Persilangan Dihibrid pada Kelinci untuk Meningkatkan Kualitas Kelinci Berbasis pada Polimeri

Niko Kurniawan (09330060), Reta Mawarintiasari (09330065), Zukiya (09330085),

DR. H. Moch. Agus Krisno B, M.Kes.

Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Muhammadiyah Malang

Jl. Tlogomas 246 Malang Telp 464318

 

Abstract

Quantitative genetics is the branch of genetics that explain the inheritance of acquired traits measured (quantitative or metric), which can not be explained directly by the law of Mendelian inheritance. Quantitative genetics is often equated with the concept of polygenic or polimeri. Polimeri is a phenomenon where there are many genes but not alleles affect the character / nature of the same. Polimeri has the characteristics: the more dominant gene, then the nature of his character is getting stronger. Polimeri is a form of gene interaction are cumulative (added together).

Dihybrid cross is a cross with two different characters related to Mendel’s second law, which call “independent assortment of genes”. Or grouping genes freely. From dihybrid crosses on rex and satin rabbits presented that the ratio between the wire-haired rabbits are not shiny, rough shiny, smooth not shiny with smooth shiny showed 15:1 ratio in accordance with the theory polimeri. These results can improve the quality

of rabbit fur and meat.

Keywords: Quantitative Genetics, Polimeri, Dihybrid crosses.

Abstrak

            Genetika kuantitatif adalah cabang genetika yang membahas pewarisan sifat-sifat terukur (kuantitatif atau metrik), yang tidak bisa dijelaskan secara langsung melalui hukum pewarisan Mendel. Genetika kuantitatif sering disamakan dengan konsep poligenik atau polimeri. Polimeri adalah suatu gejala dimana terdapat banyak gen bukan alel tetapi mempengaruhi karakter/sifat yang sama. Polimeri memiliki ciri: makin banyak gen dominan, maka sifat karakternya makin kuat. Polimeri merupakan bentuk interaksi gen yang bersifat kumulatif (saling menambah).

Persilangan dihibrid adalah persilangan dengan dua sifat beda sangat berhubungan dengan hukum Mendel II yang berbunyi “independent assortment of genes”. Atau pengelompokan gen secara bebas. Dari persilangan dihibrid pada kelinci rex dan satin didapatkan hasil bahwa perbandingan antara kelinci yang berbulu kasar tidak mengkilap, kasar mengkilap, halus tidak mengkilap dengan halus mengkilap menunjukkan perbandingan 15:1 yang sesuai dengan teori polimeri. Hasil tersebut dapat meningkatkan kualitas kelinci terutama bulu dan dagingnya.

Kata Kunci : Genetika kuantitatif, Polimeri, Persilangan Dihibrid.


PENDAHULUAN

          Genetika kuantitatif adalah cabang genetika yang membahas pewarisan sifat-sifat terukur (kuantitatif atau metrik), yang tidak bisa dijelaskan secara langsung melalui hukum pewarisan Mendel. Sifat-sifat yang tergolong sifat kuantitatif misalnya tinggi atau berat badan, hasil panen, atau produksi susu. Dalam genetika kuantitatif dijelaskan bahwa tidak hanya sedikit gen yang mengendalikan suatu sifat melainkan banyak gen sehingga dapat diartikan bahwa genetika kuantitatif hampir sama dengan sifat poligenik. Salah satu contoh dari sifat  poligenik adalah adanya satu sifat yang ditentukan oleh dua pasang gen yang disebut polimeri.

            Polimeri merupakan salah satu penyimpangan hukum Mendel. Polimeri adalah suatu gejala dimana terdapat banyak gen bukan alel tetapi mempengaruhi karakter/sifat yang sama. Polimeri memiliki ciri: makin banyak gen dominan, maka sifat karakternya makin kuat. Polimeri merupakan bentuk interaksi gen yang bersifat kumulatif (saling menambah).

            Salah satu contoh peristiwa polimeri adalah persilangan yang dilakukan oleh Nelson Ehla pada gandum berbiji merah dengan gandum  berbiji putih, ia menemukan variasi warna yang dihasilkan oleh keturunannya. Peristiwa tersebut mirip dengan persilangan dihibrid tidak dominan sempurna yang menghasilkan warna peralihan seperti merah muda. Warna yang dihasilkan ini tidak hanya dikontrol oleh satu pasangan gen saja melainkan oleh dua gen yang berbeda lokus, namun masih berpengharuh terhadap sifat yang sama.

            Kelinci memiliki potensi ekonomis dan kemampuan  biologis yang diharapkan dapat membantu sebagai penyedia bahan baku industri perkulitan. Kemampuan biologis kelinci berupa tingkat reproduksi yang tinggi dan laju pertumbuhan yang cepat serta mempunyai kemampuan untuk mengkonsumsi hijauan dan sisa hasil pertanian. Sedangkan kemampuan ekonomis berupa dapat menghasilkan kulit dan daging yang berkualitas. Selain itu kelinci dapat diternakkan dalam skala yang besar maupun kecil.

PEMBAHASAN

Kelinci

            Awalnya kelinci merupakan objek perburuan, budidaya kelinci sebagai hewan peliharaan baru dilakukan pada abad ke 16. Pengembangbiakan kelinci terus meningkatkan seiring bertambahnya konsumsi daging kelinci oleh manusia. Selain itu kelinci juga dapat dijadikan sebagai hewan peliharaan di rumah.

            Kelinci memiliki potensi ekonomis yang tidak kecil disamping kemampuan biologisnya yang cukup besar. Kelinci dapat dimanfaatkan daging, kulit, kulit – bulu, bulu dan organ dalamnya. Sejarah kelinci sebagai penghasil daging diawali dari dijadikannya kelinci sebagai objek perburuan.

            Beberapa sifat kuantitatif yang penting karakteristiknya pada kelinci adalah fertilitas, pertumbuhan dan efisiensi pakan, produksi susu, kepadatan bulu, ketahanan terhadap penyakit dan kualitas karkas. Sifat kuantitatif pada kelinci  dapat dipengaruhi oleh iklim, habitat, kelembaban, aliran udara, peralatan pemeliharaan, teknik pemuliaan, pemberian pakan, dan faktor manusia (Peternak).

            Kromosom kelinci berjumlah 44 buah, umur hidupnya 5-10 tahun dengan umur produktif 2-3 tahun dan memiliki kemampuan beranak 10 kali pertahun.

            Beberapa jenis kelinci yang umum diternakkan adalah American Chinchilla, Angora, Belgian, Californian, Dutch, English Spot, Flemish Giant, Havana, Himalayan, New Zealand Red, White dan Black, Rex Amerika. Kelinci lokal yang ada sebenarnya berasal dari dari Eropa yang telah bercampur dengan jenis lain hingga sulit dikenali lagi. Jenis New Zealand White dan Californian sangat baik untuk produksi daging, sedangkan Angora baik untuk bulu.

Persilangan Dihibrid

            Persilangan dihibrid yaitu persilangan dengan dua sifat beda sangat berhubungan dengan hukum Mendel II yang berbunyi “independent assortment of genes”. Atau pengelompokan gen secara bebas.

Hukum ini berlaku ketika pembentukan gamet, dimana gen sealel secara bebas pergi ke masing-masing kutub ketika meiosis. Hukum Mendel II disebut juga hukum asortasi.

Mendel menggunakan kacang ercis untuk dihibrid, yang pada bijinya terdapat dua sifat beda, yaitu soal bentuk dan warna biji. B untuk biji bulat, b untuk biji kisut, K untuk warna kuning dan k untuk warna hijau.

Persilangan Dihibrid antara Kelinci Rex dan Satin

            Kelinci rex mempunyai bulu yang halus, tebal dan panjangnya seragam, tidak mudah rontok dan tampak sangat menarik. Bobot kelinci rex dewasa dapat mencapai 2,7 – 3,6kg. Kehalusan bulu rex disebabkan oleh dua faktor yaitu diameter bulu kasar dan struktur kutikula. Genotipe kelinci rex adalah ekspresi sepasang alel rr dengan alel r bersifat resesif. Genotipe kelinci rex secara lengkap adalah rrSS.

            Kelinci Satin adalah bangsa kelinci yang diternakkan untuk diambil daging dan kulit bulunya. Kelinci satin berasal dari kekhususan bulu yang menjadikannya berbeda dengan kelinci jenis lain. Kelinci satin memiliki bulu yang mengkilap dan memantulkan cahaya yang menjadikan bulu berkilat unik. Gen satin menyebabkan robohnya sel bulu yang berisi udara sebagaimana bulu yang normal sehingga menghasilkan bulu yang indah, berkilauan dan transparan penampilannya. Genotipe kelinci satin secara lengkap adalah RRss.

Dilakukan persilangan antara    kelinci rex dan satin agar diperoleh kombinasi dari keduanya sehingga menghasilkan kelinci yang berbulu halus dan mengkilap. Dan didapatkan keturunan baru yang meningkatkan kualitas kelinci dari segi keindahan bulu.

Berdasarkan teori mendel, persilangan kelinci rex (rrSS) berbulu halus tidak mengkilap dengan kelinci satin (RRss) berbulu kasar mengkilap menghasilkan keturunan pertama (F1) normal (RrSs) yang berbulu tidak halus dan tidak mengkilap, karena pengaruh gen bulu halus r tertutup oleh gen R bulu kasar dan pengaruh gen bulu kilap s tertutup oleh gen bulu tidak kilap S.  Selanjutnya perkawinan antara keturunan pertama (F1) akan menghasilkan keturunan (F2) berupa kelinci-kelinci berbulu normal, rex, satin dan kombinasi antara rex dan satin. Dari persilangan tersebut menghasilkan perbandingan fenotip yaitu 9:3:3:1.

Berikut papan catur dari persilangan dihibrid pada kelinci rex dan satin untuk keturunan kedua (F2) .

♀/♂

RS

Rs

rS

rs

 RS

RRSS

RRSs

RrSS

RrSs

Rs

RRSs

RRss

RrSs

Rrss

rS

RrSS

RrSs

rrSS

rrSs

rs

RrSs

Rrss

rrSs

rrss

Dari papan catur diatas terlihat bahwa perbandingan antara kelinci yang berbulu kasar tidak mengkilap (RRSS), kasar mengkilap (RRss), halus tidak mengkilap (rrSS) dengan halus mengkilap (rrss) menunjukkan perbandingan 15:1 yang sesuai dengan teori polimeri. Berbeda dengan hukum Mendel bahwa persilangan dihibrid akan menghasilkan perbandingan 9: 3: 3: 1. Dalam hal ini sifat bulu kelinci tidak hanya satu gen saja yang menentukan melainkan banyak gen.

            Bila kelinci yang bergenotip rrss menunjukkan fenotip bulu halus mengkilap, maka akan dapat dibentuk bangsa kelinci baru yaitu yang berbulu halus mengkilap dengan nama rex satin. Dengan demikian, akan meningkatkan kualitas bulu pada kelinci sehingga dapat menyediakan bahan baku industri kulit yang cukup banyak dan berkesinambungan dengan kualitas yang baik atau tinggi.

Dengan penyamakan kulit yang modern serta desain produk yang memenuhi selera konsumen diharapkan industri perkulitan Indonesia dapat bersaing dengan produk – produk luar negeri. Selain itu produk yang dihasilkan dari bangsa kelinci baru ini diharapkan dapat menjadi komoditi ekspor yang handal. Selain itu dari bangsa kelinci baru ini juga dapat dimanfaatkan dagingnya.

Ayat – ayat yang menjelaskan tentang hewan ternak

Surat Al-Mu’minun Ayat 21

Artinya : Dan sesungguhnya pada binatang-binatang ternak, benar-benar terdapat pelajaran yang penting bagi kamu, Kami memberi minum kamu dari air susu yang ada dalam perutnya, dan (juga) pada binatang-binatang ternak itu terdapat faedah yang banyak untuk kamu, dan sebagian daripadanya kamu makan [23:21].

            Dari ayat diatas dijelaskan bahwa setiap hewan memiliki manfaat yang penting bagi kehidupan manusia. Misalnya untuk dikonsumsi daging dan susunya, dimanfaatkan kulit atau bulunya sebagai bahan industri, dan sebagainya.

Surat As-sajadah ayat 27

Artinya : Dan apakah mereka tidak memperhatikan, bahwasanya Kami menghalau (awan yang mengandung) air ke bumi yang tandus, lalu Kami tumbuhkan dengan air hujan itu tanaman yang daripadanya makan hewan ternak mereka dan mereka sendiri. Maka apakah mereka tidak memperhatikan? [32:27].

            Ayat diatas menjelaskan bahwa Allah SWT telah menumbuhkan tanaman sebagai pakan hewan ternak sehingga hewan ternak dapat tumbuh dan berkembang dengan baik agar dapat dimanfaatkan oleh manusia. Selain itu dalam ayat tersebut juga dijelaskan bahwa manusia diwajibkan untuk memelihara hewan ternak sesuai dengan kebutuhan hewan tersebut.

KESIMPULAN

  • Genetika kuantitatif adalah cabang genetika yang membahas pewarisan sifat-sifat terukur (kuantitatif atau metrik).
  • Sifat-sifat yang tergolong sifat kuantitatif misalnya tinggi atau berat badan, hasil panen, atau produksi susu.
  • Polimeri adalah  suatu gejala dimana terdapat banyak gen bukan alel tetapi mempengaruhi karakter/sifat yang sama.
  • Sifat kuantitatif pada kelinci meliputi fertilitas,  pertumbuhan dan efisiensi pakan, produksi susu, kepadatan fur, ketahanan terhadap penyakit dan kualitas karkas.
  • Sifat kuantitatif pada kelinci  dapat dipengaruhi oleh iklim, habitat, kelembaban, aliran udara, peralatan pemeliharaan, teknik pemuliabiakan, pemberian pakan, dan faktor manusia (Peternak).
    • Persilangan dihibrid adalah persilangan dengan dua sifat beda.
    • Persilangan dihibrid pada kelinci menghasilkan perbandingan 15 : 1.
    • Persilangan dihibrid pada kelinci rex dan kelinci satin menghasilkan kelinci rex satin yang berfenotipe bulu halus mengkilap.
    • Dari persilangan kelinci rex dan satin dapat meningkatkan kualitas bulu dan daging  pada kelinci.

DAFTAR PUSTAKA

Anonymous. 2009. Pola-pola Hereditas.http://prestasiherfen.blogspot.com/ diakses tanggal 21-11-2011.

Anonymous. 2009. Berkenalan Teori Mendel Dengan Kelinci.http://iwang.wordpress.com/ diakses tanggal 21-11-2011.

Anonymous. 2011. Penyimpangan Semu Hukum Mendel. http://dittakris.wordpress.com/ diakses tanggal 21-11-2011.

Elrod S, Stansfield W.2002. Genetika Edisi 4. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Noor, R.R. 1996. Genetika Ternak. Jakarta : Penebar Swadaya.

Syamsuri, Istamar, dkk. 2008. Biologi Untuk SMA Kelas XII Semester 2. Jakarta : Erlangga.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 59 other followers

%d bloggers like this: