Peranan Bacillus thuringiensis untuk Meningkatkan Ketahanan Pangan di Indonesia

Peranan Bacillus thuringiensis untuk Meningkatkan Ketahanan Pangan di Indonesia

 

Role of Bacillus thuringiensis to Improve Food Security in Indonesia

 

DR.H. Moch. Agus Krisno B, M.Kes. , Herdina Sukma Pranita (09330134)

Jurusan Pendidikan Biologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Universitas Muhammadiyah Malang

 

Abstract

 

Efforts to increase food production in Indonesia is on the decline, especially staple crops, it can be done through various means, among other engineering denan gentika through genetic improvement of plants. Staple crop genetic improvement aimed to overcome the constraints of plant growth, especially environmental biotic and abiotic stress. Genetic improvement can be done conventionally or through genetic engineering (genetic engeenering), by inserting the bacterium Bacillus thuringiensis gene on the DNA of cells or tissues staple crop. The presence of Bt gene insertion technique will produce fertile transgenic crops.

In improving the quality of crop yields Bt (Bacillus thuringiensis) mainly staple crops, the government of Indonesia to disseminate to the public especially the farmers know the importance of Indonesia to the technique of planting Bt gene insertion into the DNA of plant cells with a few that will produce quality plants that are resistant to pests, so will improve the quality of food crops that will affect food security in Indonesia.

Key words: Bacillus thuringiensis, Genetic engineering, food-secure.

Abstrak

 

Upaya peningkatan produksi pangan di Indonesia yang mulai mengalami penurunan khususnya tanaman pokok,  dapat dilakukan melalui berbagai cara, antara lain denan rekayasa gentika melalui perbaikan genetik tanaman. Perbaikan genetik tanaman pokok bertujuan untuk mengatasi kendala pertumbuhan tanaman, terutama cekaman lingkungan biotik dan abiotik. Perbaikan genetik yang  dapat dilakukan secara konvensional maupun melalui rekayasa genetika (genetic engeenering), yaitu dengan menyisipkan gen bakteri Bacillus thuringiensis pada DNA sel atau jaringan tanaman pokok. Adanya teknik penyisipan gen Bt akan dihasilkan tanaman pangan transgenik yang fertil.

Dalam meningkatkan mutu hasil panen tanaman Bt (Bacillus thuringiensis) terutama tanaman pokok, pemerintah Indonesia melakukan sosialisasi kepada masyarakat khususnya petani Indonesia untuk mengetahui pentingnya penanaman dengan teknik penyisipan gen Bt ke dalam DNA sel tanaman dengan beberapa yang akan menghasilkan kualitas tanaman yang resisten terhadap hama, sehingga akan memperbaiki kualitas hasil tanaman pangan yang akan berpengaruh terhadap ketahanan pangan di Indonesia.

Kata Kunci: Bacillus thuringiensis, Rekayasa genetika, Ketahanan pangan.

PENDAHULUAN

Padi (Oryza sativa L.) merupakan tanaman pokok di Indonesia karena sebagian besar penduduk Indonesia mengkonsumsi nasi sebagai makanan pokok.  Tidak hanya di Indonesia, di negara lain pun padi merupakan tanaman yang dibutuhkan.  Produksi padi di dunia menduduki urutan ketiga setelah jagung dan gandum.  Padi tidak hanya dipandang sebagai komoditas pangan pokok di Indonesia, tetapi padi juga dipandang sebagai komoditas politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Padi menjadi komoditas budaya di Indonesia sejak berabad yang lalu. Sebagian besar bangsa Indonesia membudidayakan padi dan tak dapat meninggalkan padi sebagai makanan pokok.  Selain padi masyarakat juga sering menanam tanaman jagung, kentang, kedelai dan tebu sebagai bahan pangan. Kemudian tanaman pangan dijadikan komoditas sosial karena masyarakat menilai kesejahteraan sosial diawali dengan meningkatnya produksi hasil panen padi dan banyaknya masyarakat mengkonsumsi beras. Di Indonesia kekurangan stok beras selalu dijadikan alasan agar impor beras dapat diperbolehkan.   Dengan kegiatan impor beras tersebut maka Indonesia akan tergantung kepada Negara pengimpor beras. Selain itu, pengaruh iklim yang tidak bersahabat yaitu sering hujan dan hama tanaman membuat hasil panen tanaman pangan (padi, jagung, kentang, tebu dan ubi) menurun drastis.  Hal ini akan berdampak negatif terhadap stabilitas ketahanan pangan di Indonesia.

Di Indonesia kebutuhan bahan pokok pangan  merupakan hal yang penting. Karena rata-rata penduduk di Indonesia mengkosumsi padi yang merupakan bahan pangan pokok. Namun jagung, kentang, ubi, tebu juga merupakan alternatif bahan pangan pokok kedua setelah padi. Sehingga padi dan tanaman pangan tadi merupakan perwakilan penghasil makanan pokok bagi rakyat Indonesia. Selain itu, tanaman pokok pangan tadi juga digunakan sebagai bahan baku industri pakan dan industri lainnya yang di ekspor. Sementara Hal ini mengakibatkan kebutuhan tanaman pokok pangan yang paling representatif yaitu padi dan jagung di dalam negeri terus meningkat dari tahun ke tahun. Untuk memenuhi kebutuhan pangan harus dilakukan impor, terutama dari Amerika dan Thailand. Diperkirakan kebutuhan pokok dalam negeri sampai tahun 2012 akan terus meningkat sehubungan dengan bertambahnya jumlah penduduk dan berkembangnya industri pangan dan pakan. Oleh karena itu, produksi tanaman pangan yang merupakan bahan pangan pokok dalam negeri perlu ditingkatkan sehingga volume impor dapat dikurangi dan bahkan ditiadakan.

Upaya peningkatan produksi pangan dapat dilakukan melalui berbagai cara, antara lain melalui perbaikan genetik tanaman. Perbaikan genetik pada tanaman pokok pangan bertujuan untuk mengatasi kendala pertumbuhan tanaman, terutama cekaman lingkungan biotik dan abiotik. Perbaikan genetik tanaman pangan sebagai wakil dari kebutuhan makanan pokok dapat dilakukan secara konvensional maupun melalui rekayasa genetik (genetic engeenering). Dengan berkembangnya bioteknologi, perbaikan genetik pada tanaman penghasil kebutuhan makanan pokok melalui rekayasa genetik akan menjadi andalan dalam pemecahan masalah pangan di masa mendatang. Seperti diketahui, pemuliaan secara konvensional mempunyai keterbatasan dalam mendapatkan sifat unggul dari tanaman. Dalam rekayasa genetik tanaman pokok pangan, sifat unggul tidak hanya didapatkan dari tanaman pangan itu sendiri, tetapi juga dari spesies lain sehingga dapat dihasilkan tanaman transgenik. Tanaman transgenic Bt merupakan tanaman transgenik yang mempunyai ketahanan terhadap hama, di mana sifat ketahanan tersebut diperoleh dari bakteri Bacillus thuringiensis (Amirhusin, Bahagiawati. 2004).

PEMBAHASAN

Bakteri Bacillus thuringiensis

Klasifikasi Bacillus thuringiensis :

Kerajaan        : Eubacteria

Filum              : Firmicutes

Kelas              : Bacilli

Ordo               : Bacillales

Famili             : Bacillaceae

Genus            : Bacillus

Spesies          : Bacillus thuringiensis (sumber : Wikipedia.org)

 Image

(Sumber : http://www.google-image.com)

Bacillus thuringiensis ditemukan pertama kali pada tahun 1911 sebagai patogen pada ngengat (flour moth) dari Provinsi Thuringia, Jerman. Bakteri ini digunakan sebagai produk insektisida komersial pertama kali pada tahun 1938 di Perancis dan kemudian di Amerika Serikat (1950). Pada tahun 1960-an, produk tersebut telah digantikan dengan galur bakteri yang lebih patogen dan efektif melawan berbagai jenis insekta. Pada lingkungan dengan kondisi yang baik dan nutrisi yang cukup, spora bakteri ini dapat terus hidup dan melanjutkan pertumbuhan vegetatifnya. Bacillus thuringiensis dapat ditemukan pada berbagai jenis tanaman, termasuk sayuran, kapas, tembakau, dan tanaman hutan.

Bacillus thuringiensis (Bt) adalah bakteri gram positif yang berbentuk batang, aerobik dan membentuk spora. Banyak strain dari bakteri ini yang menghasilkan protein yang beracun bagi serangga. Sejak diketahui potensi dari protein Kristal atau cry Bt sebagai agen pengendali serangga, berbagai isolasi Bt mengandung berbagai jenis protein kristal. Dan sampai saat ini telah diidentifikasi protein kristal yang beracun terhadap larva dari berbagai ordo serangga yang menjadi hama pada tanaman pangan dan hortikultura. Kebanyakan dari protein kristal tersebut lebih ramah lingkungan karena mempunyai target yang spesifik yaitu tidak mematikan serangga dan mudah terurai sehingga tidak menumpuk dan mencemari lingkungan (Agus Krisno,, 2011). Oleh karena itu Bakteri Bacillus thuringiensis (Bt) banyak digunakan sebagai alternatif tanaman yang resisten terhadap hama.

Hingga pada tahun 1998, Bacillus thuringiensis dibagi menjadi 67 subspesies berdasarkan fenotipe dari flagela (H). Ciri khas bakteri Bacillus yang membedakan dengan yang lainnya adalah kemampuan membentuk kristal paraspora yang berdekatan dengan endospora selama fase sporulasi.

Sembilan puluh lima persen kristal terdiri dari protein dengan asam amino terbanyak terdiri dari asam glutamat, asam aspartat dan arginin, sedangkan lima persen terdiri dari karbohidrat yaitu mannosa dan glukosa. Kristal protein tersusun dari subunit-subunit protein yang berbentuk batang atau halter, mempunyai berat molekul 130 – 140 kDa yang berupa protoksin. Protoksin akan menjadi toksin setelah mengalami hidrolisis dalam kondisi alkalin di dalam saluran pencernaan serangga. Hidrolisis ini melepaskan protein kecil dengan berat molekul sekitar 60 kDa dan bersifat toksik (Bulla, Kramer dan Davidson, 1977).

Bacillus thuringiensis dapat memproduksi dua jenis toksin, yaitu toksin kristal (Crystal, Cry) dan toksin sitolitik (cytolytic, Cyt). Toksin Cyt dapat memperkuat toksin Cry sehingga banyak digunakan untuk meningkatkan efektivitas dalam mengontrol insekta. Lebih dari 50 gen penyandi toksin Cry telah disekuens dan digunakan sebagai dasar untuk pengelompokkan gen berdasarkan kesamaan sekuens penyusunnya.

Potensi dan Penanda DNA Genetika Bt

Penanda genetika yaitu karakter gen yang diwariskan dan berasosiasi dengan genotif tertentu.

Pemuliaan tanaman konvensional menggunakan hasil observasi fenotipe, kadang-kadang di dukung oleh statistika yang rumit dalam menyeleksi individu unggul dalam populasi pemuliaan. Oleh karena itu pemuliaan tanaman di masa mendatang akan lebih mengarah kepada penggunaan tehnik dan metodologi pemuliaan molekuler dengan menggunakan penanda genetik. Dengan penggunaan “pemuliaan molekuler” yang menjanjikan kesederhanaan terhadap kendala dan tantangan tersebut. Seleksi tidak langsung dengan menggunakan penanda molekuler yang terikat dengan sifat-sifat yang diinginkan telah memungkinkan studi individu pada tahap pertumbuhan dini, mengurangi permasalahan yang berkaitan dengan seleksi sifat-sifat ganda dan ketidaktepatan pengukuran akibat ekspresi sifat disebabkan oleh faktor eksterrnal lokus genetik ganda.

 
   

Dengan kemajuan IPTEK di bidang teknologi molekuler telah memberikan peluang untuk mengatasi keterbatasan itu, dimana beberapa  aspek mikro dalam pemuliaan dalam diketahuai yaitu: Identifikasi dan penentuan letak gen, Pemindahan gen tak terbatas, Peningkatan pemahaman proses genetik dan fisiologi tanaman, Perbaikan diagnosis penyakit dengan metode molekuler, Pengaturan produksi protein pada tanaman serealia dan kacang-kacangan untuk meningkatkan gizi, Memudahkan dalam menghasilkan dan menyeleksi tanaman tahan hama, penyakit dan cekaman lingkungan, serta Memungkinkan dilakukannya transformasi, konstruksi, dan ekspresi genetik melalui teknologi DNA.

Berdasarkan hal itu, potensi penggunaan gen Bt sebagai alat untuk melakukan karakterisasi genetik dalam penanda molekuler, yang dapat diguakan untuk memeriksa lokasi suatu gen yang bertanggung jawab terhadap suatu sifat yang sederhana, misalnya resisten terhadap hama atau sifat kuantitatif yang komplek pada kromosom.

             Dengan dihasilkannya rekayasa genetika melalui beberapa metode yang akan disisipkan gen dari bakteri Bacillus thuringiensis ke dalam sel jaringan tanaman bahan pokok, menjadi tanaman yang tahan hama. (Adiwilaga, K. 1998). Rekayasa genetika dalam bidang tanaman ini akan menghasilkan tanaman transgenic yang fertil, sehingga meningkatkan produktivitas hasil panen pada tanaman pokok.

 Image

Gambar 2. Salah satu teknik penyisipan gen Bt pada DNA tanaman

Seperti yang dijelaskan dalam ayat Al-Quran dibawah ini :

 Image

Artinya :

“Yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi. Dan Dia anak, dan tidak ada sekutu bagiNya dalam kekuasaan(Nya), dan dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya” (Q.S Al Furqon : 2).

Oleh karena itu, segala sesuatu yang diciptakan Allah SWT memiliki sifat dan fungsinya masing-masing dalam hidup. Dimana dibumi ini terdapat keanekaragaman organisme mikro ataupun makro dapat menunjukkan karakteristiknya.

Kondisi Pangan di Indonesia

Menurut Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1996, ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi setiap rumah tangga, yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, merata, dan terjangkau. Dalam mencapai ketahanan pangan, tentu tidak terlepas dari ketahanan gizi. Pada kenyataannya memang tidak mudah untuk mewujudkan ketahanan pangan bagi bangsa Indonesia. Pemerintah pun mengakui, buruknya infrastruktur pertanian menghambat upaya ketahanan pangan. Banyak infrastruktur yang rusak, sementara anggaran pemerintah tidak tersedia. Padahal jika infrastruktur memadai, transportasi pangan lebih mudah dilaksanakan, distribusi pangan lebih cepat, dan harga pangan akan lebih mudah ditekan.

Badan Pusat Statistik memprediksi produksi beberapa jenis pangan seperti padi, jagung, kentang, ubi dan tebu pada tahun ini turun. Namun, Kementerian Pertanian menilai data produksi pangan yang ada saat ini tidak akurat.

Dalam laporan BPS, penurunan produksi diperkirakan terjadi karena penurunan luas panen seluas 29,07 ribu ha (0,22%) dari 13,253 juta ha menjadi 13,224 juta ha. Selain luas panen, produktivitas tanaman juga turun dari 50,15 kuintal/ha menjadi 49,44 kuintal/ha atau 1,42% (surat kabar online, 2012).

Kebutuhan padi setiap tahun meningkat dan menyebabkan kebutuhan akan benih padi juga turut meningkat  Di Indonesia. Selain itu, masalah alam juga menghambat hasil tanam, yaitu perubahan iklim yang tidak bisa diperkirakan dan serangan hama, mengakibatkan hasil produksi pangan berkurang. Permasalahan pangan tidak dapat dihindari, walaupun Indonesia disebut sebagai negara agraris yang sebagian besar penduduknya adalah petani.  Kenyataannya masih banyak kekurangan pangan yang melanda Indonesia, hal ini seiring dengan meningkatnya penduduk

Hal ini akan mengakibatkan kasus gizi buruk yang terjadi di beberapa negara dapat menjadi pertanda terjadinya krisis pangan. Berdasarkan data UNICEF, di Indonesia ada sekitar 1,3 juta jiwa balita yang masuk kategori rawan gizi serta terdapat sedikitnya 19 juta penduduk miskin yang sulit untuk mendapatkan pangan yang cukup bergizi dan seimbang. Diperkirakan setiap lima detik seorang anak di bawah usia 10 tahun di dunia meninggal karena kelaparan dan lebih dari dua miliar penduduk dunia menderita kekurangan gizi mikro. Selain itu, gejala krisis pangan lainnya adalah ancaman kenaikan harga pangan dunia akibat krisis ekonomi yang melanda dunia saat ini. Seperti krisis ekonomi di Amerika Serikat yang sudah mempengaruhi perekonomian dunia dan saat ini telah berimbas kepada perekonomian di Indonesia.

Perbaikan dan peningkatan kualitas produksi pertanian (intensifikasi) untuk beberapa tahun yang lalu masih signifi-kan, karena ketersediaan sumber daya alam dan teknologi pertanian cukup memadai dan berimbang dengan ketersediaan lahan dan peningkatan jumlah penduduk. Keadaan ini sulit untuk dipertahankan dimasa akan datang, kecuali ada pendekatan baru yang mena-warkan ide dan teknik untuk meningkatkan produktifitas pertanian. Penggunaan rekayasa genetika memiliki potensi untuk menjadi problem solving dari ancaman krisis pangan tersebut.  Dengan segala kekurangannya rekayasa genetik diharapkan dapat membantu mengatasi permasalahan pembangunan pertanian yang tidak lagi dapat dipecahkan secara konvensional. Salah satu produk dari rekayasa genetika adalah tanaman transgenik .

Perakitan tanaman transgenik dapat diarahkan untuk memperoleh tanaman yang memiliki produksi tinggi, nutrisi dan penampilan mempunyai kualitas yang baik maupun resisten terhadap hama, penyakit dan lingkungan. Fragmen DNA organisme manapun melalui teknik rekayasa genetika dapat disisipkan ke genom jenis lain bahkan yang jauh hubungan kekerabatannya. Pemindahan gen ke dalam genom lan tidak mengenal batas jenis maupun golongan organisme.

Aplikasi Gen Bt Dalam Terhadap Tanaman Pokok di Indonesia

Upaya peningkatan produksi pangan dapat dilakukan melalui berbagai cara, antara lain melalui perbaikan genetik tanaman. Perbaikan genetik tanaman pokok pangan bertujuan untuk mengatasi kendala pertumbuhan tanaman, terutama cekaman lingkungan biotik dan abiotik.

Perbaikan genetik tanaman pokok  dapat dilakukan secara konvensional maupun melalui rekayasa genetik (genetic engeenering). Dengan berkembangnya bioteknologi, perbaikan genetik padi dan jagung sebagai salah satu tanaman pokok melalui rekayasa genetik akan menjadi andalan dalam pemecahan masalah perjagungan di masa mendatang. Seperti diketahui, pemuliaan secara konvensional mempunyai keterbatasan dalam mendapatkan sifat unggul dari tanaman.

Dalam rekayasa genetik tanaman pokok contohnya jagung, kentang, padi, ubi dan tebu, sifat unggul tidak hanya didapatkan dari tanaman itu sendiri, tetapi juga dari spesies lain sehingga dapat dihasilkan tanaman transgenik. Tanaman Bt merupakan tanaman transgenik yang mempunyai ketahanan terhadap hama, di mana sifat ketahanan tersebut diperoleh dari bakteri Bacillus thuringiensis (Herman 1997).

Beberapa kajian tentang teknik gen Bt menjelaskan cara gen Bt disisipkan ke dalam tanaman pokok. Gen Bt yang telah diidentifikasi, diisolasi dan kemudian dimasukkan ke dalam sel tanaman. Melalui suatu sistem tertentu, sel tanaman yang membawa gen tersebut dapat dipisahkan dari sel tanaman yang tidak membawa gen. Tanaman pembawa gen Bt kemudian ditumbuhkan secara normal. Tanaman inilah yang disebut sebagai tanaman transgenik karena ada gen asing yang telah dipindahkan dari makhluk hidup lain ketanaman tersebut (Muladno, 2002).Tanaman transgenik merupakan hasil rekayasa gen dengan cara disisipi satu atausejumlah gen. Gen yang dimasukkan itu disebut transgen bisa diisolasi dari tanaman tidak sekerabat atau spesies yang lain sama sekali (BPPT,2000).

Saat ini, tanaman Bt pada tanaman pokok belum ditanam di Indonesia. Pengalaman pertama penanaman komoditas pertanian yang mengandung gen Bt transgenik di Indonesia adalah penanaman kapas Bt oleh petani di Sulawesi Selatan pada musim tanam 2001-2002. Belum ditanamnya tanaman transgenik karena masih mengandung pro kontra dalam masyarakat.

 
   
 

 

 
   

Dalam mengimplementasikan kajian tentang pemuliaan tanaman pemerintah mengeluarkan undang-undang yaitu Perlindungan Varietas Tanaman menurut UU PVT UU NO 29 Tahun 2000 Pasal 1(1) adalah : Perlindungan khusus yang diberikan negara, yang dalam hal ini diwakili oleh pemerintah dan pelaksanaannya dilakukan oleh Kantor Perlindungan Varietas Tanaman, terhadap varietas tanaman yang dihasilkan oleh pemulia tanaman melalui kegiatan pemuliaan tanaman (Kompasiana.com, 2012). Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian akan meneruskan tekat serta mentargetkan akan memiliki  padi dan jagung hasil dari  rekayasa genetika (transgenik). Target ini menunjukkan komitmen Badan Litbang untuk mendorong kemajuan riset biotek di bidang pertanian. Hal ini untuk mencapai hasil peningkatan produksi tanaman pangan di Indonesia yang tahan hama.

 

Tanaman transgenik, khususnya tanaman pokok Bt mempunyai prospek dan peluang untuk dimanfaatkan di Indonesia. Hal ini mengingat pengalaman di berbagai negara lain yang telah menanam tanaman Bt (contohnya jagung) dapat mendatangkan manfaat dan keuntungan bagi petani. Manfaat tanaman  Bt bagi petani tidak hanya berupa ketahanan terhadap serangga hama target dan menurunkan pemakaian insektisida, tetapi juga dapat menurunkan tingkat kontaminasi mikotoksin akibat serangan cendawan Fusarium (Adiwilaga, K. 1998).

Image

Image

Gambar 3. Salah satu contoh tanaman pokok yang memanfaatkan gen Bt yaitu Tebu Bt.

 Image

Gambar 4. Perbandingan hasil tanaman Bt dan non Bt pada tanaman jagung

Sumber: Herman et al. (2004), Adiwilaga (1998).

Dalam meningkatkan mutu hasil panen tanaman pokok, pemerintah Indonesia melakukan sosialisasi kepada masyarakat khususnya petani Indonesia untuk mengetahui pentingnya penanaman tanaman pokok seperti padi dan jagung dengan penyisipan gen Bt, sehingga menghasilkan kualitas tanaman yang resisten terhadap hama. Selain menghasilkan kualitas yang resisten terhadap hama, juga mengurangi biaya produksi dalam pembelian pestisida. Sehingga akan meningkatakan hasil panen dan mengurangi angka penurunan hasil produksi tanaman pokok di Indonesia,

Seperti yang dijelaskan pada Surat Az- Zumar: 21 dibawah ini:

Image

Artinya: ”Apakah kamu tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah menurunkan air dari langit, maka diaturnya menjadi sumber-sumber air di bumi kemudian ditumbuhkan-Nya hancur berderai-derai. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal” (Q.S Az-Zumar: 21).

Berdasarkan surat diatas dapat diketahui bahwa Allah SWT menciptakan sesuatu yang Ia inginkan dan apapun di kehendaki. Makhluk-makhluk yang telah diciptakan dan Allah dapat menjadikannya bermakna dari masing masing penciptaan-Nya. Begitu juga dalam proses pemuliaan tanaman ini terjadilah makhluk mikroorganisme atau bakteri yang tidak kasat mata mampu mengubah hal yang tak bermanfaat menjadi bermanfaat. Serta bagaimana usaha dari orang-orang yang memiliki akal atau kemampuan untuk menerapkan manfaat dari bakteri, salah satu contohnya Bacillus thuringiensis yang dimanfaatkan sebagai bioinsektisida atau pembasmi hama dalam bidang pertanian.

Dampak Peranan Bacillus thuringiensis dalam Ketahanan Pangan di Indonesia

            Adapun kajian dari studi gen Bt dalam ketahanan pangan antara lain, sebagai berikut :

Dampak positif peranan Bacillus thuringiensis

1.     Hasil produksi menigkat sehingga akan mengatasi kelaparan.

2.     Dapat menekan penggunaan pestisida, sehingga menurunkan biaya produksi.

3.     Ketahanan tanaman terhadap hama dan jamur toksin dari Fusarium penyebab pembusukan, dibandingkan dengan tanaman non-Bt yang mengalami kerusakan berat.

Dampak negatif peranan Bacillus thuringiensis

1.     Dapat menimbulkan penyakit atau gangguan kesehatan pada konsumen akibat adanya bahan kimia yang terdapat dalam tanaman transgenik.

2.     Menimbulkan gangguan pada keseimbangan ekosistem lingkungan yang terdapat tanaman transgenik.

3.     Terjadi persaingan harga tanaman jagung transgenik dan tanaman jagung biasa.

 

KESIMPULAN 

Berdasarkan uraian isi pembahasan di atas, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: 1) Gen Bacillus thuringiensis (Bt) adalah bakteri gram positif yang berbentuk batang dan  menghasilkan protein yang beracun bagi serangga. 2) Bacillus thuringiensis memproduksi salah satunya Toksin Cyt yang dapat memperkuat toksin Cry sehingga banyak digunakan untuk meningkatkan efektivitas dalam mengontrol insekta. 3) Penggunaan penyisipan gen Bt pada tanaman pokok di Indonesia guna untuk memperbaiki dan meningkatkan hasil produksi panen tanaman pokok yang resisten terhadap hama. 4)  Upaya peningkatkan mutu hasil panen tanaman Bt, pemerintah Indonesia melakukan sosialisasi kepada masyarakat khususnya petani Indonesia untuk mengetahui pentingnya penanaman tanaman trangenik Bt sehingga menghasilkan kualitas jagung yang resisten terhadap hama. 5) Dampak positif penggunaan tanaman transgenik yaitu menekan penggunaan pestisida, dan ketahanan terhadap hama sehingga hasil produksi meningkat. Sedangkan dampak negatifnya yaitu menimbulkan gangguan kesehatan bagi konsumen, gangguan keseimbangan pada ekosistem, dan persaingan harga antara tanaman transgenik dan tanaman biasa.

 

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2010. Gen Bacillus thuringiensis (Bt). http ://www. Pemuliaan Tanman.com/ (diakses tanggal 8 Januari 2012).

Adiwilaga, K. 1998. Permohonan pengkajian keamanan hayati tanaman transgenik http://www.google.com/Tanaman-transgenik (diakses tanggal 10 Januari 2012).

Agus krisno, 2011. Rekayasa Genetika bakteri Bt dalam Perakitan Tanaman transgenik. http ://www.wordpress.Blog/pondok ilmu. (diakses tanggal 9 Januari 2012).

Herman, M. 2002. Perakitan tanaman tahan serangga hama melalui teknik rekayasa genetik. Buletin AgroBio 5(1): 1-13.

Herman, M., K. Kusumanegara, dan D. Damayanti. 2004. Perakitan dan bioasai tanaman transgenik tahan serangga hama. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian. Badan Litbang Pertanian. 40 hlm.molekuler.com/ (diakses tanggal 8 Januari 2012).

Nasir M, 2002. Bioteknologi Molekuler Teknik Rekayasa Genetika Tanaman. Penerbit PT. Citra Aditya Bakti. Bandung.

Sitepe M, 2001. Rekayasa Genetika. Jakarta: Penerbit Grasindo.

Suryo (2008). Genetika. Yogyakarta : Gadjah Mada University).

Zaifbio. 2010. Genetika Molekuler. http ://www.zaifbio.edu. Diakses tanggal 9 januari 2012.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 59 other followers

%d bloggers like this: