditemukan penggali benda purbakala itu (Syah, 2008: 33).

  1. 3.      Mengenal siswa secara perorangan

Para siswa berasal dari lingkungan keluarga yang bervariasi dan memiliki kemampuan yang berbeda. Dalam Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif Dan Efektif perbedaan individual perlu diperhatikan dan harus tecermin dalam kegiatan pembelajaran. Semua siswa dalam kelas tidak selalu mengerjakan kegiatan yang sama, melainkan berbeda sesuai dengan kecepatan belajarnya. Siswa yang memiliki kemampuan lebih dapat dimanfaatkan untuk membantu temannya yang lemah dengan cara ”tutor sebaya”. Dengan mengenal kemampuan siswa, apabila ia mendapat kesulitan kita dapat membantunya sehingga belajar siswa tersebut menjadi optimal.

  1. 4.      Memanfaatkan perilaku siswa dalam  pengorganisasian belajar

Sebagai makhluk sosial, anak sejak kecil secara alami bermain berpasangan atau berkelompok dalam bermain. Perilaku ini dapat dimanfaatkan dalam pengorganisasian belajar. Dalam melakukan tugas atau membahas sesuatu, siswa dapat bekerja berpasangan atau dalam kelompok. Berdasarkan pengalaman, siswa akan menyelesaikan tugas dengan baik apabila mereka duduk berkelompok. Duduk seperti ini memudahkan mereka untuk berinteraksi dan bertukar pikiran. Namun demikian, siswa perlu juga menyelesaikan tugas secara perorangan agar bakat individunya berkembang.

  1. 5.      Mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan kemampuan  memecahkan masalah

Pada dasarnya belajar yang baik adalah memecahkan masalah karena dalam belajar sesungguhnya kita menghadapkan siswa pada masalah. Hal ini memerlukan kemampuan berpikir kritis dan kreatif. Kritis untuk menganalisis masalah dan kreatif untuk melahirkan alternatif pemecahan masalah. Berpikir kritis dan kreatif berasal dari rasa ingin tahu dan imajinasi yang keduanya ada pada diri anak sejak lahir. Oleh karena itu, tugas guru adalah mengembangkannya, antara lain dengan sering memberikan tugas atau mengajukan pertanyaan terbuka dan memungkinkan siswa berpikir mencari alasan dan membuat analisis yang kritis. Pertanyaan dengan kata-kata ”Mengapa?”, ”Bagaimana kalau…” dan “Apa yang terjadi jika…” lebih baik daripada pertanyaan dengan kata-kata yang hanya berbunyi “Apa?”, ”Di mana?”.

  1. 6.      Mengembangkan ruang kelas sebagai  lingkungan belajar  yang menarik

Ruang kelas yang menarik merupakan hal yang sangat disarankan dalam Pembelajaran. Hasil pekerjaan siswa sebaiknya dipajangkan untuk memenuhi ruang kelas. Selain itu, hasil pekerjaan yang dipajangkan diharapkan memotivasi siswa untuk bekerja lebih baik dan menimbulkan inspirasi bagi siswa lain. Materi yang dipajangkan dapat berupa hasil kerja perorangan, pasangan, atau kelompok. Pajangan dapat berupa gambar, peta, diagram, model, benda asli, puisi, karangan, dan sebagainya. Ruang kelas yang penuh dengan pajangan hasil pekerjaan siswa, dan ditata dengan baik, dapat membantu guru dalam kegiatan pembelajaran karena dapat dijadikan rujukan ketika membahas sebuah masalah.

  1. 7.      Memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar

Lingkungan (fisik, sosial, dan budaya) merupakan sumber yang sarat dengan bahan belajar siswa. Lingkungan dapat berperan sebagai media belajar dan objek kajian (sumber belajar). Penggunaan lingkungan sebagai sumber belajar sering membuat siswa merasa senang dalam belajar. Belajar dengan menggunakan lingkungan tidak selalu harus di luar kelas. Bahan dari lingkungan dapat dibawa ke ruang kelas untuk menghemat biaya dan waktu. Pemanfaatan lingkungan dapat mengembangkan sejumlah keterampilan seperti mengamati (dengan seluruh indera), mencatat, merumuskan pertanyaan, berhipotesis, mengklasifikasi, membuat tulisan, dan membuat gambar / diagram.

  1. 8.      Memberikan umpan balik yang baik untuk meningkatkan  kegiatan belajar

Mutu hasil belajar akan meningkat apabila terjadi interaksi dalam belajar. Pemberian umpan balik (feedback) dari guru kepada siswa merupakan salah satu bentuk interaksi antara guru dan siswa. Umpan balik hendaknya lebih banyak mengungkapkan kekuatan daripada kelemahan siswa. Selain itu, cara memberikan umpan balik pun harus secara santun. Hal ini dimaksudkan agar siswa lebih percaya diri dalam menghadapi tugas-tugas belajar selanjutnya. Guru harus konsisten memeriksa hasil pekerjaan siswa dan memberikan komentar dan catatan. Catatan guru berkaitan dengan pekerjaan siswa lebih bermakna bagi pengembangan diri siswa daripada hanya sekedar angka.

  1. 9.      Membedakan antara aktif fisik dengan aktif mental

Banyak guru yang cepat merasa puas saat menyaksikan para siswa sibuk bekerja dan bergerak, apalagi jika bangku diatur berkelompok dan para siswa duduk berhadapan. Situasi yang mencerminkan aktifitas fisik seperti ini bukan ciri berlangsungnya pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, dan efektif yang sebenarnya, karena aktif secara mental (mentally active) lebih berarti daripada aktif secara fisik (phisically active). Sering bertanya, mempertanyakan gagasan orang lain, dan mengungkapkan gagasan merupakan tanda-tanda aktif secara mental. Syarat berkembangnya aktif  mental adalah tumbuhnya perasaan tidak takut, seperti: takut ditertawakan, takut disepelekan, dan takut dimarahi jika salah. Oleh karena itu, guru hendaknya menghilangkan penyebab rasa takut tersebut, baik yang muncul dari temannya maupun dari guru itu sendiri. Berkembangnya rasa takut sangat bertentangan dengan prinsip pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, dan efektif.

Perencanaan Proses Pembelajaran

            Perencanaan proses pembelajaran meliputi silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang memuat identitas mata pelajaran, standar kompetensi (SK), kompetensi dasar (KD), indikator pencapaian kompetensi, tujuan pembelajaran, materi ajar, alokasi waktu, metode pembelajaran, kegiatan pembelajaran, penilaian hasil belajar, dan sumber belajar.

a.  Silabus

Silabus sebagai acuan untuk pengembangan RPP memuat identitas mata pelajaran atau tema pelajaran, SK, KD, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar. Silabus dikembangkan oleh satuan pendidikan berdasarkan Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL), serta panduan penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Dalam pelaksanaannya, pengembangan silabus dapat dilakukan oleh para guru secara mandiri atau berkelompok dalam sebuah sekolah/ madrasah atau beberapa sekolah, kelompok Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) atau Pusat Kegiatan Guru (PKG), dan Dinas Pendidikan. Pengembangan silabus disusun di bawah supervisi dinas kabupaten/kota yang bertanggung jawab di bidang pendidikan untuk SD dan SMP, dan dinas provinsi yang bertanggung jawab di bidang pendidikan untuk SMA dan SMK, serta departemen yang menangani urusan pemerintahan di bidang agama untuk Ml, MTs, MA, dan MAK.

b.  Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

RPP dijabarkan dari silabus untuk mengarahkan kegiatan belajar peserta didik dalam upaya mencapai KD. Setiap guru pada satuan pendidikan berkewajiban menyusun RPP secara lengkap dan sistematis agar pembelajaran berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.

RPP disusun untuk setiap KD yang dapat dilaksanakan dalam satu kali pertemuan atau lebih. Guru merancang penggalan RPP untuk setiap pertemuan yang disesuaikan dengan penjadwalan di satuan pendidikan.

c. Persiapan pra Pembelajaran yang dilakukan guru:

  1. Pengelolaan kelas; mengatur tata letak kelas yang sesuai kebutuhan .  Contoh apabila kegiatan pembelajaran adalah kerja kelompok, tentunya tata letak ruang kelas tradisional ( meja dan kursi berderet ke belakang) kurang cocok digunakan untuk kegiatan ini.
  2. Menyediakan papan display sebagai tempat memajang hasil karya siswa.
  3. Melengkapi pojok baca dengan berbagai sumber belajar yang dibutuhkan siswa terutama yang berhubungan dengan materi pembelajaran. Sumber belajar itu dapat berupa ensiklopedia, artikel koran/majalah, artikel di wikipedia, gambar dsb. Penyediaan sumber belajar ini dimaksudkan agar siswa secara aktif dan kreatif menggali informasi secara mandiri , mengolah data kemudian menyuguhkannya ke dalambentuk informasi sebagai sebuah hasil karya siswa
  4. membaca buku-buku referensi yang mendukung  proses pembelajaran. Contoh dalam RPP , guru hendak mencoba keberhasilan teknik mind mapping dalam meningkatkan kemampuan menulis siswa–> guru membaca buku mind map (Tony Buzan) yang mengupas teknik ini.
  5. Mencari ide- ide  atau menciptakan sendiri energizer, ice breaker atau appersepsi yang dapat menyulut energi belajar siswa. Contoh menciptakan lagu kelas, tepuk berirama tertentu, menyanyikan lagu yang ada hubungannya dengan bahan ajar dst

Pelaksanaan Proses Pembelajaran

            Dalam penyusunan RPP banyak teman-teman mengalami kesulitan khususnya menentukan langkah-langkah dalam pelaksanaan pembelajaran, terkhusus lagi pada kegiatan intinya, apalagi sekarang ada suatu kewajiban dimana kegiatan inti tersebut harus kegiatan inti yang Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif dan Efektif. Berikut ini kami cuplik-kan point-point dalam pembelajaran Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif dan Efektif

  1. 1.      Kegiatan pendahuluan.

 Dalam kegiatan pendahuluan, guru;

a. Menyiapkan siswa secara psikis dan fisik untuk mengikuti proses pembelajaran.

b. Mengajukan pertanyaan yang mengaitkan pengetahuan sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari.

c. Menjelaskan tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar yang akan dicapai.

d. Menyampaikan cakupan materi dan penjelasan uraian kegiatan sesuai dengan silabus.

  1. 2.      Kegiatan inti (eksplorasi, elaborasi dan konfirmasi).
  2. a.      Eksplorasi

Dalam kegiatan eksplorasi, guru:

a. Melibatkan siswa mencari informasi yang luas dan dalam tentang topik/tema materi yang akan dipelajari dengan menerapkan prinsip alam takambang jadi guru dan belajar dari aneka sumber.

b. Menggunakan beragam pendekatan pembelajaran, media pembelajaran dan sumber belajar lain.

c. Memfasilitasi terjadinya interaksi antarsiswa serta antara siswa dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya.

d. Melibatkan siswa secara aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran, dan

e. Memfasilitasi siswa melakukan percobaan di laboratorium, studio atau lapangan.

  1. b.      Elaborasi

Dalam kegiatan elaborasi, guru:

a. Membiasakan siswa membaca dan menulis yang beragam melalui tugas-tugas tertentu yang bermakna.

b. Memfasilitasi siswa melalui pemberian tugas, diskusi dan lain-lain untuk memunculkan gagasan baru baik secara lisan maupun tertulis.

c. Memberi kesempatan untuk berpikir menganalisis menyelesaikan masalah dan bertindak tanpa rasa takut.

d. Memfasilitasi siswa dalam pembelajaran kooperatif dan kolaboratif.

e. Memfasilitasi siswa berkompetisi secara sehat untuk meningkatkan prestasi belajar.

f. Memfasilitasi siswa membuat laporan eksplorasi yang dilakukan baik lisan maupun tertulis secara individual maupun kelompok.

g. Memfasilitasi siswa untuk menyajikan hasil kerja secara individual maupun kelompok.

h. Memfasilitasi siswa melakukan pameran, turnamen, festival, serta produk yang dihasilkan.

i. Memfasilitasi siswa melakukan kegiatan yang menumbuhkan kebanggaan dan rasa percaya diri siswa.

  1. c.       Konfirmasi

Dalam kegiatan konfirmasi, guru:

a. Memberikan umpan balik positif dan penguatan dalam bentuk lisan, tulisan, isyarat, maupun hadiah terhadap keberhasilan siswa.

b. Memberikan konfirmasi terhadap hasil eksplorasi dan elaborasi siswa melalui berbagai sumber.

c. Memfasilitasi siswa melakukan refleksi untuk memperoleh pengalaman belajar yang telah dilakukan.

d. Memfasilitasi siswa untuk memperoleh pengalaman yang bermakna dalam mencapai kompetensi dasar:

(1) Berfungsi sebagai narasumber dan fasilitator dalam menjawab pertanyaan siswa yang menghadapi kesulitan, dengan menggunakan bahasa yang baku dan benar.

(2) dapat Membantu menyelesaikan masalah siswa dapat melakukan pengecekan hasil eksplorasi.

(3) Memberi informasi untuk bereksplorasi lebih jauh, dan

(4) Memberikan motivasi kepada siswa yang kurang atau belum berpartisipasi aktif.

  1. 3.      Kegiatan Penutup

Dalam kegiatan penutup, guru:

a. Bersama-sama dengan siswa dan/atau sendiri membuat rangkuman/simpulan pelajaran.

b. Melakukan penilaian dan/atau refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan secara konsisten dan terprogram.

c. Memberikan umpan balik terhadap proses hasil pembelajaran.

d. Merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran remedi, program pengayaan, layanan konseling dan/atau memberikan tugas baik tugas individual maupun kelompok sesuai dengan hasil belajar siswa.

e. Menyampaikan rencana pembelajaran pada pertemuan berikutnya

Pelaksanaan Tes Individu

Setelah materi dipelajari dan dibahas secara kelom- pok, siswa diberi tes dengan tujuan untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan belajar yang telah dicapainya. Siswa bekerja sendiri dalam tes, tidak diperkenankan bekerja sama

a. Perhitungan Skor Perkembangan Individu

Tahap ini dilakukan di luar jam pelajaran. Dalam tahap ini diperlukan adanya skor awal siswa (skor yang akan dijadikan acuan pada penentuan kemampuan akademis). Skor awal ini dapat berupa nilai yang diperoleh dari pemberian tes terlebih dahulu, misalnya berupa tes pemahaman (materi yang sudah dipelajari sebelumnya).

Penilaian kelompok berdasarkan skor perkembangan individu, sedangkan skor perkembangan tersebut tidak didasarkan pada skor mutlak siswa, tetapi berdasarkan pada seberapa jauh skor itu melampaui rata-rata skor sebelumnya. Setiap siswa dapat memberikan kontribusi poin maksimum pada kelompoknya dalam sistem skor kelompok. Siswa memperoleh skor untuk kelompoknya didasarkan pada skor kuis mereka melampaui skor awal  mereka.

Skor perkembangan individu dihitung berdasarkan selisih perolehan skor awal dengan skor tes individu (tes akhir/quiz). Berdasarkan skor awal setiap siswa memiliki kesempatan yang sama untuk memberikan sumbangan terhadap skor maksimal bagi kelompoknya. Selanjutnya pemberian skor perkembangan individu tersaji pada Tabel 1.

Tabel Pemberian Skor Perkembangan Individu

(Slavin, 1995:80)

Skor Tes Individu (Quiz)

Nilai Perkembangan

1. Lebih dari 10 poin (> 10) di bawah skor awal

2. 10 poin hingga 1 poin (10-1) di bawah skor awal

3. Skor awal sampai 10 poin (=10) di atasnya

4. Lebih dari 10 poin (> 10) di atas skor awal

5

10

20

30

 

b. Penghargaan Kelompok

Langkah ini dimaksudkan untuk memberikan penghargaan kepada kelompok yang berhasil memperoleh kenaikan skor dalam tes individu.  Kenaikan skor dihitung dari selisih antara skor dasar dengan skor tes individual. Menghitung skor yang didapat masing-masing kelompok dengan cara menjumlahkan skor yang didapat siswa di
dalam kelompok tersebut kemudian dihitung rata-ratanya. Selanjutnya berdasarkan skor rata-rata tersebut ditentukan penghargaan masing-masing kelompok.

Berdasarkan rata-rata nilai perkembangan yang diperoleh, ditetapkan tiga peringkat penghargaan kelompok, yaitu:

a)      Kelompok dengan rata-rata skor 15, diberi penghargaan sebagai kelompok Good Team ;

b)      Kelompok dengan rata-rata skor 20, diberi penghargaan sebagai kelompok Great Team;

c)      Kelompok dengan rata-rata skor 25, diberi penghargaan sebagai kelompok Super Team.

Jika x menyatakan rata-rata skor kelompok maka  x  15

Dari klasifikasi penghargaan tersebut, terlihat bahwa Super Team akan diberikan kepada kelompok yang meraih nilai tertinggi.

Penghargaan tersebut diberikan guru pada pertemuan berikutnya (di awal pertemuan), penghargaan dalam bentuk sertifikat, buku atau alat-alat tulis lainnya yang disediakan pihak sekolah. Uraian rinci mengenai perhitungan skor kelompok didasarkan pada nilai tiap skor perkembangan individu,  tersaji pada Tabel 2.

Tabel Perhitungan Skor Kelompok

Nama Kel

Nama Siswa/

Peringkat

Skor Awal

Skor (Quiz)

Nilai Perkembangan Individu

Skor Kelompok

Penghargaan

Kelompok

A

A-1  / 1

A-2 / 16

A-3 / 17

A-4 / 32

87

73

65

49

 

83

75

67

55

10

20

20

20

70/4=17,5

Good Team

B

   B-1  / 2

B-2 / 15

B-3 / 18

B-4 / 31

83

71

63

52

84

74

66

65

20

20

20

30

90/4=22,5

Great Team

C

C-1  / 3

C-2 / 17

C-3  /19

C-4 / 33

82

70

62

47

89

81

70

60

20

30

20

30

100/4=25

Super Team

 

Anggota kelompok pada periode tertentu dapat diputar, sehingga dalam satu satuan waktu pembelajaran anggota kelompok dapat diputar 2-3 kali putaran. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan dinamika kelompok di antara anggota kelompok dalam kelompok tersebut. Di akhir tatap muka guru memberikan kesimpulan terhadap materi yang telah dibahas pada pertemuan itu, sehingga terdapat kesamaan pemahaman pada semua siswa.

Kesimpulan

   Mengapa pendekatan Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif dan Efektif perlu diterapkan? Sekurang-kurangnya ada dua alasan perlunya pendekatan Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif dan Efektif diterapkan di sekolah/madrasah kita, yakni:

a. Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif dan Efektif lebih memungkinkan perserta didik dan guru sama-sama aktif terlibat dalam pembelajaran. Selama ini kita lebih banyak mengenal pendekatan pembelajaran konvensional. Hanya guru yang aktif (monologis), sementara para siswanya pasif, sehingga pembelajaran menjemukan, tidak menarik, tidak menyenangkan, bahkan kadang-kadang menakutkan siswa.

b. Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif dan Efektif lebih memungkinkan guru dan siswa berbuat kreatif bersama. Guru mengupayakan segala cara secara kreatif untuk melibatkan semua siswa dalam proses pembelajaran. Sementara itu, peserta didik juga didorong agar  kreatif dalam berinteraksi dengan sesama teman, guru, materi pelajaran dan segala alat bantu belajar, sehingga hasil pembelajaran dapat meningkat.

Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif dan Efektif Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif dan Efektif dilandasi oleh falsafah konstruktivisme yang menekankan agar peserta didik mampu mengintegrasikan gagasan baru dengan gagasan atau pengetahuan awal yang telah dimilikinya, sehingga mereka mampu membangun makna bagi fenomena yang berbeda. Falsafah pragmatisme yang berorientasi pada tercapainya tujuan secara mudah dan langsung juga menjadi landasan Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif dan Efektif, sehingga dalam pembelajaran peserta didik selalu menjadi subjek aktif sedangkan guru menjadi fasilitator dan pembimbing belajar mereka.

DAFTAR PUSTAKA

-       Arends,S. 1997. Classroom Instruction and Management. New York: McGraw Hill.

-       Depdiknas. 2005. Paket Pelatihan Awal untuk Sekolah dan   Masyarakat. Menciptakan Masyarakat Peduli Pendidik- an Anak. Program Manajemen Berbasis Sekolah. Jakarta: Ditjen Dikdasmen–Depdiknas.

-          _________. 2005. Standar Nasional Pendidikan. Jakarta: Depdiknas.

-          Setiawan. 2004. Strategi Pembelajaran Matematika yang Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan (PAKEM). Makalah disampaikan pada Diklat Instruktur Pengem- bang Matematika SMA Jenjang Dasar. Di PPPG Mate- matika Yogyakarta pada tanggal 6 – 19 Agustus 2004.

-          Syah, Muhibbin. 2006. Islamic English: A Competency-based Reading Comprehension. Cetakan ke-2. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

-          ____________. 2008. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Cetakan ke-14 (Edisi revisi). Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

-          ____________. 2008. Psikologi Belajar. Cetakan ke-8. Jakarta: PT Rajawali Pers.

-          Taslimuharrom. 2008. Metodologi PAKEM. Artikel Pendidikan [On-line] htttp://id.wordpress.com/tag/artikel-pendidikan /  di akses tanggal 15 April 2008.

-          Warta MBS UNICEF. 2006. Paket Pelatihan Program  Manajemen Berbasis Sekolah. Jakarta: Depdiknas

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 55 other followers

%d bloggers like this: