Fenomena Hereditas Penderita Penyakit Buta Warna Dalam Perspektif Genetika Populasi Diwilayah Indonesia

Fenomena Hereditas Penderita Penyakit Buta Warna Dalam Perspektif Genetika Populasi Diwilayah Indonesia

The phenomenon of Heredity Disease Patients In Color Blind Perspective Population Genetics region of Indonesia

Fitriatul Qomariyah (09330094), Drs. H. Moch. Agus Krisno Budiyanto, M.Kes.

Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Muhammadiyah Malang

Jl. Tlogomas 246 Malang Telp 464318

Abstract

 

Population genetics is the branch of genetics that discusses the transmission of genetic material in the areas of population. Of the object bahasannya, population genetics can be classified as a branch of genetics that focuses on genetic inheritance. Population genetics is based on Hardy-Weinberg Law, which was first introduced by Wilhelm Weinberg (1908) and, almost simultaneously but independently, Godfrey Hardy (1908).

Heredity in humans learn about all kinds of inheritance or abnormalities in humans. The decline in human nature can be divided into two, namely the nature of the body adrift koromosom (autosomal), and sex-linked trait (gonosomal). Autosomal trait manifestations can appear in both boys and girls, while the nature of the gonosomal manifestations are influenced by gender, can only appear in boys only or girls only.

Color blindness is a disorder caused by the inability of the eye cone cells to capture a specific color spectrum due to genetic factors. Color blindness is in medical terms is known as Dyschromatopsia refers to the ability to see some color. While Achromatopsia, a rare, refers to the inability of the eye to see color at all. Most color blindness is a genetic defect that occurs when a person was born.

 

Keywords: population genetics, Heredity, Color blindness

 

 

Abstrak

            Genetika Populasi adalah cabang genetika yang membahas transmisi bahan genetik pada ranah populasi. Dari objek bahasannya, genetika populasi dapat dikelompokkan sebagai cabang genetika yang berfokus pada pewarisan genetik. Genetika Populasi didasarkan pada Hukum Hardy-Weinberg, yang diperkenalkan pertama kali oleh Wilhelm Weinberg (1908) dan, hampir bersamaan tetapi secara independen, Godfrey Hardy (1908).

Hereditas pada manusia mempelajari mengenai macam-macam penurunan sifat atau kelainan pada manusia. Penurunan sifat pada manusia dibedakan menjadi dua, yaitu sifat yang terpaut koromosom tubuh (autosomal), dan sifat yang terpaut kromosom sex (gonosomal). Sifat yang autosomal manifestasinya dapat muncul baik pada anak laki-laki maupun perempuan, sedangkan sifat yang gonosomal manifestasinya dipengaruhi oleh jenis kelamin, bisa hanya muncul pada anak laki-laki saja atau perempuan saja.

Buta warna adalah suatu kelainan yang disebabkan oleh ketidakmampuan sel-sel kerucut mata untuk menangkap suatu spektrum warna tertentu akibat faktor genetis. Buta warna yang dalam istilah kedokteran dikenal sebagai Dyschromatopsia mengacu pada kemampuan untuk melihat beberapa warna. Sedangkan Achromatopsia, yang jarang terjadi, mengacu pada ketidakmampuan mata untuk melihat warna sama sekali. Sebagian besar buta warna adalah sebuah cacat genetik yang muncul ketika seseorang lahir.

Kata Kunci : Genetika populasi, Hereditas, Buta warna.

PENDAHULUAN

            Genetika populasi adalah cabang dari ilmu genetika yang mempelajari gen-gen dalam populasi dan menguraikannya secara matematik akibat dari keturunan pada tingkat populasi. Genetika populasi berusaha menjelaskan implikasi yang terjadi terhadap bahan genetik akibat saling kawin yang terjadi di dalam satu atau lebih populasi. Suatu populasi dikatakan seimbang apabila frekuensi genetik berada dalam keadaan tetap dari setiap generasi (Suryo 1994: 344).

Buta warna adalah suatu penglihatan warna-warna yang tidak sempurna. Buta warna juga dapat diartikan sebagai suatu kelainan pada penglihatan yang disebabkan ketidakmampuan sel-sel kerucut (cone cell) pada retina mata untuk menangkap suatu spektrum warna tertentu sehingga objek yang terlihat bukan warna yang sesungguhnya. Buta warna dalam istilah kedokteran dikenal sebagai Dyschromatopsia mengacu pada kemampuan untuk melihat beberapa warna-warna. Sedangkan Achromatopsia, yang jarang terjadi, mengacu pada ketidakmampuan mata untuk melihat warna sama sekali (Daniel, 2011).

Hereditas adalah pewarisan watak dari induk ke keturunannya baik secara biologis melalui gen (DNA) atau secara sosial melalui pewarisan gelar, atau status sosial. Seperti diketahui kromosom ada dua jenis yaitu Autosom dan Gonosom, jadi penyakit genetik pada manusia juga ada dua sebab yaitu disebabkan oleh kelainan autosom dan disebabkan oleh kelainan gonosom (Pratiwi, 2007).

 

PEMBAHASAN

Buta Warna

  1. 1.      Pengertian Buta Warna      

Buta warna adalah penglihatan warna-warna yang tidak sempurna. Buta warna juga dapat diartikan sebagai suatu kelainan penglihatan yang disebabkan ketidakmampuan sel-sel kerucut (cone cell) pada retina mata untuk menangkap suatu spektrum warna tertentu sehingga objek yang terlihat bukan warna yang sesungguhnya (Nina Karina, 2007).

Buta warna diartikan juga sebagai suatu kondisi ketika sel-sel retina tidak mampu merespon warna dengan semestinya. Sel-sel kerucut di dalam retina mata mengalami pelemahan atau kerusakan permanen (Anonymous, 2011).

Penderita buta warna tidak dapat membedakan warna hijau dan merah, atau semua warna.  Buta warna dibedakan menjadi 2 tipe. Yang pertama adalah tipe protan, yaitu apabila tidak dapat membedakan warna hijau karena bagian mata yang sensitif terhadap warna hijau tersebut rusak. Kedua

adalah tipe deutan, yaitu apabila yang rusak adalah bagian mata yang sensitif terhadap warna merah. Tipe deutan ini paling sering terjadi. Hal ini di karenakan individu tersebut tidak mempunyai reseptor yang dapat mendeteksi cahaya pada panjang gelombang hijau atau merah. Buta warna merupakan penyakit yang disebabkan oleh gen resesif c (color blind) yang terdapat pada kromosom X (Siti, 2009).

Perempuan normal mempunyai genotip homozigotik dominan CC dan heterozigotik Cc, sedangkan yang buta warna adalah homozigotik resesif cc. Laki-laki hanya mempunyai sebuah kromosom-X, sehingga hanya dapat normal XY atau buta warna XcY (Azmi elvita, 2008).

Gen buta warna terkait dengan dengan kromosom X (X-linked genes). Jadi kemungkinan seorang pria yang memiliki genotif XY untuk terkena buta warna secara turunan lebih besar dibandingkan wanita yang bergenotif XX untuk terkena buta warna. Jika hanya terkait pada salah satu kromosom X nya saja, wanita disebut carrier atau pembawa, yang bisa menurunkan gen buta warna pada anak-anaknya. Menurut salah satu riset 5-8% pria dan 0,5% wanita dilahirkan buta warna. Dan 99% penderita buta warna termasuk dikromasi, protanopia, dan deuteranopia (Nina Karina, 2007).

Buta warna dapat juga ditemukan pada penyakit makula, saraf optik, sedang pada kelainan retina ditemukan cacat relative penglihatan warna biru dan kuning sedang kelainan saraf optik memberikan kelainan melihat warna merah dan hijau (Ilyas, 2008).

Apabila pada kedua kromosom X mengandung faktor buta warna maka seorang wanita tersebut menderita buta warna. Buta warna merupakan penyakit keturunan yang terekspresi para pria, tetapi tidak pada wanita. Wanita secara genitis sebagai carrier. Istilah buta warna atau colour blind sebetulnya salah pengertian dan menyesatkan, karena seorang penderita buta warna tidak buta terhadap seluruh warna. Akan lebih tepat bila disebut gejala defisiensi daya melihat warna tertentu saja atau colour vision difiency (Andra, 2010).

 

2. Beberapa Penyebab Buta Warna

Pada umumnya, terjadinya buta warna disebabkan oleh adanya reseptor warna dalam retina mata yang kurang berfungsi secara normal (mal function). Pada dasarnya, di dalam retina mata kita terdapat tiga tipe atau jenis reseptor warna, yaitu merah, biru, dan hijau. Anomali warna terjadi sebagai hasil akibat kekurangan satu atau lebih dari reseptor warna tersebut (Andra, 2010).

Buta warna adalah kondisi yang diturunkan secara genetik. Dibawa oleh kromosom X pada perempuan, buta warna diturunkan kepada anak-anaknya. Ketika seseorang mengalami buta warna, mata mereka tidak mampu menghasilkan keseluruhan pigmen yang dibutuhkan untuk mata berfungsi dengan normal (Anonymous, 2011).

Penyebab lain buta warna adalah karena didapat. Hal ini biasanya terjadi ketika anak mengalami kerusakan retina atau cedera (trauma) pada otak yang menyebabkan pembengkakan di lobus occipital. Kerusakan akibat paparan sinar ultraviolet karena tidak menggunakan pelindung mata secara benar juga bisa menyebabkan buta warna (Anonymous, 2009).

 

3. Klasifikasi Buta Warna

Buta warna dikenal berdasarkan istilah Yunani protos (pertama), deutros (kedua), dan tritos (ketiga) yang pada warna 1. Merah, 2. Hijau, 3. Biru.

1. Anomalous trichromacy

Anomalous trichromacy adalah gangguan penglihatan warna yang dapat disebabkan oleh faktor keturunan atau kerusakan pada mata setelah dewasa. Penderita anomalous trichromacy memiliki tiga sel kerucut yang lengkap, namun terjadi kerusakan mekanisme sensitivitas terhadap salah satu dari tiga sel reseptor warna tersebut.

Penderita buta warna dapat melihat berbagai warna akan tetapi dengan interpretasi berbeda daripada normal yang paling sering ditemukan adalah:

a. Trikromat anomali, kelainan terdapat pada short-wavelenght pigment (blue). Pigmen biru ini bergeser ke area hijau dari spectrum merah. Penderita mempunyai ketiga pigmen kerucut akan tetapi satu tidak normal, kemungkinan gangguan dapat terletak hanya pada satu atau lebih pigmen kerucut. Pada anomali ini perbandingan merah hijau yang dipilih pada anomaloskop berbeda dibanding dengan orang normal.

b.  Deutronomali, disebabkan oleh kelainan bentuk pigmen middle-wavelenght (green). Dengan cacat pada hijau sehingga diperlukan lebih banyak hijau, karena terjadi gangguan lebih banyak daripada warna hijau.

c.     Protanomali adalah tipe anomalous trichromacy dimana terjadi kelainan terhadap long-wavelenght (red) pigmen, sehingga menyebabkan rendahnya sensitifitas warna merah. Artinya penderita protanomali tidak akan mempu membedakan warna dan melihat campuran warna yang dilihat oleh mata normal. Penderita juga akan mengalami penglihatan yang buram terhadap warna spektrum merah. Hal ini mengakibatkan mereka dapat salah membedakan warna merah dan hitam.

 

 

 

 

 

 

Gambar 1. kemampuan pandang pada Anomalous trichromacy.

Sumber: http://healthlob.com/wp-content/uploads/2011/04/humanvisionfigure71.jpg

2. Dichromacy

Dichromacy adalah jenis buta warna di mana salah satu dari tiga sel kerucut tidak ada atau tidak berfungsi. Akibat dari disfungsi salah satu sel pigmen pada kerucut, seseorang yang menderita dikromatis akan mengalami gangguan penglihatan terhadap warna-warna tertentu. Dichromacy dibagi menjadi tiga bagian berdasarkan pigmen yang rusak:

a. Protanopia adalah salah satu tipe dichromacy yang disebabkan oleh tidak adanya photoreceptor retina merah. Pada penderita protonopia, penglihatan terhadap warna merah tidak ada. Dichromacy tipe ini terjadi pada 1 % dari seluruh pria. Keadaan yang paling sering ditemukan dengan cacat pada warna merah hijau sehingga sering dikenal dengan buta warna merah – hijau.

b. Deutranopia adalah gangguan penglihatan terhadap warna yang disebabkan tidak adanya photoreceptor retina hijau. Hal ini menimbulkan kesulitan dalam membedakan hue pada warna merah dan hijau (red-green hue discrimination).

c.   Tritanopia adalah keadaan dimana seseorang tidak memiliki short-wavelength cone. Seseorang yang menderita tritanopia akan kesulitan dalam membedakan warna biru dan kuning dari spektrum cahaya tanpak. Tritanopia disebut juga buta warna biru-kuning dan merupakan tipe dichromacy yang sangat jarang dijumpai.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 2. kemampuan pandang Protanopia, Deutranopia, Tritanopia

Sumber:http://www.moondragon.org/health/graphics/colorblindnesschart.jpg

 

3. Monochromacy

Monochromacy atau akromatopsia adalah keadaan dimana seseorang hanya memiliki sebuah pigmen cones atau tidak berfungsinya semua sel cones. Pasien hanya mempunyai satu pigmen kerucut (monokromat rod atau batang). Pada monokromat kerucut hanya dapat membedakan warna dalam arti intensitasnya saja dan biasanya 6/30. Pada orang dengan buta warna total atau akromatopsia akan terdapat keluhan silau dan nistagmus dan bersifat autosomal resesif (Kurnia, 2009).

Bentuk buta warna dikenal juga :

a. Monokromatisme rod (batang) atau disebut juga suatu akromatopsia di mana terdapat kelainan pada kedua mata bersama dengan keadaan lain seperti tajam penglihatan kurang dari 6/60, nistagmus, fotofobia, skotoma sentral, dan mungkin terjadi akibat kelainan sentral hingga terdapat gangguan penglihatan warna total, hemeralopia (buta silang) tidak terdapat buta senja, dengan kelainan refraksi tinggi. Pada pemeriksaan dapat dilihat adanya makula dengan pigmen abnormal.

b. Monokromatisme cone (kerucut), di mana terdapat hanya sedikit cacat, hal yang jarang, tajam penglihatan normal, tidak nistagmus (Ilyas, 2008).

Kemampuan pandang dari Anomalous trichromacy, Dichromacy, Monochromacy.

 

 

 

 

 

Gambar 3.  kemampuan pandang dari Anomalous trichromacy, Dichromacy, Monochromacy.

Sumber:http://www.neitzvision.com/Images/baby.jpg

4. Gejala atau Tanda Buta Warna

Seseorang yang mengalami Achromatopsia tidak dapat membedakan warna. Beberapa orang dengan Achromatopsia hanya bisa melihat abu-abu. Seseorang dengan kondisi ini biasanya memiliki jarak pandang yang pendek, sensitif pada cahaya, dan gerakan mata cepat (Anonymous, 2011).

 

 

 

 

Gambar 4. retina Achromatopsia.

Sumber:http://www.achromatopsia.info/storage/NormalAchromatopsia.jpg?_SQUARESPACE_CACHEVERSION=1268597496117

Jenis lain dari buta warna adalah Dyschromatopsia yang lebih umum terjadi. Individu dengan kondisi ini biasanya memiliki penglihatan yang sangat baik. Penderita biasanya tidak dapat membedakan antara warna merah dan hijau. Dalam kasus yang jarang terjadi, orang tidak dapat membedakan antara nuansa biru dan kuning. Banyak orang dengan kondisi tidak menyadari bahwa mereka buta warna (Anonymous, 2011).

 

 

 

 

 

Gambar 5. retina Dyschromatopsia

Sumber:http://www.revophth.com/CMSImagesContent/2009/11/1_14544_1.gif

Penderita Buta Warna Di Indonesia

Jumlah penderita buta warna di Indonesia, menurut salah satu riset 5-8% pria dan 0,5% wanita dilahirkan buta warna. Dan 99% penderita buta warna termasuk dichromacy protanopia dan deuteranopia (disfungsi warna hijau). Di negara-negara kawasan Eropa, penelitian menyebutkan 8 – 12 % lelaki di sana adalah penderita buta warna. Sementara persentase perempuan Eropa yang buta warna adalah 0,5 – 1% (Ananta, 2007).

Untuk itu perlu dikembangkan penelitian bidang genetika molekular penyakit genetik yang sifatnya mendasar untuk tujuan peningkatan pemahaman tentang proses metabolisme yang mengalami gangguan akibat adanya kerusakan suatu gen. Salah satu minat yang ingin ditekuni adalah kelainan genetik buta warna pada keluarga Indonesia (Ananta, 2007).

Menurut dr Amyta Miranty, Sp M, Presiden Direktur RS Mata Aini, Jakarta, orangtua perlu waspada dan segera memeriksakan anaknya bila tidak bisa membedakan warna atau salah menyebutkan warna meski sudah sering diajarkan. Perhatikan juga riwayat keluarga, apakah ada anggota keluarga yang mengalami buta warna (Anonymous, 2009)

 

Persilangan Buta Warna

Penderita buta warna dapat mewarisi sifat buta warna dari orang tuanya, meskipun keadaan lahiriah kedua orang tuanya normal. Pewarisan buta warna ini disebabkan oleh gen yang tertaut kromosom X. Gen-gen tersebut bersifat resesif. Bila gen resesif ini berpasangan dengan kromosom X, tidak menyebabkan buta warna, tetapi individu yang bersangkutan membawa sifat buta warna (carrier) (Pratiwi, 2006).

Apabila gen resesif berpasangan dengan kromosom Y akan menyebabkan pria buta warna.

Genotipe X X           : menunjukkan wanita normal

Genotipe X Xcb        : menunjukkan wanita carrier buta warna

Genotipe Xcb Xcb : menunjukkan wanita buta warna

Genotipe X Y      : menunjukkan laki-laki normal

Genotipe Xcb Y   : menunjukkan laki-laki buta warna

Jika pasangan suami istri yang istrinya normal tetapi carrier sedangkan suaminya normal, maka keturunan (anak-anaknya) adalah

P   : X Xcb       ><        X Y

F1 : X X, Xcb X, X Y dan Xcb Y

Kemungkinan adalah, 3 anak normal dan 1 anak buta warna. Yang buta warna adalah anak laki-lakinya, sedangkan semua anak wanitanya normal. Wanita yang carrier buta warna memiliki penglihatan yang normal, tetapi sifat buta warna ini akan muncul pada keturunannya (Pratiwi, 2006).

Bila ayah dan ibu buta warna maka dapat dipastikan semua anak-anaknya menderita buta warna.

P   :  Xcb Xcb      ><       Xcb Y

(wanita)              (pria)

F1 :XcbXcb = wanita buta warna (50%)

Xcb Y    =    pria buta warna (50%)

P           :  Xcb Xcb        ><        X Y

(buta warna)    (normal)

Gamet : Xcb, Xcb, X dan Y

F1         : Xcb X, Xcb X,Xcb Y, Xcb Y

Untuk  Xcb X (normal)          = 50 %

Xcb Y (buta warna)  = 50 %

Dari perkawinan tersebut, tampak bahwa sifat dari orang tua wanita (buta warna) akan di wariskan pada keturunan pria. Sebaliknya, sifat dari orang tua pria (normal) akan diwariskan kepada keturunan wanita. Pewarisan sifat yang bersilang ini merupakan ciri khas pada pewarisan gen-gen tertaut kromosom X dan disebut criss-cross inheritance (Pratiwi, 2006)

Contoh dalam populasi:

Dalam masyarakat A yang berpenduduk 10.000 orang terdapat 16 orang buta warna. Berapa orang pembawa sifat buta warna pada masyarakat tersebut?

  1. Orang albino = aa =      16__

10.000

= 0,0016

 

a = √0,0016 = 0,04

A + a = 1

A = 1 – 0,04 = 0,96

Jadi frekuensi gen A = 0,96 dan a = 0,04

  1. Orang pembawa sifat buta warna (Aa)

Aa = 2Aa = 2 x 0,96 x 0,04 = 0,0768 = 7,68 %

Berarti dalam populasi 10.000 orang terdapat carrier buta warna sebanyak 10.000 x 0,0768 = 768 orang. Populasinya tidak seimbang, penderita buta warna lebih sedikit dari pada yang normal. Implikasinya tidak sesuai dengan hukum Hardy-Weinberg, dimana frekuensi gen dalam populasi akan berubah atau mengalami evolusi.

Dalam hal ini digunakan hukum Hardy-Weinberg. Hukum Hardy-Weinberg ini berfungsi sebagai parameter evolusi dalam suatu populasi. Bila frekuensi gen dalam suatu populasi selalu konstan dari generasi ke generasi, maka populasi tersebut tidak mengalami evolusi. Bila salah satu saja syarat tidak dipenuhi maka frekuensi gen berubah, artinya populasi tersebut telah dan sedang mengalami evolusi (Anonymous, 2011).

Untuk memastikan kasus buta warna, dokter mata umumnya akan melakukan tes hara dengan buku berisi kombinasi berbagai warna. Biasanya juga akan dilakukan tes penunjang, seperti pemeriksaan organ mata, dan sebagainya. Kerusakan itu secara umum tak hanya terkait dengan keluhan buta warna, tetapi juga pada hal lain, semisal ketajaman penglihatan, luas pandang, dan sebagainya. Yang perlu disadari, anak penderita buta warna tidak mengalami hambatan secara fisik dan kesehatan. Anak tetap dapat hidup, beraktivitas, bersekolah, berkarier, dan sebagainya. Orangtua bisa mengarahkan anak pada bidang-bidang profesi yang tidak membutuhkan keahlian warna secara dominan (Anonymous, 2009).

 

Dalam Perspektif Islam

Allah menciptakan manusia sebagai khalifah di bumi karena manusia adalah ciptaan Allah yang paling sempurna. Karena manusia dilengkapi dengan akal yang membedakan dengan mahluk yang lainnya. Sesuai surat At-Tin ayat 4

 

Artinya: “sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”.

Akan tetapi Allah memberikan berbagai macam penyakit kepada manusia sebagai bentuk ujian. Salah satunya yaitu penyakit buta warna. Sebagai bentuk pengujian kepada manusia, apakah dia mampu bersabar dalam menghadapi ujian itu. Islam itu indah. Allah berfirman bahwa tidak akan menguji hambanya diuar batas kemampuannya. Sesuai dengan surat Al-Baqarah ayat 286

لاَ يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَآ إِن نَّسِينَآ أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَآ إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَا لاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَآ أَنتَ مَوْلاَنَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ (256)

Artinya: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma’aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.”

 

Kesimpulan

  • Genetika populasi adalah cabang dari ilmu genetika yang mempelajari gen-gen dalam populasi dan menguraikannya secara matematik akibat dari keturunan pada tingkat populasi.
  • Sebenarnya buta warna adalah suatu kelainan penglihatan yang disebabkan ketidakmampuan sel-sel kerucut (cone cell) pada retina mata untuk menangkap suatu spektrum warna tertentu sehingga objek yang terlihat bukan warna yang sesungguhnya.
  • Ciri-ciri seorang buta warna adalah retina tidak mampu merespon warna dengan semestinya. Sel-sel kerucut di dalam retina mata mengalami pelemahan atau kerusakan permanen.
  • Buta warna merupakan penyakit yang disebabkan oleh gen resesif c (color blind) yang terdapat pada kromosom X.
  • Jumlah penderita buta warna di Indonesia, menurut salah satu riset 5-8% pria dan 0,5% wanita dilahirkan buta warna. Dan 99% penderita buta warna termasuk dichromacy protanopia dan deuteranopia (disfungsi warna hijau).
  • Hukum Hardy-Weinberg ini berfungsi sebagai parameter evolusi dalam suatu populasi. Bila frekuensi gen dalam suatu populasi selalu konstan dari generasi ke generasi, maka populasi tersebut tidak mengalami evolusi.
  • Buta warna dibedakan menjadi tiga yaitu Anomalous trichromacy, Dichromacy, Monochromacy.

 

DAFTAR PUSTAKA

Andra, 2010. Buta Warna, Kelainan Yang Menurun. http://ripiu.com/article/read/buta-warna-kelainan-yang-menurun.html. Diakses tanggal 2 januari 2012

Ananta, 2007. Buta Warna. http://ananta.wordpress.com/2007/05/16/buta-warna/. Diakses tanggal 2 januari 2012

Anonymous. 2011. Evolusi (2) : Hukum Hardy-Weinberg. http://biologimediacentre.com/evolusi-2-hukum-hardy-weinberg/. Diakses tanggal 2 januari 2012.

 

Azmi elvita, 2008. Mendeteksi Buta Warna.http://tautanpena.blogspot.com/2011/12/mendeteksi-buta-warna.html. Diakses tanggal 2 januari 2012

 

Ilyas, 2008. Buta Warna http://ilyas.blogspot.com/2008/09/18/buta-warna.html. Diakses tanggal 2 januari 2012.

Kurnia, 2009. Tanda dan Gejala Buta Warna. http://kesesatanbioenergicenter.blogspot.com/2011/07/tanda-dan-gejala-buta-warna.html. Diakses tanggal 2 januari 2012.

Nina Karina, 2007. Buta Warna. http://nina.blogspot.com/2007/04/buta-warna.html. Diakses tanggal 2 januari 2012.

Pratiwi, dkk. 2006. Biologi SMA 3. Erlangga: Jakarta.

Siti Rachmah, 2009. Biologi SMA/MA kelas XII. PT. Pustaka Insan Madani

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 60 other followers

%d bloggers like this: