“MENJERNIHKAN MAKNA PENGABDIAN DAN PROFESIONALITAS DALAM MENINGKATKAN PERAN GURU”

Moh Imam Salim, Moch. Agus Krisno Budiyanto

Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Muhammadiyah Malang

Jl. Tlogomas 246 Malang Telp 464318 psw 120, email: aguskrisno@yahoo.co.id,

 

Abstract

            Teachers are not a handyman and jobs “odd”, but an intellectual who must adjust to the situation and problems faced. If education in Indonesia is to go forward and succeed, it is the teachers, who became the tip of the spear must be really professional, both in his field of expertise [competence], in the areas of mentoring, and in his life that can be emulated by the sisiwa (Paul Suparno, 2004:vii).

Competence is important professorship Kompotensi professional competence in the field of substance or field of study, competency areas of learning, teaching methods, grading system, the value of education and guidance. Social competence, competence in the field of relationships and service, community service. Personal competencies, values competence is built through behavior that teachers do, have a personal and attractive appearance, impressive and hanging teacher and “funky.” Teachers are called to willing to learn how to teach well and good learners and are called to find ways of learning right. Let’s just say, being a teacher is not just a profession that is determined through competency testing and certification, but comes with a heart, that from the beginning they had dreams of becoming a teacher, a teacher who knew him, and a duty to humanity which is followed by an award muliah professional as well.(Sanaky, 2005).

Civil society devotion to duty was a consequence of teachers as a good citizen, including also carry out and implement what has been outlined by the state and nation through the 1945 Constitution and the Guidelines of State Policy. These three competencies that teachers must be held together in a harmonious and dynamic organic unity. A teacher not only taught in the classroom but a teacher should be able to be a catalyst, motivator and dynamic factor in the development of the place where he resides.

Key Word: professional  competence, devotion to duty.

Abstrak

            Guru bukanlah seorang tukang dan perkerjaan  ”sambilan”, tetapi seorang intelektual yang harus menyesuaikan  diri dengan situasi dan persoalan yang dihadapi. Apabila pendidikan di Indonesia ini ingin  maju dan berhasil, maka memang para guru, yang menjadi ujung tombaknya harus sungguh profesional, baik dalam bidang keahliannya [kompetensi], dalam bidang pendampingan, dan dalam kehidupannya yang dapat dicontoh oleh sisiwa. (Paul Suparno,2004:vii).

Kompetensi penting jabatan guru tersebut adalah  Kompotensi profesional,  kompetensi pada bidang substansi atau bidang studi, kompetensi bidang pembelajaran, metode pembelajaran, sistem penilaian, pendidikan nilai dan bimbingan.  Kompetensi sosial,   kompetensi pada bidang hubungan dan pelayanan, pengabdian masyarakat.   Kompetensi personal,  kompetensi nilai yang dibangun melalui perilaku yang dilakukan guru, memiliki pribadi dan penampilan yang menarik,  mengesankan serta guru yang gaul dan ”funky.”  Guru terpanggil untuk bersedia belajar bagaimana mengajar dengan baik dan menyenangkan peserta didik dan terpanggil untuk menemukan cara belajar yang tepat.  Katakan saja, menjadi guru bukan hanya suatu profesi yang ditentukan melalui uji kompentensi dan sertifikasi saja, tetapi menyangkut dengan hati, artinya sejak semula mereka sudah bercita-cita menjadi guru, guru yang mengenal dirinya, dan sebagai panggilan tugas kemanusian yang muliah yang diikuti dengan penghargaan yang profesional pula.( Sanaky,2005)

Tugas pengabdian kepada masyarakatan merupakan konsekuensi guru sebagai warga negara yang baik, termasuk turut mengemban dan melaksanakan apa yang telah digariskan oleh bangsa dan negara lewat UUD 1945 dan GBHN. Ketiga kompetensi guru itu harus dilaksanakan secara bersama-sama dalam kesatuan organis harmonis dan dinamis. Seorang guru tidak hanya mengajar di dalam kelas saja tetapi seorang guru harus mampu menjadi katalisator, motivator dan dinamisator pembangunan tempat di mana ia bertempat tinggal.


Pendahulun

Guru bukanlah seorang tukang dan perkerjaan  ”sambilan”, tetapi seorang intelektual yang harus menyesuaikan  diri dengan situasi dan persoalan yang dihadapi. Apabila pendidikan di Indonesia ini ingin  maju dan berhasil, maka memang para guru, yang menjadi ujung tombaknya harus sungguh profesional, baik dalam bidang keahliannya [kompetensi], dalam bidang pendampingan, dan dalam kehidupannya yang dapat dicontoh oleh sisiwa [Paul Suparno,2004:vii].

Guru adalah tenaga pendidik yang memberikan sejumlah ilmu pengetahuan kepada anak didik di sekolah (Saiful Bahri Djamarah, 2002). Selain memberikan sejumlah ilmu pengetahuan, guru juga bertugas menanamkan nilai-nilai dan sikap-sikap kepada anak didik agar anak didik memiliki kepribadian yang sempurna.

Guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Kompetensi dasar  yang harus dimiliki guru meliputi kompetensi  paedagogik,  kompetensi  persolan  atau  kepribadian,  kompetensi sosial,   dan kompetensi  profesional  yang diperoleh melalui pendidikan profesi [UU No.14 Th.2005:psl. 8 dan 10]. Depdiknas, [2001], merumuskan beberapa kompetensi atau kemampuan yang sesuai seperti, kompetensi kepribadian, bidang studi, dan kompetensi pada pendidikan/pengajaran [Paul Suparno, 2004:47]. Kompetensi ini, berkaitan dengan kemampuan guru dalam mengajar, membimbing, dan juga memberikan teladan hidup kepada siswa.

Sejak UU guru dan Dosen ( UU No 14 th 2005) di sahkan guru  telah menjadi profesi sekaligus menjadi banyak peminat nya dari para siswa. tingkat persaingan masuk FKIP konon jauh lebih ketat dibanding masuk Kedokteran atau faklutas teknik sekalipun. Ini menunjukkan bahwa ada pergeseran paradigma yang luar biasa terhadap profesi guru. Tentu hal tersebut di sisi lain terdapat efek positif jika di kait kan dalam upaya untuk memadai kekurangan jumlah guru, dan kurang tepet jika digunakan dalam upaya meningkatkan dedikasi guru yang termasuk dari profesionalitas guru.

Melalui kebijakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Sesuai UUD 1945 hasil amandemen keempat mengamanatkan alokasi dana pendidikan mencapai 20% dari APBN, sebuah nilai yang fantastis dan cukup besar. APBN 2011 mencapai 1200 Triliyun rupiah sehingga untuk dana pendidikan sekitar 240 Triliyun. Dari dana tersebut sekitar 70-80% dihabiskan untuk Dana Alokasi Umum (DAU), yang di dalamnya terdapat komponen gaji guru atau pendidik.

Paradigma baru dalam peningkatan profesionalisme guru, terutama yang berkaitan dengan (a) pengembangan standarisasi kompetensi guru, (b) pelaksanaan sertifikasi dan resertifikasi kompentensi guru, serta (c) pemberian lisensi bagi tenaga kependidikan. Terlepas dari maksud baik pemerintah (Depdiknas) untuk meningkatkan profesionalisme guru, termasuk untuk mereposisikan guru sebagai suatu profesi yang bermartabat, terdapat beberapa hal mendasar   yang harus dicermati, yaitu  (1) pengertian dan dimensi tentang profesionalisme guru dan indikator-indikatornya, (2) Konsep dan kerangka implementasi wacana program sertifikasi dan resertifikasi profesi guru. (Sudiarta, 2004)

Seiring dengan pengakuan guru sebagai profesi layaknya dokter maupun advokat maka guru dituntut profesionalitas dalam menjalankan tugasnya. Tidak ada yang salah dengan program sertifikasi yang dilakukan oleh pemerintah mengingat tujuan awalnya demi kemajuan pendidikan nasional Namun, dalam perkembangannya, sertifikasi yang dijalankan sekarang hanya Untuk mengejar kredit point belaka, guru-guru mulai berbenah dan sering antri mengikuti diklat, seminar, maupun workshop-workshop kependidikan. Sebuah kegiatan yang cukup bagus apalagi diniatkan untuk mengupgrade kompetensi dan pengalaman tetapi tidak dapat dipungkiri terbersit keinginan sebatas meningkatkan kredit point semata. Hal ini yang patut dijadikan catatan dan koreksi. Forum keilmiahan dan forum intelektual setingkat seminar maupun workshop hendaknya dijadikan wahana share pengetahuan dan pengalaman bukan ajang jual-beli sertifikat semata.

Uji Sertifikasi bagi guru mesti dipahami sebagai sebuah sarana untuk mencapai tujuan yaitu kualitas guru. Sertifikasi bukan tujuan itu sendiri. Kesadaran dan pemahaman yang benar tentang hakekat sertifikasi akan melahirkan aktivitas yang benar dan elegan, bahwa apapun yang dilakukan adalah untuk mencapai kualitas. Kalau seorang guru kembali masuk kampus untuk kualifikasi, maka proses belajar kembali mesti dimaknai dalam konteks peningkatan kualifikasi akademik yaitu mendapatkan tambahan ilmu dan ketrampilan baru, sehingga mendapatkan ijazah S1 / D4. Ijazah S1 bukan tujuan yang harus dicapai dengan segala cara, termasuk cara yang tidak benar seperti jual-beli ijazah, melainkan konsekuensi dari telah belajar dan telah mendapat tambahan ilmu dan ketrampilan baru. Demikian pula kalau guru yang mengikuti uji sertifikasi, tujuan utama bukan untuk mendapatkan tunjangan profesi, melainkan untuk dapat menunjukan bahwa yang bersangkutan telah memiliki kompetensi sebagaimana diisyaratkan dalam standard kemampuan guru. (Bahtiar, 2003)

Jika dibandingkan dengan orde sebelum reformasi tentunya terdapat banyak hal yang bertolak belakang. Masih teringat cerita Oemar Bakri menjalankan pengabdiannya sebagai seorang guru dengan penuh perjuangan dan pengorbanan di masanya. Menjadi guru tidak hanya dimaknai sebagai seorang yang bekerja mengajar tetapi lebih dalam lagi sebagai seorang pendidik. Terdapat nilai filosofis dan ibadah disana, yaitu tholabul ‘ilmi. Era sekarang, guru lebih dimaknai sebagai sebuah pekerjaan, mengajar dan kemudian mendapatkan gaji dan tunjangan di akhir bulan. Sungguh sangat ironis, mengingat sangat pentingnya peran seorang guru bagi perkembangan pendidikan nasional dan kemajuan bangsa ini.

Guru memegang peranan penting dalam proses pendidikan. Walaupun bukan merupakan satu-satunya faktor penentu keberhasilan pendidikan, guru tetaplah merupakan titik sentral proses pendidikan. Tanpa guru, proses pendidikan akan timpang. Guru atau pendidik dalam Pasal 1 Ayat 6 Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dinyatakan bahwa “Pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan.”

Selanjutnya pada Pasal 39 ayat 2, dinyatakan bahwa: ”Pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi”.

Terlepas dari komparasi yang ada, profesi mulia sebagai seorang guru haruslah dimaknai lebih dari sekedar pekerjaan melainkan harus dimaknai pula sebagai sebuah pengabdian. Penghasilan yang diperoleh sebagai seorang guru mutlak dibutuhkan untuk penghidupan dan peningkatan kualitas-kuantitas kerja profesional, namun bukanlah hal yang utama yang sepantasnya kita jadikan orientasi, mendidik anak-anak bangsa menjadi lebih baik adalah tugas mulia yang kelak akan memberikan manfaatan di masa yang akan datang.

Profesionalisme Guru Antara Kualitas,  dan Pengabdian

Tugas guru erat kaitannya dengan peningkatan sumber daya manusia melalui sektor pendidikan, oleh karena itu perlu upaya-upaya untuk meningkatkan mutu guru untuk menjadi tenaga profesional. Agar peningkatan mutu pendidikan dapat berhasil. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Tilaar :“peningkatan kualitas pendidikan tergantung banyak hal, terutama mutu gurunya”1. Untuk menjadikan guru sebagai tenaga profesional maka perlu diadakan pembinaan secara terus menerus dan berkesinambungan, dan menjadikan guru sebagai tenaga kerja perlu diperhatikan, dihargai dan diakui keprofesionalannya.. Memandang guru sebagai tenaga kerja profesional maka usaha-usaha untuk membuat mereka menjadi profesional tidak semata-mata hanya meningkatkan kompetensinya baik melalui pemberian penataran, pelatihan maupun memperoleh kesempatan untuk belajar lagi namun perlu juga memperhatikan guru dari segi yang lain seperti peningkatan disiplin, pemberian motivasi, pemberian bimbingan melalui supervisi , pemberian insentif, gaji yang layak dengan keprofesionalnya sehingga memungkinkan guru menjadi puas dalam bekerja sebagai pendidik.

Indonesia memiliki jumlah guru sekitar 2,6 juta yang tersebar di seluruh wilayah Nusantara. Namun hampir separo dari jumlah guru di Indonesia tidak layak mengajar. Kualifikasi dan kompetensinya tidak mencukupi untuk mengajar di sekolah. Demikian pernyataan Direktur Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Fasli Djalal di sebuah surat kabar Nasional.

Lebih rinci disebutkan, saat ini yang tidak layak mengajar atau menjadi guru sekitar 912.505. Terdiri atas 605.217 guru SD, 167.643 guru SMP, 75.684 guru SMA, dan 63.961 guru SMK. Pernyataan ini disampaikan berkenaan dengan wacana guru profesional, guru yang kompeten sebagai syarat untuk memperoleh tunjangan profesi guru dan peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia.

Sebelum mencicipi tunjangan sebesar satu kali gaji pokok dan tambahan tunjangan fungsional sebesar Rp 500.000 per bulan, guru mesti memenuhi berbagai persyaratan terlebih dahulu. Kualifikasi akademis minimal strata satu (S1) atau D-IV, serta harus memiliki sertifikat pendidik yang diperoleh melalui pendidikan profesi dan serangkaian uji kompetensi. Syarat tersebut tampaknya hal yang lumrah, tuntutan yang wajar bagi sebuah profesi.

Profesi guru cenderung dianggap gampang. Orang sering kali lupa bahwa guru memegang peranan penting dalam proses pendidikan. Walaupun bukan merupakan satu-satunya faktor penentu keberhasilan pendidikan, guru tetaplah merupakan titik sentral proses pendidikan. Tanpa guru, proses pendidikan akan timpang Kualifikasi akademis S1 dan sertifikat pendidik hanyalah tuntutan formal-legal yang harus dipenuhi seseorang untuk menjadi guru. Akan tetapi, kualitas guru yang sesungguhnya ditentukan oleh profesionalitas dan kecintaannya pada profesi yang digeluti, yaitu ketika mereka berada di ruang kelas bersama-sama dengan dan melayani siswa. Mengajar dan mendidik, memanusiakan manusia-manusia muda. Hal ini sesungguhnya jauh lebih sulit dipenuhi dan sekaligus menjadi tantangan yang tiada habisnya bagi seorang guru. (Sriyanto,2006)

            Sebuah reposisi guru sangat diperlukan karena perannya tidak lagi hanya sebagai pengabdi pendidikan yang dicekoki rutinitas, tapi harus menjadi pendidik murni. Profesi guru harus mendapatkan kesempatan-kesempatan yang luas untuk mengembangkan sendiri pola pembelajarannya dan meningkatkan kualitas pribadi sehingga bisa menghasilkan anak didik yang cerdas dan bermoral.

Faktor-faktor Penyebab Rendahnya Profesionalitas guru, karena kondisi pendidikan nasional kita memang tidak secerah di negara-negara maju. Baik institusi maupun isinya masih memerlukan perhatian ekstra pemerintah maupun masyarakat. Dalam pendidikan formal, selain ada kemajemukan peserta, institusi yang cukup mapan, dan kepercayaan masyarakat yang kuat, juga merupakan tempat bertemunya bibit-bibit unggul yang sedang tumbuh dan perlu penyemaian yang baik. Pekerjaan penyemaian yang baik itu adalah pekerjaan seorang guru. Jadi guru memiliki peran utama dalam sistem pendidikan nasional khususnya dan kehidupan kita umumnya.

Akadum (1999) menyatakan dunia guru masih terselingkung dua masalah yang memiliki mutual korelasi yang pemecahannya memerlukan kearifan dan kebijaksanaan beberapa pihak terutama pengambil kebijakan; (1) profesi keguruan kurang menjamin kesejahteraan karena rendah gajinya. Rendahnya gaji berimplikasi pada kinerjanya; (2) profesionalitas guru masih rendah.  Selain faktor di atas faktor lain yang menyebabkan rendahnya profesionalitas guru disebabkan oleh antara lain; (1) masih banyak  guru yang tidak menekuni profesinya secara utuh. Hal ini disebabkan oleh banyak guru yang bekerja di luar jam kerjanya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari sehingga waktu untuk membaca dan menulis untuk meningkatkan diri tidak ada; (2) belum adanya standar profesional guru sebagaimana tuntutan di negara-negara maju; (3) kemungkinan disebabkan oleh adanya perguruan tinggi swasta sebagai pencetak guru yang lulusannya asal jadi tanpa mempehitungkan outputnya kelak di lapangan sehingga menyebabkan banyak guru yang tidak patuh terhadap etika profesi keguruan; (4) kurangnya motivasi guru dalam meningkatkan kualitas diri karena guru tidak dituntut untuk meneliti sebagaimana yang diberlakukan pada dosen di perguruan tinggi.

Upaya untuk meningkatkan gaji guru mulai diadakan, Meski tidak bisa diperbandingkan sepenuhnya dengan situasi saat ini, tetapi setidaknya kenyataan itu mengingatkan bahwa kualifikasi akademik hanya menyelesaikan sebagian kecil masalah. Apalagi bila formalitas yang lebih dikejar, bukan substansinya. Peningkatan kualifikasi akademik guru menjadi S1, menjadi tidak bermakna bila gelar sarjanaan yang diperoleh guru tidak relevan dengan yang ia ajarkan sehari-hari di kelas, atau dapat melalui jalan pintas.

Disamping dengan keahliannya, sosok professional guru ditunjukkan melalui tanggung jawabnya dalam melaksanakan seluruh pengabdiannya. Guru professional hendaknya mampu memikul dan melaksanakan tanggung jawab sebagai guru kepada peserta didik, orang tua, masyarakat, bangsa, negara, dan agamanya. Guru profesional mempunyai tanggung jawab pribadi, social, intelektual, moral, dan spiritual. Tanggung jawab pribadi yang mandiri yang mampu memahami dirinya. Tanggung jawab social diwujudkan melalui kompetensi guru dalam memahami dirinya sebagai bagian yang tak terpisahkan dari lingkungan sosial serta memiliki kemampuan interaktif yang efektif. Tanggung jawab intelektual diwujudkan melalui penguasaaan berbagai perangkat pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk menunjang tugas-tugasnya. Tanggung jawab spiritual dan moral diwujudkan melalui penampilan guru sebagai makhluk yang beragama yang perilakunya senantiasa tidak menyimpang dari norma-norma agama dam moral.

Australia misalnya, melalui The National Project on the Quality of Teaching and Learning (NPQTL) pada tahun 1992, menyarankan lima hal tentang kompetensi profesional guru, yaitu (a) mampu mempergunakan dan mengembangkan nilai dan pengetahuan profesional (b) mampu berkomunikasi, berinteraksi dan bekerja dengan siswa dan yang lain, (c) mampu merencanakan dan mengelola proses pembelajaran, (d) mampu memantau kemajuan dan hasil belajar siswa, dan (e) mampu merefleksi, mengevaluasi serta merencanakan program untuk melakukan peningkatan secara berkelanjutan.

Guru profesional adalah guru yang mengenal tentang dirinya. Yaitu, dirinya adalah pribadi yang dipanggil untuk mendampingi peserta didik untuk/dalam belajar. Guru dituntut mencari tahu terus-menerus bagaimana seharusnya peserta didik itu belajar. Maka, apabila ada kegagalan peserta didik, guru terpanggil untuk menemukan penyebabnya dan mencari jalan keluar bersama peserta didik; bukan mendiamkannya atau malahan menyalahkannya. Menjadi guru bukan sebuah proses yang yang hanya dapat dilalui, diselesaikan dan ditentukan melalui uji kompetensi dan sertifikasi. Karena menjadi guru menyangkut perkara hati, mengajar adalah profesi hati. Hati harus banyak berperan atau lebih daripada budi. Oleh karena itu, pengolahan hati harus mendapatkan perhatian yang cukup, yaitu pemurnian hati atau motivasi untuk menjadi guru.

Sikap yang harus senantiasa dipupuk adalah kesediaan untuk mengenal diri dan kehendak untuk memurnikan keguruannya. Mau belajar dengan meluangkan waktu untuk menjadi guru. Seorang guru yang tidak bersedia belajar, tak mungkin kerasan dan bangga menjadi guru. Kerasan dan kebanggaan atas keguruannya adalah langkah untuk menjadi guru yang profesional. guru adalah pendamping utama kaum pembelajar, orang-orang muda dan benih-benih kehidupan masa depan, dalam proses menjadi pemimpin. Sang guru adalah aktor intelektual yang selalu ada dibelakang layar, ia semacam provokator yang tut wuri handayani. Sang guru belajar dari dirinya sendiri, ketika pemimpin belajar pada semua orang dan terinspirasi oleh matahari, air, api, atau alam semesta, sedangkan pembelajar belajar pada idolanya tokoh-tokoh yang dikaguminya.

Bagi seorang guru untuk bersungguh-sungguh mengajar yang paling menentukan bukanlah gaji, meski gaji yang tidak mencukupi kebutuhan dasar memang dapat mengganggu ketenangan dan totalitas mengajar. Sebaliknya, pertambahan gaji yang tidak diiringi oleh kuatnya komitmen sebagai guru tidak cukup memadai untuk membuat seorang guru mengajar dengan totalitas. Menjadi manusia guru, itulah tugas dan panggilan tertinggi seorang manusia. Sejarah mengajarkan kepada kita bahwa hanya segelintir orang yang mampu membawa  diri nya sampai ketahap seperti itu.

Memiliki rasa pengabdian kepada masyarakat. Pendidikan memiliki peran sentral dalam membangun masyarakat untuk mencapai kemajuan. Guru sebagai tenaga pendidikan memiliki peran penting dalam mencerdaskan kehidupan masyarakat. Untuk itulah guru dituntut memiliki pengabdian yang tinggi kepada masyarakat khususnya dalam membelajarkan anak didik. Bekerja atas panggilan hati nurani. Dalam melaksanakan tugas pengabdian pada masyarakat hendaknya didasari atas dorongan atau panggilan hati nurani. Sehingga guru akan merasa senang dalam melaksanakan tugas berat mencerdaskan anak didik.

Guru adalah pengabdian

Profesi guru pada hakikat nya merupakan suatu pernyataan atau suatu janji terbuka, bahwa seseorang akan mengabdikan diri nya kepada suatu jabatan atau pekerjaan dalam arti biasa, karena orang itu merasa terpanggil untuk menjabat pekerjaan itu (Sikun Pribadi,1976)

Guru profesional seharusnya memiliki empat kompetensi, yaitu kompetensi pedagogis, kognitif, personaliti, dan sosial. Oleh karena itu, selain terampil mengajar, seorang guru juga memiliki pengetahuan yang luas, bijak, dan dapat bersosialisasi dengan baik. Profesi guru dan dosen merupakan bidang pekerjaan khusus yang memerlukan prinsip-prinsip profesional. Mereka harus (1) memiliki bakat, minat, panggilan jiwa, dan idealisme, (2) memiliki kualifikasi pendidikan dan latar belakang pendidikan yang sesuai dengan bidang tugasnya, (3)  memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugasnya. Di samping itu, mereka juga harus (4) mematuhi kode etik profesi, (5) memiliki hak dan kewajiban dalam melaksanakan tugas, (6) memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai dengan prestasi kerjanya, (7) memiliki kesempatan untuk mengembangkan profesinya secara berkelanjutan, (8) memperoleh perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas profesionalnya, dan (9) memiliki organisasi profesi yang berbadan hukum (UU Nomor 14/2005 tentang Guru dan Dosen).

Rumusan profesi diantaranya 1). Hakikat profesi adalah suatu pernyataan atau suatu janji yang terbuka . Suatu pernyataan atau suatu janji yang di nyatakan oleh tenaga professional tidak sama dengan suatu pernyataan yang di kemukakan oleh non professional. Pernyataan professional mengandung makna terbuka yang sungguh-sungguh yang keluar dari lubuk hati nya. Pernyataan demikian mengandung norma-norma atau nilai-nilai etik. Janji yang bersifat etik itu mau tidak mau akan berhadapan dengan sanksi-sanki. Bila dia melanggar janji nya , dia akan berhadapan dengan sanksi tersebut misal nya hukuman atau protes. 2). Profesi mengandung unsur pengabdian pengabdian diri sendiri berarti lebih mengutamakan kepentingan orang banyak. profesi kependidikan adalah untuk kepentingan anak didik nya. Dengan pengabdian pada pekerjaan,seseorang berarati mengabdikan profesi nya kepada masyarakat. Profesi harus berusaha menimbulkan kebaikan, keberuntungan, dan kesempurnaan  serta kesejahteraan bagi masyarakat. 3). Profesi adalah suatu jabatan atau pekerjaan . Suatu profesi erat kaitannya dengan jabatan atau pekerjaan  tertentu dengan sendirinya menurut keahlian, pengetahuan dan keterampilan tertentu. Dalam pengetian profesi telah tersirat adanya suatu keharusan kompetensi agar profesi itu berfunsi dengan sebaik-baik nya.

            Guru bukanlah sekedar pekerjaan, guru adalah lebih dari sebuah pengabdian. Pengabdian kepada Tuhan, pengabdian kepada negara, pengabdian kepada masyarakat, dan pengabdian kepada jiwa-jiwa siswa yang membutuhkan bantuan dalam menggapai beraneka Ilmu pengetahuan.

Meyakinkan 
setiap
 orang
 khsusunya
 guru
 bahwa
 pekerjaan nya
 merupakan
 pekerjaan
 profesional
 merupakan
 upaya
 pertama
 yang
 harus 
dilakukan
 dalam
 rangka
 pencapaian
 standar
 proses
 pendidikan
 sesuai
 harapan.
 Hal
 ini
 berfungsi
 untuk
 membenahi
 konsep
 mengajar 
pada 
tiap 
individu
 guru.
 Mengajar bukan
 hanya
 penyampaian
 materi
 kepada
 peserta
 didik,
 akan
 tetapi
 mengajar
 merupakan
 suatu
 proses
 mengubah
 perilaku
 siswa
 sesuai
 dengan
 tujuan.
 Oleh
 karena
 itu,
 dalam 
proses 
mengajar 
terdapat 
kegiatan membimbing siswa
 agar 
siswa
 berkembang
 sesuai
 tugas‐tugas
 perkembangan nya, 
melatih
 keterampilan
 baik
 keterampilan 
intelektual 
maupun 
keterampilan
 motorik sehingga
 siswa
 dapat
 dan
 berani
 hidup.
 Dengan
 demikian
 seorang
 guru
 harus
 memiliki
 kemampuan 
khusus,
 yaitu
 kemampuan
 yang
 tidak mungkin
 dimiliki
 oleh
 orang
 yang
 bukan guru.
 Itulah
 sebab nya
 guru
 adalah 
pekerjaan 
profesional 
yang  membutuhkan kemampuan
 khusus
  hasil 
proses 
pendidikan
(Wina
Sanjaya,
2006).

Dengan demikian, pekerjaan guru merupakan suatu profesi yang mengaharuskan penguasan beberapa kompetensi tertentu, dan pengelolaan serta pengontrolan nya diatur dengan kode etik tertentu.

Pekerjaan sebagai guru adalah pekerjaan yang mulia, baik ditinjau dari sudut masyarakat dan negara maupun ditinjau dari sudut keagamaan. Tugas seorang guru tidak hanya mendidik. Maka, untuk melaksanakan tugas sebagai guru tidak sembarang orang dapat menjalankannya. Sebagai guru yang baik harus memenuhi syarat, yang ada dalam undang-undang No. 12 Tahun 1954 tentang Dasar-Dasar Pendidikan dan Pengajaran di sekolah untuk seluruh Indonesia. Syarat-syarat tersebut adalah sebagai berikut : a.  Berijazah, b.  Sehat jasmani dan rohani, c.  Takwa kepada Tuhan YME dan berkelakuan baik, d.  Bertanggung jawab, e.  Berjiwa nasional.

Disamping syarat-syarat tersebut, tentunya masih ada syarat-syarat lain yang harus dimiliki guru jika kita menghendaki agar tugas atau pekerjaan guru mendatangkan hasil yang lebih baik. Salah satu syarat diatas adalah guru harus berkelakuan baik, maka didalamnya terkandung segala sikap, watak dan sifat-sifat yang baik. Beberapa sikap dan sifat yang sangat penting bagi guru adalah sebagai berikut:

1.1 Adil Seorang guru harus adil dalam memperlakukan anak-anak didik harus dengan cara yang sama, misalnya dalam hal memberi nilai dan menghukum anak.

1.2 Percaya dan suka terhadap murid-muridnya Seorang guru harus percaya terhadap anak didiknya. Ini berarti bahwa guru harus mengakui bahwa anak-anak adalah makhluk yang mempunyai kemauan, mempunyai kata  Sistem Informasi manajemen hati sebagai daya jiwa untuk menyesali perbuatannya yang buruk dan menimbulkan kemauan untuk mencegah hal yang buruk.

1.3 Sabar dan rela berkorban Kesabaran merupakan syarat yang sangat diperlukan apalagi pekerjaan guru sebagai

pendidik. Sifat sabar perlu dimiliki guru baik dalam melakukan tugas mendidik maupun dalam menanti jerih payahnya.

1.4 Memiliki Perbawa (gezag) terhadap anak-anak Gezag adalah kewibawaan. Tanpa adanya gezag pada pendidik tidak mungkin pendidikan itu masuk ke dalam sanubari anak-anak. Tanpa kewibawaan, murid-murid hanya akan menuruti kehendak dan perintah gurunya karena takut atau  paksaan; jadi bukan karena keinsyafan atau karena kesadaran dalam dirinya.

1.5 Penggembira Seorang guru hendaklah memiliki sifat tertawa dan suka memberi kesempatan tertawa bagi murid-muridnya. Sifat ini banyak gunanya bagi seorang guru, antara lain akan tetap memikat perhatian anak-anak pada waktu mengajar, anak-anak tidak lekas bosan atau lelah. Sifat humor yang pada tempatnya merupakan pertolongan untuk memberi gambaran yang betul dari beberapa pelajaran. Yang penting lagi adalah humor dapat mendekatkan  guru dengan muridnya, seolah-olah tidak ada perbedaan umur, kekuasaan dan perseorangan. Dilihat dari sudut psikologi, setiap orang atau manusia mempunyai 2 naluri (insting) : (1) naluri untuk berkelompok, (2) naluri suka bermain-main bersama. Kedua naluri  itu dapat kita gunakan secara bijaksana dalam tiap-tiap mata pelajaran, hasilnya akan baik dan berlipat ganda.

1.6 Bersikap baik terhadap guru-guru lain Suasana baik diantara guru-guru nyata dari pergaulan ramah-tamah mereka di dalam dan di luar sekolah, mereka saling menolong dan kunjung mengunjungi dalam keadaan suka dan duka. Mereka merupakan keluarga besar, keluarga sekolah. Terhadap anak-anak, guru harus menjaga nama baik dan kehormatan teman sejawatnya. Bertindaklah bijaksana jika ada anak-anak atau kelas yang mengajukan kekurangan atau keburukan seorang guru kepada guru lain.

1.7 Bersikap baik terhadap masyarakat Tugas dan kewajiban guru tidak hanya terbatas pada sekolah saja tetapi juga dalam masyarakat. Sekolah hendaknya menjadi cermin bagi masyarakat sekitarnya, dirasai oleh masyarakat bahwa sekolah itu adalah kepunyaannya dan memenuhi kebutuhan mereka. Sekolah akan asing bagi rakyat jika guru-gurunya memencilkan diri seperti siput dalam rumahnya, tidak suka bergaul atau mengunjungi orang tua murid-murid, memasuki perkumpulan-perkumpulan atau turut membantu kegiatan masyarakat yang penting dalam lingkungannya.

1.8 Bersikap baik terhadap masyarakat. Guru harus selalu menambahkan pengetahuan nya. Mengajar tidak dapat dipisahkan dari belajar. Guru yang pekerjaan nya  memberi pengetahuan-pengetahuan dan kecakapan-kecakapan kepada muridnya tidak mungkin akan berhasil baik jika guru itu sendiri tidak selalu berusaha menambah pengetahuan nya.  Jadi  sambil mengajar guru itu sebenar nya belajar.

1.9 Suka pada mata pelajaran yang diberikannya Mengajarkan mata pelajaran yang disukainya hasilkan akan lebih baik dan mendatangkan kegembiraan baginya daripada sebaliknya. Di sekolah menengah hal ini penting bagi guru untuk memilih mata pelajaran apa yang disukainya yang akan diajarkannya.

1.10 Berpengetahuan luas Selain mempunyai pengetahuan yang dalam tentang mata pelajaran yang sudah menjadi tugasnya akan lebih baik lagi jika guru itu mengetahui pula tentang segala tugas yang  penting-penting, yang ada hubungannya dengan tugasnya di dalam masyarakat. Guru merupakan tempat bertanya tentang segalasesuatu bagi masyarakat. Guru itu mempunyai dua fungsi isitimewa yang membedakannya dari pegawai-pegawai dan pekerja-pekerja lainnya di dalam masyarakat. Fungsi yang pertama adalah mengadakan jembatan antara sekolah dan dunia ini. Fungsi yang kedua yaitu mengadakan hubungan antara masa muda dan masa dewasa.

Apabila syarat-syarat profesionalitas  guru di atas itu terpenuhi akan mengubah peran guru yang tadinya pasif menjadi guru yang kreatif dan dinamis. Hal ini sejalan dengan pendapat Semiawan (1991). bahwa pemenuhan persyaratan guru profesional akan mengubah peran guru yang semula sebagai orator yang verbalistis menjadi berkekuatan dinamis dalam menciptakan suatu suasana dan lingkungan belajar yang invitation learning environment. Dalam rangka peningkatan mutu pendidikan, guru memiliki multi fungsi yaitu sebagai fasilitator, motivator, informator, komunikator, transformator, change agent, inovator, konselor, evaluator, dan administrator (Soewondo, 1972 dalam Arifin 2000).

Mulyasa (2005:37) berpendapat bahwa “terdapat beberapa peran guru yaitu; guru sebagai pendidik, pengajar, pembimbing, pelatih, penasehat, pembaharu (innovator), model dan teladan, pribadi, peneliti, pendorong kreativitas, pembangkit pandangan, pekerja rutin, pembawa cerita, aktor, emansipator, evaluator, pengawet dan sebagai kulminator. Syamsuddin Dalam (akhmadsudrajat.wordpress.com) berpendapat bahwa, “peran guru dalam hubungannya dengan aktivitas pembelajaran dan administrasi pendidikan, sebagai berikut :

1.      Pengambil inisiatif, pengarah, dan penilai pendidikan;

2.      Wakil masyarakat di sekolah, artinya guru berperan sebagai pembawa suara dan kepentingan masyarakat dalam pendidikan;

3.      Seorang pakar dalam bidangnya, yaitu menguasai bahan yang harus diajarkannya;

4.      Penegak disiplin, yaitu guru harus menjaga agar para peserta didik melaksanakan disiplin;

5.      Pelaksana administrasi pendidikan, yaitu guru bertanggung jawab agar pendidikan dapat berlangsung dengan baik;

6.      Pemimpin generasi muda, artinya guru bertanggung jawab untuk mengarahkan perkembangan peserta didik sebagai generasi muda yang akan menjadi pewaris masa depan; dan

7.      Penterjemah kepada masyarakat, yaitu guru berperan untuk menyampaikan berbagai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi kepada masyarakat”.

Usaha Peningkatan Profesionalisme Guru Pertama, dari sisi lingkungan tempat guru mengajar. Setiap guru mengikuti pelatihan atau penataran, diharapkan dari dirinya akan ada peningkatan dalam hal kemampuan dan kemauan. Penataran berfungsi memotivasi hasrat guru untuk menjadi yang terbaik. Serta mengembangkan wawasan keilmuannya dengan memberikan pembekalan materi.

Kedua, pola pengelolaan pendidikan yang selama ini sangat sentralistik telah memposisikan para guru hanya sekedar operator pendidikan. Jadi guru cenderung mengajar hanya memindahkan pengetahuan saja. Pola pengelolaan pendidikan ini perlu diubah menjadi pola desentralistik. Pengembangan kemampuan berpikir logis, kritis, dan kreatif perlu dilaksanakan. Mutu pendidikan tidak hanya mengukur aspek knowledge tetapi juga skill, perilaku budi pekerti serta ketrampilan. Guru harus dapat mengembangkan daya kritis dan kreatif siswa. Kedua aspek internal guru sendiri. Perilaku guru diharapkan mempunyai perilaku yang baik. Perubahan perilaku ini dapat dilakukan melalui pelatihan dan penataran.

 Usaha Peningkatan Kualitas Guru

Untuk mengantisipasi tantangan dunia pendidikan yang semakin berat, maka profesionalisme guru harus dikembangkan. Beberapa cara yang dapat ditempuh dalam pengembangan profesionalitas guru menurut Balitbang Diknas antara lain adalah:

Perlunya revitalisasi pelatihan guru yang secara khusus dititikberatkan untuk memperbaiki kinerja guru dalam meningkatkan mutu pendidikan dan bukan untuk meningkatkan sertifikasi mengajar semata-mata;

1)   Perlunya mekanisme kontrol penyelenggaraan pelatihan guru untuk memaksimalkan pelaksanaannya;

2)   Perlunya sistem penilaian yang sistemik dan periodik untuk mengetahui efektivitas dan dampak pelatihan guru terhadap mutu pendidikan;

3)   Perlunya desentralisasi pelatihan guru pada tingkat kabupaten/kota sesuai dengan perubahan mekanisme kelembagaan otonomi daerah yang dituntut dalam UU No. 22/1999;

4)   Perlunya upaya-upaya alternatif yang mampu meningkatkan kesempatan dan kemampuan para guru dalam penguasaan materi pelajaran;

5)   Perlunya tolok ukur (benchmark) kemampuan profesional sebagai acuan pelaksanaan pembinaan dan peningkatan mutu guru;

6)   Perlunya peta kemampuan profesional guru secara nasional yang tersedia di Depdiknas dan Kanwil-kanwil untuk tujuan-tujuan pembinaan dan peningkatan mutu guru;

7)   Perlunya untuk mengkaji ulang aturan atau kebijakan yang ada melalui perumusan kembali aturan atau kebijakan yang lebih fleksibel dan mampu mendorong guru untuk mengembangkan kreativitasnya;

8)   Perlunya reorganisasi dan rekonseptualisasi kegiatan Pengawasan Pengelolaan Sekolah, sehingga kegiatan ini dapat menjadi sarana alternatif peningkatan mutu guru;

9)   Perlunya upaya untuk meningkatkan kemampuan guru dalam penelitian, agar lebih bisa memahami dan menghayati permasalahan-permasalahan yang dihadapi dalam proses pembelajaran.

10)    Perlu mendorong para guru untuk bersikap kritis dan selalu berusaha meningkatkan ilmu pengetahuan dan wawasan;

11)    Memperketat persyaratan untuk menjadi calon guru pada Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK);

12)    Menumbuhkan apresiasi karier guru dengan memberikan kesempatan yang lebih luas untuk meningkatkan karier;

13)    Perlunya ketentuan sistem credit point yang lebih fleksibel untuk mendukung jenjang karier guru, yang lebih menekankan pada aktivitas dan kreativitas guru dalam melaksanakan proses pengajaran.

Untuk lebih mendorong tumbuhnya profesionalisme guru selain apa yang telah diutarakan oleh Balitbang Diknas, tentunya “penghargaan yang profesional” terhadap profesi guru masih sangat penting. Seperti yang diundangkan bahwa guru berhak mendapat tunjangan profesi. Realisasi pasal ini tentunya akan sangat penting dalam mendorong tumbuhnya semangat profesionalisme pada diri guru.

Dengan adanya pengembangan profesionalisme guru, maka peranan guru harus lebih ditingkatkan. Guru tidak hanya disanjung, dihormati, disegani, dikagumi, diagungkan, tetapi guru harus lebih mengoptimalkan rasa tanggungjawabnya. Peranan guru sangat penting dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Ada pepatah Sunda mengatakan, guru adalah “digugu dan ditiru” (diikuti dan diteladani), berarti guru harus memiliki:

a)    Penguasaan pengetahuan dan keterampilan. Seorang guru harus mempersiapkan diri sedini mungkin, jangan sampai ia kerepotan ketika berhadapan dengan siswa. Penguasaan materi sangat penting, jangan sampai pengetahuan seorang guru jauh lebih rendah dibandingkan siswa, dan seorang guru harus terampil tatkala proses kegiatan belajar berjalan.

b)   Kemampuan profesional yang baik. Seorang guru harus menjadikan, tanggungjawabnya merupakan pekerjaan yang digandrungi. Tidak bisa seorang guru hanya mengandalkan, mengajar merupakan sebagai pelarian dan adem ayem ketika menerima gaji di habis bulan.

Penuh rasa tanggung jawab sangat dibutuhkan, kemampuan untuk mengajar sesuai disiplin ilmu yang dimilikinya. Ironisnya kenyataan kini masih ada seorang guru mengajar tidak sesuai bidangnya. Misalnya, jurusan Matematika mengajar Bahasa Indonesia, jurusan Dakwah mengajar PPKn, jurusan Bahasa Indonesia mengajar Penjas, dan lain sebagainya.

c)    Idealisme dan pengabdian yang tinggi. Hakikat seorang guru adalah pengabdian, dedikasi seorang guru harus tinggi, serta harus mampu menjunjung tinggi nilai-nilai pendidikan dengan tujuan mendidik, membina, mengayomi anak didiknya.

d)   Memiliki keteladanan untuk diikuti dan dijadikan teladan. Keteladanan seorang guru merupakan perwujudan dari realisasi kegiatan belajar mengajar, serta menanamkan sikap kepercayaan terhadap siswa. Seorang guru berpenampilan baik dan sopan akan sangat berpengaruh terhadap sikap siswa. Sebaliknya seorang guru yang berpenampilan premanisme, akan berpengaruh buruk terhadap sikap dan moral siswa.

 Kesimpulan

Semangat dan kinerja tinggi disertai rasa tanggung jawab mesti menjadi ciri guru yang profesional. Dengan kompetensi profesional, guru akan tampil sebagai pembimbing (councelor),  pelatih (coach) dan manejer pembelajaran ( learning manager) yang mampu berinteraksi dengan siswa dalam proses transfer pengetahuan, ketrampilan dan nilai-nilai yang baik. Semangat untuk tetap belajar (bukan hanya mengajar) akan membantu untuk meng-upgrade pengetahuannya, sehingga dapat menyiasati kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta peluang pemanfaatannya untuk memajukan proses belajar mengajar di kelas. Sertifikasi guru adalah amanat Undang-undang bagi semua guru di Indonesia yang jumlahnya sekitar 2,8 juta baik negeri maupun swasta,.

Hal ini menuntut peningkatan kualitas dan kompetensi dari para guru, dengan terus-menerus memperbarui diri sesuai dengan tuntutan zaman. Lebih dari itu, guru mesti mencintai profesinya. Kecintaan akan profesi merupakan pintu masuk bagi guru untuk menjadi profesional dan berkualitas. Seperti jejaka mencintai gadis pujaannya, ia rela melakukan apa saja demi gadis yang dicintainya. Jika guru mencintai profesinya, mencintai anak-anak didiknya, apa pun hambatan dan kesulitan yang dihadapi apalagi hanya gaji yang rendah atau tunjangan yang disunat tidak akan sanggup mematahkan semangat guru untuk berkarya demi memanusiakan manusia-manusia muda.

Untuk dapat mencintai profesinya, guru harus menengok kembali ke belakang, mengapa ia menjadi guru. Memurnikan kembali motivasi awal menjadi guru. Menghapus keterpaksaan masa lalu dan menukarnya dengan kejernihan visi dan misi baru.

Bahwa dengan memilih menjadi guru, ada tanggung jawab moral dan sekaligus tanggung jawab sosial yang jauh lebih besar daripada sekadar keterpaksaan diri, yang mesti diemban oleh guru. Dan, harus diakui, ini juga bukan perkara mudah. Butuh proses yang sangat panjang.

 


Daftar Pustaka

Angelus Li Dato. 2010. Profesionalitas dan Pengabdian. http://floresnews.com.( Diakses:10-06-2012)

Yuli Harmita. 2012. Guru adalah pekerjaan atau pengabdian. http://edukasi.kompasiana.com.( Diakses:10-06-2012)

HJ Sriyanto. 2006. Siapa Bilang Jadi Guru Itu Gampang. Kompas.Yogyakarta

Alma, Buchari. 2009. Guru Profesional. Bandung: Alfabeta.

Komariah. 2010. Modul Etika Profesi Guru. Makassar.

Bahtiar. 2003. Menjadi Guru Profesional Bukan Sekedar Lulus Uji Sertifikasi

Widja, I Gde. 2007. Mewujudkan Sosok Guru Profesional  Tantangan Dan Prospeknya. Jurnal Pendidikan dan Pengajaran UNDIKSHA,

I Gst, Putu Sudiarta. 2004 . Mencermati  Wacana Pengembangan Profesionalisme Guru  Melalui Program Standardisasi Dan Sertifikasi Kompetensi Guru . Jurnal Pendidikan             dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, Edisi Khusus TH. XXXVII

Nyoman, Dantes.2005. Meningkatkan dan menumbuh kembangkan Profesionalisme guru.makalah disampaikan dalam seminar: Bali

Ravik, Karsidi. 2005. Profesionalisme Guru Dan Peningkatan Mutu Pendidikandi Era       Otonomi Daerah. Makalah Disampaikan dalam Seminar Nasional Pendidikan.Wonogiri

Sudarwanto. 2005.profesionalisme Guru Dan Permasalahannya.Artikel: Yogyakarta

Hujair AH, Sanaky.2005. Kompetensi dan sertifikasi   guru ”sebuah pemikiran”.Makalah: Yogyakarta


 

 

 

 

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 59 other followers

%d bloggers like this: